Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 21

23 September 2025

Arini terdiam. Baginya, segala yang terjadi hari ini begitu mendadak. Hal-hal terus terjadi dalam hidupnya tanpa bisa ia prediksi. Dan tentang tawaran itu … benarkah itu adalah jalan keluar baginya? Melahirkan anak untuk seseorang yang tidak ia kenal. Itu sangat tidak sesuai dengan kehidupan yang ia inginkan.

Seperti gadis lain pada umumnya, Arini sempat memimpikan sebuah pernikahan penuh cinta. Di mana ia dan suaminya hidup bahagia dan saling mencintai. Tapi tampaknya, semua mimpi itu semakin hari semakin menjauh. Dan kini ia benar-benar tidak ingat, kapan terakhir kali ia berani bermimpi tentang hidupnya sendiri.

“Bisakah saya bertemu dengan pria itu dulu? Saya ingin menanyakan beberapa hal,” ucap Arini setelah terdiam cukup lama.

Gibran mengangguk, kemudian berkata, “tentu saja.”

Mobil terus melaju membelah jalanan. Bukan menuju ke kantor seperti yang Arini minta. Tapi menuju ke sebuah apartemen di pusat kota. Arini tidak banyak bertanya. Ia sudah memutuskan akan mempercayai Gibran sepenuhnya. Lagipula, pria itu sudah banyak membantu, dan ia belum memberikan apa-apa sebagai balasan.

Di tempat parkir, Mobil itu akhirnya berhenti. Gibran memberikan sebuah kartu akses kepada Arini. “Kamar nomor 904, kamu tinggal menempelkannya di platform di pintu masuk. Kamu bisa tinggal di apartemen itu sementara waktu.”

Dengan ragu, Arini menerima kartu akses itu. Ia kemudian turun, dan membawa barangnya di bagasi. Tapi Gibran menurunkan kaca mobilnya dan berkata, “akan ada petugas yang membantumu membawa barang. Kamu fokus saja pada dirimu sendiri. Saya harus pergi.”

Arini mengangguk, kemudian mengucapkan terimakasih. Detik berikutnya, mobil itu pergi meninggalkan tempat parkir, dan keluar dari area apartemen.

Tak lama, seorang pria berseragam petugas apartemen datang menghampiri. Ia memperkenalkan diri dan membantu Arini naik ke unitnya menggunakan lift. Mereka turun di lantai 9, keluar dari lift, dan berjalan ke unit yang di tuju.

“904.” Arini membaca nomor yang ada di pintu, dan menempelkan kartu akses di platform yang tersedia. Seketika, pintu apartemen itu terbuka.

“Barangnya mau di simpan di mana, Bu?” tanya petugas tersebut.

“Di sini saja, biar saya yang membawanya ke dalam,” jawab Arini.

“Baiklah. Kalau begitu, saya permisi,” pamitnya.

Pria itu sudah akan pergi, tapi Arini mencegahnya.

“Tunggu! Ini untuk Bapak, terimakasih.” Arini memberikan selembar uang berwarna biru kepada pria itu.

Jelas pria itu sangat senang. Ia tersenyum, dan berkata, “kalau butuh apa-apa, Ibu bisa menghubungi saya di line 12. Nama saya Teguh.”

Arini mengangguk, dan tidak menahan petugas tersebut untuk pergi lagi. Ia berusaha membuka jalan untuk dirinya sendiri. Entah apa yang akan terjadi padanya kedepannya, ia butuh seseorang yang ia kenal untuk membantunya. Dan selembar uang itu, anggap saja pintu masuknya.

Arini masuk lebih dalam dan menutup pintu. Unit apartemen itu cukup luas. Ada satu kamar, ruang tengah, dapur kecil dan kamar mandi. Deretan perabotan minimalis yang tertata rapi. Siapapun yang tinggal di sana sebelumnya, pastilah orang yang disiplin dan teratur.

Apakah ini apartemen Pak Gibran? batin Arini.

Memikirkannya, Arini bermaksud untuk menghubungi Gibran. Tapi, setelah dipikir-pikir, Gibran mungkin sedang berkendara kini. Jadi ia memutuskan untuk mengirimi Gibran pesan saja.

[Pak, saya izin meminjam kamar untuk beristirahat dan juga kamar mandi]

Pesan itu sudah diketik, tapi belum di kirim, karena saat itu, sebuah pesan muncul tiba-tiba dari nomor yang hendak Arini kirimi pesan.

[Kamu bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di apartemen itu, jangan ragu] Hanya sebaris kalimat, tapi mampu menjawab semua keraguan di hati Arini.

Arini menghapus kembali pesan yang sudah ia ketik, dan menggantinya dengan ucapan terima kasih. Setelahnya, ia menyimpan ponselnya, dan masuk ke dalam satu-satunya kamar yang ada di unit apartemen itu.

Kamar itu di dominasi warna putih. Sepertinya warna bawaan developernya. Tidak ada yang unik. Seperti halnya kamar biasa yang berisi tempat tidur, lemari, dan meja. Benar-benar sederhana. Arini mendekat ke arah tempat tidur, duduk di sana sebentar, dan kemudian membaringkan tubuhnya di atasnya. Walaupun nyaman, tapi ia sama sekali tidak bisa merasakan rasa aman di sana.

Akan tetapi, keadaan itu hanya berlaku di menit-menit awal saja. Karena selanjutnya, otot-otot di tubuh Arini menstimulasi otak agar rileks, dan perlahan memejamkan mata. Ia lelah. Lelah setelah mengalami kecelakaan, dan lelah dengan keadaan yang baru saja menimpanya. Detik berikutnya, Arini tertidur.

Di tempat lain, Gibran baru saja memarkirkan kendaraannya di depan sebuah perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja sekitar setengah bulan terakhir. Ia turun dari kendaraannya, dan gegas masuk ke gedung. Banyak pekerjaan tertunda karena kecelakaan yang menimpa Arini. Terutama tentang tugas utamanya, menyelidiki aliran dana menyimpang yang terjadi di perusahaan.

PT. Jamoesida adalah perusahaan pembuatan obat tradisional, atau orang awam menyebutnya jamu. Lima tahun yang lalu, perusahaan mengalami pailit, dan diakuisisi oleh PT. HAWI Farma yang sudah terkenal dengan merek obat-obatannya, baik di dalam maupun luar negeri.

Saat itu, banyak karyawan lama PT. Jamoesida yang diberhentikan karena bermasalah. PT. HAWI menempatkan beberapa karyawan di tingkat atas untuk menggantikan mereka. Sementara untuk para staff, digantikan dengan karyawan baru. Dalam peralihan itu, banyak ditemukan laporan keuangan tidak masuk akal yang merugikan perusahaan. Dan yang paling jelas adalah korupsi yang dilakukan manager keuangan PT. Jamoesida yang sudah menjabat selama bertahun-tahun. Bisa dibilang, orang ini adalah karyawan yang bertahan sejak PT. Jamoesida di akuisisi. Gibran ditugaskan langsung dari PT. HAWI Farma untuk menyelidikinya. Tidak ada yang mengetahui tentang asal-usul Gibran kecuali sang direktur sendiri.

Gibran masuk ke ruangannya dengan langkah panjang. Namun, begitu masuk, sebuah pemandangan yang mengganggu ada di hadapannya. Wanita itu tampak duduk santai di kursi Gibran. Saat melihat pria yang ditunggunya, ia berdiri dan menghampiri seraya memberikan senyuman cerah. Sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Gibran saat ini.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk?” tanya Gibran seraya memijat ruang di antara alisnya.

“Kita perlu bicara,” jawab Yesi.

“Aku sibuk. Apapun itu, kita bicarakan nanti.” Gibran sudah berjalan melewati Yesi, kemudian duduk di kursi yang baru saja wanita itu tinggalkan, bersiap bekerja.

“Aku gak mau putus!” ucap Yesi tiba-tiba.

“Apanya yang putus. Kita sama-sama tahu, tidak pernah ada apa pun di antara kita,” balas Gibran malas.

“Apa ini gara-gara wanita itu?” tanya Yesi.

Gibran mengembuskan napas lelah. Ia menatap Yesi dengan tatapan tajam. “Aku sudah membantumu berpura-pura menerima pertunangan selama satu tahun ini. Sekarang aku tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi terhadapmu.”

“Dia … dia gak akan kembali. Dia mengkhianatiku."