Pedang Giok Hitam_Rahasia Plakat Shang Fu

23 September 2025

Tapi, Paman Ho tak pedulikan kehadiran Sher. Lelaki berpakaian tabib itu menggandeng pelan tangan Elang.

Sher hanya perhatikan saja, tingkah laku aman itu, tak biasanya pamannya begitu hormat dan peduli pada tamu.

Hal aneh ini menjadikan tanda tanya besar pada keluarga besar sherlyn.

Nira sudah masuk kedalam kamarnya, dilihatnya asisten yang tadi dibentak Sher sedang duduk manis di kursinya.

"Aku mau gadis yang tadi mati."

"Dia sepupuku. Dialah yang terpilih. mungkin saat ini sudah didapatkannya, buktinya dia sudah curiga padamu."

"Aku tak peduli.Singkirkan dia!"

Nira memandang asistennya dengan mimik ketakutan.


Di dalam kamar yang lain, duduk Sherlyn dengan berjejal pertanyaan. Mengapa Pamannya begitu gampang menerima seorang tamu tak dikenal? Lalu untuk alasan apa Tante Yui membawanya ke sini? Dengan alasan rumah warisan ini lebih besar dan jauh dari keramaian kota. Satu lagi yang membuatnya heran, siapa sebenarnya asisten Nira, sepupunya itu. Asisten berkaki mirip ayam? Apakah dia siluman? Mengapa siluman bisa masuk rumah ini? Gadis itu membuka mata emas untuk mengetahui suatu hal, tapi sia-sia, dirinya tak bisa membuka dimensi apapun. Sialan, batin Sher dan melihat pintu kamar pamannya yang tertutup rapat.

Dalam kamar yang luas itu, terlihat Elang sudah membersihkan diri dan sudah berganti dengan pakaian yang bersih. Penat tubuhnya sudah terobati dengan makanan lezat dan minuman yang menyegarkan buatan Tante Yui.

"Terima kasih atas jamuan ini, Paman. aku tak menyangka keluarga ini baik sekali," ucap Elang dengan sopan.

"Kami yang merasa terhormat dan tersanjung atas kunjungan Tuan." Paman dan Tante membungkukkan badannya dengan sopan. Elang merasa canggung atas sikap dan perilaku sang empunya rumah.

"Tak perlu begitu, aku sungguh jadi tak enak hati.' Elang garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, sikap tengilnya tampak terlihat. Senyum lebar dan ramah masih terlihat.

"Kau istirahatlah, tapi apa boleh tahu, Tuan bertujuan ke mana?"

"Jangan panggil aku Tuan, aku tak sehormat itu.dan tak pantas dipanggil Tuan. Aduh aku jadi tak enak hati," Elang langsung bersimpuh dan membungkukkan badan meminta maaf.

"Tuan, kau masih muda, tapi kau sudah menyandang nama besar itu." Tiba-tiba, Paman Ho berkata dan itu membuat Elang tertegun.

"Nama besar? Maksudnya?"

"Plakat dalam tasmu. Shang Fu."

Elang kaget atas jawaban Paman Ho. Bukankah dia buta? Apa benar ini yang dikatakan Sherlyn bahwa Pamannya bukan orang sembarangan.

"Kau –" Elang tak bisa berkata apa-apa lagi. Apakah Paman di depannya ini tahu siapa Shang Fu?

"Aku mencari Shang Fu, apa Paman tahu, di mana dia berada?" Pertanyaan yang konyol dari Elang.

Paman melirik pada Tante Yui, "Jaga Sherlyn. Keluarlah."

Tante Yui langsung mengangguk dan segera keluar dari kamar tersebut. Kini tinggal Elang dan Paman Ho. Ada perasaan takut menghinggapi batin Elang. Misterius sekali, jantungku jadi berdetak kencang, batin Elang.

Paman Ho menatap tajam pada Elang, "boleh aku lihat plakat itu?"

"Tidak, maafkan aku, Paman."

Paman Ho tersenyum dan berkata, "Aku tahu siapa Shang Fu."

Dengan senyum kecil, tangannya membuka kacamatanya yang selama ini tak pernah lepas.

Elang menahan napasnya, terlihat mata yang seluruhnya berkelopak emas!

Penampakan di depan matanya membuat Elang bangkit dari duduknya, dan mundur beberapa langkah. Mata berkelopak emas dan menonjol besar itu, membuat elang takut.

"Kau takut?"

"Tidak," jawab bohong Elang.

Paman Ho tersenyum lalu menutup matanya dengan kacamata hitamnya lagi. Bangkit dari duduknya berjalan menuju sebuah lemari, mengambil sesuatu dan kembali duduk. Semua dilakukan lancar tanpa menggunakan tongkatnya. Ah, mungkin ruangan ini sudah dihapalnya, batin Elang.

"Aku bisa melihatmu, aku tak buta, justru penglihatanku lebih tajam dari orang biasa."

"Benarkah? Apa yang kau lihat dariku?"

"Kau bawa plakat itupun aku tahu, lihat aku pun punya plakat yang sama." Paman Ho memperlihatkan barang yang tadi diambilnya, ternyata sebuah plakat yang sama dan dibungkus dengan kain hitam. Nampaknya dia sangat menyayangi benda tersebut.

"Aku hanya mau melihat, apakah itu plakat asli atau bukan?"

Elang tergugu, pelan tangannya mengambil plakat yang selalu ada di balik bajunya.

Tangan Paman Ho menerimanya pelan. Membuka kacamatanya dan menyentuhnya dengan perasaan. Seketika dirinya langsung bersila dan membungkuk hormat pada Elang.

"Maafkan aku, Tuan. Aku tak tahu kalau Shang Fu adalah kakek tuan."

Elang terdiam, melongo melihat tingkah Paman sherlyn ini. Dengan cepat Elang mengambil lagi plakat punyanya.

"Mengapa Paman tahu? Sudahlah Paman, bersikaplah biasa, jangan membuatku bingung."

"Setiap plakat dibuat berbeda, milik tuan, adalah plakat pertama milik istri Shang Fu."

Lelaki itu kini dibuat kagum lagi atas kemampuan Paman satu ini.

"Bisa antarkan aku ke kakekku?"

Paman Ho menatap Elang. Entah itu tatapan tertegun atau apa, Elang tak bisa mengartikannya, karena memang manusia di depannya ini tak punya bola mata.

"Tapi –"

"Ah, sudahlah lupakan, toh nyatanya aku tak bisa membayar Paman," Elang tertawa kecil. Dirinya kini mulai terbiasa dengan mata yang menonjol besar itu. Mengapa bisa terjadi seperti itu pun Elang tak enak hati untuk menanyakannya.

Brak! Terdengar sebuah pintu terbuka dengan paksa. Sherlyn berdiri dengan tegak melihat Pamannya dan Elang saling bergantian.

"Katakan padaku Paman, apa yang sudah terjadi di dalam rumah ini!"


Paman Ho kembali terpekur di dalam kamarnya, Elang dan Sherlyn sudah bersiap untuk meninggalkan rumah besarnya.

"Apa aku harus membawa banyak makanan, Tante?" tanya Sher pada Tante Yui yang telah membungkuskan banyak sekali makanan ringan untuk bekal mereka.

"Iya, kalian perlu ini, percayalah."

"Kami bukan anak TK yang tiap kali ada makanan akan merengek."

"Shhh, diamlah percayalah padaku, ingat jangan sembarangan masuk warung makan."

"Kenapa? Karena Tante sudah membawakan banyak bekal? Atau hematlah sherlyn, jangan kau hamburkan banyak uang," papar sherlyn sambil memonyongkan bibirnya.

"Kau ini, tahu saja apa yang aku maksud."

Elang masih tergugu, pembicaraan semalam masih membuatnya gamang. Ternyata sungguh berat sekali untuk bisa menemukan sang kakek.

"Elang kita harus segera berangkat, jangan sampai kemalaman di kota tujuan, ingat kata Paman kan?"

Elang mengangguk, tak lama melintaslah seseorang yaitu Nira dan asistennya. Dalam rumah ini memang sudah menjadi aturan, bila ingin bermanja bawa asisten sendiri! Nira tipe orang yang manja!

Kali ini kaki asisten itu tak terlihat seperti yang pernah Sherlyn lihat.

"Mau kemana mereka?" tanya sherlyn pada Tante yui.

"Biar saja begitu, mereka pergi pagi dan siang nanti kembali. Aku tak mau urusan dengan Nira lagi."

"Mengapa diijinkan dia tinggal di sini?

"Pamanmu yang mengijinkan, aku akan pulang juga setelah kalian pergi. Ingat kataku sherlyn!" Mata Tente Mira menyiratkan pesan tertentu.

Akhirnya perjalanan dengan mobil penjemput pun tiba.

Elang duduk di samping Sherlyn yang masih terus menjelaskan semua sudut kota Taipe yang dilewatinya. Elang hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Sebenarnya masih terngiang dalam pikirannya, kata-kata Paman Ho, bahwa Elang akan menghadapi musuh yang tak bisa terlihat. Apa itu? Hantu? Atau sihir?


"Mengapa kau berikan mata emasmu pada anak muda itu?"

Tante Yui bertanya pada Paman Ho, yang kini benar-benar tak bisa melihat sama sekali alias buta.

"Hanya sementara, Sherlyn sudah berjanji akan menjaga mata emasku yang sudah aku berikan pada cucu Shang Fu. Aku sudah berhutang budi banyak padanya. Kau tahu bukan?"

Tante Yui, melihat adiknya ini, dengan tatapan sedih, "aku akan pulang hari ini, lalu siapa yang akan mengurusmu, bila saat ini kau benar-benar tak bisa melihat," Air matanya sudah luruh tak terbendung.

Paman Ho tersenyum, dan tangannya meraba kesana kemari mencari tongkatnya. "mana tongkatku?"