Menikahi Istri Kakakku - Mulai Aksi Penyamaran - Bab 18

Penulis Yuan_bee
24 September 2025

Nabila menggenggam tangannya erat. “Urusan mendadak apa sampai harus buru-buru? Aku takut kau kecapekan, Dirga .…”

Arga tersenyum tipis, menepuk punggung tangan istrinya pura-pura dengan tenang. “Percayalah padaku. Aku akan baik- baik saja. Kamu istirahat dulu, ya. Nanti kalau pulang aku ceritakan kegiatanku di area kerja.”

Hatinya tergoyah ketika melihat wajah Nabila yang tampak pasrah, tapi penuh rasa percaya. Ia tahu, kebohongan kecil itu bisa melukai jika terbongkar, tapi tak ada jalan lain lagi.

Sementara itu, di sudut kamar, ia baru menyadari, ada sebuah tas hitam kecil sudah tertata rapi. Isinya adalah pakaian yang baru saja dikirim oleh Lusy. Wanita itu memang sudah mempersiapkan segalanya, bahkan menyamar begitu jauh demi memastikan Arga bisa menjalankan peran barunya tanpa celah. Arga baru tahu setelah Lusy mengirim pesan padanya, bahwa tadi sempat bertemu dengan Bi Wati dan menyuruhnya untuk meletakkan tas itu di kamarnya.

Arga membuka tas itu perlahan. Ia mengeluarkan seragam lusuh berwarna hijau pudar dengan celana bahan gelap, lengkap dengan topi dan sepatu boot karet yang sedikit kotor. Semua itu tampak seperti pakaian sehari-hari petugas kebersihan kota. Bau deterjen yang masih samar menempel di kainnya, tapi noda tipis di bagian siku dan lutut membuatnya tampak nyata, bukan seragam baru.

Ia berdiri di depan cermin, mengenakan seragam itu. Tubuh tegapnya terasa asing dalam balutan pakaian sederhana. Tatapannya suram menelusuri pantulan diri sendiri, yang terlihat adalah ia bukan lagi sosok Arga, bukan pula Dirga. Kini ia hanyalah seorang pria biasa, bahkan lebih rendah: petugas kebersihan yang luput dari perhatian.

Arga menghela napas panjang. ‘Semakin jauh aku melangkah, semakin dalam aku masuk ke dalam permainan ini,’ gumamnya dalam hati.

Ia memutuskan untuk tidak membawa motor, apalagi mobil. Semua sudah dihitung matang agar penyamaran itu alami. Jika terlalu menonjol, penyamaran bisa terbongkar. Maka, pagi itu, ia keluar rumah dengan langkah mantap, hanya menenteng tas kecil berisi bekal dan botol minum.

Udara kota masih sejuk. Jalanan mulai ramai dengan anak sekolah dan orang berangkat kerja. Arga berjalan menunduk, menyeberang jalan, lalu menuju halte angkutan umum. Saat minibus kota berhenti, ia naik dengan tenang, duduk di bangku paling pojok. Tak ada yang menoleh, juga tak ada yang curiga. Ia hanyalah satu dari sekian banyak orang biasa yang menumpang demi mencari nafkah.

Di dalam angkutan, ia menatap keluar jendela. Bangunan, pepohonan, dan orang-orang berlalu cepat. Hatinya terasa kosong, tapi wajah kakaknya yang ia lihat saat mimpi membuat langkahnya mantap.

‘Aku lakukan ini semua demi kakakku, dan untuk kebenaran yang harus kutuntaskan.’

Beberapa saat kemudian, angkutan kota berhenti di depan sebuah bangunan besar berwarna abu-abu elegan. Di atas gerbangnya tertera nama perusahaan yang pernah dibangun dengan keringat dan kerja keras kakaknya: PT Gurama Sinergi. Sebuah perusahaan yang terletak di pusat kota Gurama dengan bergelut di bidang elektronika dan informatika.

Arga turun perlahan, kakinya menapak di trotoar. Dari balik topi usang yang menutupi sebagian wajah, matanya menatap lekat pada gedung itu yang dari luar tampak biasa saja, tapi dalamnya melebihi ekspektasi dan tempatnya sangat luas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Di balik dinding megah itu, banyak rahasia, banyak intrik, dan di sanalah bayangan Dirga masih begitu kuat terasa.

Ia menarik napas panjang dan dalam, mencoba meredakan gelisah di dadanya, tapi hatinya masih bimbang. ‘Aku harus mulai dari mana?’

Ia dengan bingung melangkah masuk ke area perusahaan, Arga menyatu dengan hiruk-pikuk pagi. Pegawai berseragam rapi bergegas masuk, sebagian menatap sekilas ke arahnya, lalu segera berpaling. Tak ada yang peduli lebih lama karena ia hanyalah petugas kebersihan baru yang pekerjaanya mondar-mandir di sekitar halaman perusahaan, memastikan tempat itu nyaman.

Saat ia menyusuri koridor samping, langkahnya terhenti sejenak. Dari arah berlawanan, seorang wanita berpenampilan elegan dengan blazer abu-abu mendekat. Rambutnya tersanggul rapi, wajahnya tenang meski matanya penuh kewaspadaan. Dia adalah Lusy, sekretaris pribadi Dirga semasa hidup dan kini orang yang paling ia percaya.

Mata Lusy membesar sepersekian detik begitu melihat Arga dalam penyamaran itu. Ia hampir membuka mulut, tapi Arga cepat-cepat menggeleng halus, memberikan kode dengan sorot mata yang tegas.

“Sesuai rencana,” bisik Arga lirih tanpa menoleh, suaranya hampir tenggelam oleh langkah kaki orang-orang yang lalu lalang.

Lusy paham. Ia segera merapikan ekspresinya, berjalan melewati Arga begitu saja, seolah tak mengenalnya. Namun, dalam detik singkat itu, tatapan mata keduanya saling bertemu, yaitu tatapan yang penuh arti.

Arga kembali menunduk, langkahnya mantap menyusuri jalur menuju area belakang perusahaan, tempat para pekerja kasar biasa keluar masuk. Perannya dimulai di sana, dari titik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, yaitu menyamar sebagai orang biasa di dalam perusahaan yang dulu berdiri kokoh berkat kakaknya.

Di balik seragam kebersihan yang lusuh, Arga merasakan beban ganda di dadanya. Ia bukan hanya harus menjaga penyamarannya tetap rapat, tapi juga menghadapi kenyataan pahit, bahwa setiap langkah di gedung ini adalah pengingat, bahwa kakaknya tak lagi ada.

Arga melangkah lebih dalam ke area belakang perusahaan. Suasana di sana jauh berbeda dengan lobi utama yang penuh orang berdasi. Di bagian ini, para pekerja kasar, teknisi, dan petugas kebersihan sibuk dengan rutinitas mereka. Bau pel pelan, suara sapu bergesek di lantai, dan gemerincing ember logam memenuhi udara.

Arga mengambil sapu yang sudah disiapkan, lalu mulai menyapu halaman samping. Gerakannya sederhana, sengaja dibuat lamban agar tak menimbulkan curiga. Namun, matanya yang awas memerhatikan setiap detail yang terjadi di sekitarnya. Setiap obrolan kecil, setiap wajah yang lalu lalang, semua ia rekam dalam ingatan.

Tiba-tiba, suara bentakan terdengar dari arah tangga belakang. Suara itu keras, menusuk, membuat beberapa orang berhenti sejenak.

“Kerjamu apa? Cuma makan gaji buta, hah?! Lantai ini masih kotor, lihat sendiri! Mata dipakai buat apa?!”

Arga menoleh. Seorang pria paruh baya yang merupakan petugas kebersihan dengan punggung sedikit bungkuk sedang berdiri ketakutan. Di depannya, seorang pemuda mengenakan jas hitam modern dengan dasi tipis menunjuk lantai dengan kasar. Wajahnya muda, penuh arogansi, dan mulutnya tak berhenti memaki.

“Kau dengar tidak?! Kalau seperti ini, orang luar akan pikir perusahaan ini tempat sampah! Apa kau mau bikin malu nama besar PT Gurama Sinergi?!”

Petugas kebersihan itu hanya menunduk, bibirnya bergetar minta maaf. Namun, ucapan itu tak dihiraukan oleh pemuda yang arogan tadi.

Arga menghentikan sapunya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Tatapannya fokus ke pria muda itu. Rahangnya tegas, mata tajam, dan senyum sinis yang terbit di sela umpatan. Ada sesuatu yang membuat hati Arga tergugah.

Bibirnya bergerak tanpa sadar, berbisik pelan, “Apa? Dia kan ....”