Menikahi Istri Kakakku - Urusan mendadak - Bab 17

Penulis Yuan_bee
24 September 2025

Hatinya bergemuruh. ‘Kenikmatan tadi membuatku tak terkendali, hingga kuberikan benih milikku padanya, tak hanya sekali, tapi dua kali. Bagaimana kalau ia hamil karena aku? Bagaimana kalau ia mengandung anakku, bukan anak kakakku?’

Dadanya terasa sesak. Bayangan Dirga, kakak yang sudah tiada, tiba-tiba memenuhi kepalanya. Senyum ramah, suara nasihat, bahkan tatapan penuh wibawa kakaknya seakan hadir menatapnya dari kegelapan. Arga menelan ludah, hatinya semakin berat.

“Aku tadi … apa yang sudah kulakukan, Kak?” bisiknya lirih, takut terdengar oleh Nabila yang tertidur. “Aku merenggut sesuatu yang seharusnya hanya milikmu. Maafkan aku, Kak.”

“Kalau malam ini menumbuhkan kehidupan baru di rahimnya … itu akan jadi bukti nyata bahwa aku sudah menodai ikatan darahku sendiri.”

Matanya memanas, air mata yang ditahannya hampir pecah. Ia menutup wajah dengan telapak tangannya, mencoba menahan gejolak dalam dadanya. Di satu sisi, ada rasa hangat yang tak bisa ia sangkal, yaitu Nabila yang begitu rapuh kini bersandar sepenuhnya padanya. Namun, di sisi lain, ada rasa bersalah yang menyesakkan, seolah ia telah mengkhianati darah dagingnya sendiri.

Ia menoleh lagi, menatap Nabila yang semakin terlelap, bibirnya terkatup lembut, napasnya pelan. Wajah Nabila yang bulat dan berkulit putih, serta matanya yang agak sipit membuatnya jatuh cinta padanya secara alami. Arga meraih selimut, menariknya sedikit lebih tinggi menutupi bahu Nabila, lalu menempelkan keningnya ke ubun-ubun wanita itu.

Bayangan lembut lampu temaram jatuh di pipi Nabila, menampilkan ketulusan yang tulus dan polos. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah, membuat Arga tergoda untuk menyibakkannya dengan jemari. Ia melakukannya perlahan, menyentuh helai rambut itu, tapi hatinya langsung menjerit dalam diam.

Ia menutup mata sejenak, tapi justru bayangan kakaknya muncul jelas: Dirga yang dulu sering menepuk bahunya sambil tertawa, Dirga yang menjadi panutan, Dirga yang kini sudah tiada. Suara tawa itu terdengar seperti ejekan, dan Arga merasakan keringat dingin merembes di pelipisnya.

Pelukannya pada Nabila perlahan longgar. Ia ingin menjauh, ingin melepaskan, tapi tangan Nabila yang terkulai justru meraih erat tubuhnya, seolah tak rela melepas. Sentuhan sederhana itu menusuk hatinya lebih dalam.

“Aku bersalah, tapi aku juga tak sanggup meninggalkannya,” bisiknya getir, nyaris tak terdengar.

Arga menatap langit-langit yang redup, matanya basah. Ia terjebak antara dua dunia, yaitu dunia cinta yang mulai tumbuh untuk Nabila, dan dunia dosa yang membayang setiap kali ia mengingat wajah kakaknya.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia tahu malam itu tak bisa dihapus, sudah terlanjur menjadi bagian dari mereka berdua. Namun, bayangan kemungkinan Nabila mengandung membuat dadanya kian bergetar. Apalagi, jika perannya menjadi Dirga sudah terbongkar oleh Nabila, apa yang akan terjadi berikutnya?

Sambil tetap mendekap Nabila yang tak sadar apa-apa, Arga hanya bisa berdoa dalam hati. Doa yang tak terucap, penuh rasa takut dan penyesalan.

“Kalau sampai Nabila hamil ... aku sebagai laki-laki sejati akan bertanggung jawab, tidak boleh lari dari kenyataan,” gumamnya hampir tak bersuara.

Malam yang semula penuh hangat kini berubah menjadi beban. Dalam diam, Arga hanya bisa terbaring memandangi gelap, terjebak antara cinta yang tumbuh dan rasa bersalah yang kian menghantam.

Malam semakin larut. Jam dinding berdetak pelan, setiap detiknya terasa berat bagi Arga yang masih terjaga. Ia berbaring miring, tubuhnya menahan beban Nabila yang terlelap di pelukannya. Kepala wanita itu bersandar di dada Arga, napasnya teratur, naik-turun dengan ritme yang menenangkan. Namun, bagi Arga, ketenangan itu justru menjadi pengingat pahit. ‘Ia tidur dengan percaya penuh, seolah aku benar-benar Dirga … kakakku sendiri.’

Malam itu, di balik selimut tipis yang menyelimuti dua tubuh, Arga larut dalam gelisah, matanya terbuka lebar hingga jauh lewat tengah malam, sementara Nabila tetap terlelap damai, tak menyadari badai yang mengamuk di hati pria yang sedang memeluknya.

Lama Arga berbaring tanpa bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Dirga, tawa kakaknya, hingga momen kebersamaan mereka terus berputar di kepalanya, tak kunjung hilang. Tubuhnya terasa kaku, seolah terikat oleh beban yang ia ciptakan sendiri. Namun akhirnya, rasa letih menguasai. Kelopak matanya berat, pikirannya yang kalut pelan-pelan tertarik ke dalam kegelapan.

Tidurnya tak damai, perasaan tak enak itu mengikutinya hingga sampai mimpi, Arga berdiri di sebuah tempat asing yang kondisinya gelap, dingin, dan kosong. Di hadapannya, sosok Dirga muncul perlahan dari kegelapan. Wajahnya tak tersenyum, matanya tajam menatap lurus, seakan menembus ke dalam hati Arga.

“Arga … adikku,” panggilnya dengan suara dalam, bergema, membuat bulu kuduknya berdiri. “Kenapa kau cemas?”

Arga tersentak, tubuhnya gemetar. “Kak Dirga … aku ... aku tak bermaksud… aku hanya ingin menjaga Nabila,” suaranya tercekat, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.

Namun sosok Dirga hanya menatapnya, lalu berbalik. Dari kejauhan, Nabila tampak berdiri, mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Ia tersenyum lembut, tapi bagi Arga, senyum itu terasa menakutkan.

“Anak ini …,” suara Nabila pelan, tapi bergema, “Milikmu, Arga.”

Arga terhuyung, keringat dingin mengalir di wajahnya. “Tidak … tidak … aku tidak bermaksud untuk ....” Ia berusaha meraih Nabila, tapi tubuhnya kaku, tak bisa bergerak.

Arga terbangun mendadak. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun cepat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menoleh cepat ke arah Nabila, melihat wanita itu masih terlelap, wajahnya damai di bawah selimut, sama sekali tak terganggu.

Arga menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri. Mimpi itu terasa begitu nyata, seakan kakaknya benar-benar hadir menegur, tapi tiba-tiba pergi tanpa menjelaskan lebih lanjut. Hatinya semakin dilanda kebimbangan. Apa benar Nabila akan hamil? Tapi setelah ia pikir lagi, menanam benih di ladang yang subur, pasti lambat laun akan tumbuh.

Di malam yang sunyi, Arga hanya bisa kembali memeluk Nabila erat-erat. Namun, pelukan itu kini berbeda, bukan lagi sekadar kehangatan, melainkan juga jerat rasa bersalah yang tak mudah dilepaskan.

**

Keesokan paginya, sebelum berangkat, Arga menghampiri Nabila di kamar. Nabila yang masih duduk di kursi rodanya menoleh heran saat Arga yang baru saja selesai mandi.

“Dirga? Mau ke mana pagi-pagi begini? Bukannya cuti nikah kita masih ada beberapa hari lagi?” tanyanya polos, alisnya berkerut meski ia tak bisa melihat, tapi bisa merasakan gerak-gerik pria itu karena kepekaan yang ia miliki.

Arga terdiam sesaat, lalu berjongkok di depan Nabila, menatap wajahnya yang masih terlihat lemah, tapi wajahnya pagi itu sangatlah manis. “Ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan di perusahaan. Jadi, hari ini aku harus datang. Jangan khawatir, ini cuma sebentar.”

Nabila menggenggam tangannya erat. “Urusan mendadak apa? Kok sepertinya sampai harus buru-buru gitu? Aku takut kau kecapekan, Dirga .…”