Gadis kecil itu bernama Salsa. Usianya baru 8 tahun. Anak tunggal dari pasangan Hansen dan Sifa. Dia adalah anak yang akan dilatih renang oleh Arini. Ya! Arini sudah memutuskan akan mengambil pekerjaan itu.
“Lima ratus ribu untuk satu kali pertemuan. Bagaimana menurutmu?”
Arini mengalihkan pandangan dari gadis kecil yang tampak pemalu itu kepada ibunya. Wanita muda yang ia rasa sebaya dengannya itu tampak menatap lurus ke arahnya.
“Em … sebelumnya saya mau jujur dulu kepada Ibu. Saya memang sedikit memiliki kemampuan dalam berenang, namun saya bukan ahli dalam mengajarkan renang. Saya rasa harus menyampaikan ini sebelum memulainya. Saya takut, Ibu tidak puas.” Arini menatap lembut ke arah Sifa.
“Saya rasa kamu sudah memikirkannya sebelum datang ke sini. Atau kamu hanya membuang-buang waktu saya saja?” Sifa tampak tak suka dengan ketidakpercayadirian Arini.
Arini menggeleng kuat. “Maaf, Bu, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya berencana ingin memperlihatkan teknik berenang saya terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa bicarakan hal lainnya.”
Sifa menatap Arini seraya menaikkan satu alisnya. Cukup lama ia tidak menjawab, sampai Arini meremas kedua tangannya sendiri. Tiba-tiba ada rasa salah di hatinya. Mungkinkan seharusnya ia tidak datang ke rumah itu?
Akan tetapi, tepat setelah Arini berpikir seperti itu, Sifa berkata, “baiklah, perlihatkan pada saya sekarang juga.”
“Sekarang?” ulang Arini.
“Kenapa? Kamu tidak bisa?” tanya Sifa.
“Bisa … bisa! Tapi … saya tidak membawa baju renang.” Arini sungguh ingin mengutuk dirinya sendiri. Adakah orang sepertinya yang datang ke medan perang tanpa membawa pedang? Ya! Begitulah kira-kira.
Sifa mendengus. Kemudian berkata, “ada satu set baju renang yang bisa kamu pakai di belakang. Saya akan mintakan asisten rumah tangga saya untuk mengambilkannya untukmu.”
“Terima kasih, Bu,” ucap Arini sedikit membungkuk.
Tak menunggu waktu lama, keduanya berjalan ke bagian belakang rumah besar itu. Di susul Salsa yang mengekor di belakang. Sepanjang perjalanan, Arini hanya berjalan lurus dan tenang. Ia sama sekali tidak memperhatikan barang-barang mewah di sepanjang koridor yang ia lewati. Sampai kemudian, mereka sampai di bagian belakang rumah. Ada kolam renang besar dan bersih di depannya. Arini menatapnya tanpa sadar. Ia pikir, dengan kolam renang pribadi senyaman itu, apakah mungkin tidak ada yang bisa berenang di rumah itu? Tidak! Bukankah Sifa bahkan mempunyai satu set baju renang? Harusnya, nyonya rumah itu bisa berenang ‘kan? Lalu, mengapa masih membutuhkan dirinya untuk mengajari anaknya berenang?
“Ada apa?” Sifa tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Padahal terakhir kali Arini lihat, wanita itu sedang berbicara dengan asisten rumah tangganya.
“Kolam renang ibu sangat besar dan nyaman.” Arini menyimpan pemikiran itu untuk dirinya sendiri. Sementara di permukaan, ia mengatakan hal lain.
“Ya, tapi sayang sekali jarang ada yang berenang di sini. Baik saya maupun suami saya sama-sama sibuk di luar. Tidak ada yang mengajari Salsa bagaimana cara berenang. Mungkin kalau dia sudah bisa, kolam renang ini akan lebih berguna.” Jawaban Sifa sekaligus menjawab pertanyaan di benak Arini.
“Ah … jadi begitu …,” gumam Arini tanpa sadar.
Tak lama, asisten rumah tangga di rumah Sifa datang dan membawa satu set pakaian renang. Ia memberikannya kepada Sifa yang langsung dilanjutkan kepada Arini. Arini gegas menerimanya dan memeluknya. Sekali melihat, ia tahu kalau itu adalah pakaian yang berkualitas tinggi. Mereknya sama dengan merek yang biasa dipakai para atlet di olimpiade. Ia tahu karena saat SMA, ia beberapa kali mengikuti kompetisi dalam bidang itu.
“Kamu bisa menggantinya di sana.” Sifa menunjuk sebuah tempat yang sepertinya adalah kamar bilas dan kamar mandi di dekat kolam renang.
Arini mengangguk, dan segera pergi ke tempat tersebut. Tak lama, ia kembali dengan pakaian renang. Baju itu tanpa lengan. Namun panjangnya mencapai mata kaki.
Menit demi menit berlalu. Arini menunjukkan skill berenangnya kepada Sifa dan Salsa. Setidaknya, ada tiga gaya yang ia perlihatkan. Gaya dada, gaya punggung, dan gaya bebas.
Sifa menyukainya. Pun dengan Salsa. Mereka lanjut membicarakan tentang gaji dan juga jadwal. Dan disepakati, jadwal les renang Salsa adalah hari sabtu siang, sepulang Arini dari kantor.
“Ini uang untuk les satu bulan ke depan. Terimalah.” Sifa memberikan sejumlah uang kepada Arini. Namun Arini jelas tak menerima uang itu begitu saja.
“Tapi, Bu, saya belum melakukan apa-apa.” Arini berusaha menolak. Ia tak enak hati.
“Tidak masalah, ambil saja. Lain kali kamu ke sini, belum tentu kita bertemu,” jawab Sifa.
Arini akhirnya mengangguk. Benar, wanita di hadapannya ini pastilah sangat sibuk.
Pada akhirnya, Arini pulang dengan membawa uang di tangan. Ia juga mampir di minimarket untuk membeli pesanan ibunya. Ada susu hamil, sabun aroma terapi, dan masih banyak lagi. Semuanya untuk adik iparnya yang tengah hamil muda. Untuk membeli barang-barang itu, Arini hampir menghabiskan seperempat uang dari Sifa.
Sementara di rumah besar yang beberapa waktu lalu Arini tinggalkan, seorang pria dengan setelan jas hitam menghampiri Sifa. Pria itu kemudian bertanya, “bagaimana?”
“Aku udah ngasih dia uang, sesuai yang kamu minta,” jawabnya.
“Makasih ya, Sayang.” Hansen memeluk tubuh sang istri dan mengecup bibirnya.
“Jangan cuma makasih aja, balikin dua jutaku!” Sifa menengadahkan tangan di hadapan sang suami.
“Kamu ini!” Hansen tersenyum gemas ke arah Sifa. Ia bahkan mencubit hidung mancung istrinya itu. Tapi, walaupun begitu, ia tetap mentransfer sejumlah uang ke akun bank sang istri.
“Udah masuk,” ucap Sifa seraya mengecek ponselnya, “sering-sering ya minta tolongnya!” lanjutnya.
“Hei! Kamu ngomong kayak gitu seakan aku gak pernah ngasih kamu uang aja!” protes Hansen seraya menggelengkan kepala. Sementara Sifa hanya tertawa melihatnya.
Sepasang suami istri itu kemudian berjalan ke arah meja makan, dan menempati masing-masing satu kursi kosong di sana. Begitu mendaratkan tubuhnya, Hansen bertanya, “Sayang, menurutmu, bagaimana karakternya?”
“Siapa? Arini?” tanya Sifa yang langsung mendapatkan anggukan dari Hansen sebagai jawaban.
Sifa tidak langsung menjawab. Ia tampak menerawang, mengingat kembali pertemuan singkatnya dengan wanita bernama Arini itu. “Sulit untuk menyimpulkannya dalam satu kali pertemuan. Tapi kelihatannya dia wanita baik dan bertanggungjawab. Buktinya, dia gak mau nerima kerjaan ini sebelum aku liat skill renangnya. Dia juga terlihat cukup sederhana. Dan lagi … sepertinya dia juga bukan berasal dari keluarga kurang mampu. Dia terlihat tenang dan gak norak.”
“Lalu kenapa dia membutuhkan pekerjaan sambilan? Dia seorang staff akunting dengan gaji tinggi.” Hansen tampak berpikir.
“Kenapa kamu nanya sama aku? Tanya sama temenmu itu sana!”
“Hei! Dia bukan cuma temenku, tapi temenmu juga!”