Elang tak bisa membantah perintah Ibu, dengan memasukkan plakat ke dalam balik bajunya, Elang segera pergi dari hadapan ibunya.
Sesaat, Elang bersembunyi dari balik semak belukar, menunggu apa yang akan terjadi, benar saja dua orang polisi datang.
Elang tak tahu apa uang terjadi di dalam, tak lama kedua polisi tersebut pun keluar lagi dan segera pergi dari rumah tersebut. Sepeninggal kedua polisi itu, dirasa aman, Elang kembali ke rumahnya, memastikan keadaan ibunya baik-baik saja.
"Pergilah, kali ini ibu serius Elang." perintah ibunya dengan deraian air mata.
Elang terdiam, kaget dan campur marah saat Paman Rudi selesai menceritakan sebuah rahasia selama ini.
"Jadi kecelakaan itu adalah kesengajaan, Paman?"
"Iya, karena Ayahmu mengetahui kelakuan Salah satu rekan kerjanya, A-Lan. Lelaki sombong itu mencoba menghabisi semua keluargamu, tapi ibumu selamat, walaupun ada benturan keras di kepalanya."
A-Lan adalah Ayahnya Jordi, dan lelaki yang selalu mengganggunya kini dalam keadaan kritis di rumah sakit. Benturan keras pada punggungnya membuat Jordi tak bisa berdiri tegak, kelumpuhan melanda dirinya. Makanya kini A-Lan sangat berambisi menghilangkan nyawa Elang.
"Lalu aku harus bagaimana Paman? kemana aku harus pergi?"
"Mengapa tak kau cari Kakekmu?"
"Kakek?"
"Mengapa tenagamu tiba-tiba bisa sekuat dan seganas macan? Bukankah kau tak bisa ilmu bela diri? Sejak kapan kau mampu berkelahi dalam berbagai jurus?" tanya Pamannya.
Elang baru menyadari hal itu, melihat dengan heran pada kedua tangannya. Pamannya bangkit dari duduknya dan membuka salah satu laci mejanya. Menyerahkan sebuah gulungan kertas, "bawalah uang ini, semua akan berguna untukmu."
"Paman, i-ni, ini tabunganmu bertahun-tahun, bila aku pergi bagaimana dengan ibu?"
"Pergilah, biar aku yang melindungi ibumu. Kau akan kuat dan menang bila kau sudah bertemu dengan kakekmu. percayalah."
"Paman, a-ku aku ... tak tahu harus memulai dari mana?"
Paman terdiam, dan membuka beberapa buku lalu mendekati Elang.
"Ini buku akan menuntunmu ke mana gambaran alamat itu. ini tulisan Nenekmu, hanya ini yang bisa aku selamatkan. Nenekmu tak tahu alamat rumahnya dulu, dia hanya menuliskan gambaran dari desanya dan rutenya saja."
Elang menerima buku itu, membukanya dan mulai membaca huruf-huruf hiragana itu.
Pegunungan Shahua?
"Paman, apa aku harus ke Tiongkok?
"Mungkin, kau tak akan kesulitan dalam bahasanya bukan?"
"Aku ikut!" Tiba-tiba, Sherlyn ada diantara mereka. Gadis itu datang bersama ibunya.
"Maafkan aku, aku sudah dengar berita tentang Elang, dan anakku yang menunjukkan tentang dimensi itu. Dia memaksa ikut, dan aku ijinkan. "
"Nyonya Mae, apa tak berbahaya bila anakmu ikut serta?"
Nyonya Mae menggeleng, "kami juga berasal dari pegunungan tersebut. "
Paman Rudi dan Elang pun kaget.
"Karena aku menikah dengan orang bule, maka derajatku pun naik. Bila tidak segera menikah pasti nasibku akan sama dengan ibu Elang."
Semua terdiam.
"Kapan kita ke Tiongkok? Ibuku yang akan membiayai keberangkatan kita, iya kan Bu?" Sherlyn tampak bersemangat.
Elang memandang Pamannya, dalam hatinya yang masih bimbang.
"Pergilah, ini untuk keselamatanmu Elang," ujar Nyonya Mae.
Paman Rudi mengangguk.
"Aku masih punya tiket keberangkatan gratis untuk dua orang, aku berikan untuk anakku dan Elang. Aku harap hal ini bisa mempermudah Elang untuk terbang ke Taipei."
"Betul kata Nyonya Mae. Kapan keberangkatannya?"
"Malam ini?"
"Apa!?"
Sebuah perjalanan jauh yang baru pertama kalinya buat Elang. Badan Elang tinggi besar dan tubuh Sherlyn yang kecil dan imut, membuat mereka seperti dua kakak beradik.
Sherlyn sudah menghubungi keluarga ibunya untuk bisa menjemputnya di bandara kota Tiongkok atau kini menjadi bandara China.
"Kau takut, Elang?"
"Tidak, aku justru khawatir padamu. aku takut kau akan pingsan lagi dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain segera pergi ke ibumu, tapi bila itu terjadi bagaimana aku bisa lari ke ibumu?”
Sherlyn tertawa terbahak," tidak, aku tak akan pingsan lagi, janji," katanya sambil mengangkat dua jarinya.
Sebuah hubungan persahabatan yang manis.
Perjalanan lewat udara ditempuhnya dalam 10 jam, sebuah perjalanan yang panjang. Tiba juga di sebuah bandara kota Taipei. Ternyata keluarga besar dari Sherlyn sudah menyambutnya. Elang merasa kikuk sendiri dengan keramahtamahan mereka.
"Lebih baik kita di rumah Paman Ho saja, Bagaimana Sher? Kau setuju?" tanya adik dari ibu Sherlyn.
"Kalau itu yang terbaik, ayolah."
Mereka pun segera masuk ke sebuah mobil berukuran panjang, berwarna hitam.
Elang hanya diam saja, cuma senyam-senyum, tak tahu harus bagaimana. walaupun bahasa mereka Elang pahami dengan mudah.
Sampailah kini pada rumah Paman Ho. Rumah yang besar, dengan arsitektur lama yang nampak masih kokoh.
Paman Ho adalah adik bungsu di keluarga besar Sherlyn.
Elang pun bertanya-tanya, apakah mereka pun mempunyai kekuatan yang sama seperti Sherlyn? karena Elang amati, hampir wajah dan tipe wajah mereka hampir mirip satu sama lainnya.
"Nanti aku kenalkan pada Paman Ho. maaf Paman Ho selama ini kehilangan penglihatan."
"Buta?" tanya Elang.
Sherlyn mengangguk, "tapi, jangan salah. Dia ..." Belum juga Sherlyn melanjutkan kalimatnya. Mata Sherlyn berubah menjadi emas, dan menatap tajam pada wanita berpakaian hijau yang sedang membawa nampan.
"Siapa dia!!" Sherlyn mengejar wanita tersebut, dan menarik pundaknya dengan cepat.
Nampak, wanita itu kaget atas perlakuan tiba-tiba dari salah satu tamunya.
"Siapa kau! Mengapa ada di sini?"
"Dia asisten rumah tanggaku, baru seminggu dia kerja di sini," jawab sebuah suara dari balik pintu bertirai mute dari kerang.
"Kau! Kenapa!!?"
"Apa!!"
"Sudahlah kalian jangan bertengkar lagi!" Tante Yui mencegah sebuah perseteruan.
"Tapi Tante, dia sudah tak berhak tinggal di sini! Dia -"
"Stt, pelankan suaramu Sher. Paman Ho sedang beristirahat."
Nira, wanita yang berselisih dengan Sher terdiam dan melihat pada sosok Elang.
"Oh, rupanya –"
Sher mendelik pada Nira.b"Jangan kau usik dia!"
"Tergantung."
"Oh, apa akan aku bongkar siapa asistenmu itu! Jangan macam-macam lagi. tak segan aku akan menghanguskanmu."
Nira tersenyum sinis, cih, jangan mentang-mentang kau adalah yang terpilih, dasar pecundang! bisik lirih Nira dalam hatinya.
Suara sedikit ramai itu, membangunkan Paman Ho. Seorang lelaki tua, padahal tak sesuai dengan umurnya, tapi tampang wajahnya terlihat sudah menua.
Dia langsung memandang sosok Elang. Matanya selalu tertutup oleh sebuah kacamata hitam. Elang sempat takut dan tak enak juga. Rasanya ingin secepatnya pergi dari sini. Apalagi kedatangannya bersama Sherlyn membuat kegaduhan kecil di rumah yang baru saja Elang datangi.
"Masuklah," ajak Paman pada Elang. Tangannya dengan sopan menyilakan masuk ke dalam ruangannya.
"Kau bisa tidur dalam ruanganku, sebenarnya banyak kamar di rumah besar ini, tapi agaknya kau aman di ruanganku saja." Sambutan yang hangat itu membuat Elang tersenyum ramah, dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Paman. Maaf, saya. – ah, seandainya tak –"
"Jangan berpikiran macam-macam, aku tahu dalam hatimu, lebih baik menurut saja padaku. Ayolah, kita berbincang."
"Paman-" Tante Yui hendak bicara lebih, tapi tangan Paman Ho sudah menyuruhnya untuk diam.
"Aku cuma mau bilang, dia datang bersama Sher."
Tapi, Paman Ho tak pedulikan kehadiran Sher. Lelaki berpakaian tabib itu malah menggandeng pelan tangan Elang.