Drama

One Night One Lie - Merasakan Jadi Ayah - Bab 7

Penulis Ichan
21 September 2025

Aaren mulai kehilangan beberapa rekan bisnisnya. Dua kontrak besar dibatalkan sepihak. Saham Baron Corp sempat jatuh ke titik terendah dalam waktu yang singkat. Bahkan, undangan eksklusif untuk menghadiri konferensi internasional sebagai keynote speaker dicabut diam-diam.

Namun, satu hal yang tidak berubah. Setiap pagi, Aaren tetap membuatkan sarapan untuk Lauren dan memastikan gadis kecil itu tersenyum.

Di sisi lain, Chiara tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Walaupun ia mulai mengakui dalam hati bahwa Aaren telah banyak berubah, bayangan luka masa lalu masih menahan langkahnya.


Malam itu, Chiara memeriksa suhu tubuh Lauren yang mulai kembali normal. Dokter pribadi yang Aaren sewa mengatakan racun yang menyerang Lauren adalah jenis lambat yang biasanya diberikan dalam dosis kecil dan terus-menerus.

“Kau yakin tidak ada yang mencurigakan selama di rumah?” tanya Aaren saat mereka duduk berdua di ruang tengah, setelah Lauren tertidur.

Chiara menggeleng pelan. “Aku tinggal di rumah kontrakan kecil. Tidak ada yang mendekat selain tukang sayur dan tetangga sebelah. Aku sempat memang melihat mobil hitam yang parkir cukup lama dua malam sebelum Lauren jatuh sakit.”

Aaren mengangguk. “Aku akan selidiki. Aku tidak akan diam.”


Sementara itu, Luna Damian tidak tinggal diam. Dengan luka harga dirinya yang diumbar media, ia menyewa firma Press kelas atas dan memulai kampanye diam-diam. Lewat akun sosial medianya, ia mulai membangun narasi bahwa dirinya adalah korban pengkhianatan seorang pria yang memilih wanita lain setelah merusak rencana pernikahan.

Dalam salah satu wawancara eksklusifnya, Luna berkata, “saya hanya ingin menyelamatkan bisnis dua keluarga. Namun, kalau seseorang lebih memilih drama dibandingkan tanggung jawab, saya doakan semoga cintanya tidak membuat dia jatuh terlalu dalam.”

Kalimat itu memancing opini publik. Para pendukung Luna menyerang Chiara di media sosial. Beberapa bahkan datang ke rumah kontrakan lama Chiara, melempar cat merah dan menuliskan kata-kata hina di pagar rumah.

Chiara terdiam saat melihat foto-foto itu di layar ponsel Kevin, bawahan Aaren yang diam-diam memberitahu bagaimana keadaan kontrakan kecil Chiara saat ini.

“Ini sudah terlalu jauh,” bisik Chiara. “Mereka menyentuh hidupku dan Lauren.”

Kevin menunduk. “Aren sedang berusaha, Chiara, tapi musuhnya bukan hanya keluarga Damian. Beberapa pihak di dewan pun kini ingin menggulingkannya.”


Malam itu, Aaren pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya tampak lelah, dasinya lepas dan ada luka kecil di ujung alisnya.

“Apa yang terjadi?” Chiara mendekatinya dengan panik.

“Seseorang mencoba membuntuti mobilku. Mereka melempar botol kaca ke arah jendela.” Suaranya berat. “Tapi aku baik-baik saja.”

Chiara menatapnya dengan mata berkaca. “Sampai kapan ini akan terus terjadi?”

“Sampai aku bisa melindungi kalian sepenuhnya,” jawab Aaren, menatapnya dalam.

Chiara menunduk. “Sudah kukatakan, untuk berhenti pedulikan kami, Aaren!"

Aaren mendekat, tangannya menyentuh lembut bahu Chiara. " Tidak. Aku sudah berjanji, Chiara. Aku akan bawa kalian pergi, jika memang dunia ini tak cukup aman untuk kalian. Tapi aku butuh waktu.”

Chiara menggelengkan kepalanya pelan, lalu bertanya pelan, “Kau tidak memperdulikan keadaan Lauren?"

Aaren menatapnya lekat. “Aku peduli pada kalian berdua. Chiara. Kau harus tahu, ketika kau pergi saat itu, aku mulai mencintaimu, Chiara.”

Suasana hening.

Lalu Chiara meraih tangan Aaren perlahan. “Kalau begitu, buktikan padaku. Lepaskan aku dan Lauren. Hidupmu terlalu berbahaya untuk kami, begitu juga sebaliknya!"

Aaren gegas menentang. "Tidak, sampai kapanpun kalian adalah keluargaku, akan aku lindungi meski harus dengan nyawaku sendiri!"


Pagi itu, gedung pusat Baron Corp dipenuhi suasana tegang. Di lantai tertinggi, ruang rapat utama yang biasa menjadi tempat pengambilan keputusan penting kini dipadati oleh seluruh anggota dewan direksi, penasihat senior dan perwakilan investor utama.

Helena Baron duduk di ujung meja dengan wajah tegas, meski matanya menyiratkan kekesalan yang belum mereda. Di sisi lain, Aaren duduk tegak, mengenakan setelan jas hitam, matanya tajam dan tak goyah.

“Agenda rapat hari ini sangat jelas,” buka Helena, suaranya dingin. “Kita akan melakukan voting mengenai kelayakan Aaren Baron untuk tetap menjabat sebagai CEO Baron Corp setelah skandal pribadinya mencuat dan berdampak pada kepercayaan pasar.”

Ruangan menjadi sunyi. Beberapa anggota tampak bertukar pandang. Salah satu dewan senior, Mr. Arnold seorang pria berusia enam puluhan yang dikenal netral, mengangkat tangan.

“Poin penting yang harus kita bahas adalah meski saham sempat turun, stabilisasi kembali terjadi dalam 48 jam terakhir. Aksi Aaren menyampaikan pernyataan resmi telah meredam kepanikan publik,” ujarnya tenang.

“Tetap saja,” sela Helena, “publik kini tahu bahwa ia tinggal bersama wanita yang membawa anak dari hubungan di luar pernikahan.”

Aaren tak menunggu. Ia angkat bicara, mantap dan jelas, “aku tidak akan membela kehidupan pribadiku. Aku akan membela apa yang sudah kulakukan untuk perusahaan ini. Pendapatan tahunan meningkat 20% dalam dua tahun terakhir. Kita menembus tiga pasar internasional baru dan investor Jepang baru saja menandatangani kontrak eksklusif karena kepemimpinan langsung dariku.”

Suara Aaren mengisi ruangan, berimbang antara fakta dan integritas. “Jika kalian mau menggulingkanku hanya karena aku mencintai anakku sendiri dan berani melindungi mereka, maka silakan. Namun, jika yang kalian lihat adalah pencapaian dan arah visi perusahaan, maka biarkan aku melanjutkan.”

Voting dilakukan. Satu per satu suara diumumkan.

“Satu mendukung pemecatan.”

“Satu abstain.”

“Lima menyatakan Aaren Baron tetap layak menjabat sebagai CEO.”

Helena membeku di tempatnya. Aaren mengangguk kecil, lalu berdiri dengan tenang. Meski ia menang, sorot matanya tetap dingin.

“Aku akan bekerja lebih keras. Tapi mulai hari ini, tidak ada satu pun dari kalian yang berhak menyentuh keluargaku,” ujarnya lalu melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi.


Di apartemen Aaren pada sore hari.

Sinar matahari sore masuk lewat jendela kaca besar. Lauren duduk di karpet, menggambar dengan pensil warna yang baru, sembari tertawa kecil. Pipinya tampak lebih segar, warna kulitnya kembali hangat. Chiara mengelus rambut anak itu, penuh rasa syukur.

Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Aaren masuk sambil membawa beberapa kantong belanjaan mewah.

“Apa itu?” tanya Chiara heran.

“Pakaian baru. Untuk Lauren dan, untukmu,” jawab Aaren, sedikit canggung. “Kau belum sempat mengganti pakaian sejak masuk ke sini. Kurasa kau butuh sesuatu yang nyaman dan lebih hangat.”

Chiara ingin menolak, tapi melihat ekspresi Lauren yang begitu gembira saat melihat gaun kecil dengan pita biru muda, ia menahan kata-katanya.

“Aku tidak terbiasa menerima barang-barang mahal,” katanya pelan.

Aaren mendekat, menyerahkan satu tas ke tangannya. “Ini bukan soal harga, Chiara. Ini bentuk terima kasihku.”

Chiara menatap tas itu lama. Lalu akhirnya menerima, meski dengan ragu. “Terima kasih!”

“Kalau kau tidak suka modelnya, kita bisa pilih yang lain,” sambung Aaren cepat, membuat Chiara menahan tawa kecil.

“Maksudmu, kita pergi berbelanja bersama?”

Aaren mengangkat bahu. “Kalau itu bisa membuatmu nyaman.”

Mereka saling pandang sejenak. Bukan pandangan penuh romansa. Ada percikan kehangatan yang tak kasat mata, seperti musim semi yang mengintip dari balik salju.


Malam Harinya.

Setelah Lauren tertidur pulas, Chiara menyeduh teh dan membawanya ke balkon. Ia kaget saat melihat Aaren sudah duduk di sana, membaca dokumen dengan laptop di pangkuan.

“Kurasa tempat ini memang jadi tempat pelarianmu juga, ya?” gumamnya sambil duduk di sisi lain balkon.

Aaren menutup laptop. “Tempat terbaik untuk berpikir.”

Chiara menatap bintang-bintang, lalu meminum tehnya perlahan. “Kau tak harus melakukan semua ini, tahu? Bertarung dengan keluargamu, mempertaruhkan posisimu,”

“Aku tahu,” potong Aaren. “Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin melakukan sesuatu yang benar, bukan hanya sesuatu yang terlihat benar.”

Chiara terdiam. Hatinyapun berdebar, namun ia menepisnya cepat. “Aku, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

“Tak perlu bersikap apa pun,” ujar Aaren lembut. “Kau hanya perlu ada di sini.”

Keduanya duduk dalam diam. Namun, dalam diam itu, ada detak yang perlahan membentuk irama. Irama yang belum mereka sadari sebagai cinta yang tumbuh kembali perlahan, tapi pasti.

Malam pun menyelimuti mereka dengan segala ketidakpastian yang tak lagi terasa mengancam, melainkan menjadi tempat kemungkinan-kemungkinan baru.