Pagi harinya.
Sinar matahari menerobos tirai jendela, menyinari ruang tamu yang masih sunyi. Chiara menoleh ke arah jam dinding sudah menujukan pukul delapan lewat dua puluh. Aneh. Biasanya Aaren sudah keluar dari kamar, bahkan kerap sibuk di dapur atau menyalakan laptopnya sambil minum kopi.
Ia menoleh ke arah kamar Aaren. Pintu itu masih tertutup.
Lauren sedang bermain boneka di ruang tengah. “Mama, apakah Om itu belum bangun ya?” tanyanya polos.
Chiara hanya tersenyum tipis. “Sepertinya begitu. Mama cek dulu, ya?”
Ia berdiri, mengetuk pintu kamar Aaren. “Aaren?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Rasa khawatir mulai merayap. Chiara mendorong pintu pelan dan matanya langsung menangkap tubuh Aaren yang tergolek lemah di ranjang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, wajahnya pucat dan napasnya tampak berat.
“Aaren!” seru Chiara cepat, mendekat dan meletakkan telapak tangannya di dahi pria itu. Panas. Sangat panas.
“Ya Tuhan, kamu demam tinggi, Aaren.”
Tanpa pikir panjang, Chiara mengambil handuk kecil, mencelupkannya ke baskom air hangat dan mulai mengompres dahi Aaren. Sambil merawatnya, ia menghubungi Kevin.
“Kevin, Aaren demam tinggi. Aku rasa dia perlu dibawa ke rumah sakit.”
Di seberang sana, suara Kevin terdengar cemas, “Baik, aku akan segera ke sana dan siapkan mobil.”
Namun, sebelum ia memutus panggilan, terdengar suara serak dan pelan dari balik tubuh yang terbaring lemah itu.
“Jangan!” Aaren membuka mata samar. “Aku tidak mau ke rumah sakit.”
Chiara menunduk mendekatinya. “Aaren, kamu demam tinggi. Kau bisa pingsan!”
Namun Aaren hanya menggeleng pelan. “Aku hanya butuh istirahat, jangan panik.”
Chiara menggigit bibirnya, menahan emosi. “Kau ini keras kepala sekali.”
“Aku percaya kamu,” bisik Aaren sebelum matanya tertutup lagi.
Kevin tiba beberapa menit kemudian, tapi Chiara menahannya agar tidak membawa Aaren ke rumah sakit. Ia memutuskan untuk merawat Aaren sendiri.
Beberapa Jam Kemudian
Aaren terlelap kembali setelah diberikan obat penurun panas. Chiara duduk di sisi ranjang, mengganti kompresnya setiap tiga puluh menit sekali, memastikan suhu tubuhnya perlahan menurun. Di sela-sela itu, ia memperhatikan wajah Aaren yang tampak jauh lebih damai saat tertidur.
“Lucu ya. Kamu kelihatan sangat tenang saat tidur,” gumamnya lirih, jari-jarinya mengusap perlahan dahi pria itu.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan.
“Ma.” Lauren berdiri di ambang pintu, memeluk bonekanya. “Om itu kenapa?”
Chiara menoleh cepat. “Ssstt, pelan, sayang. Om lagi sakit.”
Lauren maju perlahan, lalu naik ke atas ranjang dan duduk di sisi Aaren yang sedang tidur.
“Papah cepet sembuh ya,” bisiknya, lalu mengecup kening Aaren pelan.
Saat itu, Chiara membeku. Kata itu.
Papah?
Aaren perlahan membuka mata. Pandangannya samar, tapi suara lembut itu ia dengar jelas.
“Papah?” tanyanya pelan.
Lauren mengangguk. "Papah?”
Aaren menatapnya. Mata yang biasanya dingin kini berkaca. Ia mengangguk pelan, lalu menarik tubuh kecil Lauren ke dalam pelukannya meski tubuhnya masih lemas.
Chiara menahan napas, matanya memanas.
Aaren mencium kepala Lauren dengan lembut, lalu menatap Chiara. Di saat itu, sebuah perasaan menghantam jantungnya. Bukan hanya karena Lauren memanggilnya papah, tapi karena perempuan di hadapannya yang sejak tadi tak berhenti merawatnya dengan cemas dan sabar, adalah perempuan yang dulu pernah ia sakiti.
Perempuan yang dulu pernah ia minta menggugurkan anak ini.
Perempuan yang sekarang malah duduk di sini, menggantikan semua rasa sakit itu dengan perawatan penuh cinta.
Aaren memejamkan mata, menahan gejolak batin.
"Apa yang dulu kupikirkan? Bagaimana bisa aku sebodoh itu?"
Kini ia benar-benar melihat Chiara. Bukan hanya sebagai perempuan masa lalunya, bukan hanya sebagai ibu dari anaknya. Tapi sebagai seseorang yang kehadirannya menyelamatkan dirinya.
Cantiknya bukan sekadar paras, tapi cara ia memperhatikan, bertahan dan memberi hangat bahkan saat yang lain menjauh.
Ia merasa hancur oleh rasa bersalah. Tapi juga luluh oleh ketulusan.
Menjelang Malam
Demam Aaren perlahan turun. Ia sudah bisa duduk bersandar di ranjang. Chiara membawakan semangkuk bubur hangat dan menyuapinya pelan, meski Aaren beberapa kali menolak karena malu.
“Aku masih bisa makan sendiri, Chiara.”
“Diam. Makan!” Balas Chiara ketus, meski senyumnya lembut.
Aaren hanya menghela napas, menyerah.
Saat Lauren tertidur, Aaren menatap Chiara yang sedang membereskan baskom kompres dan obat.
“Chiara,” panggilnya pelan.
Chiara menoleh. “Hm?”
Aaren menunduk. “Terima kasih.”
“Untuk?”
“Segalanya,” jawabnya lirih. “Untuk tidak membenciku. Untuk tidak meninggalkanku dan untuk membiarkan Lauren tetap hidup.”
Chiara menahan napas. Ia tahu kata-kata itu datang dari luka terdalam yang selama ini tersembunyi di balik kesombongan Aaren.
Ia hanya menjawab pelan, “Lauren pantas hidup, Aaren dan mungkin kita juga.”
Aren hanya menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa rumah bukan lagi soal tempat. Tapi tentang dua jiwa yang duduk bersamanya di kamar ini.
Siang harinya, tepat perayaan ulang tahun Lauren tepat di usia dua tahun.
Hari ini rumah Aaren berbeda dari biasanya. Tidak ada suasana kaku atau dingin yang biasa membalut suasana. Balon-balon warna pastel menghiasi ruang tengah, kue ulang tahun berbentuk boneka kelinci duduk manis di atas meja dan tawa kecil Lauren memenuhi ruangan.
Usia Lauren kini genap dua tahun.
Chiara berdiri di sudut ruangan, matanya berkaca-kaca menatap putrinya yang tertawa saat Aaren membopongnya tinggi-tinggi, membuat Lauren tertawa cekikikan.
Tak terasa, dua tahun telah berlalu sejak hari penuh luka itu.
Hari di mana ia bertaruh nyawa melahirkan Lauren.
Hari di mana Aaren tak ada di sisinya.
Namun, hari ini semua terasa berbeda.
Aaren kini ada di sini. Bukan hanya hadir sebagai figur ayah, tapi sebagai seseorang yang benar-benar mencoba menjadi bagian dari keluarga ini. Ia menyiapkan pesta sederhana ini sendiri, membeli balon, memesan kue, bahkan menyusun hadiah-hadiah kecil di meja.
Saat lilin kue dinyalakan dan lagu ulang tahun dinyanyikan, Lauren bertepuk tangan, matanya berbinar.
“Mama, Papah tiup lilin bareng sama Lauren ya!”
Aaren dan Chiara saling menatap. Hati Chiara berdebar saat Aaren meraih tangannya pelan, menggenggamnya lembut. Bersama, mereka meniup lilin dan untuk sejenak, waktu seolah berhenti.
Malam hari di balkon apartemen.
Langit malam bertabur bintang. Angin bertiup pelan, membawa aroma bunga melati dari pot-pot kecil yang diletakkan di pinggir balkon. Chiara bersandar di pagar balkon, menatap kota yang bersinar di kejauhan.
Aaren keluar beberapa saat kemudian, membawa dua gelas cokelat hangat.
"Masih suka minum ini malam-malam?" tanyanya sambil menyodorkan satu gelas.
Chiara tersenyum.
Sunyi sebentar di antara mereka.
Aaren menatapnya lama. “Hari ini, sempurna.”
Chiara mengangguk. “Aku juga tidak nyangka. Terima kasih udah membuat Lauren bahagia.”
Aaren menyesap cokelatnya, menunduk sejenak. “Chiara, aku tahu, kita punya masa lalu yang rumit. Banyak luka yang belum sembuh. Namun, belakangan ini aku merasa ada yang berubah.”
Chiara menoleh, menatapnya. “Berubah bagaimana?”
Aaren menatapnya dalam. “Aku mulai merasa nyaman. Di rumah ini. Dengan Lauren. Denganmu.” Ia menelan ludah pelan. “Dan aku tak mau berpura-pura tidak merasakannya.”
Chiara menahan napas.
Aaren melanjutkan, lebih lembut. “Aku tidak akan langsung meminta kita jadi keluarga. Aku tahu kita butuh waktu, tapi bisakah kita mulai dari menjadi kekasih?”
Chiara terdiam. Jantungnya berdebar.
“Sebagai bentuk perkenalan lagi,” lanjut Aaren. “Dari awal, bukan sebagai ayah dari anakmu. Bukan sebagai pria yang pernah menyakitimu, tapi sebagai seseorang yang ingin mengenalmu, mencintaimu secara perlahan dan sungguh-sungguh.”
Matanya begitu jujur saat menatap Chiara.
Untuk pertama kalinya, Chiara tak menemukan luka di balik pandangan itu, melainkan harapan.
Chiara menunduk sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kau mau jadi kekasih perempuan yang kadang galak, suka drama dan sensitif ini?”
Aaren tertawa pelan. “Selama dia perempuan yang sama yang membuatku merasa pulang setiap kali melihat senyumnya aku mau.”
Chiara mengangguk, matanya berkaca. “Baiklah, kita coba dari awal, semua ini demi kebahagiaan Lauren.”
Aaren meraih tangan Chiara, menggenggamnya erat.
Di tengah malam yang hening, dua hati yang pernah saling menjauh kini mulai merapat. Tanpa tergesa, tanpa tekanan hanya dengan satu harapan sederhana yaitu mencinta dengan perlahan, tapi pasti.