Menikahi Istri Kakakku - Mengandung Anakku - Bab 16

Penulis Yuan_bee
21 September 2025

“Dirga …,” bisiknya pelan, suaranya bergetar seperti ingin memastikan bahwa kehangatan yang ia rasakan benar-benar nyata.

Arga menunduk, meraih tangan Nabila, lalu menggenggamnya erat. “Aku di sini, sayang,” jawabnya lembut, berusaha sepenuh hati menyembunyikan identitas aslinya. Hatinya sedikit bergetar, campuran rasa bersalah dan keinginan untuk melindungi wanita yang kini berada di hadapannya.

Setelah itu, terjadi pertemuan antara kedua bibir. Kedua insan itu sudah tak terkendali lagi. Hingga ritual pun dimulai. Awalnya, Arga membelai dari atas hingga bawah. Setelah itu, ia langsung mengeksekusinya, sesekali bergumam, “Nabila, aku mencintaimu ....” Seakan rasa cinta mulai tumbuh secara alami dari hubungan saat itu.

Beberapa saat kemudian, Arga merasakan ada sesuatu yang mengalir dari pungungnya, lalu sampai ke tulang ekor dan terus mengalir. Ia memeluk Nabila semakin erat, dan klimaks pun terjadi.

Perlahan, Arga merebahkan tubuhnya di samping Nabila. Ia meraih selimut tipis, lalu menutupkan ke tubuh mereka berdua. Kedekatan fisik itu membuat detak jantung Nabila berdentum lebih kencang. Ia menoleh, menatap mata Arga dari jarak yang begitu dekat. Tatapan itu saling berbicara tanpa kata, yaitu entang kerinduan, rasa kehilangan, dan cinta yang masih terikat kuat. Meski Nabila buta, tapi ia bisa merasakan keberadaan suaminya di depannya.

Arga mengusap pipinya, jemarinya berhenti di dagu Nabila, mengangkat wajahnya perlahan. “Kau lelah, ya?” tanyanya pelan.

Nabila hanya mengangguk kecil. Namun, dalam hatinya, ia tak ingin tidur. Ia hanya ingin menikmati momen ini, merasakan keberadaan suaminya yang seakan begitu jauh beberapa waktu terakhir.

Dengan penuh hati-hati, Arga mendekatkan wajahnya. Hidung mereka hampir bersentuhan, napas hangat bertemu di udara yang sempit di antara mereka. Nabila menutup mata, dan saat itu juga Arga menempelkan bibirnya dengan lembut. Bukan ciuman yang tergesa-gesa, melainkan penuh kelembutan, seperti ingin menyampaikan betapa berharganya Nabila baginya.

Nabila menanggapi, jemarinya meraih punggung Arga, menggenggam erat kain bajunya, seakan takut kehilangan lagi. Dalam dekapan itu, rasa hangat menjalar, membuat tubuhnya rileks dan hatinya terisi.

Mereka tak banyak berkata-kata. Hanya ada tatapan, belaian, dan ciuman lembut yang berulang kali hinggap di kening, pipi, lalu bibir. Setiap sentuhan terasa seperti janji bahwa kebersamaan ini akan terus ada. Ritual kedua pun kini kembali dimulai.

Di bawah cahaya remang, keduanya larut dalam keintiman yang tenang. Bukan sekadar persatuan raga, tapi pertemuan dua hati yang sama-sama haus akan kasih sayang.

Napas Nabila sedikit tersengal, tapi ada senyum tipis terukir di bibirnya. Ia membuka mata perlahan, menatap Arga yang masih menempelkan kening mereka berdua meski tak bisa melihat. Tatapan itu penuh arti—ada kerinduan yang akhirnya terobati, ada rasa aman yang tak tergantikan.

“Dirga … aku merasa tenang sekali,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan.

Arga menatapnya dalam-dalam. Di balik perannya yang ia jalani, hatinya benar-benar ikut terhanyut. Ia mengusap pipi Nabila, lalu menelusuri lengannya dengan lembut, seolah takut Nabila rapuh dan hancur bila disentuh terlalu keras. “Aku ingin kau selalu merasakan itu,” balasnya pelan.

Pelukan mereka semakin erat. Arga menempelkan tubuhnya pada Nabila, merasakan hangatnya yang menyalur ke dalam dirinya. Aroma lembut sabun dari rambut Nabila membuat suasana semakin menenangkan. Ia menunduk, mencium ubun-ubun Nabila, lalu beralih ke pelipisnya. Nabila tersenyum tipis, membiarkan dirinya larut dalam dekapan itu.

Tangan Nabila kemudian bergerak, menyentuh wajah Arga dengan gemetar, mengusap rahangnya, seakan memastikan bahwa ia benar-benar ada di hadapannya. “Aku takut kehilanganmu lagi,” ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Arga meraih jemari itu, lalu menciumnya pelan. “Aku tidak akan pergi ke mana pun. Malam ini … aku sepenuhnya untukmu.”

Kata-kata itu membuat hati Nabila bergetar. Ia mendekat lagi, mencium bibir Arga dengan penuh perasaan. Tak ada tergesa-gesa, tak ada paksaan, hanya cinta yang mengalir begitu alami. Suara detak jam di dinding menjadi latar yang samar, seakan waktu ikut berhenti menyaksikan mereka. Hingga akhirnya, klimaks kedua pun terjadi.

Pelukan itu semakin hangat. Arga menyusuri punggung Nabila dengan sentuhan lembut, sementara Nabila menyandarkan kepalanya di dada Arga, mendengar denyut jantung yang menenangkan. Di sela keheningan, hanya ada tarikan nafas dan bisikan samar di telinga.

“Tidurlah di pelukanku,” ujar Arga, membelai rambutnya dengan ritme lembut. Namun, Nabila menggeleng pelan. “Aku ingin seperti ini … lebih lama. Jangan lepaskan aku.”

Arga hanya tersenyum, lalu menarik selimut lebih rapat. Ia merapatkan tubuhnya pada Nabila, seakan dunia di luar sana tak lagi ada artinya. Malam itu, mereka hanyut dalam kehangatan satu sama lain. Tak hanya sebagai pasangan yang saling membutuhkan, tapi juga sebagai dua jiwa yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.

Selimut tipis itu menjadi satu-satunya yang menyelimuti tubuh mereka. Udara malam yang sejuk tidak terasa menusuk, karena hangatnya kebersamaan lebih dari cukup untuk mengusir dingin. Nabila terlelap di dada Arga, wajahnya begitu damai, bibirnya sedikit terbuka seolah tidur tanpa beban.

Arga menunduk, memperhatikan tiap detail wajah wanita itu. Ada rasa tenteram yang jarang ia rasakan, seakan dunia yang penuh hiruk pikuk bisa sirna hanya dengan memandangnya. Ia menyelipkan helai rambut yang jatuh di kening Nabila, lalu menempelkan ciuman lembut di sana.

Detak jantung Nabila terasa jelas, teratur, menyatu dengan irama nafas Arga. Dekapan itu begitu erat, seperti janji tak terucap bahwa mereka tidak akan saling melepaskan. Di dalam pelukan, Nabila tampak rapuh sekaligus kuat. Bukan karena rapuh tubuhnya, tapi rapuh karena membutuhkan kehangatan, kuat karena mampu menenangkan hati Arga hanya dengan keberadaannya.

Malam itu, mereka benar-benar larut dalam kedekatan jiwa. Tak ada jarak, tak ada batas. Hanya ada rasa memiliki yang begitu dalam, yang membuat mereka akhirnya tertidur lelap bersama.

Lampu kamar redup perlahan, meninggalkan bayangan samar tubuh mereka di balik selimut. Di tengah keheningan, hanya ada kedamaian. Seperti doa tanpa suara, semesta seakan merestui kebersamaan itu.

Arga memeluk Nabila lebih erat sebelum matanya akhirnya terpejam. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, seolah ia ingin tidur dengan kenangan manis terakhir, yaitu ia dan Nabila hanyalah dua insan yang sepenuhnya saling memiliki.

Di balik selimut yang hangat, mereka berdua tenggelam dalam kepuasan yang membuat hati tenang, setelah ritual penuh cinta yang mengikat mereka lebih dalam dari sekadar ikatan raga.

Akan tetapi, Arga sama sekali tak bisa memejamkan mata. Tatapannya kosong menembus langit-langit kamar, napasnya teratur tapi berat. Lengan yang melingkari tubuh Nabila bergetar halus, bukan karena dingin, melainkan karena gelisah.

Ia menunduk, menatap wajah Nabila yang begitu damai. Rambutnya terurai di bantal, kulitnya yang hangat melekat erat pada tubuh Arga. Selimut tipis menutupi mereka, menjadi saksi bisu kedekatan yang tak seharusnya terjadi.

Hatinya bergemuruh. ‘Kenikmatan tadi membuatku tak terkendali, hingga kuberikan benih milikku padanya, tak hanya sekali, tapi dua kali. Bagaimana kalau ia hamil karena aku? Bagaimana kalau ia mengandung anakku, bukan anak kakakku ...?’