"Siapa yang melakukan ini!" Sebuah suara kemarahan dari seorang lelaki berbadan tinggi dan besar. Setelah mengetahui kematian adiknya yang ditemukan tak bernyawa di tengah jalan dengan kondisi kepala pecah.
Semua yang ada di ruangan besar itu terdiam, tak ada yang berani membuka suaranya.
"Apa kau Dong?! tanyanya lagi sambil melotot pada sosok yang terlihat menunduk ketakutan.
"Tidak, bukan aku! Walaupun aku sering bertengkar dengan adikmu, tapi aku pantang membunuh klanku!" jawabnya dengan suara bergetar.
Mata lelaki yang sedang marah itu melotot tajam padanya.
"Bila kau ketahuan pelakunya, aku tak akan segan membunuh seluruh keluargamu. Ingat itu!"
Lalu lelaki itu pergi begitu saja. Kasak-kusuk pun terdengar. Semua bergunjing atas kematian manusia berkepala kuda itu.
Kembali pada Sherlyn dan Elang, beruntung mereka sudah jauh melangkah, kini mereka melewati sebuah hutan kecil. Gelap dan penuh belukar. Ini adalah hutan Shahou. Hutan ini penuh pohon perdu dan berdiri, sebagian tanaman banyak yang beracun. Pada siang hari pemandangannya sangat bagus, tapi pada malam hari, hutan menjadi gelap gulita, bahkan rembulan enggan menyinari hutan ini. Oleh karena itu banyak sekali binatang babi atau tapir yang datang dengan tiba-tiba.
"Kita ada di mana Sher?" tanya Elang dengan napas terengah.
"Tenangkan dirimu, dan atur napasmu, di depan sana ada sebuah pondok kosong, kita bisa menumpang istirahat di sana."
"Pondok siapa?"
"Milik umum, biasa buat para pemburu beristirahat. perhatikan jalanmu," pesan Sherlyn karena terlihat Elang berkali-kali kakinya terantuk batu atau akar pohon yang mencuat dari tanah.
"Shhh, diamlah, aku mendengar sesuatu, pegang tanganku, Elang."
Elang waspada dan mengikuti apa yang Sher pinta. Saat tangannya menyentuh tangan gadis imut itu, seketika bola mata Elang langsung berubah, dalam pandangannya terlihat sangat jelas, bukan saja pohon dan semak belukar, tapi beberapa makhluk ada dalam penglihatannya, begitu juga sherlyn dia pun mewaspadai hal tersebut.
"Sher ... berbahayakah mereka?"
"Kita melangkah saja, agaknya mereka penduduk dalam hutan ini."
"Wajahnya menyeramkan sekali."
"Kau akan terbiasa setelah ini, melangkahlah dengan pasti."
Sepertinya mereka para yang terbuang. Tingkat kejahatannya pun tak diragukan, ada asap merah di sekitar tubuh mengerikan itu, aroma tak sedap segera tercium, Sherlyn tak kuat dengan rasa mual dalam perutnya, segera dirinya berlari secepatnya meninggalkan Elang yang masih terpaku melihat para monster tersebut. Hal tersebut membuat Elang langsung mengikuti gerakan spontan gadis itu, tak menyadari bahwa dirinya sudah berlari sangat cepat.
Hingga pada suatu tempat di perbukitan yang luas bersavana. Sherlyn menghentikan larinya, dan tertawa terbahak pada tingkah konyol Elang.
"Mengapa kau tertawa?!" tanya Elang sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
"Lihat, tak menyadari kah dirimu? Kau bisa meringankan tubuhmu, mirip Paman Ho, dia bisa berpindah tempat sejauh mungkin dalam sekedipan mata."
"Apa! A-pa iya? " Elang menyadari sesuatu, dan tersenyum nyengir, betul juga hutan sudah tak terlihat lagi, kini mereka berada di sebuah bukit berumput halus, langit terlihat luas, sebebas mata memandang.
"Kau tak menyadari beberapa keahlian sudah kau dapatkan, kini tinggal berkonsentrasi dan fokus pada tujuanmu, ingat Elang aku bertugas mengembalikan mata emas milik Paman Ho."
"Iya, aku tahu, lalu kemana lagi kita?"
"Ikuti aku!" Kini Sherlyn berlari lagi, secepat angin berembus.
"Lagi?!" Sungut Elang memandang kilatan cahaya membias dari tubuh gadis itu
"Ayo Elang! Jangan melongo saja!" Suara Sherlyn menggema dalam malam.
"Hai! Tunggu aku Sher!!!" Elang berteriak dan langsung mengikutinya.
Malam itu, keduanya bak pendekar yang sedang bermain kejar-kejaran dalam gelap malam di bawah langit yang cerah. Sesekali Sherlyn tertawa diiringi tawa Elang yang membahana.
Di suatu tempat, terlihat seorang lelaki tua, duduk di atas tempat tidurnya. wajahnya begitu renta, jenggot berwarna putih menguasai seluruh dagunya. Matanya menyipit, kaget bercampur heran, melihat lemari tuanya.
Terdengar suara bergemeletuk di dalamnya.
"Mengapa kau berbunyi? Apa dia akan datang? Siapa? Musuhku kah? Atau? Ah, aku sudah renta, untuk bertarung pun aku tak sanggup," katanya bermonolog sendiri. Dirinya bangkit pelan-pelan dari duduknya, berjalan setengah membungkuk mendekati lemari tua itu. Apakah dia Shang Fu?
Pagi sudah menerangi seluruh alam, semburat paginya membuat bayang-bayang pada dedaunan yang bergerak lirih karena angin pagi
"Sher, makanan sudah habis, aku lapar, apa kau tak lapar?" tanya Elang sambil menggigit sebatang rumput teki.
"Ih, dari tadi perutku pun berbunyi, tapi pasar masih jauh, bahkan warung makan pun tak tampak, hanya rumput liar saja, ih ... apa enaknya kau makan rumput ini!" Sherlyn pun menarik rumput dari mulut Elang. Pria ganteng itu hanya nyengir.
"Kau sih, pakai lari segala, aku kan jadi lapar," sungut Elang.
"Sudahlah, Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi, dua kota lagi, kita sampai di pegunungan Shahua."
Swing!! Sebuah anak panah tiba-tiba langsung menancap di tanah depan Sherlyn berdiri. Secepat kilat, tangan gadis itu menarik lengan baju Elang, untuk segera menyembunyikan diri dalam semak-semak rumput yang tumbuh liar.
Swing! slap! Kali ini ada dua anak panah, terlempar kembali tepat di depan persembunyian mereka. Spontan Sherlyn dan Elang berlari di antara rerumputan yang tingginya hampir setinggi tubuh Elang.
"Cepat, ada seseorang yang mengintai kita! Keberadaan kita, gunakan mata emasmu Elang."
Elang berhenti dan membalikkan tubuhnya, dalam sekejap bola matanya sudah berubah.
Slap!! Kini sebuah anak panah dapat Elang tangkap dengan mudahnya dengan tangan kosong.
"Elang," bisik Sher lirih, dan pandangannya terus menatap tubuh Elang, namun dirinya masih terus bersembunyi.
"Hah! Hanya bajingan kecil saja rupanya!"
Sebuah bentakan dari seseorang yang duduk di atas sebuah Kuda hitam yang ukurannya cukup lumayan besar.
Orang itu berpakaian bak panglima perang, mengenakan penutup wajah sebagian.
"Wargaku, kehilangan seorang adiknya, apa kau telah membunuhnya?!" Tanpa basa-basi panglima mirip dalam kerajaan itu bertanya pada Elang.
"Kalau iya kenapa?"
Dalam persembunyian, Sher sempat memejamkan matanya, atas jawaban Elang yang sedikit konyol. Ini sama saja bunuh diri, batin Sher.
"Baguslah, kau tahu bukan hukuman untuk pembunuh!"
Namun, dari kejauhan terdengar sebuah suara "Tunggu!"
Sher mendengarkan suara itu, dan itu adalah ....
"Mereka tamuku, maafkan bila dia berbuat tak sopan."
Elang memandang seorang kakek tua, bertopi caping bambu yang lebar, rambutnya terlihat sudah memutih, dan berjanggut tebal. Dirinya tampak gagah di atas kuda besarnya.