Tante Yui segera menyerahkan sebuah tongkat kecil berwarna cokelat tua itu.
"Ah, terima kasih, Yui. Kau boleh pulang, tak apa aku ditinggal sendirian, aku masih bisa menjaga diriku. Jangan menangis, dan jangan ceritakan hal ini pada Mae, ibunya Sherlyn."
Masih dalam isaknya, "ingat ada Nira dan asistennya, jangan sampai dia masuk dalam kamar ini," pesan Tante Yui pada adiknya, dan dibalas dengan anggukan kecil paman Ho.
Tante Yui pun kembali ke kota di mana keluarga besar suaminya sudah menunggu. Keluarga dari suaminya tak tahu bahwa dirinya adalah keturunan dari keluarga pembasmi monster, karena memang Yui tak diberi keistimewaan seperti Sherlyn dan Adiknya, Ho. Beda lagi dengan Nira, gadis belia berbeda umur beberapa tahun dengan Sherlyn. Ibu dari Nira adalah seorang penghianat yang menjebloskan adiknya hingga bertarung mati-matian dengan monster tersebut, beruntung kala itu, ada Shang Fu yang menolong Ho, yang masih remaja kala itu. Akibat pertarungan itu, mata emas milik Paman Ho tercabik dan Paman tak bisa mengendalikannya. Tapi, kini mata emas itu ada di dalam tubuh Elang, Paman ho menyerahkan segala ilmunya agar cucu panglima besar itu menemukan kakeknya. Hanya Sherlyn yang bisa membimbing Elang untuk bisa gunakan mata emas itu.
Nira sudah berambisi memiliki mata itu, dan berupaya membalas dendam atas kematian Ibunya. Sampai saat ini Nira tak tahu bahwa ibunya mati di tangan ibu Sherlyn yaitu Mae, karena An-ji ibu Nira hendak membakar rumah, amarahnya tak terbendung tatkala Mae yang terpilih memiliki the gift dari klan besar keluarga cenayang tersebut.
Asisten Nira bernama, Nui. Dia menyuruh Nira untuk mencuri plakat Shang Fu, dengan itulah, mereka bisa meringsak lelaki tua itu, karena kepalanya mahal harganya.
Nira tak tahu, kalau mata emas milik pamannya sudah berpindah ke Elang. Dirinya dan Nui kembali ke rumah di mana Paman Ho sedang sendirian di dalam kamarnya
"Sepertinya rumah dalam keadaan sepi, kau gagal dengan perintahku!" bisik Nui tajam, " Sekarang saat yang pas untuk masuk."
Mereka berjalan pelan menuju dalam kamar Paman dan berniat mencuri plakat itu.
"Ah, mengapa tidak kau saja yang masuk, aku khawatir karena tempo hari aku sudah terkena hawa panasnya."
"Kau membantah perintahku!" Nui sudah marah, dan mengepalkan tangannya, terlihat kuku tajam keluar dari jempolnya.
"Apa kau mau merasakan racun kukuku ini?!" gertak Nui, dan matanya sudah berubah berwarna hitam.
"Baik ... aku masuk," jawab Nira pelan.
Tangannya pelan meraih hendel pintu dan memutarnya, pintunya tak terkunci. Nira, tak perlu bersusah payah membukanya dengan jepit rambutnya.
Nira memandang sesaat pada Nui yang sedang menunggu agak jauh darinya.
Perlahan Nira membuka pelan daun pintu tersebut, melonggokkan kepalanya dan mengawasi ruangan yang nampak kosong dan sepi.
Mendengar suara yang sangat ribut, Paman menghentikan kegiatannya dan berjalan berhati-hati menuju suara tersebut.
"Apa yang kau lakukan Nira? Kau tak kapok dengan ancaman hawa panasku?!" Paman Ho langsung mengetahui Nira telah berada dalam kamarnya.
"Paman!" Nira kaget mendengar Pamannya sudah berada di belakangnya.
"Oh, kau masih juga bergaul dengan siluman ini? Mau apa kau pengaruhi ponakanku, hai ayam kecil."
"Apa! Kau bilang aku ayam kecil? dengan cakar jaluku, aku bisa membunuhmu sekali patuk!!" Nui bersuara karena tersinggung dikatakan ayam kecil alias itik.
"Kalian ini tak ada apa-apanya dan kau Nira, sudah kuperingatkan, andai kelakuan dan hatimu bersih, aku tak akan segan memberikan mata emasku untukmu, tapi nyatanya kau tak bisa berubah!!"
"Paman! Kau yang telah membunuh ibuku bukan? Kau pula yang membuang Ayahku!"
"Ibumu tak menuruti aku, malah bercinta dengan monster, tahu akibatnya, hasil hubungan itu, tak bisa diandalkan, itulah kamu!!"
"Paman!! Kau ! Menghinaku!"
"Aku sudah tak bisa mentolerir semua ini," Segera dibukanya kaca matanya. Dua wanita di hadapannya terlihat kaget melihat lubang hitam besar pada mata sang Paman.
"Terpaksa aku melakukan ini!!!"
Paman mulai menyedot Nira dan Nui masuk ke dalam matanya.
Lubang hitam matanya semakin besar dan besar, tubuh keduanya tersedot dan dalam sekejap tubuh mereka sudah hilang masuk ke dalam mata yang berlubang itu
"Aku terpaksa melakukannya, karena kau semakin keterlaluan Nira!!"
Sherlyn berjalan di depan, langkahnya ringan menuju sebuah tangga batu menuju suatu tempat. Elang mengikutinya dari belakang, matanya tak lepas dari orang-orang sekitarnya. Pakaian mereka tampak aneh, hampir semua memakai motif yang sama.
"Kota apa ini, anak nakal? Jangan cepat-cepat jalannya." Ditariknya penutup kepala hodie milik Sherlyn. Tubuh mungil itu pun tertarik ke belakang.
"Kita harus cepat melewati kota ini, sebelum mereka menyapa dan menyuruh kita tinggal di desanya."
"Apa!" Elang masih dalam mode bingung atas jawaban Sherlyn. Tapi gadis itu tak pedulikan keheranan tersebut. Langsung membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ke arah selatan. Elang pun segera mengikuti langkah Sherlyn sambil geleng-geleng kepala. Kini jalanan yang dilalui mereka cukup landai, jalannya sedikit menurun. Saat itu juga, seseorang telah menabrak tubuh Elang tak sengaja, hingga lelaki itu jatuh tersungkur berguling.
Sherlyn kaget, dan seketika langsung memandang orang yang sudah menabrak tubuh temannya dari belakang. Berapa kagetnya gadis ini, ternyata penabrak itu sedang memandang dirinya dengan mata melotot. Sherlyn ternganga, pasalnya manusia itu berkepala kuda berwarna hitam, moncongnya betul-betul mengerikan.
"Kau lihat apa!! Kau bukan orang sini bukan!!" Suaranya keras menggelegar.
"Kami hanya lewat saja, tak lebih maafkan teman saya yang telah berjalan di tengah jalan." Sherlyn segera menyusul Elang yang sedang membetulkan baju dan tas ranselnya yang berantakan.
"Ayo, cepat Elang, kita pergi sekarang."
"Bentar, aku bereskan tasku dulu."
Sherlyn masih menunggu dengan cemas. Manusia berkepala kuda itu, semakin mencurigai Sherlyn, dan mulai mendekat. Dengusan napas beratnya membuat deburan asap tipis keluar dari lubang hidungnya yang besar.
"Ayo, Elang, jangan terlalu lama." Sherlyn menarik paksa tangan Elang dan secepatnya pergi dari tempat tersebut. Elang tak bisa gunakan mata emas yang sudah ada pada dirinya, Namun saat tangan Sherlyn menarik tangannya, ada hempasan angin masuk ke dalam tubuh Elang dengan keras, spontan kepalanya langsung menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dirinya. Melihat manusia berkepala monster berbentuk kuda hitam sudah berjalan cepat menuju dirinya. Kali ini baru terdengar berdentum keras. Begitu juga Sherlyn, sekali hentak tubuhnya dan tubuh. Elang sudah melayang.
"Sialan! Mengapa kau mengejarku!" teriak keras Sherlyn pada lelaki monster itu.
"Kau tahu aku bukan!!" Teriaknya dan terus berlari ke arah Sher dan Elang.
Sherlyn melihat mata Elang sudah berubah menjadi emas, tubuh Elang pun terasa ringan saat gadis imut itu menariknya.
Perubahan sikap pun terjadi, Elang langsung memasang kuda-kuda dan mulai menghadapi serangan dari manusia kuda tersebut.
Sherlyn mundur, keheranannya pada diri Elang, tanpa banyak suara, sekarang Elang bisa bertarung!
Beberapa kali lawan terkena pukulan telak dari Elang. Ada rasa senang melihat Elang begitu spontan bisa langsung menerima efek dari mata emas itu.
Sher mengawasi tempat sekitar, pasti ada beberapa orang dari kawanan mereka akan datang. Dengan was-was gadis itu berharap pertarungan ini cepat berakhir.
"Cepat Elang! Jangan sampai temannya datang memergoki kita!" seru Sher panik.
Tepat saat itu juga, tangan Elang langsung memeluk kepala si kuda besar itu dengan keras, hingga terdengar Glatuk!!
Tak lama tubuh monster itu luruh seketika.
"Ayo Elang pergi dari sini." Sherlyn langsung berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat tersebut, begitu juga Elang!
Mereka meninggalkan mayat monster yang bersimbah darah berwarna hitam pekat mirip aspal. Aromanya pun sungguh busuk. Kepala kuda itu pecah oleh pukulan tangan kosong Elang.