Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 18

23 September 2025

Tidak mungkin Azril mengatakan hal kotor itu tanpa sumber. Pasti semua ada alasannya. Itu yang perlu Arini ketahui. Setelah dicap sebagai perawan tua, pelakor, dan sekarang menjual diri. Jika dibiarkan, adiknya itu akan semakin semena-mena.

Karena sibuk melamun, Arini tidak sadar kalau sepeda motor yang ia kendarai sudah melewati kantornya. Begitu ia sadar, beberapa meter sudah dilewati. Arini refleks menepikan kendaraannya. Sayangnya, ia tidak sadar, dari arah belakang, sebuah sepeda motor melaju dengan kencang. Tabrakan pun tak bisa dihindari. Arini terpental jauh dari sepeda motornya. Pun dengan si pengendara yang terpental di bahu jalan. Semua pengendara otomatis menghindar. Beberapa di antaranya juga ada yang membantu Arini untuk menepi. Sementara pengendara lainnya sudah bangun sendiri, dan mengecek kendaraannya.

Pengendara sepeda motor itu adalah siswa SMA. Begitu bangun, ia gegas membuka helm fullface-nya, dan menatap Arini. Ingin menyalahkan, tapi justru rasa kasihan yang terpampang di wajahnya.

“Mbak gak papa?” tanya pemuda itu.

“Maaf saya menepi gak liat-liat. Kamu baik-baik aja?” Arini balik bertanya.

Pemuda itu menggeleng, kemudian tanpa sadar menoleh ke arah sepeda motor sport-nya yang teronggok di bahu jalan. Walaupun sudah dalam posisi berdiri, tapi keadaannya sungguh tidak enak dilihat lagi. Huh! Padahal sepeda motor itu adalah hadiah ulang tahun dari orang tuanya dua bulan lalu.

“Motor kamu ….”

“Gak papa, nanti aku minta beli yang baru,” sela pemuda itu.

Arini termenung sejenak, menatap pemuda itu dari atas ke bawah. Memang benar, sepertinya ada aura sultan dalam dirinya. Tapi tetap saja, kecelakaan itu adalah salahnya. Jadi ia mengajukan diri untuk bertanggung jawab.

“Bawa saja sepeda motor kamu ke bengkel. Nanti saya yang bayar biaya perbaikannya.” Walaupun Arini tidak tahu, berapa uang yang harus ia keluarkan untuk memperbaikinya. Arini juga menambahkan, “kalau kamu terluka, saya juga akan menanggung biaya rumah sakitnya.”

Pemuda itu memandang Arini dengan sedikit senyuman. Keadaan wanita di depannya jelas lebih buruk dari dirinya. Sepeda motornya juga rusak parah. Bahkan mungkin biaya perbaikannya akan setara dengan harga sepeda motornya sendiri. Tapi ia masih ingin bertanggungjawab atas dirinya.

“Gini aja. Berhubung aku udah telat ke sekolah, gimana kalau sebagai bentuk kompensasi, Mbak bayarin aku ongkos ojek ke sekolah.” Pemuda itu agaknya tidak ingin mempersulit Arini.

“Hanya itu?” tanya Arini bingung.

“Ya! Datang ke sekolah hari ini sangat penting. Aku ada ujian,” jawab si pemuda.

“Ah … baiklah.” Arini mengangkat ponselnya, dan mulai memesan ojek. Ia juga sudah bertanya sekolah pemuda itu sebelumnya.

Tak lama, ojek yang dipesan datang. Pemuda itu naik begitu saja tanpa memedulikan sepeda motornya lagi. Seolah benda itu sama sekali tak berharga di matanya. Dan tepat ketika pemuda itu pergi, Arini baru sadar, kakinya terluka. Ia berjalan pincang ke tepi, dibantu salah seorang pengendara.

“Mau dianter ke rumah sakit, Mbak?” tanyanya.

Arini tidak langsung menjawab. Ia memindai sekeliling. Ternyata, masih banyak orang di sana. “Tidak perlu, Pak. Kantor saya dekat sini. Biar saya ke klinik kantor saja,” jawabnya kemudian.

“Baiklah kalau begitu.”

Perlahan kumpulan orang-orang itu pergi, meninggalkan Arini yang bingung harus melakukan apa.

“Arini.” Sebuah suara berhasil membuat Arini menoleh. Adalah seorang pria tampan, tinggi, dan penuh wibawa yang memanggilnya. Arini menatapnya bak melihat seorang pahlawan di siang hari bolong.

“Pak Gibran ….” Entah mengapa Arini merasa sedih. Ari mata bercucuran di pipi tanpa bisa dibendung. Ia menangis sesegukan seperti anak berusia tiga tahun.

Gibran yang melihatnya merasa bingung, mengapa Arini menangis. Apakah lukanya sangat menyakitkan? Memikirkannya, Gibran gegas mendekat dan membantu Arini berjalan ke mobilnya.

Arini sendiri seperti dihipnotis, mengikuti Gibran tanpa banyak bertanya.

Begitu keduanya duduk di dalam mobil, Gibran menelepon seseorang untuk membantunya mengurus dua sepeda motor rusak di tepi jalan. Ia sendiri gegas menginjak pedal gas dan segera pergi ke rumah sakit.

Tak jauh dari tempat Arini berada sebelumnya, sepasang mata memandang ke arah kepergian mobil itu. Ada kerumitan tersendiri di antara kedua mata tuanya.

“Jadi apa yang Azril katakan benar? Arini menjual diri? Pria itu sepertinya masih muda dan kaya,” gumam wanita tua itu.

“Bu, kita mau ke mana?” tanya sopir taksi.

“Kembali ke rumah,” jawab Titin tanpa basa-basi.

Sang sopir mengangguk paham. Ia kemudian membawa penumpangnya kembali ke tempat di mana ia naik sebelumnya.


Di ruang UGD, Arini tengah menjalani perawatan. Tidak ada yang serius menimpanya. Hanya ada beberapa luka ringan di kakinya. Benturan itu nyatanya tidak terlalu keras. Kedua setang sepeda motor beradu, dan menyebabkan keduanya hilang kendali dan jatuh terpental. Baik Arini maupun pemuda itu sama-sama dalam kondisi baik.

Arini keluar setelah beberapa saat. Di luar, ia melihat Gibran yang tampak sibuk menelepon. Arini merasa bersalah. Gara-gara dirinya, pekerjaan Gibran menjadi terhambat. Ia memandangi fitur samping pria itu yang tampak membicarakan hal serius dengan lawan bicaranya.

“Pak ….” Karena tidak melihat tanda-tanda Gibran mengakhiri pembicaraannya, Arini menghampiri.

Gibran menoleh, kemudian menutup panggilan teleponnya. “Gimana keadaan kamu?” tanyanya.

“Saya baik, terimakasih, dan maaf karena menghambat pekerjaan Bapak,” jawab Arini.

“Bagus kalau kamu tahu,” balas Gibran, “saya antar kamu pulang, jangan lupa besok datang lebih awal,” lanjutnya seraya memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku.

“Motor saya ….”

“Sudah ditangani. Akan diantar dalam beberapa hari,” sela Gibran.

“Lalu soal biayanya?” tanya Arini.

“Akan dipotong dari gaji kamu,” jawab Gibran.

“Itu bagus,” cicit Arini.

“Ayo!” Gibran tidak ingin banyak basa basi lagi. Ia mengajak Arini untuk pulang. Tidak! Maksudnya, Gibran menawarkan diri untuk mengantar Arini pulang.

Diperjalanan, keduanya terdiam. Keheningan itu membuat keduanya kian canggung. Bahkan ketika mereka sampai di depan rumah Arini pun, terhitung hanya beberapa kata yang mereka ucapkan. Itu adalah ketika Gibran menanyakan arah ke rumah Arini.

“Terimakasih, Pak.” Arini kembali mengucapkan terimakasih ketika turun.

“Hemmm,” balas Gibran singkat.

Arini berjalan tertatih ke arah rumahnya. Sementara Gibran bersiap pergi.

Dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Wajahnya sungguh tidak enak dilihat. Ia memandangi Arini yang tengah berjalan tertatih ke arah rumah.

Arini berhenti berjalan, memandangi sang ibu yang berjalan ke arahnya. Pikirannya berputar. Mengapa? Tidak mungkin ‘kan ibunya itu datang karena mengkhawatirkan keadaannya?

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Arini. Perih. Dan karena kaki Arini sedang tidak stabil, ia terhuyung hingga hampir jatuh. Beruntung tangannya dengan cepat memegangi pagar rumah.

“Bu ….”

“Dasar pelacur!” hardik Titin. “Kamu dan ibumu sama saja. Pelacur!”

Arini terdiam, memikrikan setiap kata yang ibunya ucapkan. Apa maksudnya?