Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 24

23 September 2025

Mungkin itu ketika Gibran melihat tangis pilu Arini di belakang gedung pernikahan. Ia merasa hatinya iba saat itu. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Gibran bahkan masih mengingat bulu mata Arini yang basah oleh air mata. Entah mengapa itu terlihat sangat cantik. Seperti butiran kristal yang berkilauan, memantulkan cahaya. Memikirkannya, jantung Gibran tiba-tiba berdebar. Ada apa dengannya? Mungkinkah ia terkena serangan jantung di usianya yang sangat muda? Tanpa sadar, ia memegangi dadanya sendiri.

Sejak hari itu, Gibran juga lebih sering memperhatikan Arini. Ada kekaguman tersendiri di hatinya saat mengetahui betapa Arini sangat bekerja keras untuk keluarganya. Bahkan ketika Arini membutuhkan pekerjaan sampingan. Ia dengan impulsifnya meminta Hansen untuk ‘memaksa’ Salsa les renang. Tentu saja setelah Gibran mencari tahu skill Arini melalui resume CV yang ada di departemen HRD. Tidak sulit melakukan itu dengan sedikit bantuan direktur. Ia hanya mengatakan ingin mengevaluasi beberapa orang yang ada di bawahnya. Dan setelahnya, ia hanya perlu sedikit usaha untuk memastikan kartu nama Hansen sampai ke tangan Arini.

Sebuah tepukan di pundak Gibran menyadarkan pria itu dari lamunan. Saat sadar, ia melihat kedua sahabatnya yang tengah menatap bingung ke arahnya.

“Gimana menurutmu?” tanya Hansen.

“Apa?” Gibran sungguh tidak mendengar sepatah kata pun. Apa yang mereka perbincangkan sebelumnya.

“Erik bilang, sepertinya ia melihat velg mobil yang bagus di komunitas. Akan sangat bagus dipasang di mobilnya. Dia juga memperbolehkan Yesi untuk naik mobilnya,” jawab Hansen.

Gibran menyipitkan matanya ke arah Erik. Sahabatnya itu jelas ingin melubangi dompetnya untuk membeli velg yang pastinya tidak murah itu. Dan sebagai balasan, ia bersedia menjauhkan Yesi darinya. Petunjuknya sudah sangat jelas. Tapi ia tidak peduli. Ia akan menyetujui apa pun itu, selama Erik berhasil.

“Hah … baiklah … baiklah … berikan saja tagihannya ke kantorku,” ucap Gibran pada akhirnya.

“Kamu memang sahabat terbaikku!” seru Erik.

“Huh! Rasanya baru kemarin kamu mengatakan aku sahabat terbaikmu saat aku mengirimimu satu set springbed terbaru dari perusahaanku!” ucap Hansen.

Mendengarnya, sontak Erik tertawa. “Hahahaha … kalian berdua sahabat terbaikku!”

Baik Hansen maupun Gibran hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya.


Malam semakin larut. Ketiga sahabat itu akhirnya berpisah. Telah diputuskan, Erik akan membantu menangani Yesi. Untuk bagaimana praktiknya, itu akan diserahkan kepadanya sepenuhnya.

Gibran sudah berada di dalam mobilnya, hendak pulang saat tiba-tiba ponselnya berdering. Nama ‘Mama’ tertera sebagai pemanggil. Gibran gegas mengangkat panggilan tersebut.

“Kak, kamu di mana?” tanya wanita di seberang sana. Suaranya sangat lembut dan penuh kasih sayang.

“Di jalan, Ma. Ini udah jalan pulang,” jawab Gibran.

“Baiklah. Nanti begitu sampai, mama hangatkan makanan untukmu.”

“Tidak perlu, Ma. Aku sudah makan. Mama bisa istirahat.”

“Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan.”

“Ya.”

Detik berikutnya, panggilan terputus. Gibran mengembuskan napas lelah seraya memandangi layar ponselnya yang sudah menggelap. Ekspresi wajahnya memancarkan kerumitan tersendiri.

Di tempat lain, di waktu yang sama, Arini tengah berdiri di belakang kaca besar yang ada di apartemen Gibran. Ia memandangi gedung-gedung dan jalanan dari atas sana. Ada gedung pemerintahan juga sekolah di seberang apartemen.

Ima sudah pulang usai menyelesaikan tugasnya. Ia hanya sendirian kini. Tidak tahu harus mengatakan apa. Ia juga tidak punya banyak teman untuk ia hubungi. Sejauh ini, hanya Dita yang sering ia hubungi untuk membicarakan hal pribadi dengannya.

Tepat ketika Arini memikirkan sahabatnya itu, ponsel di atas meja berdering. Adalah Dita yang melakukan panggilan video. Arini mengambil ponselnya, duduk di sofa yang ada di ruang tengah, dan menggeser tombol jawab sambil merebahkan diri di atas sofa.

“Aku mengkhawatirkanmu, jadi aku meneleponmu,” ucap Dita kala sambungan telepon terhubung.

“Aku baik-baik aja,” jawab Arini.

“Coba lihat lukamu!”

Arini mengalihkan kameranya, menunjuk ke arah perban di kakinya. “Cuma luka kecil.”

“Baguslah. Aku sangat khawatir. Kamu di mana sekarang? Udah makan?” tanya Dita kemudian.

Arini terdiam. Benar! Rasanya hari ini ia belum makan apa pun. Bekal yang tadi pagi ia buat untuk makan di kantor entah di mana. Yang jelas, tidak ada di tasnya.

“Belum ‘kan? Aku pesenin makanan. Kamu kirim alamatmu!” sela Dita.

“Gak perlu. Aku akan pesan sendiri,” tolak Arini.

“Kamu bohong! Aku tahu sifatmu. Cepat kirim alamatnya! Aku akan pesankan kamu soto madura yang enak.”

“Gak usah, Ta, aku akan pesan sendiri.” Arini masih menolak.

“Kenapa? Kamu gak mau memberikan alamatmu, Arini?” tanya Dita curiga.

Arini gugup. Benar. Ia memang tidak bisa memberikan alamatnya saat ini. Ia tidak ingin mengundang masalah yang tidak perlu. Terlebih lagi … jika harus membawa nama Gibran.

“Kamu di mana?” tanya Dita lagi.

“Aku … di tempat yang aman,” jawab Arini gugup.

“Arini ….”

“Baiklah … baiklah … aku … itu … besok aku ceritakan segalanya. Aku janji!”

“Aku harap kamu lagi gak nyari alasan!”

“Tentu saja enggak!”

Pada saat itu, pintu apartemen diketuk dari luar. Arini gegas berdiri dengan ponsel di tangannya untuk melihat siapa yang datang. Rupanya itu adalah petugas apartemen yang tadi siang membantu Arini membawakan barang.

“Pak Teguh?” sapa Arini begitu membuka pintu.

“Bu, tadi ada kurir yang nganter makanan di lobi. Saya lihat, tujuannya ke unit ibu. Saya pikir, karena kaki ibu masih terluka, saya antarkan saja ke sini,” ucap Teguh.

“Ah … itu apakah tidak salah? Saya tidak memesan makanan,” ucap Arini.

“Oh … ini dikirim atas nama Pak Gibran, Bu. Tidak salah lagi, pasti ini untuk ibu,” jawab Teguh.

“Oh begitu … baiklah, terimakasih,” ucap Arini pada akhirnya.

Setelah melakukan tugasnya, pria itu pamit undur diri. Sementara Arini segera membawa goodie bag di tangannya masuk ke dalam apartemen.

“Jadi, kamu menolak memberikanku alamatmu, sementara Pak Gibran kamu beritahu, Arini? Huh! Apa tempatku kini digantikan dengan si bos?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Arini baru sadar, kalau ponselnya masih terhubung via video call dengan Dita.

Arini tidak bisa mengelak lagi. Pada akhirnya, ia hanya berkata, “aku lagi di apartemen Pak Gibran, Ta. Aku tahu, pasti banyak tanya di hati kamu ‘kan? Aku akan menjelaskannya besok. Aku janji!”

“Apa? Kamu ada di apartemen Pak Gibran? Pantas saja tunangannya tadi nyariin kamu!” seru Dita.

“Tunangannya? Yesi?” tanya Arini.

“Aku gak tahu namanya. Yang jelas, dia sangat menyebalkan!” Dita bersungut-sungut. “Kali ini kamu harus menjelaskan semuanya padaku, Arini. Sejelas-jelasnya!”


Pagi berikutnya, Arini datang ke kantor dengan menggunakan taksi. Begitu ia turun, ia langsung berjalan masuk ke gedung kantornya sambil bersungut-sungut. Tinggal di apartemen memang bagus, tapi boros.