Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 19

23 September 2025

Mengapa ibunya mengatakan dirinya seperti itu?

“Sungguh sia-sia aku membesarkanmu selama dua puluh tujuh tahun. Memberimu makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Kamu, anak yang lahir dari wanita kotor tetaplah kotor!”

“Bu, apa maksud ibu?” tanya Arini lirih.

“Kamu ingin kebenarannya, Arini? Kamu bukanlah anakku sama sekali! Suamiku membawamu ketika masih bayi, mengatakan kalau kamu adalah anakku. Dia membohongiku! Putriku telah meninggal! Putriku telah meninggal!” Sepasang mata tua itu menyala-nyala. Entah karena amarah, atau kesedihan yang mendalam. “Hari itu di rumah sakit, dia memberikanmu padaku, mengatakan kalau kamu adalah anak kami. Tapi sebuah kebohongan akan terbongkar juga bagaimanapun dia bersikeras menutupinya.

“Saat kamu masih kecil, kamu terluka dan membutuhkan donor darah. Tapi kamu tahu apa? Golongan darah kami berdua nyatanya sama sekali tidak cocok. Kemudian saat itu, datanglah seorang wanita entah dari mana menangis pilu, mengatakan kalau dia akan mendonorkan darahnya untukmu.

“Lihat! Tuhan begitu baik. Kebohongan mereka terbongkar saat itu. Wanita itu adalah ibumu! Pelacur yang tidur dengan suami orang lain dan mengantarkan anak haramnya untuk diasuh istri sah dari pria yang menghamilinya.”

Arini mundur beberapa langkah seraya menggelengkan kepalanya. “Ini tidak mungkin … ini tidak mungkin. Pasti ada kesalahan ….”

Golongan darah seorang anak memang tidak selalu sama dengan ayahnya, bisa jadi sama dengan ibunya. Tergantung gen mana yang lebih dominan. Tapi dalam beberapa kasus, ada juga golongan darah anak yang tidak sama dengan ayah maupun ibunya. Misal ayah bergolongan darah O, dan ibu bergolongan darah AB. Maka anak bisa saja bergolongan darah A maupun B.

“Kamu tidak percaya? Tunggu di sini!” Dalam sekejap, Titin pergi. Tak lama ia kembali sambil membawa beberapa lembar foto, dan melemparkannya ke arah Arini.

Selembar foto terbuka di bawah, menampilkan sepasang pria dan wanita yang tampak saling mencintai. Arini mengenali si pria sebagai ayahnya. Dan wanita itu … entah mengapa Arini seperti melihat cermin. Wanita itu begitu mirip dengannya.

Perlahan Arini mengangkat kepalanya, hanya untuk melihat wajah muram Titin.

“Setiap kali aku melihatmu, aku selalu mengingat pengkhianatan suamiku. Aku tidak ingin melihat wajah itu!” teriak Titin.

Arini memaksakan tubuhnya untuk berjongkok, mengambil selembar foto yang menarik perhatiannya. Jika wanita itu adalah ibunya, lantas di mana sekarang dia berada?

Mengingat cerita Titin, sepertinya ibu kandungnya, dan wanita di hadapannya ini kemungkinan melahirkan di hari yang sama. Putri kandung Titin meninggal, dan ayahnya entah untuk alasan apa, mengatakan kalau Arini adalah putri mereka.

Semuanya berjalan normal sampai kemudian Titin mengetahui kalau Arini ternyata bukan anak kandungnya. Itu … saat Arini mengalami kecelakaan. Ya! Arini samar-samar dapat memperkirakan kapan waktu itu. Itu adalah saat ia awal-awal masuk sekolah dasar. Ia mengalami luka menyakitkan di tubuhnya. Ia memang tidak mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat itu. Tapi, kalau dipikir-pikir, di tahun yang sama, Azril lahir, dan sikap ibunya berubah padanya. Jadi Arini pikir, perubahan sikap ibunya karena hadirnya Azril. Tapi ia ternyata salah. Faktanya, perubahan itu terjadi karena saat itu Titin mengetahui kebenaran tentang Arini.

Tapi satu hal yang Arini tidak pahami. Mengapa Titin tetap mau mengasuh Arini hingga dewasa? Ia bisa saja memaksa ayahnya untuk mengembalikan Arini kepada ibu kandungnya ‘kan? Kecuali … ibu kandungnya mungkin sudah tiada? Dan dengan sikap patriarki ayahnya, Titin tidak mempunyai banyak pilihan.

Benang kusut itu perlahan terurai. Arini kini paham, mengapa sikap ibunya sangat berbeda dengan sikapnya kepada Azril. Itu karena … ia adalah anak dari wanita yang dibencinya. Memikirkannya, tanpa sadar Arini kembali memandang wanita yang selama dua puluh tujuh terakhir memanggilnya dengan panggilan ‘ibu’ itu.

“Jadi … apa yang ibu inginkan sekarang?” tanya Arini pada akhirnya.

“Pergi dari rumah ini!” jawab Titin lugas.

Arini terdiam, tapi tidak merasakan gejolak perasaan apa-apa. Ia juga terkejut karena tidak ada kesedihan di dalam hatinya. Mengapa? Apakah karena justru hal inilah yang diinginkan hatinya? Pergi dari rumah ini?

“Tunggu, Bu!” Sebuah suara terdengar dari dalam rumah. Azril keluar begitu pengusiran sang ibu turun terhadap Arini. Pria muda yang lebih tinggi dari ibunya itu menatap sang ibu, dan berkata pelan, namun masih bisa didengar Arini. “Bu, bagaimana dengan utang-utangnya?”

Titin tertohok dengan pertanyaan sang putra. Bagaimana ia lupa, Arini masih menjadi sumber keuangan keluarganya. Entah itu cicilan sertifikat rumah yang digadaikan, mobil Intan, dan biaya hidup mereka. Ia terlalu impulsif dengan segera mengusir Arini. Tapi kemudian, sebuah pemikiran ceroboh muncul di dalam kepalanya. “Tentu saja, itu masih tanggungjawabnya.”

“Bagaimana jika dia tidak melakukan tugasnya? Bukankah rumah ini dan mobil Intan ….” Azril sengaja menggantungkan kalimatnya. Tapi Titin jelas tahu betul, apa yang dimaksud.

Pandangan Titin beralih kepada Arini. Samar-samar ia melihat senyum Arini. Bukan sebuah senyuman tulus, tapi … apa artinya senyuman itu? Apakah sebuah ejekan?

Titin mengontrol memejamkan matanya sejenak untuk mengntrol amarahnya. Kemudian ia berkata, “kamu bisa tinggal di sini, asal tahu diri. Jangan lupa bayar cicilan tiap bulannya!”

“Tidak!” Sebuah suara terdengar. Bukan dari Arini, tapi dari seorang pria berjas yang entah datang dari mana. Ia berjalan mendekat, dan berdiri di samping Arini.

Nyatanya, bukan hanya Titin dan Azril yang terkejut, tapi juga Arini.

“Pak Gibran ….” Arini berucap lirih. Ia terkejut karena ternyata pria itu masih di sana. Pandangannya menyelidik. Apakah pria itu juga mendengar semua omong kosong keluarganya? Kalau iya, itu akan sangat memalukan bukan?

“Siapa kamu?” tanya Titin. Tapi detik berikutnya, wajahnya berubah. Samar-samar ia menduga, pria itu adalah pria yang membawa Arini sebelumnya.

Jenis pakaiannya sama. Walaupun saat itu ia tidak bisa melihat wajahnya karena jarak yang terlalu jauh, tapi ia yakin, itu dia. “Oh … jadi kamu pria itu? Pria yang membeli Arini?” Ucapan Titin sungguh tidak mencerminkan seperti ucapan seorang ibu.

Selain Arini, tidak ada yang melihat kalau kedua tangan Gibran sudah terkepal erat. Ada sejenis kemarahan tak tergambarkan di hatinya.

“Pak Gibran ….” Arini mencoba menenangkan pria itu, walaupun ia tidak tahu, jenis kemarahan apa yang ada di hatinya.

“Anda adalah seburuk-buruknya wanita yang pernah saya temui. Katakan, kalaupun apa yang Anda beberkan adalah benar, apa salah Arini dalam hal ini? Apakah dia yang memilih untuk lahir dari rahim siapa dan dengan cara apa? Dan apa tadi Anda bilang, dia bisa tinggal di sini asalkan tahu diri?” Gibran tertawa mencemooh usai mengatakannya. “Sampai kapan? Sampai dia tidak berguna lagi bagi Anda? Lalu Anda membuangnya begitu saja seperti seonggok sampah begitu?”