Kejutan
Cukup lama Syifa berdiri di depan cermin. Menatap lekat dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Ia merasa sempurna jika berkaca di kamarnya, tapi akan merasa mirip gembel jika berkaca di luar rumah, terlebih di kaca spion motor.
“Nggak salah, sih. Lo emang kece parah, Fa!” pujinya pada pantulan dirinya di cermin.
Gadis itu mulai berputar-putar, bernyanyi kecil dengan menggunakan sisir sebagai mic-nya.
“Sial... Sialnya ku bertemu dengan cinta semumu~ tertipu tutur dan caramu, seolah cintaikuu... puas kau curangi aku!”
Brak!
“Ini rumah, bukan panggung konser!” tiba-tiba Syakirah menggebrak pintu kamarnya karena suara Syifa yang memang sangat mengacau tenangnya waktu setelah maghrib.
Gadis itu spontan terdiam, mengembalikan ekspresi datar yang memang sejak tadi siang ia setel jika berhadapan dengan ibunya.
“Maaf,” sahutnya singkat.
Terlihat ibunya menghembuskan napasnya kasar. “Mau kemana, maghrib-maghrib gini udah siap?”
Syifa tidak langsung menjawab. Gadis itu memilih merapihkan rambutnya lalu meraih tas kecil di atas kasur.
“Mau keluar.”
“Di sekolah udah seharian, pulang sekolah langsung masuk kamar, sekarang malem-malem kamu ju—”
“Sebentar.” Syifa memotong kalimat ibunya. Tidak sopan, namun kekesalan siang tadi masih menyelimuti hatinya.
Tangan Syakirah sigap mencekal pergelangan tangan putrinya. “siapa yang ngajarin kamu motong omongan orang tua?”
“Apa, sih? Ibu kayak benci banget sama Anin dari tadi siang!” Syifa menyentak cekalan Syakirah dari tangannya.
“Ibu kalo ada masalah jangan dilampiasin ke orang lain, Bu, selesain baik-baik.”
Merasa ibunya tidak lagi menanggapinya, Syifa berniat segera berlalu dari situasi ini. “Maaf, kalo Anin kasar sama Ibu, Anin berangkat dulu, assalamualaikum.”
Syakirah menatap kepergian putrinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Sampai matanya tidak lagi melihat punggung putrinya, Syakirah baru membalas salamnya.
“Waalaikumsalam.”
Syifa mengecek ponselnya, karena masih belum ada tanda-tanda Mika akan datang di tempat yang dijanjikan. Bahkan pesan sebelumnya masih menunjukkan centang satu, menunjukan bahwa cowok itu sedang tidak bisa menerima pesan.
“Lama banget si Mika, mana gue kelaperan gini,” gerutunya sambil sesekali mengecek layar ponselnya.
Tangannya beralih mengelus perutnya yang mulai perih. Hari ini ia hanya makan nasi goreng saat di sekolah tadi pagi. Setelah itu perutnya sudah tidak kemasukan apa pun selain air minum.
Syifa mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan seseorang yang mengajaknya bertemu itu. Ia lupa tidak memberitahukan tempatnya menunggu, bisa jadi Mika tidak tahu dia menunggu disini.
Tanpa berlama-lama, Syifa langsung menekan tombol panggilan ke nomor cowok itu. Butuh beberapa kali deringan hingga akhirnya Mika mengangkat teleponnya.
Syifa menempelkan benda tipis itu di telinganya ketika panggilan sudah tersambung.
“Halo?”
Tidak ada suara, padahal panggilan sudah tersambung. Syifa mengecek ponselnya.
“Ka? Kok nggak ada suaranya, sih? Lo di mana?”
“Gue di sini.”
Gadis itu memutar tubuhnya tergagap. Ia mendengar suara Mika sangat dekat, di belakangnya. Begitu tubuhnya sempurna berbalik, ia mendapati cowok itu tersenyum dengan masih menempelkan ponsel di telinganya.
“Sorry, ya, gue lama.”
Mika berjalan menghampiri Syifa yang masih belum konek dengan keadaan.
“Gue udah di depan lo, teleponnya matiin aja.”
“E-ehh... iya.”
Gadis itu tersadar dan cepat mematikan sambungan telponnya. “L-lo kok udah ada di sini?”
Mika terkekeh kecil membuat Syifa mengerutkan dahinya. Apakah ucapannya ada yang salah? Atau jangan-jangan penampilannya terlihat aneh di mata cowok itu?
“Lucu,” ucap Mika terkekeh.
“H-hah?” Syifa tergagap. Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang lucu.
Gadis itu merogoh cermin kecil dalam tasnya. Lalu mulai memeriksa wajahnya.
“Nggak ada yang salah, kok? Jadi apa yang lucu?” batin Syifa resah.
“Lo lucu kalo kaget gitu,” kata Mika setengah mengejek.
”But, lo cantik malem ini.”
Syifa melebarkan matanya. “Jadi maksud lo, gue biasanya nggak cantik?!”
“Eh, nggak gitu!” Mika terlihat panik mendapat respon nyolot dari cewek itu.
“Lo biasanya cantik, kok. Tapi malem ini cantik banget, gitu maksud gue.”
Gadis itu berusaha keras tidak terlihat salah tingkah saat ini. Tapi mau seberapa keras pun usahanya, mata Mika yang jeli tetap saja melihatnya.
“Lo salting?”
“N-nggak! Apaan, sih?” sergah Syifa cepat.
Gadis itu mundur dua langkah saat tiba-tiba Mika mendekatkan wajahnya dan menatap matanya lebih dalam.
“Bohong, lo salting, ‘kan? Udah ngaku aja, muka udah merah, tuh.”
Syifa menggelengkan kepalanya panik. Ditatap seperti itu membuat jantungnya terasa akan lompat ke perut.
“Apaan sih, lo! Sana munduran, ngapain deket-deket!” Syifa mendorong mundur tubuh besar itu.
“Cie... salting sama mantan,” goda Mika tanpa memedulikan wajah Syifa yang sudah seperti udang rebus.
“Tau, ah! Malesin!” Syifa membuang muka. Kesal sekaligus senang itu tidak mudah dilakukan di satu waktu.
“Jadi, apa keperluan lo nemuin gue, just be straight.” Syifa menegaskan.
“Sini ikut gue.” Mika menggandeng tangan Syifa, membawanya ke rumah pohon yang dihiasi lampu kerlap-kerlip.
Syifa ikut saja kemana cowok itu menariknya seperti kambing digiring ke kandang. Lagi pula, di tempat ini juga ramai pengunjung, tidak mungkin cowok itu akan macam-macam padanya.
“Duduk,” perintah Mika begitu keduanya sudah naik ke atas, yang ternyata sudah dihiasi sedemikian rupa.
“Jangan kemana-mana, nanti gue kesini lagi.”
Syifa hanya terdiam, membiarkan Mika pergi. Rasa penasarannya kian memuncak saat matanya menangkap deretan balon warna-warni yang tergantung di dinding. Seperti sedang ada pesta. Tapi, pesta untuk siapa? Dan kenapa pula Mika membawanya ke tempat ini?
Syifa menyentuh salah satu balon berwarna putih yang tergantung di sana. Senyum cantik masih melekat di wajahnya ketika dalam sekejap tempat itu berubah gelap.
Syifa tercekat, spontan menutup mulut dengan tangan, seolah menahan teriakannya agar tidak pecah. Kegelapan pekat di ruangan berdinding kayu itu membuatnya panik. Dengan lutut gemetar, ia meraba ke samping, mencari-cari ponselnya. Bukan hanya karena takut gelap, tapi juga karena sadar dirinya sedang berada di ketinggian. Satu langkah keliru saja, sudah pasti bukan hal yang baik didapatkannya.
Syifa menghela napas lega saat tangannya berhasil menemukan ponsel yang dicarinya. Tak menunggu lama, langsung saja ia nyalakan senter ponsel.
Cukup lama Ia meyakinkan diri untuk tetap menyimpan rasa takutnya, sampai kemudian keberanian muncul, Ia berdiri dan berbalik hendak turun kebawah. Belum sempat melangkah, retina matanya di hantam sinar terang ketika lampu kembali nyala. Dan betapa terkejutnya Syifa melihat Mika sudah berdiri di depan pintu dengan kedua orang lain di belakangnya.
Syifa berjongkok membelakangi pintu, berusaha menenangkan diri sambil meraih ponselnya untuk menyalakan senter. Cukup lama ia meyakinkan diri agar tetap tenang, menekan rasa takutnya.
Hingga keberanian itu akhirnya muncul, ia berdiri dan berbalik, berniat turun ke bawah. Namun, sebelum sempat melangkah, retina matanya disergap cahaya tajam saat lampu kembali menyala. Syifa terperangah, Mika sudah berdiri di ambang pintu, dengan dua orang asing berdiri tepat di belakangnya.
“Happy birthday!”
Syifa membeku. Kata-kata itu meluncur begitu ringan dari mulut ketiga cowok di hadapannya, sementara otaknya seperti macet total. Rasanya mustahil mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Yang ulang tahun, harus tiup lilin!” seru Kavi, sahabat Mika. Kavi dan Aidan sengaja diajak untuk membantu melancarkan rencana Mika malam ini.
Kemudian, Aidan dengan sigap mengeluarkan sebatang korek api dan menyalakan lilin berbentuk angka 17 yang tertancap di kue ulang tahun yang Mika pegang.
Dengan senyum mengembang, Mika maju selangkah, membuyarkan lamunan panjang gadis berambut cokelat itu.
”Make a wish, Nin.”
Syifa memejamkan mata lentiknya. Sebulir air mata berhasil lolos dari kelopak matanya, mengalir bersama doa dan harapan yang ia bisikkan—kali ini dengan suasana hati yang benar-benar berbeda.
“Tiup, tiup, tiup!” Kavi dan Aidan tiba-tiba heboh sembari bertepuk-tepuk tangan.
Mika terkekeh kecil menanggapi tingkah kedua sahabatnya. Cowok itu mengangguk sambil tersenyum teduh, membuat ujung bibir gadis itu terangkat. Lalu dengan dorongan ketiga orang di hadapannya itu, Syifa meniup lilin angka 17 yang nampak indah di matanya.
Mika mengusap puncak kepala Syifa. Cowok itu menarik senyum lebih lebar dari sebelumnya.
“Happy sweet seventeen, cantik. Gunain malem ini untuk merasakan yang terbaik, merayakan dan menjadi yang paling bahagia.”
Syifa mengangguk patuh. Merasakan hatinya menghangat karena perlakuan lembut Mika. Pertama kali dalam hidupnya ada orang yang mau repot-repot memberinya kejutan, dan itu sangat membuat gadis itu terharu.
“Makasih, Ka. Gue nggak tau harus ngomong apa lagi, gue... makasih.”
Gadis itu menangis. Tak bisa lagi berkata-kata. Di saat semua orang terdekatnya bahkan tidak mengucapkan selamat padanya, ternyata masih ada seseorang yang mengingat hari spesialnya. Dan mirisnya orang itu adalah masa lalunya.
Mika tidak tinggal diam melihat Syifa meneteskan air mata di hadapannya. Ia menaruh kue di atas meja, lalu kembali menghadap gadis itu dengan merentangkan kedua tangannya.
”Hug?”
Syifa sudah tidak mempedulikan status cowok yang sudah tidak jomblo lagi itu. Yang ada di kepalanya hanya satu, dia kembali. Lalu dengan cepat ia masuk kedalam peluk hangat Mika. Paling tidak untuk sesaat, ia ingin merasakan bahagia.