Markas Organisasi Deep Corporation
Para penjahat yang baru saja merampok bank berhasil kembali ke markasnya. Mereka melakukan pesta besar-besaran setelah mampu menjalankan misi dari bosnya.
Di sebuah ruangan tersembunyi di bawah tanah, diterangi lampu redup yang berkelip-kelip, Fadil dan Wahyu – anggota Organisasi Deep Corporation duduk di atas kursi kayu. Wajah mereka dipenuhi kelelahan, sementara suara ombak samar terdengar dari kejauhan. Mereka berbicara dengan suara pelan, memastikan tidak ada yang mendengar, meskipun di luar sana sangatlah bising.
Fadil menghela napas dalam, “tiga tahun kita di sini, hidup dalam kegelapan. Aku udah gak tahan lagi.”
Wahyu mengusap wajahnya, “aku juga. Dulu kupikir inilah cara kita buat bertahan hidup, tapi ternyata kita cuma jadi alat mereka. Tak ada kebebasan, tak ada masa depan.”
“Kita udah terlalu jauh masuk ke dunia ini. Jalan terbaik, kita harus kabur dari pulau ini sekarang juga.”
Wahyu menatap tajam, “tapi gimana? Pulau ini dijaga ketat. Orang-orang yang pernah coba kabur, kau tahu sendiri akhirnya gimana?”
“Aku sudah memperhatikan sesuatu, serta sudah mempelajari seluk beluk tempat ini. Aku punya cara untuk kabur.”
“Kalau mereka ngejar kita?”
“Kita harus siap dengan semua kemungkinan. Lebih baik mati mencoba daripada terus hidup dalam ketakutan.”
“Lantas, apa rencanamu?”
“Ada kapal yang datang seminggu sekali untuk mengantar persediaan bahan baku. Mereka akan disibukkan dengan hal itu, kita bisa gunakan waktu itu untuk mencuri speedboat di lepas pantai untuk kabur.”
Wahyu berpikir sejenak, “ide bagus. Sepertinya akan berhasil.”
“Aku sudah lama mempelajari pola mereka. Jika kita melakukan ini dengan benar, kita bisa keluar tanpa ada yang curiga.”
“Ini kesempatan terbaik kita. Malam ini, kapal itu akan datang.”
Di tengah ruangan gelap itu, dua orang yang lelah akan hidup dalam bayang-bayang akhirnya memiliki secercah harapan. Rencana mereka dimulai, dan malam yang menentukan semakin dekat.
Akan tetapi, di balik rak penuh obat-obatan dan peralatan medis di ruang bawah tanah itu, seorang wanita bergaun putih berdiri diam, mendengarkan percakapan mereka dengan saksama—Dokter Sherly. Dia tersenyum setelah mendengar percakapan kedua orang tadi.
“Sebelumnya, aku akan memasang sesuatu di sana,” ucap Fadil.
“Maksudmu?”
“Siang tadi, aku sudah menaruh bom waktu di ruang panel. Itulah kunci keberhasilan kita untuk kabur dari sini.”
“Kau sangat cerdas, Fadil.”
Entah akan berhasil ataupun tidak dengan rencana itu, karena hanya mengandalkan keberuntungan saja. Kalaupun gagal, mereka harus menerima akibatnya, dengan nyawa sebagai bayarannya.
Malam itu, mereka berdua bersiap untuk melakukan tindakannya. Tak lupa mereka menyamar dan menggunakan topi serta masker yang secara kebetulan ada pada salah satu laci meja di kamar itu. Mulai melancarkan aksinya dengan membuat sekring itu terputus dengan sendirinya.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, di tempat itu sudah sangat sepi, beberapa menit lagi listrik akan padam karena di panel listriknya sudah terpasang alat agar padam beberapa menit lagi.
Alat itu semacam timer sederhana menggunakan es batu yang mencair. Setelah semuanya menjadi air, ada sebuah benda pemberat di atas es batu itu yang pastinya akan terjatuh. Benda itu akan menarik tuas saklar utama ke bawah, karena sudah diikat menggunakan tali.
Fadil lah yang merangkai dengan sedemikian rupa, dia lakukan tanpa diketahui oleh penjaga di sana. Sudah lima menit berlalu, mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Kalau timernya tidak jalan, berarti rencana mereka gagal. Namun, sampai saat itu juga, tidak ada tanda-tanda listrik akan padam. Mungkin saja sudah diketahui oleh anggota organisasi.
“Ceklek!”
Tibalah saatnya lampu padam. Tempat itu gelap gulita tanpa ada penerangan yang menyala. Seluruh tempat itu berwarna hitam, membuat pandangan menjadi suram.
"Kita harus cepat! Waktu kita hanya sebentar sebelum mereka menyalakan kembali listriknya,” ujar Fadil.
Dengan cepat mereka menuruni jendela menggunakan tali yang sudah dipersiapkan dari tadi. Lalu berlari menuju ke pantai – tempat di mana ada speedboat.
Sebelum mereka melangkah lebih jauh, listrik pun menyala. Keberadaan mereka pun diketahui oleh salah seorang anggota, lalu dia menyebarkan berita itu kepada anggotanya yang lain hingga sampai ke bosnya.
Stevan - seorang anggota mafia yang cerdas sedang mengecek tuas generator di ruang panel. Dia paham dengan trik yang digunakan oleh kedua orang yang kabur itu.
“Sudah kuduga, pasti mereka berdua!”
Sedangkan Darwin, anggota yang lugu, dia memeriksa kamar mayat, lalu mendapati kalau ada tempat tidur mayat yang kosong. Dia pun dengan cepat mengadu ke bosnya.
"Bodoh kalian! Bisa-bisanya mereka bisa kabur?" tanya bos itu, “kalau mereka menyebarkan semua tentang organisasi kita, bisnisku akan hancur!”
“Tenang, Bos. Rekan-rekan kami berusaha untuk menangkapnya kembali,” jawab Stevan.
"Bagus! Kau memang anggotaku yang bisa diandalkan.”
Stevan pun menyeret Darwin dari tempat bosnya, dia menyuruhnya untuk mengejar kedua orang yang kabur itu segera mungkin. Pada akhirnya, mereka berdua keluar dari markas dan ikut serta mengejar mereka berdua.
Alarm di markas organisasi masih meraung, menandakan bahwa pelarian mereka telah diketahui.
“Kita harus lebih cepat!” seru Fadil, menoleh sekilas ke belakang. Beberapa bayangan bergerak cepat, mengejar mereka tanpa ragu.
Fadil menggertakkan giginya, menekan luka di lengannya yang terkena sayatan saat mereka melompati pagar kawat tadi. “Aku tahu jalan pintas ke gang belakang! Sini ikut aku!” katanya, menarik Wahyu ke sebuah lorong sempit yang gelap.
Langkah kaki para pengejar terdengar semakin dekat. Mereka bukan orang sembarangan, yaitu anggota Organisasi adalah pemburu yang terlatih. Pelarian bukanlah opsi yang sering berhasil.
Mereka berbelok tajam, melewati tumpukan sampah dan lorong-lorong basah yang dipenuhi genangan air. Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari radio genggam salah satu pengejar.
“Jangan biarkan mereka lolos! Blokir semua jalan keluar!”
Jantung Wahyu berdetak makin kencang.
“Jika semua jalan sudah ditutup, kita keluar lewat mana?”
“Naik ke atas!” seru Fadil dengan suara lirih, matanya bersinar penuh harapan.
Mereka menaiki tangga vertikal – satu-satunya jalan keluar yang ada. Namun, setelah mereka sempat membuka pintu rahasia, sebuah suara dingin menghentikan langkah mereka.
“Kalian mau ke mana?”
“Duar!” Suara tembakan yang dilesakkan oleh seseorang tepat mengenai kaki Fadil, sehingga dia tidak bisa berlari lagi.
Fadil mengerang kesakitan dan memegangi kakinya yang terkena peluru. Dengan cepat, dia mengambil peluru yang menancap pada daging kakinya, seketika darah segarnya mengalir. Lalu dia menyobek pakaiannya, lalu membalutkannya pada luka itu.
“Jangan bergerak!”
Cahaya senter menyilaukan mata mereka. Seorang pria bertubuh besar berdiri di ujung gang, pistol terangkat siap menembak. Di belakangnya, lebih banyak anggota Organisasi muncul, mengepung mereka tanpa celah.
Fadil dan Wahyu saling bertatapan. Tidak ada jalan mundur. Kini, pilihan mereka hanya dua: menyerah … atau bertarung hingga titik darah penghabisan. Fadil yang kakinya sudah tertembak pun tak bisa melakukan apa-apa.
Para anggota Organisasi itu sudah semakin mendekat. Untungnya, Fadil masih punya satu granat, dia melemparkannya ke arah kerumunan orang-orang itu hingga menciptakan debu yang beterbangan.
“Cepat! Kau pergi! Jangan hiraukan aku! Selamatkan dirimu sendiri!” teriak Fadil ....
"Cepat! Kamu pergi! Jangan hiraukan aku! Selamatkan dirimu dan barang itu!" teriak Fadil.
"T ... tapi?" kata Wahyu yang ragu meninggalkan temannya seorang diri.
"Cepat!" seru Fadil. Di saat kondisi yang dialaminya parah seperti itu, dia masih berusaha berlari untuk menyelamatkan diri.
Akhirnya, Wahyu meninggalkan Fadil. Dia tidak tahu nasib temannya akan seperti apa. Berharap kalau dia dalam keadaan baik-baik saja dan bisa bertemu kembali entah kapan waktunya.
Sesampainya di suatu tempat, dia pun bersembunyi di balik kegelapan. Sementara itu, orang yang mengawasinya pun pergi. Inilah kesempatan Wahyu untuk melanjutkan pelariannya.
Akan tetapi, semua itu hanyalah pancingan belaka. Saat akan menuruni bukit, ternyata orang itu sudah mengetahui persembunyiannya.
“Stevan, kau!”
Wahyu terus berlari hingga suatu saat menemui jalan buntu. Di depannya ada tebing tinggi yang bawahnya adalah lautan ....