Satu Rumah, Dua Penghuni
“Udah, jangan nangis, nanti cantiknya ilang, loh,” goda Mika. Cowok itu mengendurkan pelukannya. Menghapus air mata itu dari wajah cantik Syifa.
“Ishh! Gue jelek tau,” sanggah Syifa tidak terima. Gadis itu memang sangat anti dipuji oleh orang lain.
“Buseet, engap bener gue nonton orang pelukan,” celetuk Kavi tanpa basa-basi, menyela momen romantis temannya itu.
“Yah, gimana ya, kita mah ngontrak, Kav,” imbuh Aidan menimpali. Mika mendengus kesal, sangat mengganggu dan tidak tahu situasi sekali dua cecunguk itu.
Berbeda dengan Mika, Syifa justru tertawa lepas mendengar keluhan kesah mereka berdua.
“Maaf ya, gue nggak sengaja pelukan depan kalian, kok.”
Syifa mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Syifa, kalian temennya Mika?” tanyanya.
Kavi langsung menyambut tangan Syifa dengan cepat, membuat Mika kembali mendengus jengah.
“Gue Kavi, kalo ini Aidan. Kita berdua sahabatnya Mika,” jawab Kavi sok akrab.
“Bukan, lo pembantu gue,” koreksi Mika cepat.
“Astaga, gue nggak di anggap... aduh!” ucap Kavi sembari memegangi perutnya, dengan ekspresi seperti merasa sakit yang sangat terlihat dibuat-buat.
“Lo kenapa, Kav?!” tanya Aidan panik, mengikuti sandiwara Kavi.
“Sakit hati.”
“Eaaa~!” sorak Kavi dan Aidan asik sendir.
Kavi menelan suapan terakhir kue-nya, melihat tatapan mengintimidasi Mika padanya.
“Ngeri ah di sini, mending gue bawa semua kue nya. Ayok, Dan!” Kavi membawa sisa kue yang masih banyak di tangannya.
“Lo minta Mika beliin lagi ya, Fa, soalnya gue bantuin dia nggak dikasih upah,” lanjutnya.
Syifa memperhatikan ketiganya dengan heran. Ia bertanya-tanya, apakah persahabatan antara anak laki-laki memang selalu seperti itu.
Kavi dan Aidan meninggalkan mereka berdua di rumah pohon. Mereka tahu kalau Mika minta diberi waktu untuk berdua dengan Syifa, tapi dia gengsi meminta.
Mika menggaruk tengkuknya kikuk, berdua dengan perempuan ternyata membuat suasana terasa berbeda dari biasanya.
“Sorry ya, Nin, nanti kue nya gue ganti.”
“Nggak apa-apa, lagian itu kue lo juga yang beli,” jawab Syifa santai.
Mika menghembuskan napasnya lega, Ia hanya takut gadis itu merasa risih karena kelakuan dua temannya tadi.
“Oh iya, gue ada sesuatu buat lo.”
“Oh, ya?” ucap Syifa tertarik. “Apaan, tuh?”
Mika melongok ke luar rumah pohon. Kavi dan Aidan masih setia menunggu di bawah sembari memakan sisa-sisa kue yang mereka bawa.
“Ssshtt.” Mika meletakan telunjuknya didepan bibirnya, isyarat untuk jangan mengeluarkan suara.
Syifa mengernyit penasaran, dari bawah sana, Mika membawa masuk sebuah benda mirip papan berukuran sedang yang terbungkus kain putih.
“Itu apa?” tanya Syifa penasaran.
Mika tersenyum penuh arti, membuat rasa penasaran Syifa kian menjadi-jadi.
“Coba deh buka, pasti lo suka,” ucapnya penuh percaya diri.
Tangan mungil Syifa perlahan menarik kain penutup benda itu, sampai akhirnya terbuka sempurna dan untuk kedua kalinya ia dibuat terkejut di hari itu.
“Ini....”
“Iya,” potong Mika.
“Ini kado buat lo, dari gue.”
Syifa mengambil lukisan wajahnya yang sudah terbingkai rapi. Sangat cantik dan sempurna.
“G-gue... nggak tau harus ngomong apa sama lo... Ka....”
“Lo nggak perlu ngomong apa-apa, Nin, gue tulus ngasihnya.” Mika terkekeh kecil melihat Syifa kembali menitikkan air mata.
“Nggak boleh nangis, ih. Udah tujuh belas tahun masa masih nangis?” ejeknya.
“Gue udah berusaha, tapi air matanya tau-tau keluar sendiri,” Syifa menyeka air matanya.
“Sekali lagi, makasih, Mika. Gue nggak nyangka lo inget sama ulang tahun gue.”
“Tapi semua ini nggak gratis,” timpal Mika sembari menaik turunkan alisnya.
Gadis itu menatap Mika tidak mengerti. “Maksud lo?”
Mika mengambil alih lukisan dari tangan Syifa, lalu menaruhnya di sisi lain. Ditatapnya mata cantik itu dalam-dalam
“Izinin gue jadi rumah buat lo, Nin. Lagi.”
Jarum jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari, dan ia sudah terbangun. Terhitung baru tiga jam lalu dirinya terlelap, dan sekarang matanya malah sudah terbuka lebar. Bukan tanpa alasan, gadis itu kembali mengingat ucapan Mika yang berhasil mengguncang hatinya, membuat jantungnya berpacu liar seakan ingin meloncat dari dada.
“Apa lo masih suka sama gue, Ka?” tanyanya bermonolog, seolah lawan bicaranya ada di depan matanya.
“Kalo memang iya, kenapa rumah lo udah berpenghuni?”
Ia menatap lurus ke langit-langit kamar, perhatiannya buyar entah ke mana. Tanpa disadari, ingatannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu.
“Izinin gue jadi rumah buat lo, Nin. Lagi,” ucap Mika yakin.
Syifa yang mendengar itu seolah membeku. Jantungnya terasa berpacu lebih cepat dari biasanya. Lidahnya kelu bahkan hanya sekedar untuk menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’.
Tidak adanya respon memuaskan dari Syifa, membuat Mika kembali membuka mulutnya.
“Gue tau ini egois, Nin, tapi gue bener-bener berharap lo balik ke gue lagi, kayak dulu lagi.”
“T-tapi... bukannya ‘rumah’ lo itu udah berpenghuni ya, Ka?” tanya Syifa memastikan, bibirnya bergetar menahan tangis.
“Lo mau gue tinggal di mana?” Sebulir air mata berhasil menetes dari kelopak mata cantiknya.
“Di sini....” Mika menunjuk dada kirinya.
“Masih banyak ruang tersisa buat lo, Nin. Gue nggak pernah bener-bener ngisi penuh rumah gue sama yang lain, karena gue masih naruh harapan besar, penghuni yang lama bakal balik lagi.”
“Jadi?”
Mika mengangguk cepat. “Jadi gue minta lo balik ke rumah lo, di sini, gue siap kapan pun lo butuh. Gue— nggak, kita... kita berdua akan perbaiki semuanya.”
“Dan lo akan punya dua orang di sini, Ka?” Syifa memukul dada Mika pelan.
“Lo akan nyakitin dua hati sekaligus, Mika. Lo tega?”
“Gue akan berusaha secepatnya berakhir sama dia, lo nggak perlu khawatir....”
...
Lamunannya buyar kala azan subuh berkumandang. Nyatanya sosok Mika membuat gadis itu harus kembali memikirkannya setiap waktu.
Ting!
Syifa meraih ponselnya, nama Mika terpampang di layar sebagai orang yang mengiriminya pesan sepagi ini.
Mika:
“Selamat pagi sayangku.”
Mika:
“Bangun, Nin, Udah subuh!”
Syifa menatap layar ponselnya ngeri. “Apa ini?” Batinnya.
Mika memanggilnya 'sayang'? padahal mereka belum punya hubungan apapun dan posisinya cowok itu sudah mempunyai pacar. Apa ini termasuk selingkuh? Karena semalam Syifa menjawab 'iya' untuk memperbaiki hubungan mereka. Pertanyaan setengah sadar itu muncul dibenaknya.
Syifa:
“Pagi, Mika. Gue udah bangun 2 jam sebelum subuh.”
Ia melihat status online dibawah nama kontak Mika. Lalu tak lama, cowok itu mengirimkan balasan.
Mika:
“Ya udah, sekarng salat. Love you.”
Syifa:
“Putusin dulu cewe lo, baru ngomong love you ke gue.”
Entah kenapa ia jadi kesal setelah semua yang terjadi. Padahal sudah terpampang jelas risiko kembali menyukai Mika itu seperti apa. Tapi sepertinya rasa suka sudah menutup pikirannya sehingga dengan mudahnya ia kembali terpengaruh ucapan manis cowok itu.
Tidak mau berlarut-larut dalam kekesalan, gadis itu memilih bangkit dari kasur dan bergerak menuju kamar mandi. Menyucikan diri, untuk kemudian melaksanan salat subuh.
Syifa sudah siap dengan tas punggung berwarna biru muda di punggungnya. Hari ini, ia akan berangkat ke sekolah bersama Mika. Walaupun sekolah mereka tidak sama, tapi cowok itu tetap bersikeras ingin mengantarnya ke sekolah. Bahkan, Mika siap jika seandainya Syifa membutuhkan tukang ojek dadakan setiap hari.
“Bu, Anin berangkat.”
Syifa berpamitan kepada ibunya di ruang makan. Ia juga bersalaman dengan ayah tirinya.
“Kenapa nggak makan?” tanya Syakirah.
Syifa menunjuk kotak bekalnya. “Anin makan di sekolah. Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam.” Balas ibu dan ayah tirinya bersamaan.
“Kamu yakin nggak mau kasih tau yang sebenernya ke Syifa?” ucap ayah tiri Syifa menyela.
Syakirah menoleh karena pertanyaan suaminya barusan. Ia terasa sangat bimbang akan kebenaran menyakitkan ini. Ia sangat sayang pada anak gadisnya, mengapa ia harus merelakan anak yang dirawatnya dari kecil hanya karena sebuah fakta menyakitkan.
“Huufft...” Lagi-lagi wanita itu menghembuskan napasnya kasar.
Seolah ikut merasakan keresahan istrinya, Hakim mengusap-usap belakang punggung Syakirah untuk menenangkan. “Sabar ya, sayang? Semoga nanti ada keajaiban Tuhan yang berpihak ke kamu.”