Menikahi Istri Kakakku - Kehangatan yang Nyata - Bab 15

Penulis Yuan_bee
21 September 2025

Mas! Jangan tinggalin aku!” jerit Nabila, tangannya terulur untuk menarik Dirga, tapi sudah terlambat. Ia tak dapat meraih tangan suaminya. Di saat berhasil keluar dari mobil, tubuhnya berguling di jalanan hingga berhenti di trotoar dengan kepala yang terbentur.

Nabila tersungkur, tak tahu apa yang terjadi pada mobil tersebut dan suaminya yang masih di dalam. Tangannya memegang pelipisnya, ada sesuatu yang melukai kelopak matanya hingga berdarah.

Sementara itu, mobil yang oleng menabrak pembatas dinding lagi, tapi kali ini lebih keras dari sebelumnya, lalu berputar tak terkendali, melayang sejenak sebelum berguling menghantam bebatuan. Suara logam beradu, kaca pecah, dan dentuman bertubi-tubi menggema di dalam jurang. Hingga akhirnya, sunyi sepi, tak ada suara lagi.

Bagi Nabila, semua terasa singkat. Angin kencang, teriakan sopir saat rem blong, lalu pandangannya berputar dan menjadi kabur. Namun kini, hanya kegelapan yang ia lihat dan rasa sakit pada sekujur tubuh dan area matanya yang terkena serpihan kaca mobil, ditambah benturan keras di kepalanya.

Senyum terakhir, genggaman terakhir, tawa terakhir, semuanya segera digantikan dengan teriakan dan air mata. Bali yang merupakan tempat bulan madu yang diimpikan hanya tinggal rencana yang tak pernah terwujud.

“Hari itu seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan. Namun, takdir berkata lain, Dirga dan Nabila yang baru saja sah menjadi suami istri justru harus menelan kenyataan pahit yang semua itu tak direncanakan,” ucap Tatik mengakhiri cerita tersebut.

“Sudahlah, semua itu sudah takdir, meski aku sudah kehilangan anak sulungku, tapi aku tetap mencoba untuk tetap tegar,” imbuh Fenny.

“Jadi, dari ketiga orang yang di dalam mobil, hanya Nabila saja yang selamat?” tanya Arga mengulanginya.

Wajah Tatik mengeras. “Iya. Dia satu-satunya yang selamat. Tapi saat itu kondisinya parah sekali. Kepalanya terbentur, kakinya terjepit. Waktu dokter mencoba bertanya padanya, jawabannya terbata-bata, lalu pingsan lagi.”

Arga menunduk, mencerna setiap detail. Bisa jadi ada kendaraan lain di sana, atau mungkin sesuatu disengaja. Benar, rem blong itu masalah utamanya. Kata yang dikatakan oleh sopir adalah teknisi yang memeriksa mobil, lalu respon kakaknya marah pun ia cerna kembali.

Ia kembali menatap Tatik. “Jadi, kesaksian Nabila belum pernah diambil secara utuh?”

Tatik menggeleng. “Tidak. Dokter bilang kondisinya belum stabil. Sampai sekarang pun, setiap kali kami singgung soal malam itu, Nabila tampak gelisah. Seolah ada trauma yang sulit diungkapkan. Beberapa hari saat masih dirawat di rumah sakit, setiap malam kondisinya tak jelas. Sepertinya mimpi buruk karena efek dari kecelakaan tersebut. Mentalnya sudah down.”

Arga menggenggam kedua tangannya erat. Dalam hati, ia merasa semakin yakin kecelakaan itu mungkin bukan sekadar kecelakaan biasa.

Setelah selesai pembicaraan tersebut, Tatik dan Lusy pamit kepada mereka semua untuk melanjutkan pekerjaanya. Fenny berpesan agar tetap berhati-hati pada Dion.

Saat Tatik meminta izin pergi pada Nabila, ia pun mengangguk, karena Nabila tahu, ibunya adalah harapan setelah kepergian ayahnya. Dia orang tua satu-satunya yang ia miliki.

Arga mengambil kursi dorong Nabila dari Bi Wati, ia kembali berperan menjadi Dirga. Sesekali, Nabila bertanya, barusan, mereka membahas apa?

Arga hanya menjawab, “Mengenai perusahaan. Aku harus berangkat kerja besok.”

“Besok? Kok cepat sekali? Bukannya cuti nikah masih beberapa hari lagi?”

“Iya, awalnya, tapi jadwalnya dipercepat karena ada pertemuan klien,” dalih Arga.

“Baiklah kalau begitu, kamu besok boleh mulai kerja kembali. Nanti Bi Wati yang akan menjagaku selagi kamu kerja, dan aku akan berusaha untuk mempelajari tempat-tempat di rumahmu meski aku tak bisa melihat.”

“Sayang, jangan memaksakan. Di rumah masih ada Bi Wati dan Ibu.”

“Oke deh, kau baik banget, Dirga.”

Arga pun tersenyum, mencium keningnya karena berperan menjadi suaminya tercinta.

Sore harinya, Nabila minta mandi lagi, yang membuat Arga kembali kebingungan. Seperti yang terjadi kemarin, kalau ia menolak untuk memandikannya, Nabila pasti berontak, menganggapnya suami yang tak becus dalam merawat istrinya yang buta.

“Baik, Nabila, aku akan memandikanmu,” jawab Arga dengan raut wajah kecut, tapi berusaha untuk tetap tenang agar Nabila tak curiga.

“Iya, tapi janji lho, setiap sore.”

“Se-setiap sore?”

“Iya, emang kenapa, Dirga? Perasaan kamu akhir-akhir ini berubah deh.”

“Enggak, Nabila. Aku enggak berubah, masih seperti yang dulu. Hanya saja, aku masih gemetar karena berada di sampingmu.”

“Lah, gombal! Waktu pacaran dulu, kau selalu membelaiku dan berani pegang-pegang lho.”

“Oh iya, hehehe.” Arga tak bisa mengelak lagi.

Arga pun memulainya, mulai melepaskan pakaian yang menutupi tubuh Nabila. Seperti biasa, ia menutup kedua mata dan sesekali membuka mata agar bisa melawan hawa nafsunya.

Atasannya, sudah terlepas, telihat dua gundukan putih yang terllihat menawan. Arga menelan ludah dan sesekali membuang pandangannya ke samping. Lalu, ia berjongkok, melepas bawahannya sambil memejamkan mata lagi.

Akan tetapi, di saat dia kembali berdiri, Nabila memeluknya, lalu mendorongnya ke kasur. Meski ia buta, ia mampu mengetahui tata letak kamar itu, dorongan tadi pun tepat di atas kasur.

Tubuh Arga terlentang di atas kasur dan Nabila masih memeluknya dari atas dengan kondisi tak sehelai benang pun. Arga berusaha mendorong tubuh Nabila pelan, tapi tak bisa, karena dua gundukan itu membuatnya nyaman.

“Dirga ... kamu kenapa? Bukankah kita sudah sah jadi suami istri? Kewajiban suami itu kan memberi nafkah batin pada istrinya. Kenapa kamu tak sekali pun menyentuhku?”

“Aku cuma ... cuma enggak mau menyakiti kamu. Kondisimu belum stabil.”

“Dirga ... meski pun aku buta, aku sudah lebih baik. Ini semua berkat kamu, aku sudah siap melayani suamiku tercinta.”

“Tapi kenapa? Kau jangan beralasan di saat aku buta, kau tak mau melakukan kewajiban bologismu? Katanya kau mau menerimaku apa adanya, apa kau sudah punya perempuan lain?”

Arga pun tak bisa mengelak lagi. Nabila sudah terlalu jauh.

“Maaf, Nabila. Aku hanya ... masih berpakaian.”

“Ya sudah, lepas aja dan janji, jangan pergi, atau aku teriak?”

“Iya, iya ...,” jawab Arga dengan sedikit terpaksa. Ia pun bangkit dan melepas armornya. Melihat tubuh Nabila yang indah dan siap dieksekusi, hasrat liar Arga pun mulai masuk ke raganya. Senjata miliknya yang selama ini tertunduk. Kini, aktif.

‘Maafkan aku, Kak. Aku tak bisa menolak gejolak dalam hatiku ini,’ batinnya melihat tubuh Nabila bak bidadari yang turun dari langit. Ia begitu cantik, apalagi dalam keadaan tak sehelai kain pun.

Arga duduk di tepi ranjang, menatap wajah Nabila yang terlihat begitu rapuh sekaligus menawan. Jemarinya perlahan menyisir helai rambut wanita itu, menyibakkan poni yang jatuh menutupi keningnya. Sentuhan lembut itu membuat Nabila memejamkan mata sejenak, menikmati rasa nyaman yang ia rindukan.

“Dirga …,” bisiknya pelan, suaranya bergetar seperti ingin memastikan bahwa kehangatan yang ia rasakan benar-benar nyata ....