Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 25

23 September 2025

Setiap pergi ke kantor harus naik taksi, begitu juga saat pulang nanti. Bukankah itu hanya membuang uang untuk hal yang tidak perlu? Apa yang dilakukannya itu sangat tidak sesuai dengan kebiasaan berhematnya selama bertahun-tahun.

Saat Arini masih berjalan perlahan menuju ke kubikelnya, sebuah tangan tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya, dan menariknya ke sisi lain. Seperti dugaan, itu adalah Dita. Sorot matanya menginginkan penjelasan, mengapa sahabatnya itu sampai tinggal di apartemen Gibran.

Arini menarik napas dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Setelahnya, ia menjelaskan dengan detail apa yang terjadi padanya kemarin. Tentu saja tidak termasuk tawaran Gibran agar Arini melahirkan anak untuk seorang pria.

“Pak Gibran mengatakan itu?” tanya Dita usai Arini selesai bercerita.

“Apa?” Arini balik bertanya. Ia sungguh tidak tahu, perkataan Gibran yang mana yang Dita tanyakan.

“Pak Gibran akan melunasi semua utang keluargamu.” Dita mengingatkan.

Arini mengangguk sebagai jawaban.

“Rin, apa menurutmu Pak Gibran menyukaimu?” tanya Dita tiba-tiba. “Kalau enggak, untuk alasan apa Pak Gibran begitu murah hati untuk melunasi semua utang keluargamu yang pastinya gak sedikit itu. Itu … sekitar beberapa ratus juta ‘kan?”

Arini terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Gibran menginginkan dirinya melahirkan anak untuk seseorang. Itu … terlalu memalukan! Juga tidak manusiawi!

“Aku rasa enggak. Mungkin dia cuma iba sama karyawannya. Dia orang baik,” jawab Arini.

“Apa kalau itu terjadi pada karyawan lain, dia juga akan membantunya tanpa pamrih?” Dita bertanya, tapi bukan sebuah pertanyaan yang perlu Arini jawab. Jadi keduanya hanya diam saja.

Sementara Arini dan Dita membicarakan Gibran. Pria itu nyatanya sudah mengirim seorang pengacara ke rumah Titin.

Pagi itu, suasana di rumah sangat ribut. Entah itu Azril yang ribut mencari kemejanya, atau Titin yang ribut karena kehabisan telur di lemari es. Ya! Karena Arini pergi, ia jadi harus mengambil alih tugas untuk membuat sarapan dan membersihkan rumah di waktu yang sama. Sementara Intan masih terlelap dalam mimpinya. Tidak ada yang berani membangunkannya. Terlebih saat Azril mengatakan, Intan semalaman bergadang karena perutnya tidak nyaman. Beruntung Intan sudah mengajukan cuti kuliah, jadi ia tidak diharuskan bangun pagi.

Pintu utama di ketuk. Titin yang sedang repot dipaksa untuk membukakan pintu. Dua orang berjas seketika muncul di hadapan.

“Siapa ya?” tanya Titin.

“Saya pengacara yang dikirim Pak Gibran untuk menyelesaikan beberapa urusan dengan Bu Titin,” jawab salah satunya.

Kedua sudut bibit Titin melengkung. Uangnya tiba!

Dengan semangat ‘45, Titin mempersilakan keduanya masuk. Ia bahkan lupa menyimpan spatula di tangannya.

Kedua pria itu duduk di atas sofa, membuka tasnya, dan mengeluarkan beberapa dokumen. Dengan teliti, ia menjelaskan poin-poin surat perjanjian itu, yang kurang lebih isinya mengatakan bahwa utang piutang atas nama Arini akan dilunasi oleh Gibran, dengan ketentuan bahwa Titin dan keluarga lainnya tidak diperbolehkan untuk menggangu Arini di masa depan.

Sebenarnya kedua pengacara itu menyarankan agar Gibran melakukan pelunasan ke bank secara langsung daripada melalui ibu tiri Arini. Namun, setelah Gibran mengatakan keseluruhan kasus Arini, mereka berdua paham pada akhirnya. Ini semua bukan tentang uang, tapi tentang pemutusan hubungan antara Arini dan keluarga parasit itu.

Tanpa banyak bertanya, Titin menandatangai bagiannya. Ia bahkan mengabaikan bagian Gibran yang masih kosong. “Kapan saya bisa menerima uangnya?” tanyanya.

“Segera setelah Pak Gibran menandatangani surat perjanjian ini,” jawab pengacara itu.

Titin menatap curiga ke arah kedua pengacara itu. “Kalian tidak mencoba menipuku ‘kan?”

“Tentu saja tidak,” jawab pengacara itu, “saya juga harus berbicara dengan Bu Arini tentang total nominal utangnya agar mendapatkan nilai yang sesuai,” lanjutnya.

“Itu tidak perlu!” jawab Titin segera. “Saya sudah meminta anak saya untuk merincinya tadi malam. Biar saya ambilkan!”

Titin gegas pergi, meninggalkan spatula di atas meja. Tak lama, ia kembali dengan selembar kertas di tangannya.

Pengacara melihatnya sekilas. Ia mengernyit. Selain utang bank dan cicilan mobil, ada juga biaya hidup selama 27 tahun, biaya sekolah dan kuliah, dan biaya lain-lain yang jika ditotalkan maka akan mampu membeli sebuah rumah mewah. Namun begitu, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk dan pamit pergi dari sana.

“Bukankah itu keterlaluan?” tanya pria lainnya kepada pria yang menerima rincian biaya itu.

“Diamlah. Pak Gibran pasti sudah memikirkan semua ini,” jawab pria itu.

Setelah itu, keduanya gegas menuju ke kantor Gibran tanpa menunggu lebih lama lagi.

Saat keduanya tiba, Gibran tengah meeting bersama para staff. Kedua pengacara itu menunggu di ruangannya. Begitu selesai, ia langsung menemui mereka.

“Apa ada masalah?” tanya Gibran.

“Bu Titin langsung menandatangani surat perjanjiannya. Tapi … dia memberikan ini.” Pria yang membawa tas menyerahkan rincian utang piutang itu kepada Gibran.

Saat membacanya, wajah Gibran berubah gelap. Ia sungguh marah melihatnya. “Beraninya dia memerasku!” desisnya.

Gibran tampak berpikir sejenak, kemudian menekan interkom di mejanya, dan berkata, “Arini, masuk ke ruangan saya.”

Tak lama, Arini muncul di balik pintu. Ia berjalan mendekat dan berdiri di depan Gibran juga kedua pengacara yang ada di sana. Salah satu pengacara sontak berdiri untuk memberikan tempat duduknya kepada Arini.

Arini menolak, tapi Gibran memberikan sorot mata, seolah itu adalah sebuah perintah. Jadi, mau tidak mau, ia duduk juga.

“Mereka adalah pengacara yang akan menangani kasusmu.” Gibran memperkenalkan pria yang duduk di samping Arini.

Arini tersentak sejenak, kemudian menoleh dan sedikit menganggukkan kepalanya kepada para pengacara tersebut.

Pengacara yang duduk di samping Arini menceritakan secara singkat tentang pertemuannya dengan Titin. Ia juga memperlihatkan rincian biaya yang Titin minta untuk dimasukkan ke dalam ‘utang’ Arini.

Wajah Arini berubah muram. Ia sedikit meremas kertas itu. Wajahnya terlihat sangat sedih dan tertekan. Ibunya … tidak! Wanita yang ia kenali sebagai ibunya selama dua puluh tujuh tahun terakhir … menjualnya!

Perlu waktu beberapa saat sampai Arini bisa mengontrol emosinya sendiri. Tidak! Jika ibunya ingin memakai jalan ini, bukankah Arini harus melakukan hal yang adil? Ia tidak mau merugikan Gibran sama sekali.

“Sampai tahun ke dua kuliah saya, semua pengeluaran dibiayai ayah kandung saya sendiri. Tapi setelah ayah meninggal, saya membiayai kuliah saya sendiri. Dan setelah bekerja, semua pengeluaran rumah dan biaya kuliah adik tiri saya ditanggung oleh saya. Apa itu bisa dimasukkan sebagai pengurang utang saya?” tanya Arini kepada pengacara.

Pengacara itu tersenyum kecil, kemudian mengangguk. “Kalau Anda benar-benar ingin memisahkan diri, mungkin Anda bisa memasukkan warisan ayah kandung Anda di dalamnya.”

Arini menggeleng. “Itu tidak perlu,” jawab Arini, “saya hanya ingin keadilan bagi Pak Gibran. Saya tidak mau membayar apa yang seharusnya tidak dibayarkan oleh Pak Gibran,” lanjutnya.

Gibran yang namanya disebut terpana seketika. Entah mengapa kalimat itu terdengar sangat manis. Ia menulis beberapa angka di kertas, kemudian menggesernya ke hadapan pengacara. “Berikan saja nilai segini.”

Arini menggeleng. “Itu masih terlalu banyak. Utang keluarga saya tidak sebanyak itu.”

“Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena ibu tirimu telah melepaskanmu untuk saya.”

Eh … apa?