“Satu! Dua! Tiga! Yeayyyyy!!!” Sorak kebahagian para tamu undangan memenuhi ‘Sasana Kriya Mandira Ballroom’, sesaat setelah buket bunga putih berbentuk round ditangkap oleh salah seorang sahabat Ayyara. Riuhnya kegembiraan bergema di tiap sudut ruangan, bergema pula di hati pengantin wanita yang sedang menatap mesra sang pengantin pria.
“Kamu bahagia, Ay?”
Tak ada jawaban. Dan memang gadis 28 tahun itu tak mampu menjawab sepatah katapun, karena matanya mulai memanas, pertanda butiran bening akan segera tumpah jika dia mengucapkan sesuatu. Ayyara mengangguk, berusaha menyuguhkan senyuman termanisnya di hari spesial hari ini, teruntuk pria pilihan yang baru dinikahinya kurang dari dua jam lalu.
Agam mengusap pipi wanita cantik bukan main di hadapannya, dengan lembut seolah takut meleleh jika tersentuh. Dialah gadis yang telah mampu menyusup ke dalam hatinya, dan menaruh rasa berbeda di sana.
Hingga acara sakral di minggu cerah itu hampir selesai, senyuman di bibir Ayyara tak pernah pudar. Hatinya terus menggebu, bersemangat ketika menyalami para tamu undangan, inilah yang menjadi impiannya paling serius sejak sekitar empat tahun ke belakang.
Kini, dirinya yang masih berbalut gaun pengantin putih berbahan lace sutera yang eksotis sekaligus mewah, sedang duduk bersanding di dalam mobil yang tergolong mewah juga, bersama sang suami di sampingnya, dan juga bapak supir yang berusaha tak tergoda untuk melirik kaca spion tengah, pada sepasang pengantin baru di jok belakang.
“Mas Agam,” ucap Ayyara manja sambil tangannya bergelayut di lengan sang suami.
“Hmm?”
“Ini kita mau kemana?”
“Kan sudah kubilang, ini surprise. Hadiah pernikahan untukmu.”
“Hmm manis sekali … tapi aku malah jadi penasaran.” Mata indah Ayyara mendelik, bibirnya sengaja dimajukan, membuat wajah mungilnya semakin cantik.
“Oh, bagus itu,” jawab Agam sekenanya, dia tersenyum tipis pada sang istri.
Tidak sampai satu jam, itupun sudah dipotong macetnya kota Bandung, akhirnya Range Rover hitam itu sampai juga di depan sebuah rumah besar berlantai dua.
Seorang laki-laki empat puluhan tahun membukakan pintu pagar kombinasi besi ulir dengan kayu jati, pagar yang tampak gagah tapi terkesan tertutup.
Mata Ayyara membulat, ketika mobil berjalan masuk melewati pagar tinggi, mulutnya sedikit menganga, dan beberapa kali mengatakan ‘wah!’. Begitulah Ayyara, perempuan energik yang tak pernah bisa menyembunyikan ekspresi atas perasaannya.
Agam merangkul istrinya, memasuki rumah dua lantai bergaya kontemporer elegan. Lelaki itu tersenyum ketika menemukan mata istrinya menatap dalam, dan sebaris senyum merekah di bibirnya yang merah bata. “Ini rumah kita,” katanya.
Senyuman itu semakin mengembang, Ayyara memegang kedua pipinya, lalu segera memeluk suaminya yang begitu tampan di matanya. “Jadi, ini surprisenya?”
Agam mengangguk. “Masih ada lagi, ayo!” Lelaki dengan aroma woody yang lembut dan hangat, menggandeng lembut tangan istrinya. Di lantai dua, mereka masuk ke kamar dengan daun pintu putih yang lebar. “Inilah kamar pengantin baru, yang hangat dan harum.”
Sang pengantin wanita mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar, bahkan tanpa sadar dia melepas tangan Agam lalu berjalan pelan mengitari dalam ruangan. Dia begitu terpesona dengan tampilan kamar tidur yang begitu luas dan berkelas. Dengan bergaya monokrom perpaduan abu-abu dan merah bata. Semua perabotan tertata rapi dan terkesan mewah, ditambah pula dengan lampu backlight di beberapa sisi kamar, menghadirkan kesan yang hangat dan elegan. “Ini kamar kita?” tanyanya penuh harap.
Agam mengangguk sambil tersenyum sekilas. Beberapa saat kemudian dia telah menggendong Ayyara. Membopongnya ke ranjang besar, saksi indah kebahagiaan pertama sepasang pengantin baru.
“Mas, tapi—“ Ayyara melingkarkan kedua tangan pada pinggang suaminya, berusaha merayu supaya keputusan itu bisa berubah.
“Ay, ini untuk kebaikan rumah tangga kita,” potong lelaki itu tegas. Lalu perlahan melepaskan pelukan istrinya.
Ayyara tak menyerah, dia sungguh berat dengan keputusan sang suami. “Mas, tolonglah … aku sudah bekerja di bidang ini hampir delapan tahun, loh. Masa’ kamu tega sih, bahkan kita juga dipertemukan karena pekerjaan, kan?”
“Ay, sudah cukup! Aku bilang berhenti kerja, ya sudah, berhenti!” Agam menatap mata istrinya yang berkaca-kaca, tak dipedulikannya wajah memelas itu. Dia membanting pintu kamar, meninggalkan Ayyara sendirian yang terduduk lemas di pinggiran ranjang kayu jati ukir.
Perempuan bertubuh ramping dengan wajah yang manis itu membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Terdengar tangisnya tersedu tapi berusaha ditahan sekuatnya.
Masih teringat hampir setahun lalu pernikahannya yang sempurna, layaknya seorang putri raja yang dipinang oleh pangeran dari negeri tersohor. Kemudian bulan demi bulan berlalu, Agam Rafandra yang Ayyara kenal, mulai berubah. Lelaki 30 tahun itu, menjadi benar-benar merasa ‘memiliki’ Ayyara Eve. Tepatnya, memiliki yang semakin lama menjadi berlebihan, menurut Ayyara.
Bagaimana tidak? Di bulan kedua pernikahan, seorang pelayan perempuan yang biasa membantu membersihkan seisi rumah, dipecat, dengan alasan takut memberi pengaruh buruk pada Ayyara. Padahal, apanya yang pengaruh buruk? Ayyara saja kesehariannya bekerja, kalau di rumah selalu berdekatan dengan sang suami, aktifitas juga kebanyakan di dalam kamar, itupun permintaan Agam.
Dan tak lama, Pak Santo, tukang kebun rumah yang merangkap sebagai satpam, tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah utama, kebetulan kamarnya memang terletak di luar rumah, tepatnya di halaman samping walaupun menempel pada bangunan utama, lengkap dengan kamar mandi dan sebuah dapur kecil. Agam bilang, untuk menjaga Ayyara supaya tidak merasa risih dengan kehadiran laki-laki lain di dalam rumah. Ya, baiklah, Ayyara menurut.
Jadi, otomatis semua pekerjaan rumah beralih padanya, sang nyonya rumah. Semua dikerjakan Ayyara di pagi hari sebelum berangkat kerja, perempuan itu masih maklum.
Lalu pada bulan berikutnya, Agam mulai membatasi jadwal Ayyara keluar rumah. Hanya diizinkan untuk bekerja saja, di luar itu, harus dengan didampingi Agam, walau sekadar ke minimarket sekalipun. Kebutuhan lain akan dikerjakan oleh Pak Santo, dan jika ada barang yang dibeli, Pak Santo cukup meletakkannya di depan pintu rumah. Atau kalau tidak, silakan Ayyara berbelanja lewat online saja. Begitulah, ada saja keputusan sepihak yang dibuat oleh Agam, tanpa ada cela untuk Ayyara bisa berdiskusi.
Dan pagi ini, tiba-tiba Agam memintanya untuk resign dari pekerjaan yang telah digelutinya selama tujuh setengah tahun ke belakang. Di mana begitu banyak kesan mendalam untuk Ayyara hingga bisa meraih jabatan sebagai production manager di perusahaan EO tempatnya bekerja. Apalagi di sana terlalu banyak sahabatnya yang telah berjuang bersama meniti karir. Ah, terlalu menyakitkan rasanya untuk menuruti perintah suaminya kali ini.
“Sayang! Ayo kita sarapan!” Suara Agam terdengar dari ruang makan, di lantai satu.
Dengan malas Ayyara mengusap matanya yang memanas, lalu keluar dari kamar menuju ruang makan.
Agam tampak menikmati sarapannya, omelet buatan istrinya. Setelah beberapa saat, dia baru menyadari bahwa Ayyara hanya duduk diam memandangi piring kosong.
“Ay, ayo makan. Kamu kenapa, sih? Nanti sakit, loh!” katanya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Dan sampai sekarang, Ayyara masih selalu merasa aneh dengan sikap suaminya yang satu ini. Antara tidak peka, atau memanglah dia karakter orang yang punya mood swing parah?
“Mas Agam, bagaimana aku bisa makan, coba? Jujur, keputusanmu barusan bikin aku kecewa, Mas. Berat banget rasanya Mas, untuk aku ngelepas pekerjaan itu,” ucap Ayyara lirih, dia sudah betul-betul tak bisa membendung perasaannya lagi.
Kedua netra milik Agam yang dalam dan teduh berwarna chesnut brown, menatap lurus pada istrinya di seberang meja. Mata itu yang dulu pada perjumpaan pertama membuat Ayyara terus membayangkannya hingga sulit tidur, kini membuat persendiannya lemas, seakan bergetar tak berdaya. Bukan lagi karena rindu, tapi rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuh.
Prang! Sendok berbahan stainless steel itu berdentang keras ketika dengan sengaja dicampakkan ke piring. Ayyara tersentak!
“Hari ini, kamu ke kantor, bilang sama bos kamu, mulai besok kamu berhenti kerja! Tempat kamu cukup di rumah ini! Semua kebutuhan kamu biar aku yang penuhi, gak perlu lagi kamu capek-capek kerja di luar sana,” tegas lelaki berwajah tampan itu.
“Mas, tolong dengerin aku sekaliii ini aja! Mungkin aku memang capek kerja, tapi aku nikmatin itu, Mas. Itu kehidupan aku jauh dari sebelum menikah!”
Brak! Agam berdiri dari kursinya, sambil tangannya menggebrak meja makan. Untuk kedua kali di ruang makan pagi ini, Ayyara tersentak.
“Turuti saja aku, Ay! Jangan berani macam-macam! Gara-gara kamu, sarapanku jadi tidak berselera!” tukas Agam ketus, dan sempat jari telunjuknya mengarah pada depan wajah sang istri yang termangu.
Agam berjalan dengan langkah lebar-lebar, tubuhnya yang tinggi dan ideal, membuat auranya selalu menjadi dominan. Lelaki itu pasti menuju ruang kerjanya di lantai dua, berseberangan dengan kamar tidur mereka. Meninggalkan Ayyara sendirian yang sama sekali tidak berniat sarapan pagi ini.
Padahal sejak hari pernikahan mereka, Ayyara tidak pernah mengganggu jam kerja suaminya, malah bisa dibilang sangat maklum. Ayyara akan menyiapkan segala keperluan Agam sebelum dirinya berangkat kerja jam delapan pagi. Menyiapkan sarapan dengan menu yang tidak itu-itu saja, membersihkan ruang seisi rumah berikut satu kamar di lantai dua yang menjadi ruang kerja sang suami, tanpa memindahkan sedikitpun segala letak barang di ruangan itu, memenuhi pesan suaminya. Dan bahkan masih disempatkan untuk memasak dulu makan siang suaminya beserta untuk Pak Santo.
Lalu sepulang kerja, yang dulu biasanya akan diisi dengan berlama-lama di kantor, sekadar makan malam sambil ngobrol santai dengan para rekan kerja yang otomatis merangkap sebagai geng persahabatan yang kental, sambil diskusi ringan tentang proyek mereka yang selalu ada saja kejadian lucu atau unik saat bekerja.
Setelah menikah, Ayyara merelakan itu semua, dia akan bergegas kalau mobil suaminya sudah terparkir di halaman kantor, atau bahkan segera pulang sendiri karena Agam mengabarkan masih harus berjam-jam lagi di ruang kerjanya, mengejar lukisan pesanan atau untuk kebutuhan pameran. Ayyara Eve melakukannya dengan tulus. Sebab dia begitu mendambakan pernikahan ini.
Pernah saat remaja dia bercita-cita ingin menikah muda, di usia tidak lebih dari 23, dia takut mengalami nasib seperti sang mama, yang menikah di usia 35, dan meninggalkan Ayyara untuk selamanya di kala masih bersekolah SMP, menyusul papa yang telah lebih dulu berpulang beberapa tahun sebelumnya.
Memang, ajal tidak memandang usia. Namun Ayyara yakin, semakin muda saat dia memiliki anak, maka semakin panjang peluangnya untuk bisa membersamai mereka.
Namun tentu tidak semua akan berjalan sesuai rencana. Di saat karirnya melaju dengan lancar, justru kisah cintanya berbanding terbalik, jodoh tak juga menghampiri hingga jauh melewati target yang ditentukan dirinya sendiri. Hingga di awal usianya yang memasuki 28 tahun, rasa yang aneh itu muncul. Rasa rindu pada seorang lelaki yang begitu dalam dan teduh tatapannya.
Dialah Agam Rafandra, seorang pelukis terkenal yang mengikuti sebuah acara penting dan besar, yaitu ‘Art Jakarta’, yang kebetulan diurus oleh EO perusahaan Ayyara bekerja. Namanya yang sudah tersohor dikarenakan ratusan lukisan dengan aliran ekspresionisme yang sangat indah, dan puluhan diantaranya telah beberapa kali diikutkan pada event besar sekelas international. Membuat Agam mendapat tempat eksklusif dan menjadi perhatian khusus bagi EO yang mengurus.
Lalu pada suatu hari yang kebetulan, rekan kerja Ayyara sakit, posisinya yang sebagai stage manager seharusnya mengurus kebutuhan sang pelukis tersohor dengan spesial. Karena masalah sakit itulah, si bos besar menunjuk Ayyara yang menjabat sebagai production manager untuk menghandle job desk penting itu. Menjadi awal perjumpaan Ayyara dengan Agam, yang di penghujung hari membuat hati Ayyara seakan terbuai.
Ternyata Agam Rafandra, yang namanya sudah begitu dihapal Ayyara sebab sering didengar jadi bahan obrolan di dapur kantor atau di mana-mana, setelah bertemu untuk pertama kali betapa mempesonanya. Dengan pembawaan yang kalem, berbicara seadanya dengan suara agak berat yang terdengar seksi di telinga Ayyara, ditambah tatapan bola mata chesnut brown yang dalam dan tak pernah kurang dari tiga detik. Mampu membuat perasaan wanita itu klepek-klepek hingga dibawanya sampai ke rumah.
Tok tok tok! Ayyara tak pernah berani langsung nyelonong ke ruang kerja suaminya, walau ruangan itu tepat di depan kamar tidur utama, kamar tidur mereka.
“Mas, aku pamit, mau berangkat kerja,” ucap Ayyara agak kencang, supaya terdengar suaminya di dalam kamar. Tak ada jawaban. “Mas, aku berangkat kerja, ya?”
Ceklek. Pintu kamar dibuka, sosok tampan dengan badan tinggi ideal itu berdiri di ambang pintu yang hanya dibuka setengah. “Ingat ya, Ay. Hari ini kamu ajukan resign, maaf aku gak bisa antar. Aku harus kejar dua deadline lukisan. Nanti aku jemput pulangnya.”
Wanita itu mengangguk lemah, sambil menghela napas dengan malas. “Iya.” Lalu mencium punggung tangan suaminya, dan segera turun ke lantai satu.
Perasaan apa sih ini? Rasa tidak nyaman di dekat suami sendiri. Rasa tidak betah, atau—ah! Ayyara berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang mulai meracuni kepalanya itu. Dia bergegas memesan taksi online. Senin pagi selalu dirasa lebih macet dari hari kerja lainnya. Padahal—ah, tidak perlu terburu-buru juga, karena mungkin hari ini adalah pagi tersibuknya yang akan dirindukan nanti, saat sudah tidak bekerja lagi.
Sesuai dugaan, benar saja yang terjadi di kantor ketika kabar surat pengajuan pengunduran diri Ayyara telah tersebar. Ayyara adalah karyawan senior yang supel sekaligus memiliki loyalitas yang tinggi.
Predikat wanita karir yang cerdas, memiliki integritas dalam bekerja, telah melekat pada nama Ayyara Eve. Jadi, sulit untuk Pak Balder Sebastian, CEO perusahaan, untuk menyetujui keputusan salah satu karyawan teladannya. Walau akhirnya, penawaran apapun yang Pak Balder berikan untuk mempertahankannya, tidak digubris wanita 29 tahun itu.
Belum lagi drama farewall yang begitu menguras air mata Ayyara, dan juga air mata para rekan kerjanya yang telah menjelma menjadi sahabat. Memang dasar kerjaannya pada tukang bikin acara, maka jadilah acara perpisahan yang sangat mengesankan bagi Ayyara. Sungguh, pedih sekali rasanya, walau Ayyara cukup waras untuk mengerti bahwa seorang istri harus menuruti perintah suaminya.
“Mas ….” Kedua tangan Ayyara bergelayut manja di lengan suaminya. Inilah prolog atas isi rayuan selanjutnya.
“Hmm?” tanya Agam, matanya masih sibuk memperhatikan pantulan dirinya sendiri di cermin. Walaupun hanya mengenakan outfit simple, sweatshirt abu-abu dan celana chino hitam berpotongan lurus semata kaki, nyatanya lelaki itu tetap mempesona. “Kamu mau apa? Ada yang mau dibeli? Bilang aja, nanti aku beliin.”
Ayyara memajukan bibirnya sedikit, memasang wajah cemberut yang menggemaskan. “Aku mau minta izin, Mas,” ucapnya dengan nada manja.
Sontak Agam menoleh pada istrinya. Dia mengerutkan kening. “Minta izin untuk apa?”
“Ummm … kamu ingat Tiara?”
“Kayak pernah dengar namanya.” Agam berjalan keluar kamar begitu saja, seolah tidak berminat untuk mendengar kalimat sang istri selanjutnya.
Lalu memasuki ruang kerjanya, tampak menyiapkan berbagai alat untuk melukis termasuk kanvasnya. Istrinya berjalan mengekor, karena tujuannya belum tercapai.
“Iya, itu, Mas. Dia teman kerjaku dulu. Yang sering aku ceritain, dia itu si stage manager yang bikin kita jadi bisa ketemu! Gara-gara dia sakit, kan, waktu itu, jadi aku yang handle kamu, deh!” jelas Ayyara bersemangat, ada nada berharap yang sangat pada kalimatnya.
Dan bukannya Agam tidak paham maksud istrinya selanjutnya. Justru karena dia tahu apa tujuannya, maka jadi tidak merasa tertarik sama sekali.
“Ohh,” jawab Agam pelan. Masih sibuk dengan peralatan lukisnya.
Ayyara belum menyerah. “Mas, hari ini Tiara ulang tahun. Dia ngajak ketemuan nanti sore, mau traktir katanya, di restoran dekat-dekat sini aja. Sekalian reunian, Mas. Boleh, ya?”
“Umm … gini, Ay, aku itu sebagai suami kamu, cuma mau melindungimu. Tempat terbaik untukmu ya—di rumah ini. Jadi, baiknya kamu nggak usah pergi, ya,” ucap Agam sambil tersenyum tipis. Mengusap rambut istrinya sebentar, lalu membawa kanvas dan koper kecil berisi alat lukisnya. Dia sudah mau berjalan ke luar ruangan ketika Ayyara tersadar dari rasa terkejutnya karena mendengar jawaban seperti itu.
“Mas, sekali iniii aja! Ya Mas, ya?”
“Sudahlah, Ay. Aku lagi sibuk ini, aku hampir telat ada janji dengan orang penting.”
“Istrimu juga penting, Mas!” Ayyara berusaha mendekat, mengejar langkah suaminya yang sudah mau menuruni tangga dengan terburu-buru.
Namun begitu tangan Ayyara menyentuh lengan kekar Agam, lelaki itu mendorong dengan sikutnya. Sedangkan kedua tangannya masih memegang kanvas dan koper.
“Aww!” Ayyara terdorong oleh sikut Agam yang ternyata cukup bertenaga. Tubuhnya limbung sehingga membentur tembok. Dipegangnya pundak yang terasa nyeri.
Melihat itu, Agam segera meletakkan barang bawaannya. Lalu menghampiri Ayyara dengan wajah cemas. “Ya ampun, Ay. Maaf ya, aku pikir tadi nggak kencang, loh. Aku cuma kaget kamu pegang tiba-tiba. Kamu nggak apa-apa, kan?”
Ayyara mengangguk pelan. Dia hanya terdiam ketika Agam mengusap pundaknya yang masih terasa nyut-nyutan.
“Aku buru-buru ini, Ay. Nanti, kalau pundak kamu masih sakit, telepon aku, ya. Aku antar kamu berobat. Sudah, ya, kamu di rumah baik-baik. Aku pergi dulu.” Cup. Agam mengecup kening Ayyara sekilas, lalu pergi meninggalkan istrinya yang masih mematung.
Apa benar Mas Agam hanya kaget? Seminggu lalu bahkan dia menampar pipiku karena aku merengek minta izin ikut acara reuni SMA satu angkatan. Dia bilang tak ada niatan, hanya spontan saja, lalu setelahnya segera memohon maaf. Setelah menjadi suami pengekang, kini dia mulai menjadi suami yang kasar. Keluh Ayyara dalam hati. Matanya memanas, air mata turun begitu saja. Diambilnya handphone, lalu memberi kabar pada Tiara, minta maaf tidak bisa datang.
Baru saja handphone diletakkan di meja, ada notifikasi masuk. Ayyara tahu, itu pasti dari Tiara, tapi dia tak berniat melihat isi balasan chat sahabatnya itu. Biarlah, dia sedang tak ingin bercerita apapun pada siapapun. Sekarang dia hanya ingin mengurung diri di kamar mewah, meratapi nasib sebagai istri kesepian.
Ayyara Eve melangkah lemah menaiki anak tangga, fisiknya memang terlihat baik-baik saja, berbalut pakaian rumah yang tidak murahan, tapi hatinya, sering meringis sakit, merasa kekurangan ataupun kehilangan.
Baru saja wanita berkulit putih bersih itu memasuki kamar, berniat duduk di sofa balkon, tiba-tiba dia merasakan serangan mual. Sontak Ayyara berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya beberapa kali di wastafel. Hingga tinggal cairan kuning yang keluar. Ayyara kelelahan, dia tertidur begitu saja di ranjang besarnya.
Dan satu jam kemudian, dia kembali terbangun dengan perasaan tak enak, karena kembali datang serangan mual yang kedua. Setelah memuntahkan sisa makanan, Ayyara berjalan gontai mencari handphonenya. Dia ingin menelepon siapa saja, meminta bantuan.
Namun sesaat setelah layar handphone terbuka, justru dia menjadi bingung. Ingin menelepon siapa? Mas Agam pasti sedang sibuk. Menelepon teman? Tapi siapa? Teman-temannya sudah pada kabur, tepatnya—dia sendiri yang sudah menjauh dari semua teman baiknya. Menelepon saudara? Ayyara anak tunggal dan sudah yatim piatu. Sepupunya sebetulnya banyak dan mereka sangat care juga berhubungan baik dengan Ayyara. Namun itu dulu, hingga bulan-bulan awal pernikahan.
Ah, Ayyara teringat sesuatu! Semangatnya muncul lagi, dia bergegas mengambil sesuatu dari laci nakas. Lalu berjalan cepat ke kamar mandi.
Setelah melakukan beberapa step sesuai petunjuk, Ayyara hanya tinggal menunggu sesaat. Dan ketika dua garis merah itu muncul dengan jelas di mata bulat Ayyara, dia segera menutup mulutnya yang sedikit menganga. Ah! Teriaknya tertahan. TUHAN-ku!
“Aku, hamil,” ucapnya sendirian. Antara tertawa dan menangis bahagia beraduk campur-campur.
Malam itu, Ayyara menyambut suaminya sepulang kerja dengan lebih meriah dari hari biasanya.
Baru saja Agam memarkir mobil di garasi, Ayyara sudah berjalan menghampiri dengan senyum merekah di bibir merah muda. Rambut lurus sebahu yang diblowout hingga agak bergelombang di bagian ujungnya, ditambah aroma parfum dari serum mahal. Berhasil membuat wajah Ayyara tampak lebih segar dan menggoda malam itu.
“Hai, Sayang. Semangat banget nyambut aku pulang,” ucap Agam sambil mengusap kepala istrinya. Lalu mengecup keningnya seperti biasa.
“Karena … aku punya hadiah untuk kamu!” Tawa kecil Ayyara begitu manis. Agam mengernyitkan keningnya, lalu menjawil pipi sang istri.
“Apa?” tanyanya, antara penasaran dengan rasa lelah sepulang kerja. Dibiarkannya tangan digandeng sang istri, menaiki anak tangga ke lantai dua.
“Ada di kamar,” ucap Ayyara, matanya melirik sambil tersenyum tipis. Memberi kesan menggoda.
Ceklek. Agam membuka pintu kamar. Sedetik pandangan matanya langsung tertumbuk pada kotak kecil berbungkus kertas kado warna merah muda.
“Itu, untukku? Warna merah muda?”
Ayyara sontak terkekeh kecil. Dia baru sadar, kado untuk suami tapi dibungkus kertas dengan warna favorit sendiri. “Maaf, ya. Aku cuma punya itu, mau beli keluar malas,” jawab Ayyara masih sambil tertawa.
“Lagian kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang Pak Santo aja, kan. Gak perlu capek-capek keluar rumah.”
Dan kalimat Agam barusan meneteskan sedikit noda pada rasa bahagia Ayyara saat ini. Wanita itu terdiam sesaat.
Agam Rafandra mengerutkan keningnya, tangannya menimang-nimang testpack dua garis merah. “Ini?” tanyanya tercekat. Mata teduhnya menatap sang istri yang mulai tersenyum lagi.
Ayyara mengangguk. “Aku hamil, Mas.”
“Ah, Sayang! Kita akan punya anak!” Agam menghambur ke pelukan istrinya. Ayyara begitu bahagia mendapati suaminya ternyata tak kalah bahagia darinya sendiri.
Satu setengah tahun menanti, akhirnya pernikahan mereka akan segera diberkahi seorang malaikat kecil. Terlebih yang membuat Ayyara makin bahagia adalah, rumah besarnya yang sepi, sebentar lagi akan ramai, dengan tangisan dan teriakan suara mungil.
“Mas Agam, aku pengen jalan-jalan, aku suntuk!” rengek Ayyara pagi itu.
“Iya, tapi nanti. Setelah pameran ‘Galeri Salihara’ selesai. Bulan depan, Ay!” tukas Agam yang mulai jengah dengan permintaan istrinya.
“Aku kan cuma mau ke mall aja, Mas. Minimal ke salon. Aku bosan di rumah terus, lagian udah lama juga aku nggak jalan-jalan sendirian. Yah Mas, ya?” Seperti biasa kalau sedang merayu maka Ayyara akan menggoyang-goyang lengan Agam.
“DIAM, AY!” teriak Agam, tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan Ayyara dengan kencang.
“Aduh, sakit, Mas. Lepasin!” Ayyara ikut berteriak. Dia terkesiap dengan perlakuan suaminya, melihat wajah Agam yang memerah membuatnya takut.
“Kamu di rumah aja! Jangan kemana-mana!” hardiknya kencang. Lalu melepaskan tangan istrinya dengan kasar. Ada tanda merah di pergelangan tangan Ayyara yang putih bersih, terlihat jelas bekas cengkeraman jari-jari Agam di sana.
“Mas, kamu jahat banget sih!” Ayyara mengusap tangannya yang memerah.
Melihat itu, Agam terkesiap! Lelaki itu seperti baru sadar apa yang baru saja dilakukannya. Wajahnya sudah tak tegang lagi. “Ay, maaf ya. Aku nggak sengaja. Sakit, ya?”
Tatapan penuh rasa khawatir itu membuat Ayyara heran. Begitu cepat perubahan emosi pada suaminya. Ayyara diam saja, memperhatikan suaminya yang sedang ikut mengusap pergelangan tangan yang mulai mereda nyerinya. Akan tetapi, yaaa … tetap saja Ayyara tidak mendapat izin keluar rumah.
Selalu berakhir seperti itu, rengekan Ayyara untuk sekadar mendapat izin jalan-jalan sendirian, dibantah oleh Agam dengan keras, dibumbui permintaan maaf yang entah datangnya dari hati atau hanya di mulut, dan diakhiri dengan penolakan-penolakan yang harus ditelan Ayyara.
Bulan-bulan kehamilan berikutnya, dirasakan Ayyara sungguh menjenuhkan. Kesehariannya tak lebih dari berkutat dengan seputar pekerjaan rumah tangga dan acara televisi. Atau menjelajah media sosial yang hanya bisa mendapat rasa iri melihat postingan orang lain. Dia tidak punya siapa-siapa untuk bisa dijadikan bahan postingan bersama. Bahkan suaminya pun tak pernah mengenalkan siapapun, entah itu rekan kerjanya atau keluarga teman-temannya, atau saudara sepupu. Tidak pernah! Keluar rumah dengan Agam sekadar untuk ke dokter, sesekali makan di restoran, atau belanja kebutuhan sehari-hari.
Semakin membesar kandungan Ayyara, suaminya seperti terlihat semakin ‘melindungi’ dari apapun itu, tapi yang dirasa Ayyara adalah pengekangan.
Tidak boleh kesana. Jangan kesitu. Dilarang keluar rumah sendirian. Diam saja di dalam kamar. Selalu itu-itu saja kalimat yang didengar Ayyara dari suaminya. Dan semakin sering, permintaan sederhana Ayyara berakhir dengan kekerasan fisik yang diterimanya dari Agam. Selanjutnya, Agam pasti menunjukkan wajah menyesal, memohon maaf, mengelus perut atau kepala Ayyara, pergi, selesai.
Hari itu, Ayyara sudah bosan bermalas-malasan di dalam kamar. Tadi pagi setelah suaminya berangkat kerja, dia sempat membersihkan kebun bersama Pak Santo. Walaupun awalnya ditolak oleh Pak Santo, tapi akhirnya berhasil juga, setelah Ayyara bilang tak akan cerita apapun pada suaminya. Berkali-kali Pak Santo melirik pada Ayyara, dan mengingatkan agar tidak pergi keluar pagar. Ayyara mengerti, Pak Santo hanya menuruti perintah.
Sekarang dia tak tahu lagi akan melakukan apa untuk mengisi waktu. Jam di dinding menunjukkan pukul 16.10, kira-kira sekitar dua jam lagi biasanya Agam sampai di rumah.
Ayyara keluar dari kamar, dia bergeming, matanya tertarik pada pintu krem di seberang kamarnya. Jarang sekali Ayyara masuk ke ruangan itu, hanya sebentar dan tak terlalu memperhatikan detail isinya, selain terlihat kanvas-kanvas dan peralatan lukis lainnya. Sebab Agam tak suka diganggu jika sedang melukis di ruangan kerja, sebab lainnya dia juga tak suka ada orang lain yang memegang apalagi memindahkan segala isi ruangan itu.
Kakinya melangkah mendekati ruang kerja itu. Ceklek. Ah, pintunya bisa dibuka! Pasti Mas Agam lupa menguncinya tadi pagi, pikir Ayyara. Dia menyalakan lampu kamar, pelan-pelan mulai melangkah masuk.
Ayyara tertarik pada kanvas-kanvas yang terbentang pada spanram. Dilihatnya satu persatu lukisan hasil karya suaminya. Ayyara terpesona, selama ini dia tak terlalu banyak meluangkan waktu untuk fokus menatap lukisan-lukisan karya Agam. Hanya beberapa yang terpajang di ruang tamu dan ruang tengah. Atau melihat sekilas satu persatu lukisan itu saat ada event pameran dan Ayyara diajak serta.
“Apa ini, ya? tanyanya sendiri. “Seperti topeng, tapi ….” Ayyara memang bukan peminat lukisan, walaupun mempunyai suami seorang pelukis Indonesia terkenal.
Diperhatikannya lagi lukisan dengan judul kecil ‘topeng kulit’ di pojok kiri bawah, tulisan itu dibuat berukuran kecil berwarna agak gelap. Setelah sekitar tiga menit, barulah Ayyara paham, itu adalah lukisan wajah seseorang dengan sebagian kulitnya yang terkelupas hingga terlihat seperti topeng. Ayyara bergidik ngeri, matanya segera tertuju pada lukisan lainnya.
Kali ini lebih jelas bentuk polanya. masih dengan kolaborasi warna yang berani, dan menonjolkan ketegasan garis. Seorang anak kecil laki-laki, sedang berjongkok di sudut ruangan, menutup kedua telinganya, tapi matanya menatap tajam pada dua orang yang sengaja dibuat tidak terlalu jelas pada tubuhnya. Hanya ada lekukan tubuh yang memperjelas jenis kelamin. Sepasang laki-laki dan perempuan, tampak sedang saling menuding.
Yang perempuan ada titik-titik air mata di pipinya, sedangkan mulut yang lelaki terbuka, seperti orang yang sedang berteriak dilihat dari arah samping. Ayyara meninggalkan lukisan itu dengan kening berkerut.
Kini matanya tertarik pada satu lukisan di pojokan ruangan, dekat kaca jendela yang lebar. Objek utama lukisan itu adalah seorang wanita yang memakai gaun panjang putih, tapi dikombinasikan dengan beberapa warna abstrak. Wajah perempuan itu dilukis dengan sangat jelas mengenakan warna-warna mencolok seperti memakai riasan tebal. Bibirnya merah menyala, pada pipi dan kelopak mata yang tertutup juga diberi campuran warna merah dan oranye. Objek itu seperti pengantin yang sedang bersedih. Kedua tangannya memegang garis-garis hitam memanjang yang mulai menghilang di kedua ujung atas dan bawah. Kalau itu tiang, jatuhnya terlalu kecil. Lebih mirip pada jeruji besi.
Ayyara memiringkan wajahnya, tangannya terulur tanpa sadar, menyentuh lukisan itu pada mata sang pengantin wanita. Matanya sempat melirik tangannya sendiri yang ada noda kebiruan di punggung tangan. Itu bekas terbentur tembok, karena Agam tak sengaja menepis tangannya dengan kasar saat berdebat kecil.
“AYYARA!”
“Hah!” Karena terkejut dengan suara bariton yang berteriak tiba-tiba memanggil namanya, Ayyara tak sengaja mendorong lukisan di depannya, hingga terlepas dari spanram dan terjatuh ke lantai.
“Mas Agam?” Suaranya bergetar. Dilihatnya wajah sang suami merah padam, seperti biasa saat sedang tiba-tiba marah.
“Mau apa kamu di sini? Hah?!” Masih dengan teriakan yang lantang.
“Nggak kok, Mas. Tadi aku cek pintunya gak terkunci, jadi a—aku berniat bersihkan ruangan ini,” ucap Ayyara, berbohong. Demi menyelamatkan badannya dari kekerasan fisik.
Mendengar alasan itu, justru Agam semakin geram. “Sudah kubilang, jangan sentuh apapun di sini!” Dia melangkah lebar-lebar mendekati Ayyara yang ketakutan. “Sini kamu!” Agam menyeret istrinya keluar kamar.
“Mas, maafin aku! Mas, sakit!” teriak Ayyara, tangan kanannya ditarik Agam dengan paksa. Sedangkan tangan kiri memegang perutnya yang terasa nyeri.
Agam terus menarik Ayyara walaupun istrinya itu beberapa kali terjatuh, dan baru melepaskan ketika sampai di kamar. Didorongnya Ayyara ke kasur, dia sama sekali tak peduli dengan istrinya yang sedang meringis kesakitan.
Tok tok tok! Terdengar samar suara pintu diketuk, lalu bel yang terdengar sampai ke lantai dua.
“Pak, Bu, ada apa? Tolong buka pintunya! Pak? Bu?” Itu suara Pak Santo yang berteriak dari depan pintu utama. Pasti Pak Santo mendengar suara teriakan Agam dan juga tangisan Ayyara. Juga suara pintu ruang kerja yang dibanting kencang.
Mata teduh itu berubah menjadi nyalang, menatap Ayyara tanpa ampun. Lalu tangan Agam terangkat, bibirnya bergetar tapi tak ada satu katapun yang keluar. Emosinya belum mereda.
Ayyara meringkuk ketakutan bercampur perutnya yang terasa kram. Kedua telapak tangan berusaha menutupi wajahnya yang sembab, takut terkena tamparan suaminya.
Perlahan tangan Agam turun kembali. “Jangan diulangi lagi, Ay. Aku pergi dulu, kalau di sini terus, ah—” Agam tak menyelesaikan kalimatnya. Dia bergegas pergi lalu menutup pintu kamar.
Seketika tangis Ayyara pecah. Di sela sesenggukan, dia masih mendengar suara mobil keluar dari garasi. Rasa lega membuat nyeri di perut Ayyara berangsur membaik. Setelah tangisnya mereda, Ayyara mulai bisa berpikir. Ini adalah kesalahan, aku tidak bisa hanya menerima terus menerus. Aku harus melindungi anak ini. Pikirannya terus bergejolak. Diambilnya handphone, hanya nama Tiara yang terlintas. Dua kali nada panggilan, suara yang sangat dikenalnya itu terdengar di seberang telepon.
‘Hallo, Ay! Aku gak nyangka dapat telepon dari kamu! Ini kamu kan, Ay?!’ seru suara Tiara, di seberang telepon.
‘Iya, ini aku,’ jawab Ayyara lemah, tapi ada sedikit senyuman di bibirnya yang pucat, dia cukup senang, ternyata sahabatnya itu masih menyambutnya walau selama ini Ayyara sengaja memutus komunikasi.
‘Ay, hallo? Suaranya pelan banget. Kamu lagi di mana? Ketemuan yuk!’
‘Susah, Ra.’
‘Hah? Gimana gimana?’ Terdengar begitu antusias suara Tiara di seberang telepon.
Akhirnya Ayyara memberanikan diri menceritakan semuanya pada Tiara. Tentang apa yang dirasakannya, tentang perlakuan Agam selama hampir dua tahun pernikahan, semuanya, tanpa ada yang ditutupi lagi.
Beberapa kali Tiara terkaget-kaget, dan karena Tiara adalah tipe sahabat yang terbuka, dan pada dasarnya juga memiliki sifat yang sama dengan Ayyara, nyaris selalu meluapkan ekspresi secara spontan. Hanya saja, Ayyara kini telah berubah, sejak terpaksa memutuskan menarik diri dari semua teman-temannya.
‘Ay, udah, jangan nangis lagi, ya. Kamu harus kuat. Ingat Ay, waktu kita masih kerja bareng, nggak ada divisi yang utama ataupun pendukung. Karena se –‘
‘Karena semua divisi adalah tokoh utama pada bidangnya masing-masing,’ potong Ayyara, dia mengingat sebuah pesan motivasi dari CEO dahulu, Pak Balder Sebastian, di setiap penutup meeting bulanan.
‘Keren, Ay. Kamu masih ingat persis. Kamu bukan bonekanya Agam, Ay. Kamu itu tokoh utama dalam kehidupan kamu sendiri. Kamu nggak perlu repot-repot mencari kebahagiaan. Kamu hanya perlu menciptakan kebahagiaan itu sendiri, dan anak kamu juga berhak memiliki ibunya yang bahagia. Sayangi diri sendiri, Ay. Paling nggak … kasihani badan kamu, hati kamu. Ya?’
Ayyara terdiam. Dia berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan Tiara.
‘Ay?’
‘Eh, iya, Ra.’
‘Gimana, udah enakan, udah cerita sama aku?’
‘Hmm … iya, Ra. Makasih, ya. Dan—maaf banget, selama ini aku menjauh dari kamu.’
‘Kalau udah nyaman, jangan jauh-jauh lagi, ya. hehehee ….’ goda Tiara dari seberang telepon.
Ayyara ikut terkekeh kecil mendengarnya. Tawanya yang pertama di hari ini.
‘Ay, janji loh, ya. Kalau butuh apa-apa langsung bilang sama aku. Kamu tau nggak, sejak kamu resign, aku jadi kurang kerjaan nih. Nggak ada yang bikin repot lagi, sih!’
‘Ah, kamu nih.’
‘Lagian, Ay. Jarak rumah kita tuh nggak jauh, loh. Naik ojek aja nggak sampe tiga puluh ribu palingan, Ay.’
‘Umm … iya, ya. Eh, Ra, itu kayaknya suara mobil Mas Agam, deh. Udah dulu, ya, Ra.’
‘Oke. Ay, inget ya, jangan sembunyi lagi, hadapi, Ay. Kamu itu tokoh utama.’
‘Iya, Ra. Dahh.’
‘Daahhh, Ay.’
Klik. Sambungan telepon terputus.
Ceklek. Pintu kamar terbuka. Berdiri sosok gagah Agam di ambang pintu, menatap Ayyara yang terduduk di pinggiran kasur sambil memegang handphone.
Agam melangkah mendekati istrinya. Aneh, tidak ada rasa bergetar di hati Ayyara, bahkan secuil rasa takutpun tak ada.
“Ay ….” Agam duduk di samping Ayyara, menggenggam kedua tangannya. “Maafin aku, ya. Kalau ada yang sakit, nanti kita ke dokter, ya?”
Mendengar itu, Ayyara menoleh pada suaminya. Entah itu adalah ajakan ke dokter untuk ke berapa ratus kali sejak beberapa hari pernikahannya. Ayyara geram. Dia melepaskan tangan dari genggaman Agam. Mengambil cardigan sweater yang tergantung bersama topi-topi, lalu mengenakannya. Setelah itu dia mengambil sling bag, dan pergi keluar kamar begitu saja meninggalkan Agam yang termangu.
“Ay?!” panggil lelaki itu. Lalu segera mengikuti Ayyara yang telah turun ke lantai satu. “Ay! Hei, kamu mau kemana?!” teriaknya lagi.
Yang dipanggil tidak menyahut. Justru semakin cepat menuju rak sepatu. Sontak Agam berlari mengejar istrinya.
“Ay, kamu mau kemana?” tanyanya lagi, memegang lengan Ayyara.
“Akhirnya aku sadar. Rumahku bukan di sini. Karena setau ku, rumah itu tempat pulang yang nyaman. Aku pamit.” Ayyara menepis pegangan tangan Agam.
Namun Agam segera mencengkeram kembali lengan Ayyara, kali ini jauh lebih kencang. “Kamu NGGAK BOLEH PERGI!”
Ayyara melihat mata suaminya. Lagi, dia menghadapi lelaki yang seperti tak dikenalnya. Sekali sentakan keras, Ayyara berhasil lepas dari Agam. Sambil memegangi perut, dia segera berlari ke arah dapur. Yang ada dipikirannya sekarang hanya pergi, dan melawan siapapun yang menghalangi. Diambilnya sebuah pisau dapur ukuran cukup besar, biasa digunakan untuk memotong daging. Ayyara hapal betul letak semua pisau di dapur.
Agam membelalak, pisau mengkilat di tangan Ayyara membuatnya menghentikan langkah. “Ay, taruh pisau itu! Sadar, Ay! Aku ini suami kamu!”
Justru Ayyara semakin memperkuat pegangan pisaunya. Matanya mengawasi tiap pergerakan Agam. “Kamu nggak pantas jadi suami aku! Dan kamu nggak berhak mengurung aku di rumah ini!”
Ayyara berjalan pelan-pelan menuju pintu depan, masih sambil mengarahkan pisaunya pada Agam. Dan ketika Ayyara membuka kunci pintu depan, ada sepersekian detik pisau itu lengah pada mangsanya. Agam melompat, menyerang Ayyara, berusaha merebut pisau yang masih dipegang erat.
Pintu sudah terbuka, sehingga Pak Santo yang sedang duduk di pos jaga depan, melihat ketegangan itu. Sontak dia berlari, dan sangat terkejut ketika melihat ada tetesan darah berjatuhan di lantai.
Perlahan Agam melepaskan tangannya dari tangan Ayyara, dia tersadar, pinggangnya terluka, tertancap pisau. Matanya memerah, bukan karena sakit, tapi menahan amarah yang meluap.
“Mati kamu, Ay!” Diambilnya pisau dari lantai, yang sudah berlumur darah pada ujungnya.
Ayyara tersentak mendengar ucapan suaminya. Dia menatap Pak Santo yang sedang berdiri di antara keduanya.
“Pergi, Bu!”
Ayyara segera mengangguk, menuruti Pak Santo. Dia berlari melewati pagar besi ulir tinggi, yang selama ini seperti sel penjara baginya. Sambil terus berjalan terseok-seok, menjauhi rumah mewahnya, menembus hari yang sudah mulai gelap. Ayyara mencari nama seseorang di layar handphone.
‘Hallo, Ay,’ jawab Tiara di seberang telepon.
‘Ra, bisa tolong jemput aku?’
“Ay, sini deh!” seru Tiara dari ruang tamu.
“Sebentar, Ra.” Ayyara mendekat. “Apa, Ra?”
“Duduk sini.” Tiara menepuk sofa di sebelahnya. “Viral nih, Ay!”
Penasaran, Ayyara segera duduk di samping Tiara, menjulurkan kepalanya. “Apanya yang viral?”
“Ini, loh! Berita kamu sama Agam, viral!” Tiara makin bersemangat menunjukkan layar handphone. Mulut Ayyara sedikit menganga melihat berita di feed Instagram, dari berbagai akun yang bahkan sudah centang biru.
‘Pelukis terkenal Indonesia, Agam Rafendra, digugat cerai sang istri!’ ‘Agam Rafendra, pelukis yang sedang naik daun, ditemukan bersimbah darah di bagian pinggang kanan, dilarikan ke Rumah Sakit Advent Bandung.’ ‘Pernikahan Agam Rafendra, pelukis terkenal asal Bandung, terancam bubar!’ ‘Istri pelukis terkenal Agam Rafendra, Ayyara Eve, tengah hamil tua dan siap bercerai!’ ‘Pelukis Indonesia beraliran ekspresionisme, Agam Rafendra, ternyata memiliki pernikahan yang tidak harmonis bersama pasangannya, Ayyara Eve yang tengah hamil 7 bulan!’
Ayyara menghela napas, berat. Dia bersandar di sofa empuk di ruang tamu rumah kontrakan Tiara. “Anak ini nanti lahir tanpa seorang bapak, Ra.”
Tiara ikut menyandarkan punggungnya. “Anak itu akan lahir dengan sehat, karena punya mama yang bahagia dan cantik.” Tiara tersenyum, tangannya ikut mengelus perut besar Ayyara.
Senyum di bibir Ayyara ikut merekah. “Dan … punya mama yang masih terselamatkan kewarasannya! Hahahaa ….”
Ayyara dan Tiara tertawa terpingkal-pingkal. Memang, mencintai diri sendiri, sesekali butuh memboros-boroskan waktu, menghambur-hamburkan uang, dan itu bukanlah suatu kesia-siaan, tapi menjaga kewarasan.
Dua Tahun Kemudian.
Tuk tuk tuk. Suara ujung heels berdetak di atas lantai koridor kantor. Ayyara Eve masuk ke dalam lift di ujung koridor. Di dalam lift sudah ada beberapa karyawan lain.
“Selamat pagi, Bu,” sapa mereka bersamaan.
Eve tersenyum manis sekali dan mengangguk sekali. “Selamat pagi.”
Lalu dia keluar lift di lantai lima. Berjalan anggun dengan sepasang kaki jenjangnya. Di depan sana, sebuah ruangan dengan tulisan ‘Head of Production’. Itu adalah ruang kerja Ayyara Eve, sekarang.