“Profesor Agus, aku kembali,” ucap Dinda lirih.
Ternyata, di sebuah pintu gerbang masuknya, ada layar kecil untuk memantau tamu yang masuk. Namun, layar itu terlalu tinggi, dia tidak bisa menggapainya karena tubuh anak-anak. Hingga pada akhirnya, dia menemukan ada pecahan herbel tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu, dia menatanya dengan menumpuk satu persatu untuk dijadikan pijakan kaki.
Setelah semuanya selesai dan bisa mencapai layar tersebut, Dinda menekan tombol, lalu di layar kecil itu muncul wajah Paman Agus yang rambut depannya botak dan rambut belakangnya sudah beruban.
“Minta izin masuk, Paman. Aku Rodhif,” katanya mendekat ke layar itu.
“Rodhif? Bukankah kamu seorang anak perempuan?” jawabnya yang suaranya diteruskan lewat sepiker kecil.
“Nanti aku jelaskan setelah aku masuk.”
“Coba letakkan jempolmu pada layar,” suruh Paman Agus.
Setelah dia melakukan perintah itu, pintu pun terbuka. Paman Agus yang berada di dalam laboratorium pun tidak percaya jika anak itu adalah Rodhif. Namun pada akhirnya, dia pun menyadari kalau bocah itu adalah dirinya setelah pintu berhasil dibuka, tak mungkin orang lain bisa mengaksesnya.
Dinda masuk, langsung menuju lantai bawah tanah, yaitu sebuah laboratorium yang tersembunyi. Banyak orang yang mengira kalau tempat itu hanyalah rumah biasa kalau dilihat dari luar. Padahal, di dalamnya, tersimpan tempat yang sangat tersembunyi.
“Sidik jarimu cocok, tapi kok kamu jadi anak-anak?” tanya Paman Agus.
“Entahlah, saat itu, aku disuntik entah pakai racun apa, lalu aku tidak tahu yang terjadi selanjutnya karena pingsan, setelah sadar, aku mendapati tubuhku berubah kaya gini,” jelas Rodhif.
“Disuntik racun? Racun apa yang mereka berikan ya?”
“Iya, mungkin saja sebuah serum yang dikembangkan oleh organisasi itu.”
“Untung saja kamu masih hidup, aku ingin tahu, siapa ahli kimia tersebut?”
Setelah itu, Paman Agus mengambil darahnya untuk sampel. Dia ingin menganalisis kandungan di dalam darahnya, hasilnya sungguh mengejutkan. Selain hemoglobin, ada kandungan aneh berskala cukup besar.
Dia kaget, darahnya mengandung tetrahidrokanabinol yang jumlahnya lambat laun mulai berkurang. Itu merupakan bahan baku pembuatan narkoba. Namun, meskipun berkurang, tubuhnya tak bisa menjadi normal kembali, kecuali ada serum penangkalnya.
“Kok bisa ya, dengan bahan baku tersebut bisa menciptakan serum langka pengubah bentuk manusia?” celetuk Paman Agus.
“Entahlah, Paman. Tolong buatkan aku obat atau semacamnya agar aku kembali ke wujud normal, masa sih, aku laki-laki dewasa, jadi anak perempuan,” pinta Rodhif memelas.
Paman Agus terdiam sebentar sambil menyentuh dagunya.
“Aku tak bisa melakukannya. Karena aku tidak tahu komposisi serum itu.”
Rodhif mengerutkan keningnya, dia kecewa dengan jawaban dari pamannya. Agus melangkahkan kaki menuju ke komputer, lalu mengetik sesuatu.
Beberapa saat kemudian, ia menemukan sesuatu yang membuatnya takjub.
"Rodhif! Aku baru saja menemukannya.”
Rodhif mengernyit, dalam dirinya ada rasa penasaran. Segera, dia melangkah mendekati pamannya dan melihat ke layar monitor, penasaran dengan apa yang ia temukan. "Aku baru saja mengakses web, menemukan beberapa komponen identik dengan formula serum yang kita cari. Sangat mungkin ini bahan mentahnya."
Setelah mendengar jawab darinya, Rodhif pun berpikir, pasti Paman Agus akan bisa menemukan serum penangkalnya.
“Apa kau sudah memeriksa kandungan bahan tersebut?” tanya Rodhif.
“Sudah, tapi belum sepenuhnya. Memang, bahan itu sebagian besar terbuat dari senyawa Tetrahidrokanabinol – bahan baku pembuatan narkoba.”
“Wow! Bahan baku pembuatan narkoba bisa membuat tubuh menyusut menjadi seorang anak perempuan kecil?”
“Maka dari itu, aku perlu banyak riset untuk mengkajinya agar bisa mendeteksi semua bahan beserta bahan campurannya dengan sempurna,” ujar Profesor Agus, “tapi kau jangan khawatir, aku akan berusaha semaksimal mungkin.”
Rodhif matanya membelalak, suaranya bergetar. "Serius, Paman? Itu berarti ... ada harapan, kan? Tubuhku ini bisa kembali normal?"
Profesor Agus mengangguk perlahan, tapi wajahnya tetap serius. "Aku juga ingin berharap begitu, Rodhif. Tapi kita tidak boleh gegabah. Aku masih harus menelitinya lebih dalam. Komposisinya belum sepenuhnya jelas. Bisa jadi, akan berbahaya kalau salah digunakan."
Rodhif tersenyum kecil, suaranya lirih. "Terima kasih, Paman. Meski hanya secercah harapan, rasanya seperti sinar pertama setelah malam yang panjang."
Profesor Agus menepuk bahu Rodhif dengan hangat. “Untuk sementara, kau harus bersabar dulu. Aku akan berusaha agar kau bisa kembali normal pada tubuh aslimu.”
“Baik, Paman, lalu kapan kau akan selesai melakukan risetnya?”
“Entah, mungkin membutuhkan waktu yang lama. Setahun, dua tahun, atau lebih.”
“Lho, nasibku gimana? Masa aku harus menjalani hari-hariku menjadi anak kecil, anak perempuan lagi?”
“Kamu jalani saja apa adanya. Toh, dengan wujud anak kecil itu adalah nilai plus buatmu. Kamu bisa menyamar dengan alami. Jadi, tidak akan menjadi buronan organisasi yang mengincarmu,” saran Paman Agus, “lantas, kau menginap di mana?”
“Sementara menginap di tempat Detektif Romy, dia yang membawaku ke mari setelah melihatku dirawat di rumah sakit.”
“Kebetulan sekali. Kau bisa ikut bersamanya untuk mencari tahu serum itu. Dia kan selalu berurusan dengan penjahat, bisa jadi, kau pun akan menemukan mereka.”
“Iya, sih. Tapi aku merasa ga enak aja, aku ga mau merepotkan mereka.”
“Tenang saja, aku akan membayar mereka. Kau pun boleh ke tempatku sesuka hatimu. Lagian rumahmu kosong, kau tak mungkin tinggal di sana seorang diri.”
Dinda ingin bertanya di mana orang tuanya, tapi ia batalkan. Ia lebih memilih agar tubuhnya cepat kembali normal.
“Baiklah, Paman.”
Pada akhirnya, Rodhif kecil pun mengikuti perkataan Pamannya, dia pasrah dengan keadaan, dan harus menjalani kehidupannya sebagai anak kecil yang berusia sepuluh tahun. Dia harus ikhlas dalam menjalaninya.
Rodhif masih mengingat momen itu dengan sangat jelas, yaitu momen ketika dunia di sekitarnya tiba-tiba terasa terlalu besar, dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangannya sendiri.
Itu terjadi hanya beberapa menit setelah serum itu masuk ke dalam aliran darahnya. Awalnya hanya rasa panas yang merambat dari ujung-ujung jari, lalu menjalar ke seluruh tubuh. Kulitnya terasa seperti ditarik dari dalam, sendi-sendi bergetar hebat, seolah tulangnya sedang mengatur ulang bentuknya sendiri. Ia terjatuh ke lantai, tubuhnya kejang sesaat, dan pandangannya berputar-putar dalam kabut rasa sakit dan ketakutan.
Detik berikutnya, rasa nyeri itu berubah menjadi sesuatu yang lebih aneh dan lebih asing dari biasanya.
Rodhif melangkah menuju kaca yang besar dan memeriksa perubahan pada tubuhnya.
Jari-jarinya mengecil, kulitnya yang kasar mulai menghalus. Suara yang dulunya masih berat dan serak mulai berubah menjadi lebih ringan, tinggi, dan nyaris tidak dikenali. Pakaian dewasanya tak mungkin bisa dipakai lagi, melorot tanpa kendali, hingga ia nyaris tenggelam dalam kaus dan celana panjangnya sendiri. Lengan dan kakinya mengecil drastis, rambutnya pun tumbuh lebih tebal di bagian depan seperti anak kecil pada umumnya. Anehnya, saat ia melihat bagian vitalnya masih utuh milik laki-laki. Berarti, perubahan tubuh itu hanya hormon saja, tak mempengaruhi organ tubuh yang vital, termasuk otak.
Ia pun pada akhirnya bisa melihat dirinya di permukaan logam mengilat di lantai laboratorium, jantungnya berhenti berdetak sejenak. Dia nyaris tak percaya dengan yang menimpa dirinya.
Wajah itu bulat, muda, tak ada lagi garis-garis usia atau sorot mata penuh pengalaman. Itu wajahnya ... tapi versi anak-anak. Tubuh itu ... tubuhnya yang dulu, saat masih berusia sekitar sepuluh tahun.
Akan tetapi, yang paling mengerikan bukanlah wujudnya. Melainkan kesadaran bahwa dirinya masih utuh di dalam kepala itu. Pikiran dewasa, ingatan, rasa takut, semuanya masih ada, tapi terperangkap dalam tubuh mungil yang belum bisa diandalkan.
Di saat dia berbicara, suaranya terdengar seperti rengekan anak kecil yang manja dan senantiasa minta jajan kepada orang tuanya. Dunia tidak akan memperlakukannya sama lagi. Ia bukan lagi pria muda dengan tekad kuat. Ia hanyalah seorang bocah ... dengan rahasia besar dan dendam yang belum selesai. Dialah Detektif imut. Bak bunga mawar yang indah dan cantik, tapi memiliki duri pelindung. Begitu juga dirinya, di balik keimutannya, tersimpan kecerdasan dan kekejaman bagi siapa pun yang melawannya.
**