Menikahi Istri Kakakku - Keputusan Sulit Dipertaruhkan - Bab 14

Penulis Yuan_bee
21 September 2025

“Jadi, apa rencanamu, Mas?” tanya Lusy.

Arga mengusulkan penyamaran itu dengan suara mantap, “Kalau aku masuk langsung sebagai staf baru di bagian administrasi atau manajemen, pasti cepat ketahuan. Tapi kalau aku jadi petugas kebersihan, semua orang biasanya nggak akan terlalu memperhatikan. Dari situ, aku bisa bebas lalu-lalang, memperhatikan siapa yang keluar masuk ruangan, bahkan mengintip dokumen-dokumen yang dibuang sembarangan.”

Lusy tampak tertegun, lalu tersenyum kecil. “Ide yang cerdik. Pekerjaan yang dianggap sepele justru membuka celah untuk melihat lebih luas.”

Fenny hanya menatap Arga dengan campuran bangga dan khawatir. “Kalau itu memang caramu, hati-hati, Nak. Jangan gegabah. Ingat, lawan kita mungkin orang dalam yang sudah lihai menutupi jejak.”

“Iya, aku tahu, Bu. Tapi kalau terus-terusan dibiarkan, dampaknya akan lebih buruk pada perusahaan, dan imbasnya, keluarga juga kena.”

“Iya, benar juga,” gumam Tatik, sementara Lusy yang di sampingnya masih diam, kemungkinan sedang mempertimbangkan masukan dari Arga.

“Aku setuju dengan Mas Arga.”

“Baik, kalau begitu, kita mulai sekarang, hari ini aku akan melakukan penyamaran.”

“Tunggu dulu!” sela Fenny yang membuat semua yang di sana pun kaget. Pandangan mereka langsung ke arah Fenny.

“Aku tidak setuju jika kau melakukannya sekarang. Kita belum punya persiapan. Lagian, kondisi psikis Nabila sepertinya masih belum stabil. Ia masih sangat bergantung pada Dirga yang diperankan oleh Arga. Mungkin lebih baik besok saja. Aku akan membicarakan terlebih dahulu pada Nabila agar ia tak curiga.”

Tatik dan Lusy pun memandang ke arah Arga. Mereka tahu, keputusan itu berada padanya, mereka tak mungkin bisa menyuruh adik Dirga melakukan sesuai kehendaknya.

“Baik, aku akan menurut seperti yang mama mau. Biasanya nasihat orang tua itu baik dan ada benarnya.”

Arga tak kuasa menolak anjuran ibunya. Sebab, dari kecil ia sudah terlalu dimanjakan oleh ibunya. Sehingga, apa pun yang ibunya katakan oleh ibunya, ia pasti akan menurutinya, berbeda dengan kakaknya yang penuh dengan pertimbangan.

Suasana pun mendadak hening. Arga melihat ke depan rumah, Nabila masih didorong oleh Bi Wati menggunakan kursi roda. Ia tampak menikmatinya meski pandangannya hanya diselimuti oleh kegelapan.

Beberapa saat kemudian, Arga dengan suara pelan pun bertanya, “Bu Lusy, aku mau tahu sesuatu. Selama ini, ada nggak orang yang punya dendam pribadi pada kakakku? Atau mungkin ada yang iri dengan posisinya sebagai pemimpin?”

Lusy menatap Arga serius, seolah menimbang harus jujur atau tidak. Akhirnya, ia menarik napas panjang.

“Sebenarnya aku bingung menjawabnya, karena aku belum tahu pasti masalah dia dengan kakakmu. Namun, ada satu nama yang cukup jelas, dia adalah Dion – kepala divisi produksi. Dia pernah beberapa kali beradu argumen dengan Pak Dirga, terutama soal masalah divisinya. Memang di atas kertas semuanya sah, tapi caranya seringkali licik. Pak Dirga selalu bisa menekannya, itu yang mungkin membuat Dion sakit hati.”

Arga mengerutkan dahi, ingatannya kembali pada hari pemakaman. Seorang pria asing dengan jas rapi sempat muncul, berdiri agak jauh, lalu menyeringai seolah puas dengan kematian Dirga. Waktu itu Arga tak sempat mengejar. Kini, potongan itu terasa cocok. Jangan-jangan … orang itu Dion?

“Jadi Dion punya masalah dengan kakakku?” Arga mengulang, ingin memastikan.

Lusy mengangguk. “Iya, dan selama ini, masalah itu selalu jadi bahan perdebatan. Banyak staf bilang, kalau Pak Dirga terlalu berani menghadapi Dion, padahal dia punya koneksi luas.”

“Bisa Anda jelaskan lagi, tentang masalah apa itu?”

“Aku kurang tahu, tapi kemungkinan hubungan timbal balik divisinya dengan atasan, mekanisme kerja dan intern lainnya.”

“Tapi, kalau kakakku adalah atasan Dion, kenapa ia tak memecatnya dan mengganti kepala divisi baru?”

“Itulah sebabnya, aku tak tahu mengenai hal itu. Mungkin mereka berdua ada hubungan kerja sama atau suatu perjanjian yang tak ada seorang pun tahu. Itulah sebabnya, Dion masih tetap bekerja meski kinerjanya sebagai kepala divisi kurang baik.”

Arga menghela napas panjang. “Menurut kesimpulanku, Dion orang pertama yang harus kita curigai. Tapi aku nggak bisa langsung menuduh. Aku harus lihat gerak-geriknya lebih dulu.”

Lusy menatap Arga penuh keyakinan. “Kalau begitu, aku akan bantu dari dalam. Kau teruskan penyamaranmu. Aku akan pastikan semua akses informasi yang kau butuhkan sampai padamu, tentu saja tanpa membocorkan identitasmu sebenarnya.”

Arga mengangguk, meski hatinya bergejolak. Ia tahu, ini bukan sekadar tentang perusahaan, tapi bisa jadi tentang siapa dalang yang menyebabkan kakaknya mati.

Setelah ia puas dengan jawaban Lusy, kini pandangannya tertuju pada Tatik. “Baik, sekarang Bu Tatik, apa aku boleh tanya sesuatu?”

Tatik mengangkat wajahnya, tampak lelah tapi tetap berusaha tersenyum. “Tentu, Nak. Tentang apa?”

Arga menelan ludah, lalu mencondongkan tubuh. “Tentang kecelakaan kakak. Selama ini aku hanya tahu garis besarnya, tapi aku ingin dengar kronologi lengkap dari yang Tante ketahui. Siapa tahu, ada hal kecil yang bisa memberi petunjuk, dan katanya Bi Wati juga sempat melarang mereka agar tak pergi.”

“Sebenarnya, tak ada yang menyangka, sebuah pernikahan yang begitu indah kala itu justru menjadi awal dari cerita paling kelam. Baiklah, aku akan cerita.”

Tatik terdiam sejenak, pandangannya kosong seperti menggali memori. Ia pun mulai membuka suara, bercerita sesuai dengan kesaksian dirinya dan yang dikatakan Nabila di saat kondisi psikologisnya terguncang. Fenny pun ikut menyambung cerita itu sesuai dengan sudut pandangnya.

**

Flashback acara pernikahan

Kala itu, semua orang menyaksikan Dirga dan Nabila saling mengucap janji, menukar cincin, dan saling menatap dengan tatapan penuh cinta. Tawa, air mata haru, doa-doa yang mengalir, semuanya membuat hari itu tampak sempurna.

Akan tetapi, di balik kebahagiaan itu, ada kegelisahan yang menggantung. Bibi Wati yang merupakan seorang pembantu setia yang sudah puluhan tahun mengabdi, sejak pagi terlihat tidak tenang. Saat suasana mulai reda, ia memberanikan diri mendekati Fenny dengan wajah khawatir. “Bu, saya ini cuma orang kecil, tapi mohon maaf kalau saya lancang. Menurut orang Jawa dulu, setelah ijab kabul, jangan dulu bepergian jauh sebelum sampai empat puluh hari. Takutnya, ada hal buruk yang mungkin mengikuti perjalanan mereka.”

‘Kata Bi Wati tadi ada benarnya, lagian kenapa juga mereka langsung berangkat setelah selesai ijab kabul. Biasanya, orang-orang atau pengantin baru setelah prosesi ijab kabul kan cuma berdiam di rumah saja, dan tak boleh ke mana-mana. Sebab, semua itu pamali Orang Jawa. Haruskah aku melarang mereka berdua pergi dan mengikuti saran Bi Wati? Atau membiarkan mereka pergi dengan pamali yang membingungkan itu?’ batin Fenny dalam hati.

Fenny sempat terdiam. Kata-kata itu menimbulkan getaran aneh di hatinya. Meski mereka hidup di era modern, ia masih percaya bahwa nasihat orang tua dulu bukan hanya sekadar mitos kosong, tapi mayoritas ada benarnya dan sudah terbukti. Fenny pun menarik napas dalam, lalu menyampaikan pesan itu kepada Dirga dan Nabila.

“Dirga, Nabila. Bunda minta, kalau bisa jangan dulu bulan madu jauh-jauh ….”