Malam itu suhu udara sangat dingin. Walaupun beberapa hari terakhir matahari bersinar terik tanpa hujan, tapi hal itu nyatanya tidak mampu menghangatkan udara malam sama sekali. Menurut berita, saat ini bumi sedang berada dalam jarak terjauhnya dengan matahari. Itulah sebabnya, walaupun matahari bersinar terik, tapi udara tetap dingin.
Bahkan di beberapa provinsi, dikabarkan ada embun beku. Para pewarta bahkan melebih-lebihkannya, menyebut itu adalah salju. Tidak pernah ada salju turun di negeri ini, karena musim di sini hanya ada dua, musim kemarau, dan musim penghujan.
Gibran turun dari mobilnya, dan berjalan ke sebuah restoran berlantai tiga. Begitu ia masuk, ia langsung naik ke lantai tiga, di mana ruang VIP berada. Gibran masuk ke salah satu ruangan yang ada di sana. Dua orang pria sudah menunggunya di dalam ruangan.
“Yo … Gibran … sudah lama kita tidak kumpul-kumpul seperti ini.” Seorang pria menghampiri, menyambut tangan Gibran, dan menyatukan pundak mereka.
Pria lainnya turut melakukan hal yang sama.
Mereka berdua kemudian duduk di sofa yang tersedia.
“Mau pesan apa?” tanya pria yang duduk lebih dekat dengan Gibran.
“Nanti aja, aku mau minta bantuan kalian,” jawab Gibran.
“Huh! Sudah kuduga. Tidak mungkin rasanya Gibran kita yang sibuk ini minta bertemu kalau bukan untuk minta tolong!”
Gibran tertawa kecil. “Hansen, jangan lupa, aku sudah banyak membantu hubunganmu dengan Sifa. Kalau tidak, bagaimana Om Bas dan Tante Widuri merestui kamu untuk nikah sama adik kamu sendiri!”
“Adik angkat!” ralat Hansen. “Kamu ngomong kayak gitu, kalau ada orang yang mendengar akan berpikir aku ini seorang pedofil!”
“Hahaha … baiklah … baiklah … lupakan! Aku mau minta tolong, dan kalian harus membantuku.” Gibran menatap kedua sahabatnya sejak kuliah itu satu persatu.
“Apa ini tentang dia lagi?” tanya Hansen.
“Dia siapa?” tanya pria lainnya.
“Erik, aku lupa memberitahumu. Sepertinya teman kita yang sombong ini lagi naksir karyawannya. Namanya Arini. Dia bahkan memaksa Salsa untuk les renang. Dan teman kita yang sombong ini–”
“Hentikan, Hansen!” sela Gibran.
“Hah? Salsa anak angkatmu yang atlet renang itu?” tanya Erik tak percaya.
“Sudah kubilang, jangan mengatakan itu. Salsa anakku dan Sifa, kamu tidak perlu menambahkan kata ‘angkat’ di depan namanya,” ucap Hansen tak suka.
Suasana menjadi canggung seketika. Benar, ketiganya tahu betul bagaimana keadaan keluarga Hansen. Usai keguguran dua tahun lalu, dokter terpaksa mengangkat rahim Sifa. Sifa tidak akan pernah bisa mempunyai anak lagi. Hal itu menjadikan luka tersendiri di hati pasangan Hansen dan Sifa.
Saat itu Sifa cukup depresi, mengatakan agar Hansen menikah lagi. Tapi Hansen jelas menolak. Ia telah mencintai adik angkatnya itu sejak mereka masih muda. Tentu saja tidak akan meninggalkannya begitu saja setelah memperjuangkan cinta mereka hingga bisa menikah. Hansen bilang, seorang anak dipanggil anak tidak harus lahir dari rahim sendiri. Dan pada akhirnya, mereka mengadopsi Salsa dari panti asuhan, tepat ketika usia Salsa akan memasuki usia sekolah dasar. Usia yang hampir sama ketika Sifa masuk ke keluarga Hansen dulu sebagai anak angkat.
Gibran mengulurkan tangan dan menepuk bahu Hansen tanpa kata.
“Oke, cukup tentang Salsa. Bantuan apa yang kamu inginkan dari kami?” tanya Hansen pada akhirnya.
“Aku ingin menghilangkan pengganggu,” jawab Gibran.
“Pengganggu?” ulang Erik.
“Yesi.” Hanya satu nama yang Gibran sebutkan, dan dua sahabatnya langsung mengerti. “Tadi siang dia datang ke kantor dan bilang tidak mau putus. Huh! Dia pikir, aku tidak tahu isi kepalanya.”
“Apa Yesi punya pemikiran lain kepadamu?” tanya Hansen.
Gibran hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
“Ternyata teman kita yang sombong ini banyak juga fans-nya ya.” Hansen terkekeh usai mengatakannya.
“Berhenti bercanda!” Gibran mengerling tak suka menatap sang sahabat.
“Baiklah … baiklah ….” Hansen berhenti tertawa, dan tampak berpikir. “Kamu bilang, dia waktu itu minta waktu satu tahun sampai kekasihnya pulang dari luar negeri ‘kan?”
Gibran mengangguk. “Dia bilang kekasihnya tidak akan kembali.”
“Atau sebenarnya, pria itu memang tidak pernah ada,” tukas Erik.
Keduanya menatap Erik dengan arti tatapan yang sama.
“Aku punya ide, tapi ini akan sedikit merepotkan.” Hansen menatap Erik begitu mengatakannya. Pun dengan Gibran yang secara otomatis mengikuti pandangan Hansen.
“Kenapa aku tiba-tiba merinding.” Erik menatap dua pasang mata di hadapannya secara bergantian. “Apa yang kalian inginkan dariku. Jangan bilang, kalian menyuruhku mendekati wanita menyebalkan itu agar menjauh dari Gibran? Tidak! Aku menolak keras!”
“Erik, itu tidak mungkin aku. Aku sudah menikah.” Hansen berkata seolah membenarkan pemikiran Erik. “Apa salahnya. Yesi itu, dibalik sikapnya yang sombong dan arogan, juga menyebalkan, tapi dia cantik. Kamu suka wanita cantik ‘kan?”
“Lihat! Kamu memberikan sahabatmu ini wanita yang sombong, arogan, dan menyebalkan. Sebenarnya, aku ini sahabatmu atau bukan sih!” Erik tampak merajuk.
Gibran memijat ruang di antara alisnya. Kedua sahabatnya ini … benar-benar tidak membantu!
Sementara dua sahabatnya saling berdebat, Gibran mengambil coffee cup di atas meja dan menyesap isinya. Namun detik berikutnya, ia mengernyit. Ia menatap Erik–si pemilik coffee cup tersebut.
Erik menggaruk belakang kepalanya melihat ekspresi Gibran. Hal itu tertangkap mata elang Hansen. Ia mengambil coffee cup itu dan mencium baunya. “Wine,” gumamnya seraya melirik sang sahabat.
“Hei! Ini … hanya sesekali. Kalian boleh berhenti, tapi aku … bisa ‘kan.” Erik gugup, tidak bisa mengontrol kalimatnya yang berantakan. Ia kini merebut coffee cup tersebut dari tangan Hansen.
“Kamu harus merasakan jatuh cinta agar lebih menghargai hidupmu sendiri. Ketika jatuh cinta, kamu hanya berpikir untuk hidup sehat lebih lama, agar bisa membersamai pasanganmu hingga tua bersama.” Hansen sudah mengeluarkan pepatahnya.
Erik menggeleng. “Hubungan pernikahan bukan untukku. Kamu tahu itu. Aku tidak ingin berada dalam keterikatan semacam itu.”
“Itu hanya karena kamu belum menemukan wanita yang ingin kamu nikahi,” tutur Hansen, “lihat sahabatmu itu. Siapa sangka, dia juga akhirnya menemukan wanita yang ingin dia nikahi ‘kan? Ini hanya masalah waktu,” lanjutnya.
Gibran hanya terdiam mendengarkan setiap kata yang diucapkan Hansen. Di antara mereka bertiga, memang hanya Hansen yang berhati lembut dan bisa jatuh cinta dengan benar. Sejak mereka saling mengenal, bahkan kuliah di luar negeri bersama-sama, Hansen hanya mencintai Sifa. Mereka sama-sama tahu tentang fakta itu. Sedangkan dirinya … apakah ia mencintai Arini? Entahlah.
Pertemuan pertama mereka tidak berkesan sama sekali. Gibran bahkan hampir tidak memperhatikannya. Ia juga sempat merasa jijik saat Arini menyerahkan ‘proposal pernikahan’, menduga kalau wanita itu sama saja dengan kupu-kupu lainnya yang gemar mengerumini putik. Dan pertemuan-pertemuan berikutnya juga sama sekali tidak berkesan. Bayangan tentang seorang ibu yang membuat keributan sampai menyebut Arini sebagai anak durhaka. Lalu kapan semuanya bermula?