Detektif Imut - Transaksi Ilegal - Bab 9

Penulis Yuan_bee
22 September 2025

Wahyu terus berlari hingga suatu saat menemui jalan buntu. Di depannya ada tebing tinggi yang bawahnya adalah lautan.

“Aku harus ke mana lagi, aku pasti mati ...,” bisik Wahyu yang sudah tidak ada kesempatan untuk hidup.

“Duar!” Seseorang membidiknya dari jarak yang cukup jauh. Sehingga, Wahyu tertembak kakinya, membuatnya kesulitan untuk berdiri, memaksanya berjalan dengan tergopoh-gopoh. Dia sampai di suatu tempat, lalu melihat ke sekelilingnya. Rupanya, di belakang tempatnya berdiri, ada jurang sangat dalam. Kalau dia tercebur, sudah pasti mati.

Kemudian, dia membalikkan badanya. Sungguh sialnya, orang yang tadi mengejarnya sudah berada di depannya. Kalaupun mundur selangkah saja, dia pasti terguling dan jatuh ke jurang, lalu tercebur ke lautan. Tidak ada cara lain lagi, selain menyerahkan diri.

Wahyu pun mengangkat kedua tangannya. Dia sudah pasrah diri dengan keadaan yang dialaminya. Kehidupannya sudah berakhir saat itu, sedangkan kematian sudah berada di depan mata.

Rupanya Stevan dan Darwin yang sudah mengejarnya sejauh itu. Darwin pun menangkap Wahyu dan menjaganya agar tidak kabur. Dia tidak berontak karena sudah menyerahkan dirinya dan bersiap untuk mati.

“Tidak ada tempat lagi untuk anggota yang berkhianat!” ucapnya sambil menembakkan pistol ke bagian jantungnya hingga dia pun jatuh dari bukit itu menuju ke lautan.

Mungkin saja itu adalah akhir darinya hidupnya, dia tidak bisa bernapas lagi karena tubuhnya sudah tenggelam ke dalam air. Namun, ada sebuah cahaya yang lambat laun mendekatinya, lalu menarik dirinya yang masih berada di dalam air menuju ke suatu tempat.

**

"Lapor bos, kedua penghianat itu sudah kami tembak!” ucap Stevan sambi memasang pose hormat kepada atasannya.

"Lalu mayatnya dibuang ke mana?”

"Sudah kami ceburkan ke lautan dan kupastikan mereka berdua sudah binasa.”

“Apa kau yakin kalau mereka sudah dipastikan mati?”

“Sangat yakin, Bos. Sudah kami tembak.”

"Kerja bagus untuk kalian, jangan sampai melakukan hal yang menentang organisasi, atau kalian akan mendapatkan nasib yang sama seperti mereka.”

"Baik, Bos."

Kemudian bos itu menyuruh anak buahnya menyiapkan ruang rapat, karena akan ada klien luar negeri yang akan datang. Klien itu akan membayar hasil produk buatannya dengan harga tinggi.

Produk yang dijual darinya adalah beberapa serum untuk wanita. Seperti pemutih kulit, pelangsing badan, serta ada serum yang masih dalam tahap percobaan, yaitu serum perubah wajah.

Ada juga serum suntik mati yang dijual dengan harga paling tinggi, karena produk itu sangat langka. Namun, serum tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum sempurna.

Tidak hanya itu saja, mereka juga melakukan praktik ilegal, yaitu pembuatan narkoba serta melakukan penjualan secara privat. Terbukti di sekeliling markas itu ladang ganja dengan area yang luas.

Para penjahat itu sangat aman tinggal di pulau itu, karena kalau ada polisi yang patroli, mereka hanya memberi beberapa uang suap saja agar polisi itu diam, sehingga tidak terkena razia. Jadi, tempat itu adalah pabrik yang memproduksi barang-barang secara ilegal. Organisasi ini sudah melakukan praktik itu sudah lama.

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, tamu datang. Sebuah kapal Ferry muncul dari kejauhan, lambat laun mendekati pulau itu. Benar, mereka adalah tamu dari luar negeri yang sudah dijadwalkan bertemu tadi malam, tapi karena ada masalah, mereka pun terlambat dan baru sampai pagi harinya.

Kapal itu pun berhenti di sebuah dermaga, seorang pria bule yang sudah cukup tua keluar dari kapal dan menuju ke tempat itu, diiringi oleh beberapa orang-orangnya. Mereka memakai jas yang rapi yang menandakan kalau semuanya adalah orang kalangan atas. Rambutnya berwarna pirang, dipastikan kalau mereka bukanlah warga asli.

Anak buah bos itu menyambut mereka dan mengantarkan ke ruang pertemuan. Di dalam ruangan tertutup itu, hanya ada beberapa yang masuk untuk melakukan transaksi ilegal. Sedangkan untuk yang lainnya, ada yang berada di luar. Mereka pun mulai melakukan transaksi itu.

"Apa kabar, bapak Ronald Kristian?" ucap bule itu.

"Kabarku baik, Tuan Arnold,” jawabnya.

Setelah mereka berdua saling tegur sapa, lalu basa-basi terlebih dahulu dengan begitu akrab. Menandakan kalau mereka berdua sudah kenal sejak lama. Dipastikan kalau Arnold adalah pelanggan setianya.

Setelah mereka melakukan basa-basi, tibalah saatnya melakukan transaksi.

"Lima miliar itu masih nanggung,” kata Ronald.

"Baiklah, kami akan membayarmu sepuluh miliar untuk semuanya, asalkan produk yang kamu jual itu bisa laris di negaraku,” kata Josep.

"Sebentar, tidakkah hal itu pemborosan? Begini saja, apakah kamu setuju jika kami membayar lima miliar dulu? Nanti sisa lima miliarnya kami transfer kalau produk kamu sudah terbukti dengan baik, gimana?” tanya Arnold bernegosiasi.

Ronald pun berpikir panjang untuk menentukan pilihannya. Pada akhirnya, dia menyetujui dengan harga yang ditawarkan itu. Para bule itu membeli semua produknya, termasuk beberapa Narkob4 yang sudah dikemas dengan rapi. Benda itu diselipkan dengan benda lain agar tidak timbul kecurigaan, apabila ada razia dalam perjalanan mereka.

Transaksi pun selesai, Ronald yang mendapatkan uang lima miliar itu sangat senang. Apalagi, jika produknya bagus, dia akan kembali mendapatkannya lima miliar lagi.

Setelah para tamu itu selesai melakukan transaksi, mereka pun kembali dengan diantar anak buah Ronald menuju dermaga. Sementara itu, Ronald tertawa terbahak-bahak sambil mengipasi badannya menggunakan uang tersebut. Kemudian, dia pergi menuju ke sebuah kamar untuk menyimpan semua uang itu ke brangkas.

Pagi pun menjelang sore, Ronald pergi ke laboratorium untuk memeriksa kinerja bawahannya.

"Kerja bagus, Sherly. Dengan serum-serum yang kau buat inilah yang akan mengubah dunia, serta kita akan kaya."

Sherly yang merupakan ahli kimia yang hanya diam membisu, dia sudah terbiasa dengan sifat bosnya yang arogan itu. Dia masih sibuk bermain dengan cairan yang berwarna-warni yang diletakkan pada tabung kimia. Terlintas pikiran cemas pada dirinya, dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu kalau bos itu marah memarahinya.

Sherly ingin mengatakan bahwa beberapa riset yang pernah dia lakukan itu belum sempurna, masih ada kekurangan yang belum bisa direvisi oleh ahli kimia itu. Sampai saat itu, Ronald pun tidak mengetahui tentang hal tersebut.

"Bos, maaf. Serum-serum itu belum sempurna,” ungkap Sherly berterus terang. Pada akhirnya, Sherly berani untuk berbicara dengannya.

"Kok bisa?"

"Di laboratorium kekurangan Retinol untuk serum perubah wajah, dan kekurangan tetrahidrokanabinol untuk serum suntik mati. Saat ini, tidak ada yang datang menyediakan kedua barang itu.”

"Mengapa bisa terjadi?!” bentak Ronald sambil menarik kerah jasnya, “dengar ya! Serum-serum itu sudah terjual. Kalau mereka tahu serum kita belum sempurna, kita akan kehilangan pelanggan!”

“Maaf, Bos. Aku mendapat informasi untuk melakukan riset secara mendadak. Sehingga aku kekurangan waktu untuk menyempurnakannya. Jadi, aku buat seadanya,” kata Sherly.

“Alasan!” seru Howard sambil menendang kursi yang berada di dalam laboratorium. Lalu, dia pergi meninggalkan Sherly. Sepertinya dia tahu, kalau Sherly berbohong.

Sebenarnya Sherly pun sudah muak dengan sifat bosnya yang angkuh, tapi tak ada jalan lain lagi untuk hidup, selain harus tetap menjadi bawahannya.

**