Yesi memasang wajah sedih saat mengatakannya. “Tolong bantu aku sekali lagi, Gibran. Setidaknya sampai aku benar-benar menemukan pria yang aku cintai dan mencintaiku.”
“Maaf, Yesi. Aku tidak bisa,” jawab Gibran.
Yesi menangis tersedu-sedu. Ia kini bahkan sudah duduk di kursi yang ada di depan Gibran. “Kalau begitu, aku tidak mempunyai pilihan lain selain bunuh diri. Mungkin setelah melihatku tiada, mama akan berhenti menjodohkanku!”
“Jangan impulsif!” bantah Gibran.
“Lantas aku bisa apa?” Yesi mengangkat kepalanya, menatap Gibran dengan penuh harap. Ia membiarkan kedua matanya mengaliri pipinya dengan air mata. Ia tidak ingin menghapusnya, agar Gibran melihat seberapa sedih dirinya.
Sekali lagi, Gibran memijat ruang di antara alisnya, kemudian berkata, “biar aku pikirkan. Kamu kembalilah dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
Walaupun sedikit kecewa dengan jawaban itu, Yesi tetap memaksakan diri untuk tersenyum. Ia kemudian mengusap sisa-sisa air mata di pipi, dan pamit pergi.
Begitu keluar dari pintu, Yesi tidak langsung pergi. Ia memindai beberapa kubikel di depan ruangan Gibran, tampak mencari sesuatu.
Saat itu, seorang OB lewat di depannya. Yesi menghentikannya dan bertanya, “di mana staff yang bernama Arini?”
Pria yang ditanya menoleh ke belakang. Benar, meja Arini kosong, dan komputernya juga mati. “Saya kurang tahu, Bu,” jawabnya kemudian.
“Gak berguna! Sana pergi!” usir Yesi.
Tidak ingin pergi dengan sia-sia, Yesi berjalan menyusuri beberapa kubikel dan akhirnya menemukan satu kubikel kosong yang ia duga adalah meja kerja Arini. Ia kemudian secara acak bertanya kepada staff terdekat dari meja itu. “Di mana orang yang biasanya di sini?”
“Maksudnya Arini? Dia tidak masuk, sakit,” jawab seorang staff wanita.
“Sakit apa?” tanya Yesi lagi.
Yang ditanya akhirnya mengangkat kepalanya, kemudian menilai penampilan Yesi dari atas ke bawah. Di lihat dari sudut manapun, Yesi tidak seperti seorang perwakilan kantor yang akan bekerja. Ia lebih seperti model yang akan berjalan di catwalk. Gaun yang dikenakannya terlalu pendek dan ketat untuk dipakai bekerja.
“Apa yang kamu lihat? Belum pernah melihat wanita cantik dan modis?” tanya Yesi dengan congkaknya.
Staff itu memutar bola matanya malas, kemudian menjawab pertanyaan Yesi sambil menggerakkan jemarinya di atas keyboard komputer. “Saya kurang tahu, kalau ibu butuh informasi lanjutan, silakan hubungi Pak Gibran.”
“Dasar gak sopan! Kamu gak tahu siapa saya? Saya adalah tunangan bos kamu!” teriak Yesi.
Wanita yang tengah duduk itu mengembuskan napas lelah, kemudian berdiri. “Permisi, Bu, ada sesuatu yang harus saya kerjakan.” Tanpa menunggu jawaban Yesi, ia pergi begitu saja.
Wajah Yesi sudah terlihat buruk kini. Huh! Bahkan karyawan Gibran pun tidak ada yang menghormatinya. Lihat saja, begitu ia menikah dengan Gibran, wanita itu adalah orang pertama yang akan ia pecat.
Yesi melihat meja yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya. Ia menggumamkan nama yang tertera di atas meja. “Dita? Awas ya kamu!” Sejurus kemudian, ia pergi dari sana.
Dita berjalan cepat menghindari pengawasan wanita sombong itu. Ia berbelok tajam ke arah tangga darurat, membuka pintu, dan duduk di atas tangga. Dengan napas berderu, ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Arini. Dibutuhkan waktu beberapa kali deringan sampai ia bisa mendengar suara serak sahabatnya itu.
“Rin, kamu gak akan percaya dengan apa yang aku temui hari ini!” seru Dita.
“Apa?” Suara Arini tampak lebih baik dari sebelumnya.
“Ada orang gila!” Nada suara Dita penuh dengan kekesalan.
“Hah? Siapa?” Arini duduk di atas tempat tidur, berpikir. Hanya satu kemungkinan! Mungkinkah ibunya datang ke kantor?
“Lupakan!” Dita tampak enggan membahas tentang wanita itu. “Katakan, bagaimana keadaanmu! Ibumu gak menyulitkan kamu ‘kan?”
Arini memang sempat mengirimi Dita pesan, mengatakan kalau ia kecelakaan kecil dan tidak akan masuk kerja saat perjalanan ke rumah sakit. Tapi, kejadian-kejadian yang menimpa setelahnya, ia belum mengatakannya.
“Aku diusir, Ta,” jawab Arini lirih.
“Apa? Kenapa?” Dita sedikit menaikkan nada suaranya.
“Besok aku ceritakan segalanya di kantor,” jawab Arini malas.
“Besok? Kamu besok kerja? Kenapa gak ambil cuti lebih lama? Atau kamu takut Pak Gibran marah? Biar aku yang bicara sama dia.”
“Gak perlu!” sela Arini. “Aku ini hanya kecelakaan kecil, bukan lumpuh!” Arini terdiam, perlukah memberitahu Dita kalau justru Gibran yang membantunya? Ia bahkan kini tinggal di apartemen Gibran.
Pandangan Arini tanpa sadar memindai seluruh isi kamar yang bersih dan rapi itu. Sampai kemudian, samar-samar ia mendengar suara vacuum cleaner di depan kamar.
Ada seseorang di sini? batin Arini.
“Ta, aku tutup dulu teleponnya.” Arini segera mengakhiri pembicaraan. Ia bahkan tidak mendengar saat Dita menanyakan keberadaannya.
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuanku,” jawab Dita.
“Ya, makasih,” balas Arini.
Detik berikutnya, panggilan itu terputus.
Arini keluar dari kamarnya untuk mengecek keadaan di luar. Benar saja, seorang wanita muda tampak membersihkan ruang tengah dengan menggunakan vacuum cleaner. Wanita itu tampak fokus, dan tidak menyadari keberadaan Arini di belakangnya. Mungkin juga karena suara musik dari earphone yang menggantung di telinganya.
“Maaf, Anda siapa?” tanya Arini.
Tidak ada jawaban.
Arini kemudian berjalan mendekat, dan menepuk pundak wanita itu. Baru saat itulah ke melepas kedua earphone-nya dan menoleh. Detik berikutnya, ia mematikan mesin vacuum cleaner tersebut.
Kedua wanita itu saling pandang selama beberapa detik lamanya. Sampai kemudian, Arini kembali bertanya, “Anda ini ….”
“Aku Ima, orang yang ditugaskan Pak Gibran membersihkan apartemennya setiap satu minggu dua kali,” jawab Ima lugas.
Entah mengapa, Arini merasakan nada tidak suka dari kalimat sederhana itu.
“Dan kamu ini ….” Ima sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Saya Arini. Saya … akan tinggal di sini untuk sementara waktu.” Arini tidak menjelaskan detail hubungannya dengan Gibran karena merasa itu tidak perlu. Apa yang bisa dikatakannya? Bahwa ia adalah karyawan Gibran di kantor? Berapa banyak orang yang percaya kalau seorang karyawan tinggal di apartemen bosnya tanpa hal-hal negatif di belakangnya? Walaupun Arini tahu Gibran pria baik yang tidak mungkin melakukan hal tercela, tapi di mata orang luar, ia harus tetap menjaga nama baik pria yang telah banyak membantunya itu.
“Oh … penyewa,” balas Ima.
Penyewa? Baiklah, itu cukup bagus terdengar.
Ima kembali membersihkan ruangan itu tanpa memedulikan Arini lagi. Sementara Arini memandangi punggung wanita muda itu dengan tatapan rumit. Bisakah ia meminta Gibran agar Ima tidak perlu datang ke apartemennya sementara ia tinggal di sana? Sungguh tidak nyaman berhadapan dengan wanita itu dua kali seminggu. Tunggu! Memangnya ia akan tinggal di apartemen itu berapa lama? Itu juga belum pasti.