Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 20

23 September 2025

“Jangan ikut campur urusan keluarga orang lain!” Azril berdiri di garda terdepan untuk membela ibunya.

Gibran tidak marah. Tatapannya masih tertuju pada wanita tua yang tampak tidak senang di depannya. “Mulai hari ini, Arini berada dalam perlindungan saya. Anda tidak bisa lagi memanfaatkannya, dan menjadikannya sapi perah. Anda sendiri yang bilang, Anda bukan ibu kandungnya, dan sangat membencinya. Jadi, tidak ada alasan untuk Arini tinggal di rumah ini lagi.”

Titin tertawa sumbang mendengarnya. “Aku telah membesarkannya bertahun-tahun. Adalah wajar untuk meminta balas budi dengan sedikit penghasilannya. Adapun utang-utang itu … itu adalah atas namanya sendiri. Tidak ada alasan untuk tidak membayarnya. Bagaimana pun, pihak bank akan menagih padanya.”

Gibran sungguh ingin menertawakan kebodohan wanita di depannya. Jika saja dia bukan seorang orang tua …. Memikirkannya, pada akhirnya Gibran berkata, “Anda pikir saya tidak tahu tentang prosedur pinjaman bank? Jika nasabah tidak bisa membayar cicilan, maka agunan akan di lelang. Menurut Anda, siapa yang akan mengalami kerugian? Tapi ya, karena Anda yang mengatakannya, saya akan membayar semua utang Arini. Tapi setelah itu, Anda harus membebaskan segala keterikatannya dengan keluarga ini. Setelah ini, di masa depan, ketika kalian bertemu, kalian hanya akan menjadi orang asing. Bagaimana?”

“Setuju!” Azril yang menjawab.

“Tunggu sebentar!” sela Titin.

Mereka berdua menjawab hampir bersamaan.

Azril menoleh ke arah sang ibu, dan memperhatikan keraguan di wajahnya. “Ada apa, Bu? Apa yang membuat ibu ragu?” tanyanya.

“Apakah ini sepadan?” tanya sang ibu.

“Menurutku, ini sangat bagus, Bu. Pria itu akan memberikan sejumlah uang untuk melunasi utang. Kita bisa menggunakan sebagiannya untuk membangun usaha, jangan dipakai untuk melunasi semua utangnya. Kita bisa membayar cicilannya perlahan. Bukankah itu bagus, Bu?”

“Kamu yakin?” tanya sang ibu.

Azril mengangguk mantap. “Aku sangat yakin, Bu. Kedepannya, ibu tidak perlu mengkhawatirkan lagi soal keuangan kita. Dan lagi, bukannya bagus menyingkirkan orang yang hanya mengganggu pemandangan di rumah ini? Ibu sangat ingin mengusirnya tadi ‘kan?”

Titin merenung sejenak, sebelum pada akhirnya menganggukkan kepalanya.

Gerakan kedua ibu dan anak itu tertangkap mata elang Gibran. Pria itu menyunggingkan sedikit senyuman. Ia kemudian menoleh ke arah Arini. “Ada yang ingin kamu bawa?”

Arini tahu artinya. Ia menanyakan tentang barang pribadi yang mungkin ingin Arini bawa dari rumah. Tapi masalahnya bukan itu? Ke mana ia harus pergi setelah ini? Tanpa sadar Arini menoleh ke arah Gibran. Tapi pria itu tampak yakin dan meyakinkan. Tidak ada setitik pun keraguan. Dan entah mengapa Arini bisa melihat mata Gibran seolah berkata, ‘percapa padaku’.

Pada akhirnya, Arini mengangguk. Kemudian berjalan tertatih menuju ke rumah yang sebentar lagi bukan rumahnya itu.

“Tunggu!” cegah Azril. “Kamu tidak berhak membawa barang berharga apa pun dari rumah kami!”

Arini ingin tertawa dalam tangis. Lihat! Belum lima menit berlalu, tapi Azril sudah menghilangkan sematan ‘kakak’ dalam kalimatnya. Sebegitu tidak sabarnya ‘kah mereka untuk menendangnya dari pandangan?

“Tenang saja. Saya hanya akan membawa beberapa dokumen pribadi.” Jika Azril ingin menarik garis yang jelas antara dirinya, maka baiklah. Arini tidak mempunyai alasan untuk menolaknya.

“Bu, aku akan mengawasinya,” pamit Azril pada ibunya. Sejurus kemudian, ia mengekor di belakang Arini yang mulai menaiki tangga menuju ke lantai dua.

Sementara di halaman, Titin berhadapan dengan Gibran. “Kapan uangnya akan diberikan?”

Gibran berbalik, berjalan menuju ke arah mobilnya terparkir. Tak lama, ia kembali dengan membawa selembar cek yang sudah ia bubuhkan nilai dan tandatangan. “Ini anggap saja sebagai DP. Sisanya akan diurus pengacara.”

“Pengacara?” ulang Titin.

“Kenapa? Anda tidak berpikir saya akan mengeluarkan uang dengan cuma-cuma ‘kan? Saya ingin perjanjian hitam di atas putih. Kalau tidak, siapa yang bisa menjamin Anda akan mengganggu Arini lagi di masa depan.”

“Hah! Itu tidak akan terjadi!” Titin sangat yakin. Dengan uang itu, Azril akan mampu membuka bisnisnya sendiri. Dan begitu mereka bisa berpijak dengan uang dan kekayaan, siapa yang akan membutuhkan uang kecil Arini lagi? Perlahan, nama itu akan dilupakan di rumahnya.

Arini tiba sangat cepat. Ia berjalan perlahan dengan membawa sebuah koper berukuran sedang. Saat melewati ibunya, ia menoleh, hanya untuk melihat sebuah cek di tangannya. Ia tersenyum masam. Rasanya ia seperti dijual kepada orang asing. Benar, tidak ada rasa kasih sayang ibu dan anak antara dirinya dan wanita yang ia anggap ibu itu.

Arini terus melangkah menjauh. Ia menatap Gibran yang masih mengekspresikan hal yang sama sejak ia datang. Kemudian pandangannya beralih pada koper di tangan. Berpikir, haruskah merepotkan atasannya itu untuk membantunya membawa barang? Namun, belum sempat Arini selesai dengan pikirannya, sebuah tangan sudah mengambil alih pegangan koper. Detik berikutnya, koper itu sudah berpindah tangan.

“Hanya ini?” tanya Gibran.

Arini mengangguk. Itu adalah barang-barang terpenting menurutnya. Isinya ijazah, sertifikat, BPKB sepeda motornya, dan dokumen pribadi lainnya. Selain itu, Arini juga membawa perlengkapan pribadi, dan beberapa pakaian.

Gibran tidak bertanya lagi. Ia gegas menyeret koper Arini, dan berjalan menuju ke mobilnya tanpa menoleh ke belakang lagi. Pun dengan Arini yang melakukan hal yang sama. Ia hanya tidak menyangka, suatu hari ia akan pergi begitu saja dari rumah yang sudah ditinggalinya selama bertahun-tahun dalam keadaan seperti itu.

Mobil melaju meninggalkan rumah itu. Arini menoleh, dan mendapati Azril dan ibunya sudah tidak ada lagi di teras. Ia mengembuskan napas berat, menyadari, setelah hari ini, rumah itu akan menjadi asing baginya. Itu adalah suatu keadaan yang ekstrim baginya.

Begitu mobil yang mereka tumpangi keluar dari gerbang komplek, Arini memberanikan diri menatap Gibran yang tengah fokus menyetir. “Bapak bisa menurunkan saya di dekat kantor, dengan begitu, Bapak bisa kembali ke kantor, sementara saya harus izin hari ini untuk mencari kosan.”

Gibran tidak menjawab.

“Em … dan tentang cek yang Bapak berikan pada ibu … berapa nilainya? Saya mungkin tidak punya uang saat ini, tapi saya janji akan membayar semuanya, walaupun itu harus dengan mencicil setiap bulan. Saya ….”

“Kamu bisa mempertimbangkan tawaran saya sebelumnya,” sela Gibran.

Arini terdiam, memikirkan kembali tentang ‘tawaran’ yang Gibran maksud. Sampai kemudian ia teringat akan hari itu. Hari di mana Gibran memintanya untuk melahirkan anak untuk seseorang.

“Dia bisa memberikan apa yang kamu butuhkan. Uang, tempat tinggal, dan perlindungan.” Gibran menambahkan.

“Perlindungan?” ulang Arini. Ia bukan artis ataupun anak konglomerat, mengapa ia membutuhkan perlindungan?

Gibran seolah bisa membaca isi kepala Arini. Ia kemudian berkata, “kamu tidak berpikir keluarga itu akan melepaskanmu begitu saja bukan? Mereka hanya akan diam ketika uang masih di tangan. Menurutmu, dengan karakter seperti mereka, berapa lama uang itu akan tetap ada? Mereka akan mulai mengganggumu lagi dengan membawa berbagai alasan.”