Menikahi Istri Kakakku - Atasan yang Arogan - Bab 19

Penulis Yuan_bee
24 September 2025

Bibirnya bergerak tanpa sadar, berbisik pelan, “Apa? Dia kan ... pemuda itu seperti orang yang tersenyum menyeringai di saat pemakaman kakakku.”

Pemuda itu langsung menyambar ingatannya. Sosok yang pernah disebut Lusy adalah orang yang katanya iri, penuh kebencian, dan berambisi merebut posisi Dirga semasa hidup.

Arga menunduk lagi, berpura-pura tetap menyapu. Namun, matanya mengintip dari balik topi, memperhatikan setiap gerak-gerik pria muda itu. Aura angkuhnya terasa jelas, penuh wibawa palsu yang memaksa orang lain tunduk.

Di dalam dadanya, Arga bisa merasakan ada sesuatu yang besar sedang ia dekati, dan kini, wajah pemuda tadi akhirnya mulai jelas di matanya.

Arga menghentikan langkahnya ketika melihat pria paruh baya itu semakin terpojok, tubuhnya gemetar menahan makian. Raut wajahnya tampak sangat letih, seolah sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, tapi kali ini suaranya benar-benar tersendat, hampir menangis.

Arga tak tahan lagi. Ia maju beberapa langkah, menaruh sapu di samping, lalu berdiri di antara keduanya. Dengan suara tenang tapi tegas, ia berkata,

“Maaf, Pak … meski beliau bawahan Anda, bukan berarti boleh diperlakukan seperti ini. Apalagi beliau sudah sepuh, mestinya dihormati. Beliau sedang bekerja untuk menafkahi keluarganya di rumah.”

Ucapan itu membuat pria muda berjas itu terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Arga. Tatapannya tajam, penuh kecurigaan. Ia mengamati Arga dari bawah ke atas, mulai dari sepatu lusuh, celana seragam kebersihan yang sedikit kebesaran, hingga wajah yang sengaja ditundukkan.

“Siapa kamu? Berani-beraninya ikut campur urusanku!” Suaranya dingin, tapi mengandung nada mengejek.

Arga menahan napas. Ia tahu, sedikit saja ia terpancing, rencananya bisa hancur. Jadi ia hanya menunduk, tetap diam dan menahan diri meski di dalam hatinya ingin memberontaknya.

Pria muda itu tersenyum miring, lalu terkekeh. “Hah! Jadi kau ini petugas kebersihan baru, ya? Pantas saja sok pahlawan. Dasar orang baru, belum tahu aturan di sini!”

Tanpa peringatan, ia mendorong dada Arga keras-keras. Tubuh Arga terhempas ke lantai, punggungnya membentur dinginnya keramik. Suara benturan itu membuat beberapa pekerja lain yang lewat menoleh, tapi tak ada yang berani mendekat.

“Begini cara dunia bekerja, Bocah. Yang lemah harus tunduk. Ingat itu baik-baik!” ucapnya sinis, lalu meludahkan kata terakhir dengan jijik.

Pria paruh baya tadi berusaha menghampiri, menahan lengan sang pemuda. “Tuan, tolonglah, jangan kasar seperti ini. Dia tidak bermaksud ....”

“Diam kau!” bentak si pemuda lagi, membuat bapak itu terkulai ketakutan.

Arga menggenggam erat tangannya, menahan diri sekuat tenaga agar tidak bangkit dan membalas. Napasnya berat, matanya berkilat penuh bara yang ia sembunyikan di balik wajah pasif. Ia tahu, sekali saja ia melawan, identitasnya bisa terungkap.

Pemuda berjas itu akhirnya mendengus, menepuk jasnya sendiri seolah membersihkan debu imajiner. “Buang-buang waktu saja aku di sini. Kerja kalian memang tidak ada yang becus.”

“Dengar ya kalian semua! Aku ini Dion! Aku kandidat satu-satunya pengganti CEO di perusahaan ini! Camkan itu!”

Dengan langkah angkuh, ia meninggalkan tempat itu. Sepatunya berderap keras di lantai, semakin menjauh.

‘Oh, jadi begitu ya, kelakukan pemuda yang bernama Dion? Toksik banget deh. Pantas aja, perusahaan yang dibangun kakakku dengan susah payah jadi begini. Bisa jadi, akan hancur oleh karena satu orang itu,’ batin Arga.

Arga tetap terduduk di lantai, menunduk dalam-dalam. Sementara pria paruh baya itu buru-buru membantunya bangkit, wajahnya penuh rasa bersalah.

“Maaf, Na k… maaf. Seharusnya aku yang menerima itu semua, bukan kamu,” ucapnya lirih, suara parau bercampur penyesalan.

Arga hanya menggeleng pelan, menepuk punggung bapak itu dengan sabar. “Tidak apa-apa, Pak. Sudah, biarkan saja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa.”

Akan tetapi, jauh di dalam dadanya, amarah dan kebimbangan berkecamuk. Kini ia makin yakin, pemuda yang bernama Dion bisa jadi yang membunuh kakaknya dengan merusak rem mobil.

Arga menepuk-nepuk celananya yang kotor, lalu menunduk seolah hanya membersihkan diri. Namun, langkahnya ia arahkan ke sudut lorong yang agak sepi, memberi isyarat halus agar bapak paruh baya tadi mengikutinya.

Mereka berhenti di dekat gudang perlengkapan kebersihan. Di sana, bau pel dan kain lap tercium samar. Arga berpura-pura membereskan ember, sementara suaranya ia rendahkan.

“Pak …,” bisiknya pelan, “apa dia memang setiap hari memperlakukan Bapak seperti itu?”

Si bapak menunduk, menghela napas panjang. Wajahnya keriput, matanya sayu, tapi jelas ada luka lama di sana. “Iya, Nak. Bukan hanya aku, banyak pekerja lain yang sering jadi sasaran. Kalau ada sedikit saja kesalahan, dia langsung marah, membentak, bahkan kadang menendang barang seenaknya. Kami hanya bisa diam, takut kehilangan pekerjaan.”

Arga mengepalkan tangannya di balik ember. Rahangnya menegang, tapi ia tetap menjaga ekspresi luar biasa tenang. “Aku ingin tahu tentang Dion … siapa dia sebenarnya?”

Bapak itu menatap kanan-kiri dulu, memastikan tak ada orang lewat, lalu mendekat sedikit. Suaranya semakin ditekan, nyaris hanya berupa gumaman. “Dia itu kepala divisi produksi. Kalau bicara jabatan, sebenarnya masih banyak atasan di atas dia. Tapi kelakuannya .…” Ia menghela napas lagi, lalu melanjutkan, “angkuhnya melebihi direksi. Semua orang jadi risih.”

Arga mengangguk pelan. “Dion” nama itu kini terucap langsung dari sumber yang berbeda.

Bapak itu menambahkan, suaranya penuh getir, “Apalagi, sejak CEO meninggal. Semenjak itu, dia semakin menjadi-jadi. Dulu masih agak terkendali, sekarang seolah dialah yang punya perusahaan ini. Entah kenapa direksi lain pun tidak ada yang berani menegur.”

Arga merasakan dadanya sesak. Potongan demi potongan cerita mulai menyatu dengan kecurigaan yang ia simpan sejak awal. “Berarti … semua orang memang takut padanya, ya?”

Si bapak hanya mengangguk lemah, sambil memeras kain pel ke dalam ember. “Takut dan tak berdaya. Kami hanya pekerja kecil, Nak. Kalau melawan, besok mungkin sudah tak dipanggil kerja lagi.”

Arga diam lama, menyembunyikan gelombang emosi yang bergejolak di balik wajah datarnya. Dalam hati, ia bergumam lirih, ‘Dion … apa benar kau yang jadi biang semua ini?’

“Nak, kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku cuma ingin tahu, Pak. Bagaimana atasanku. Aku kan orang baru, harus bisa mengenal sifat dan perilaku atasanku dari awal.”

“Kau ini masih muda, Nak. Kenapa mau jadi petugas kebersihan? Pekerjaan itu menurutku kan kasar.”

“Iya, Pak. Mau gimana lagi, dari atasannya menempatkanku di bagian ini. Aku tak mungkin menolaknya, aku diterima dan bisa bekerja di sini sudah bersyukur bange, Pak.”

“Lho, bukannya kamu sekolah tinggi? Kok bisa ditempatkan sebagai petugas kebersihan?” tanya bapak itu yang mulai curiga dengan Arga. Namun, Arga tak mungkin menjelaskan situasi sebenarnya bahwa ia saat itu sedang menyamar.

Ia pun berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan itu, menghela napas panjang, lalu bersuara ....