Dia pun menyimpulkan tersangkanya adalah Bu Novi, meski terduga bersikukuh tidak melakukan pencurian uang tersebut.
Sementara itu, Bu Asri dan Bu Ani tersenyum sinis.
“Baik, kalau begitu, pelakunya Bu Novi. Silakan menyerahkan dirimu ke polisi dan buat pengakuan kalau Ibu sudah mencuri!”
“Tapi, Pak Detektif. Aku beneran tidak mencuri! Aku berani sumpah! Aku dapat pinjaman uang dari Bu Khusni!”
Detektif Romy kembali berpikir, kalau Bu Novi tidak mencuri, bisa jadi Bu Khusni, tapi struk itu bukti kuat kalau dia ambil uang di Bank.
“Pak Dharma, adakah CCTV atau saksi lain?”
“Tidak ada, Pak Detektif.”
“Paman, apa kau tidak mencoba menelepon pihak Bank saja?” ujar Dinda yang berdiri dari balik pintu.
“Hei Anak Kecil! Aku sudah bilang padamu agar kau tidak boleh ikut campur ...!” seru Romy, lalu dia menyadari sesuatu. Dia merasa ada benarnya juga untuk menelepon pihak Bank.
Kebetulan, di sana dia punya teman untuk dimintai bantuan. Segera, dia menelepon temannya, lalu menanyakan sesuatu. Setelah mendengar jawaban dari pihak bank, ekspresi Romy pun kaget setelah mendengar ucapan temannya dari balik telepon.
“Bagaimana, Pak Detektif? Apa kau sudah tahu pelakunya?” desak Bu Asri.
“Sudah. Ternyata aku hampir terjebak dalam perangkapnya.”
“Lantas, siapa pencurinya?” tanya Bu Asri.
“Dia adalah Bu Khusni!” ucap Detektif Romy sambil menunjuknya. Sontak, tiga tersangka beserta Kepala Sekolah terbelalak kaget. Mereka semua tidak menyangka pelakunya orang yang tak terduga, bukan Bu Novi yang dituduh dari tadi. Romy menyimpulkan pelaku pencurian itu Bu Khusni, bukan Bu Novi yang selama ini mereka curigai.
“Bagaimana bisa? Aku kan punya barang bukti struk dari Bank!” sangkal Bu Khusni.
“Memang benar ini struk pencairan, tapi ini bukanlah struk asli. Aku sudah menelepon temanku yang bekerja sebagai pegawai Bank, mengatakan minggu ini tidak ada nasabah yang bernama Khusni yang melakukan transaksi. Bisa dipastikan, struk ini palsu!” sangkal Detektif Romy sambil memainkan struk itu.
“Jadi, uang yang kau pinjamkan padaku adalah uang kas sekolah?” tanya Bu Novi tidak percaya.
Bu Khusni hanya diam saja sambil tertunduk lesu.
“Bu Khusni, tadi kau mengatakan tidak mungkin bisa membuka brankas itu, kan? Dengan cara apa kau mampu membobol brankas?”
“Coba jelaskan caranya?” tanya Bu Asri tak sabar.
“Tenang dulu, Bu Asri. Kesimpulanku, hanya orang yang tahu kode sandi saja yang bisa mengakses brankas.”
“Pak Detektif! Bukannya brankas itu menggunakan pengamanan ganda, sidik jari dan kode sandi. Aku tak mungkin bisa membukanya,” ujar Bu Khusni yang membuat kaget semua orang.
“Nah, dari mana Anda tahu menggunakan pengamanan ganda? Harusnya Bu Asri saja yang tahu, karena hanya dirinyalah yang bisa membuka brankas!” seru Detektif Romy yang membuat Bu Khusni semakin tenggelam. Dia tak mungkin bisa mengelak lagi bahwa dirinya lah pelakunya.
“Baik, akan kujelaskan, pada tombol brangkas ada lengket-lengket karena sudah ditempel double-tip atau semacamnya, lalu ia lepas, menyisakan lem. Tujuannya mungkin agar bisa menebak kombinasi angka. Tapi, kalau caranya begitu, akan lebih susah menebak kombinasi angka karena digitnya banyak. Sebenarnya, pelaku sudah tahu kode sandinya dari awal. Jadi, dengan ada sedikit lem itu, sidik jarinya tak tertinggal. Mungkin cuma benda itu yang ia pakai karena panik. Kemudian, untuk sidik jari Bu Asri, dia sudah membuat duplikatnya dengan mengambil sisa sarung tangan yang usai digunakan Bu Asri, sehingga dengan kedua hal itu, akan sangat mudah membobol brankas tersebut. Benar itu, Bu Khusni?”
“Baiklah, aku mengaku. Memang akulah yang mengambil uang itu. Aku tidak tega melihat Bu Novi yang terlilit utang. Aku mengambil uang di dalam brankas, lalu kuberikan pada Bu Novi. Aku sudah lama tahu kode sandinya, aku diam-diam melihat Bu Asri memasukkan kode sandi. Selebihnya, sudah dijelaskan Detektif Romy.”
Bu Novi yang mendengar pengakuan Bu Khusni pun menangis, dia tak tahu harus bagaimana lagi. Dia merasa dirinya yang bersalah karena utang-utangnya. Sehingga, membuat Bu Khusni nekat melakukan tindak pencurian.
“Tujuanmu sangat baik, Bu Khusni, tapi dengan cara yang salah. Sekarang kau harus menyerahkan diri kepada polisi, Bu Khusni,” saran Romy.
“Tidak usah!” sela Pak Dharma, “tujuanku memanggil Detektif tanpa memanggil polisi agar ada yang mengaku melakukan tindakan pencurian, tanpa harus ada pidana dari kepolisian. Aku hanya ingin, Bu Khusni mengganti uang tersebut dengan nominal yang sama, karena uang itu milik banyak orang.”
“Aku yang akan mengganti uang itu!” ujar Bu Novi sambil terisak, “akulah yang memaksa Bu Khusni mengusahakan agar uang itu ada.”
“Tapi, Bu Novi. Aku ikhlas menolong Anda, Bu,” kata Bu Khusni.
“Kalau kamu tidak punya uang, mending jangan lakukan hal nekat itu, Bu,” tutur Bu Ani bersuara.
“Baik, berhubung Bapak Dharma selaku kepala sekolah tidak mau menindak pidanakan Bu Khusni, bagaimana kalau Bu Khusni dan Bu Novi sama-sama saling bantu untuk mengganti uang tersebut?” saran Detektif Romy.
“Iya, setuju,” sahut mereka yang ada di sana.
Masalah itu pun terselesaikan dengan damai. Pada akhirnya, mereka saling bersalaman dan meminta maaf. Untung saja, Pak Dharma tahu tentang pidana itu, kalau tidak, pasti Bu Khusni akan dipenjara.
“Terima kasih, Pak Detektif. Semua masalah sudah terselesaikan,” ucap Pak Dharma sambil menyodorkan amplop berisi uang. Romy pun tak menolaknya, ia langsung memasukkan uang itu di sakunya.
“Terima kasih, Pak. Kamu baik sekali terhadap mereka, meskipun tahu, salah satunya ada yang nekat mencuri.”
“Iya, aku hanya tidak ingin masalah ini sampai ke pihak kepolisian.”
“Baguslah kalau begitu. Sekarang aku pamit pergi,” ucap Romy, lalu dia berjalan meninggal sekolah itu.
Setelah sampai di rumah, dia baru saja menyadari kalau Dinda yang tadi bersamanya menghilang.
“Aduh! Ke mana sih, bocah tadi. Bagaimana kalau dia diculik orang?”
Sontak, dia pun kembali menuju taman kanak-kanak tadi untuk mencari keberadaan Dinda.
Sementara itu, Dinda sedang berjalan di suatu tempat, sepertinya sedang mencari sesuatu.
“Tempat tinggal Detektif Zaky kan berada di perbatasan kota Brooksville. Berarti, kota Greenville tak jauh dari sini. Pasti hanya berjarak beberapa blok saja, karena kedua kota itu bergandengan,” ucap Dinda bermonolog, dia kaget setelah lama tidak berada di kota itu, karena banyak perubahan setelah lama tidak kembali ke kota asalnya, karena harus tinggal lama di Batavia untuk mencari ilmu.
Setelah berjalan cukup lama, Dinda masuk ke kota Greenville - tempat di mana rumah milik keluarganya. Pada akhirnya, dia menemukan rumahnya yang dibiarkan kosong. Gerbang yang menjadi pintu masuk rumah itu dikunci, sehingga ia tak bisa membukanya.
Setelah itu, dia memutuskan untuk pergi ke tempat Paman Agus yang letaknya tak jauh dari sana.
“Semoga saja dia ada di rumah,” gumamnya.
Dinda masih mengingat-ingat tempat itu karena sudah lama tidak memijakkan kakinya di sana. Selama lima tahun ia di Universitas dan tak sekali pun pulang. Namun, akhir-akhir ini, tak ada kabar mengenai orang tuanya. Ia sering mencoba meneleponnya, tapi tak ada jawaban.
“Oh iya. Masuk ke gang kecil ini.”
Setelah itu, ada sebuah tempat yang dia kenali dulu. Yakni tempat tinggal Paman Agus. Dia merupakan profesor amatiran yang penemuannya masih gagal dan belum sempurna.
“Profesor Agus, aku kembali,” ucap Dinda lirih ....