Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 17

23 September 2025

“Baiklah … baiklah … temen kita yang kaku dan sulit di dekati.” Sifa sedikit mencibir, menambahkan, “dia melakukan semua ini untuk membantu wanita bernama Arini itu, sudah jelas Arini mempunyai value yang kita gak tahu. Jelas sih ini, dia pasti menyukainya!”

Sepasang suami istri itu saling memandang, kemudian keduanya saling melemparkan senyum penuh arti.


“Kenapa lama sekali!” Titin menyambar kantong belanjaan Arini bahkan saat Arini belum berdiri dengan benar setelah turun dari sepeda motornya. Jelas, Titin bukan sedang menunggu putri sulungnya itu, tapi sedang menunggu pesanannya.

Arini tidak menjawab. Ia hanya menatap sang ibu yang sudah kembali ke dalam rumah sambil terus bergumam entah apa. Hanya ada beberapa kata yang bisa Arini dengar.

“Ngakunya gak punya uang. Lah ini apa?”

Saat Arini tengah berjalan ke dalam rumah, ia berpapasan dengan adik iparnya. Wanita yang tengah berbadan dua itu menatap Arini dengan tatapan menilai. Bola matanya terus bergulir ke atas dan ke bawah. Entah apa yan dipikirkannya, Arini tidak peduli. Ia masuk begitu saja ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.

“Ada apa?” sebuah suara terdengar di sampingnya.

“Rambut kakakmu basah, padahal di luar lagi gak ujan,” jawab Intan seraya menoleh ke arah Azril yang tengah berdiri di sampingnya.

“Terus?” Azril tidak paham, mengapa rambut basah Arini begitu menarik perhatian istrinya.

Intan memutar bola matanya, kemudian menghadapkan keseluruhan tubuhnya ke arah Azril. “Kakakmu, pulang bawa belanjaan, padahal kamu bilang, kata ibu kakakmu gak punya uang. Menurutku, kakakmu habis menjual diri!”

“Apa yang kamu katakan?” Suara itu bukan datang dari Azril, melainkan dari Titin yang baru saja datang dari dapur. Ia menghampiri Intan sambil membawa satu gelas susu hangat yang baru saja diseduhnya.

“Bu, Intan bilang, Kak Arin habis menjual diri. Kalau enggak, darimana dia dapat uang dengan begitu singkatnya. Kecuali kalau dia sebelumnya berbohong, bilang gak punya uang,” jawab Azril.

Titin terdiam, menatap pintu kamar Arini yang tertutup rapat. Ia tidak begitu memperhatikan wajah Arini saat tiba tadi. Ia hanya fokus pada barang bawaannya saja.

“Sudahlah, biar itu ibu urus nanti. Nih, kamu minum susunya dulu, mumpung hangat.” Titin memberikan gelas di tangannya kepada Intan.

Sepasang suami istri itu kemudian pergi dari hadapan Titin. Tapi, samar-samar Titin masih bisa mendengar, kalau mereka masih membicarakan rambut basah Arini.

“Menurutmu, berapa dia menjual keperawanannya?”

“Dia masih perawan? Bukannya kamu bilang dia punya pacar sebelumnya? Masa pacaran lama gak ngapa-ngapain?”

“Iya juga sih. Tapi … gak tahu juga sih.”

“Yang jelas pasti kakakmu itu lagi punya uang banyak sekarang. Minta hp baru sana. Hp-mu bukannya retak abis dilemparnya waktu itu?”

“Kamu benar! Kenapa aku gak kepikiran ke sana ya.”

Suara-suara itu perlahan menghilang di balik pintu. Tapi Titin masih bergeming di tempat yang sama, memandang ke arah yang sama. Pintu kamar Arini. Pikirannya kacau kini. Benarkan Arini menjual dirinya?


Pagi itu Titin sedang berada di dapur bersama Arini. Mereka tengah menyiapkan sarapan. Lebih tepatnya, Arini yang menyiapkan sarapan, dan Titin mengamati wajah dan tubuh Arini dari waktu ke waktu.

Entah kapan terakhir kali Titin memperhatikan wajah Arini. Gadis itu memiliki fitur wajah yang halus dan cantik. Hidungnya mancung, dengan alis bak digambar dengan rapi. Tapi jelas ada rasa tertekan di hatinya kala melihat kecantikan itu. Wajah itu … Ah! Ia sungguh benci mengingatnya.

“Sarapannya sudah siap. Aku siap-siap dulu, Bu.” Arini menutup sebuah kotak bekal di tangannya, dan hendak membawanya ke kamar.

“Bener kata orang, buah memang jatuh gak jauh dari pohonnya.” Titin tiba-tiba berseru. Hal itu sukses menghentikan langkah Arini.

Arini menoleh, memastikan subjek yang sedang dibicaran ibunya itu adalah dirinya atau bukan. Benar saja, Titin tengah menatap dirinya dengan tatapan entah.

Berdetik-detik lamanya tidak ada kalimat lanjutan dari sang ibu. Arini memutuskan untuk berbalik, dan pergi dari sana. Akan tetapi, ucapan sang ibu jelas mengganggu pikirannya. Mengapa ibunya tiba-tiba melontarkan kata-kata itu kepadanya? Menurut karakternya, ibunya bukanlah tipe orang yang akan berbicara tanpa alasan.

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya?” gumam Arini. Bukankah itu istilah untuk menggambarkan karakter anak yang mirip orang tuanya? Jika yang dimaksud ‘buah’ adalah dirinya, seharusnya yang dimaksud ‘pohon’ adalah ibunya bukan?

Arini menggeleng, tidak bisa mengerti segalanya. Ia terus berjalan ke kamar, dan mengurus urusannya sendiri. Saat kembali turun, ia melihat ibu, adik, dan adik iparnya tengah menikmati sarapan mereka di meja makan. Arini sendiri sudah terbiasa melewatkan sarapan. Setidaknya, tidak di rumah.

“Kak Arin, tunggu!” Langkah Arini terhenti karena tiba-tiba Azril memanggilnya. Ia membalik tubuhnya untuk menatap sang adik yang masih duduk di meja makan. “Sini bentar!” titahnya kemudian.

Arini naik pitam. Bukankah itu sangat tidak sopan? Namun begitu, Arini tetap mendekat.

“Minta uang! Aku mau ganti hp,” ucap Azril tiba-tiba.

“Gak ada uang!” tolak Arini secara langsung.

“Gak usah bohong! Kemaren Kak Arin bukannya habis jual diri? Gak mungkin dijual semurah itu dong. Seenggaknya, ada sisa buat beli hp baru.”

“Azril! Jaga bicaramu!” Nafas Arini terengah-engah. Entah darimana datangnya informasi menyesatkan yang sungguh tidak enak didengar itu. Arini berbalik hendak pergi. Namun, matanya menangkap ekspresi sang ibu yang sedikit aneh di matanya. Mau tidak mau, ia mengingat ucapan ibunya tadi pagi.

“Baiklah … baiklah … aku gak akan membahas ini lagi. Tapi tolong berikan uangnya sekarang. Aku akan pergi dengan Intan hari ini juga. Dan juga, minta buat tambahan uang untuk bensin.” Azril agaknya tidak peduli dengan kemarahan sang kakak.

Arini memejamkan mata, mengatur pernapasannya, kemudian setelah membuka mata, ia berkata, “kamu sebentar lagi akan menjadi ayah. Tidakkah seharusnya kamu sudah mulai mencari penghasilan sendiri? Kalau tidak, bagaimana caramu memberi makan anak istrimu nanti?”

BRAK! Sebuah telapak tangan mendarat di atas meja. Bukan milik Azril maupun Intan, melainkan milik Titin.

“Tidak bisakah kamu membiarkan ibu makan dengan tenang, Arini? Haruskah kamu membuat kekacauan yang tidak perlu seperti itu?”

Hati Arini mencelos. Benar, apa pun yang terjadi, dirinya akan selalu berada di posisi yang salah. Tidakkah seharusnya ibu menampar mulut kotor Azril?

“Maaf,” ucap Arini pada akhirnya, “aku pergi dulu, Bu,” pamitnya kemudian. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Arini gegas pergi meninggalkan tempat itu. Namun, ia masih bisa menangkap teriakan Azril di meja makan.

“Jangan lupa uangnya!”

Arini tidak ingin memikirkannya. Tapi mau tidak mau, ucapan Azril mengusik hatinya juga.