**
Kembali ke Rodhif yang berubah wujud jadi Dinda
Hari-hari pertama setelah perubahan itu adalah yang paling sulit dalam hidup Rodhif. Ia nantinya harus mempergunakan tubuh kecil yang belum sepenuhnya ia kenali, tetapi pikirannya masih tajam seperti dulu.
Dunia di sekitarnya pun tak mengenalinya lagi. Orang lain mungkin menatapnya sebagai anak-anak biasa dan menganggapnya lucu dan imut. Mereka tak tahu bahwa di balik mata bulat dan tubuh mungil itu, tersembunyi jiwa pria dewasa yang pernah memecahkan kasus dengan kecerdasannya.
Rodhif tak bisa menghindar dari ironi hidupnya: tubuh kecil, tapi dengan kecerdasan yang utuh. Ia tak bisa mengambil keputusan legal, tak bisa mengakses datanya sendiri, bahkan tak bisa mengangkat barang berat tanpa menjatuhkannya. Hal-hal sederhana seperti membuka pintu laboratorium atau menjangkau rak tertinggi kini menjadi rintangan harian.
Akan tetapi, yang paling menyakitkan adalah saat ia berbicara, dan orang dewasa hanya menanggapinya seperti anak cerewet. Ia mencoba menjelaskan, memberikan saran, mengingatkan Profesor Agus tentang prosedur yang harus diperiksa ulang, tapi sering kali disambut dengan senyuman setengah hati dan ucapan seperti tak menghargai pendapatnya.
Ia muak, tapi ia tidak akan menyerah.
"Paman, sebenarnya apa yang terjadi dengan orang tuaku?”
"Aku tidak seharusnya mengatakan padamu, karena ini rahasia besar. Intinya, mereka sedang bersembunyi dari kejaran organisasi gelap,” ungkap Paman Agus, “ tapi entah kenapa, orang tuamu ikut terlibat.”
“Apa enggak ada informasi lain tenang keberadaan orang tuaku? Atau organisasi jahat itu”
“Maka dari itu, kau harus ikut Detektif Romy agar bisa mencari informasi. Dia sering terlibat dalam hal kriminal, kau akan tahu nantinya. Itu sudah pasti.”
“Baik, Paman. Ngomong-ngomong, aku ga punya baju ganti, bagaimana nih?"
"Sebentar!”
Kemudian Profesor Agus mencari sesuatu di lemarinya.
"Sebelum mereka pergi, ibumu pernah membawa barang-barang, termasuk pakaianmu yang masih kecil dibawa ke sini. Jadi, untuk sementara, kau jangan ke rumah itu, karena bisa jadi, ada yang mengawasi.
“Siapa yang mengawasi?”
Paman Agus tak menjawab, dia hanya diam saja, lalu memberikan semua pakaian itu kepadanya. Memang benar, pakaian itu miliknya waktu kecil, tapi pakaian itu milik anak laki-laki, tapi ia tak mempermasalahkan hal itu.
“Kamu bisa mengganti pakaianmu, tenang saja, yang kotor nanti akan aku cuci,” suruh Paman Agus.
“Baik,” kata Rodhif, lalu ia bergegas mengganti pakaiannya. Dia belum terbiasa dengan perubahan tubuhnya, sehingga cukup kesulitan untuk berganti pakaian.
“Paman, mungkin aku harus kembali.”
“Baiklah, tapi ini sudah menjelang petang, aku antar ya?”
“Boleh.”
Setelah itu, Rodhif kecil mengemas beberapa pakaian gantinya dan ia letakkan di tas punggung.
Kemudian, mereka berdua pergi menggunakan mobil yang tersimpan di bagasi tersembunyi.
“Wah, keren Paman!” puji Rodhif mengetahui teknologi buatan pamannya.
Mobil pun mulai berjalan. Di dalam perjalanannya, Rodhif kecil sempat memikirkan nasib dirinya, apabila dia tidak bisa menjadi normal lagi. Tidak hanya itu saja, dia juga memikirkan masa depannya nanti.
Pada akhirnya, Rodhif kembali ke kantor detektif Romy dengan diantar oleh Profesor Agus.
‘Bocah itu lagi!’ gerutu Detektif Romy dalam hati setelah mengetahui Dinda kembali.
“Dinda, ke mana saja kau?” tanya Rania dengan raut wajah khawatir, lalu memeluknya seperti adik kandung sendiri.
‘B***r. Empuk sekali,’ gumam Dinda dalam hati, meski tubuhnya anak perempuan, tapi pikiran pria dewasanya tetap utuh.
“Aku pergi ke tempat Paman Agus.”
“Kamu mengkhawatirkan kami saja, kalau pergi, pamit dulu, lah!” gerutu Romy.
“Maaf, aku buru-buru ingin mengambil baju ganti.”
“Baju ganti?” ucap Rania bingung, dia mulai curiga dengan identitas asli Dinda.
Sementara itu, Detektif Romy dan Profesor Agus saling apa.
“Hai Profesor Agus, apa kabar?” ucapnya sambil bersalaman.
“Kabarku baik. Aku kesini, hanya untuk mengantar bocah itu, dia adalah anak dari kerabatku yang ditinggal ke luar negeri.”
“Kerabatmu?”
“Iya, hehe.”
“Tapi kenapa saat kami menemukan bocah itu, dia sedang di kota Cedarville?” tanya Detektif Romy.
“Dia sudah lama ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, saat itu, akulah yang merawatnya untuk sementara waktu, tapi karena aku banyak kerjaan. Aku kurang mengawasi dia hingga sampai ke kota sebelah,” dalih Agus sambil menggaruk kepalanya.
“Ah, kau ini sungguh teledor. Anak masih kecil, dibiarkan bermain sendiri. Apalagi, bisa sampai ke tempat berbahaya itu.”
“Iya, iya. Maka dari itu, aku nitip anak ini untuk tinggal di rumah Anda, bagaimana?” ucap Paman Agus sambil melirik ke arah Dinda.
“Sebenarnya sih tak masalah. Hanya saja ....”
“Tenang saja, ada sedikit untuk biaya perawatannya. Mohon diterima!” ujar Agus sambil menyerahkan sesuatu padanya.
Detektif Romy yang melihat amplop tebal itu pun seketika luluh. Auranya yang tadinya gelap, seketika menjadi terang.
“Tenang, Paman. Aku tidak akan merepotkanmu. Aku akan kembali setelah orang tuaku menjemputku.”
‘Dasar!’ umpat Detektif Romy dalam hati.
“Eh Dinda, kau boleh kok, tinggal di sini. Kami tidak akan merasa di repotkan, lagian aku senang punya adik kecil imut sepertimu,” ucap Rania sambil mencubit pipi Dinda.
‘Anj**! Terjadi lagi, mana cubitannya sakit lagi,’ batin Dinda dalam hati sambil mengusap bekas cubitannya yang merah.
“Baik, kalau begitu, aku pamit dulu, ya,” kata Profesor Agus.
Malam harinya, Dinda tidur satu kamar bersama Detektif Romy dengan kasur terpisah. Dia tidur menggunakan kasur lantai yang berukuran kecil. Pas dengan tubuhnya.
Dinda dan Detektif Romy tertidur lelap karena kelelahan. Meskipun mereka satu kamar, tapi Romy tak sekalipun mengajak Dinda bicara. Mungkin saja dia tidak menginginkan kehadirannya, atau memang tak suka dengan anak kecil.
Pagi hari, sinar mentari muncul di ufuk timur cakrawala. Dinda dan Detektif Romy bangun bersamaan dan dengan kompak menguap bersama-sama sambil meluruskan kedua tangannya.
“Heh! Kamu mending tidur lagi aja sana! Kamu kan ga sekolah?”
“Kalau jam segini tidur, tidak baik untuk kesehatan, Paman.”
“Iya kah? Jangan sok tahu, Bocah!” sangkal Romy, “katanya kamu kerabat profesor Agus, kau dulu sekolah di mana?”
“Aku ... di ... Sekolah Dasar Greenville satu. Iya, di sana,” dalih Dinda yang sebenarnya dia adalah mahasiswa semester awal di kota Batavia.
“Lantas, kenapa kau tidak sekolah lagi di sana?”
“Aku putus sekolah semenjak kedua orang tuaku pergi ke luar negeri untuk bekerja,” jawab Dinda beralasan, membuat Detektif Romy, karena sepertinya dia tidak mempercayai ucapan Dinda.
‘Maklum, dia kan anak-anak,’ gumam Romy dalam hati, ‘kedua orang tuanya aneh, meninggalkan anak yang masih kecil itu sendirian. Apalagi, dititipkan sama profesor blo’on yang tak bisa merawat anak.’ Tetapi, melihat Dinda yang keadaan seperti itu, Romy sebenarnya kasihan padanya.
“Kalau kau kusekolahkan mau tidak?” saran Romy.
“Sungguh? Aku sih mau saja, Paman.”
“Baiklah, kalau begitu, besok akan kudaftarkan ke sekolah dasar.”
Tidak lama kemudian, ada suara telepon berdering. Segera, dia menerima telepon itu.
“Halo! Detektif Romy di sini. Iya, iya, baik. Aku segera ke sana,” ucapnya, lalu menutup telepon. Kemudian, dia bergegas membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya menjadi formal.
“Paman mau ke mana? Ajak aku lagi, dong!” pinta Dinda.
“Kau tidak usah ikut, kau nanti akan menyusahkan saja!”
“Tapi, Paman?”
Detektif Romy berpikir panjang, sebenarnya dia ingin tahu, siapa orang yang menyelipkan kertas misterius di sakunya.
‘Apa anak kecil itu, ya? Tapi, mana mungkin,’ batinnya dalam hati.
“Baik, kau boleh ikut, tapi jangan ikut campur! Kau janji, harus menjauh dari TKP!”
“Asik!” kata Dinda, “ ngomong-ngomong, ada kasus apa, Paman?”
Detektif Romy mengerutkan keningnya, dia sebenarnya tidak suka kalau ditanya begitu terus menerus.
“Kasus penemuan mayat di ruang kelas ....”