Ulang Tahun 2
Pagi-pagi sekali, ia sudah menginjakkan kaki di halaman sekolah. Tidak ada yang istimewa hari ini. Semua sama saja seperti hari-hari biasa semenjak ia bangun tidur tadi. Ibunya dengan sederet kesibukannya tidak mungkin mengingat hari penting ini bukan?
Sekolah masih sepi, hanya ada beberapa orang yang sengaja berangkat awal untuk melaksanakan piket. Bahkan pak Kumis, penjaga gerbang sekolah, belum ada di pos jaganya. Bisa dilihat sepagi apa dirinya sampai di sekolah?
“Lo harus senyum Syifa. Ini hari bahagia, lo nggak boleh sedih,” ujar gadis itu, menyemangati dirinya sendiri.
Ia mulai mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih rileks. Tersenyum kepada semua orang yang ia lewati dan menyapanya. Berlari-lari kecil di sepanjang koridor sepi sekedar untuk kesenangannya sendiri. Lebih baik menghibur diri sendiri dari pada memikirkan hal yang tidak penting. Oleh karena itu, Syifa tidak langsung pergi ke kelas. Ia berlari lurus menuju kantin untuk memesan nasi goreng spesial, di hari yang spesial juga.
“Nasi goreng spesial satu ya, Bi!” seru Syifa begitu dirinya masuk ke kantin.
Bi Inah yang mendapat pesanan sepagi ini langsung tersenyum sumringah.
“Siap, neng Syifa, Bibi buatin yang spesial banget.”
Syifa tersenyum lebar menanggapi. Ternyata tersenyum lebar sejak tadi juga membuat mulut pegal. Ia baru menyadarinya dan langsung berhenti tersenyum. Memijat-mijat sekitar mulutnya, sambil membuka ponsel yang bergetar di dalam tas punggungnya.
Zoya:
“Lo udah berangkat belum sih!? Gue udah di depan kost, nih.”
Syifa:
“Yah, sorry, Joy. Gue udah di kantin, hehe.”
Gadis itu langsung mematikan ponselnya, tak mau melihat balasan lagi dari Zoya yang pasti akan menghujaninya dengan “kata-kata mutiara” habis-habisan.
“Nasi goreng spesial sudah siap, Neng Syifa.”
Bi Inah datang dengan membawa sepiring nasi goreng. Menyodorkan ke hadapan Syifa.
“Makasih, Bi, Bibi cantik banget deh, hari ini,” ucap Syifa memuji, membuat wanita yang mungkin umurnya sama dengan ibunya ini tersenyum malu-malu.
“Ah, neng Syifa bisa aja,” sambutnya malu-malu, yang kemudian ikut duduk di bangku depan Syifa.
“Tumben pagi-pagi mukanya bersinar banget, Neng. Lagi bahagia, ya?” tanyanya.
Syifa terkekeh geli mendengar pertanyaan bi Inah yang penasaran.
“Iya, nih. Syifa hari ini ulang tahun tau,” bisiknya. “Bibi nggak ngucapin, gitu?”
“Waah~ selamat bertambah tua ya, neng! Bibi ikutan seneng, deh.”
“Ee... nggak salah, sih. Tapi jangan di perjelas gitu dong, Bi, kalo Syifa tambah tua.” Syifa mengerucutkan bibirnya, pura-pura marah. Lalu sedetik kemudian tertawa lepas bersama dengan bi Inah.
“Bi Inah tau nggak?”
“Enggak, Neng. Kenapa?” tanya bi Inah penasaran.
Syifa meneguk air mineral setelah suapan terakhir berhasil masuk dengan sukses ke lambung.
“Bibi orang yang pertama kali ngucapin selamat ke Syifa, loh.”
“Serius, neng?” balas bi Inah terlihat tak percaya.
Syifa mengangguk meyakinkan. “Bahkan nggak ada orang yang tau kalo hari ini Syifa ulang tahun.”
“Orang tua Neng Syifa?”
Gelengan lemah bi Inah dapatkan dari gadis cantik yang duduk di depannya itu. Segera ia mengubah topik pembicaraan setelah melihat perubahan ekspresi wajah Syifa.
“Ah, karena ini hari bahagianya neng Syifa, nasi gorengnya bibi kasih gratis! Khusus hari ini!” ujarnya menyemangati.
“Serius, Bi?!” Syifa memekik kecil. Perlahan kedua ujung bibirnya terangkat sempurna membentuk sebuah senyum lebar.
“Makasih ya, Bi! Bibi baik banget, deh!”
“Mau juga dong di gratisin!”
Tanpa aba-aba, Bima dan beberapa orang teman kelas Syifa datang ke kantin dengan rusuh.
“Yee... kemaren kamu beli gorengan aja belum di bayar.” Ucapan sinis bi Inah disambut gelak tawa dari mereka yang baru datang.
“Assalamualaikum.”
Sepi. Tidak pernah sekali pun ada yang menyambutnya saat ia pulang sekolah. Jangankan menyambut, satu orang pun tak terlihat batang hidungnya. Sibuk dengan urusan dan kegiatan masing-masing.
Ia bergegas mengganti seragamnya dengan baju rumah hariannya. Menggantung seragamnya, lalu pergi menuju dapur. Cacing-cacing dalam perutnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi menuntut haknya.
“Udah pulang, Nin?” Ternyata ibunya sedang mencuci piring di belakang.
“Udah,” jawabnya singkat.
“Bu, Anin mau ngomong.”
“Apa?” sahut ibunya tanpa menghentikan aktifitasnya.
Syifa kembali meyakinkan dirinya, “Emm... sekarang Anin ulang tahun, loh, Bu.”
Beberapa menit pertanyaannya menggantung tanpa jawaban. Syifa merasa kecewa, kenapa ibunya tidak mau menjawab atau memberikan respon setelah mendengarnya.
Ia mengurungkan niatnya untuk makan. Baginya, makan sambil bersedih itu sulit, jadi ia putuskan untuk kembali ke kamar.
Baru beberapa langkah berjalan, kakinya berhenti dengan sendirinya ketika jawaban ketus ibunya membuatnya mematung.
“Terus kenapa kalau kamu ulang tahun? Mau minta di rayain?” ucap ibu Syifa datar.
“Kayak anak kecil aja,” lanjutnya.
“Jangan mentang-mentang ibu udah nikah lagi, terus tiba-tiba jadi banyak uang? Ayahmu nggak cuma menuhin keinginanmu! Kebutuhan yang lainnya masih ba—”
“Bu,” potong Anin cepat.
“Anin ‘kan nggak minta apa-apa dari Ibu. Anin cuma ngasih tau ibu aja, siapa tau ibu lupa.”
Matanya memanas dalam sekejap. Dadanya sesak sekali mendengar ibunya berkata seperti itu.
“Ternyata Ibu emang sengaja nggak inget.”
Tidak ada respon dari ibunya. Syifa kembali melanjutkan kalimatnya. “Lagian, kalo waktu itu Anin dimintai pendapat, Anin lebih milih nggak punya bapak, Bu...,”
“... Nggak ada yang bisa gantiin sosok bapak, walaupun bapak nggak berkecukupan harta kayak ayah, tapi Anin bisa disayangin bapak, Anin bisa meluk bapak, bisa cerita-cerita sama bapak,” isaknya lirih. Bibir mungilnya bergetar, nafasnya memburu menahan gejolak dalam dadanya.
“Maaf, Bu, Anin nggak bermaksud bandingin bapak sama ayah, tapi Anin ngerasa banyak yang berubah dari Ibu semenjak nikah lagi....”
Ia berbalik cepat dan segera pergi ke kamar, memendam kekecewaan, menenggelamkan kekesalan dalam dirinya sedalam yang ia bisa. Kasurnya berderit ketika gadis itu merebahkan tubuhnya. Biarlah, air matanya yang berbicara, betapa sakit hatinya saat ini. Kekecewaan mendalam.
“Bapak... Anin nangis lagi.”
Setelah puas menumpahkan air mata, beban di dada Syifa terasa sedikit mereda. Sekarang ia asyik scrolling media sosial, mencoba mengalihkan perasaan yang tadi sempat meluap. Sampai getaran pesan masuk terasa di ponselnya.
Syifa menarik jendela notifikasi untuk melihat pesan dari siapa yang masuk.
“Mika chat gue?” batinnya.
Mika:
“Nanti temuin gue di taman, Nin. Gue ada perlu sebentar.”
Syifa mematung sebentar, mencerna kalimat yang dikirimkan cowok itu sebelum jari-jarinya dengan lincah mengetik balasan.
Syifa:
“Oke.”
Gadis itu menaruh ponsel di nakas, lalu berjalan menuju jendela yang terbuka. Matahari sudah hampir kembali ke peraduannya, membuat semburat cahaya merah terhampar indah di antara birunya langit sore yang mulai beranjak gelap.
“Mika ngapain ngajak ketemu, ya?” monolognya tanpa mengalihkan pandangan dari awan-awan indah di langit.
Sering kali otaknya menebak-nebak sikap cowok itu yang terus menghangat seriring waktu, yang kerap mereka habiskan untuk mengobrol via pesan WhatsApp. Tidak berlebihan rasanya jika ia mulai merasa percaya diri karenanya.
Tak ingin menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal yang tidak jelas jawabannya, gadis itu segera membuka lemarinya untuk memilih baju.
Jemarinya meraih kaos dan mencocokkan dengan tubuhnya, mengaca dari arah depan, samping sampai belakang tetap saja merasa tidak cocok. Terlalu santai menurutnya.
Dress putih dikeluarkannya dari dalam lemari setelah mencampakkan kaos sebelumnya. Kembali melakukan pencocokan dengan tubuhnya dengan cepat. Lalu sebuah ekspresi pasrah muncul di wajahnya.
“Pake dress nggak terlalu jelek, kok.”
Tanpa basa-basi lagi gadis itu segera berlari menuju kamar mandi untuk ritual sorenya dan bersiap untuk menemui seseorang yang sudah membuat janji dengannya.