Merah Putih vs Cakrawala
Syifa menutup diary-nya. Seperti kebiasaannya sejak dulu, ia selalu menuliskan hal-hal yang menurutnya penting untuk diabadikan. Beberapa lembar polaroid yang berserakan di meja belajarnya menambah sesak pikirannya, membuat otaknya tak sekalipun berhenti memikirkan sesuatu.
Entah sudah berapa banyak hari yang terlewati bagi Syifa dalam usahanya mencari jawaban itu. Ia bercengkrama bersama teman-temannya, menikmati obrolan sambil meneguk es. Hingga suatu ketika ia menerima ajakan Zoya untuk mencari suasana baru di pantai, sekadar merasakan udara laut dan menikmati deburan ombaknya.
Tetapi, jawaban itu masih terkunci.
Gadis itu mengepalkan tangan di depan dada, matanya terpejam rapat. Ia bukan sedang berdoa. Lampu di kamar sengaja dimatikan, bahkan setitik cahaya lampu pun tak boleh menginterupsi. Hingga akhirnya, ia membaringkan tubuh di atas kasur.
Bayangan wajah seseorang terpampang jelas di langit-langit kamarnya yang gelap. Berbagai ekspresi silih berganti muncul, seperti panel-panel film yang berputar otomatis. Perasaan tak karuan membuatnya spontan meraih bantal, lalu menutup wajah dengan erat.
“Sabar, Nin. Nanti pasti gue bakal jadi milik lo sepenuhnya.”
Kalimat itu kembali terngiang di telinganya. Tentang bagaimana wajah rupawan itu meyakinkannya, saat dengan penuh emosi ia bertanya kapan cowok itu akan melepaskan kekasihnya.
Mungkin terlihat jahat, karena ia kembali dekat dengan Mika padahal cowok itu sudah memiliki pacar, ada hati lain yang seharusnya dijaga. Namun, apa boleh buat. Hati tidak bisa dipaksa. Apalagi, beberapa waktu terakhir Mika yang kembali rutin menghubunginya justru membuat Syifa menaruh rasa lagi pada cowok itu.
Tentu Ia juga merasakan cemburu saat Mika pada satu waktu lebih mementingkan pacarnya ketimbang dirinya. Ia merasa sakit hati saat Mika membagi senyumnya pada cewek lain yang memang harus mendapatkan perhatian dari cowok itu. Dan Ia tidak menyukainya.
Ponselnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Syifa meraihnya dengan segera, masuk ke dalam ruang obrolannya dengan si pengirim pesan.
Mika:
“Udah tidur belum, Yang?”
Syifa langsung melempar ponselnya asal, tidak ingin membalas pesan itu. Saat ini suasana hatinya sedang tidak bagus. Alangkah baiknya ia mengabaikan pesan itu sejenak, agar terhindar dari pertengkaran tentang hati siapa yang harus dijaga—seperti yang selalu terjadi setiap malam.
Syifa memejamkan matanya, berharap kantuk segera datang. Karena saat ini, hanya istirahat yang paling ia butuhkan untuk menenangkan hati yang sedang kalut.
Hari ini kelas XII IPS 1 mempunyai jadwal praktik olahraga. Materi yang diambil kali ini adalah permainan bola besar, yaitu voli. Beberapa siswi mengeluh karena enggan berpanas-panasan di tengah lapangan outdoor. Sementara beberapa yang lainnya malas karena memang tidak terlalu menyukai permainan tersebut.
“Woy! Sekarang bagian anak cowok yang ganti di kelas! Sana kalian para betina keluar!” teriak Jaya dari pintu kelas.
Bukan tanpa alasan, sebelumnya kelas itu memang sudah memiliki perjanjian di awal, tentang jatah berganti pakaian di kelas, yaitu masing masing 5 menit, selesai atau tidak.
“Kalo cewek yang di kamar mandi tuh lama! Lo nggak liat tuh kamar mandi cuma empat biji?” sewot Devina tak kalah ngegas.
“Ya kalian masuk sekaligus empat orang lah, gitu aja susah,” sahut Dani dingin, sembari menyerobot masuk kedalam kelas.
Dani nampak sudah mengenakan kaos olahraga dibalik seragam putihnya. Dengan santai ia melepas seragam putihnya dan memasukannya kedalam tas. Tatapan-tatapan tajam tak sedikit pun ia pedulikan. Dengan tenang ia menanggalkan kacamata, mengusapnya dengan ujung kaus, lalu melangkah keluar kelas seolah tidak ada siapapun disana.
Devina hanya bisa melengos, malas menanggapi ucapan cowok cool itu. Lebih baik diam daripada ujung-ujungnya malah kesal sendiri, pikirnya.
Dari lapangan outdoor, sudah terdengar bunyi peluit pak Jefri yang tidak berhenti bunyi sejak tadi. Anak laki-laki segera keluar dari kelas membiarkan anak perempuan ganti di dalam.
Lima belas menit kemudian, para siswa kelas XII IPS 1 sudah berbaris di lapangan sesuai instruksi guru olahraga. Mereka melakukan pemanasan di tempat untuk meminimalkan risiko cedera saat berolahraga.
“Joy, gue nggak bisa main voli, Gimana, nih?” bisik Syifa sembari menirukan gerak pemanasan dari Dani yang mengomando di depan.
“Lo pikir gue bisa? Inget, gue dulu pernah servis bawah tapi bolanya terbang ke belakang,” balas Zoya tak mau kalah.
Syifa terkikik geli mengingat kejadian itu. Waktu SMP dulu, mereka pernah melakukan praktik servis bola voli. Dan saat giliran Zoya yang maju, bola yang di servisnya justru melambung ke belakang. Tawa teman-temannya pecah, sementara Zoya hanya bisa meringis setelah akhirnya diberi nilai C oleh guru olahraga.
“Baik, pemanasan sudah selesai. Kalian boleh duduk dan beristirahat beberapa menit sambil menunggu aba-aba dari saya.” Pak Jefri kemudian meninggalkan lapangan entah ke mana.
Syifa menarik tangan Zoya untuk pergi duduk di pinggir lapangan sembari menunggu instruksi dari guru. Panas yang cukup terik membuat peluh bercucuran bahkan sebelum mereka masuk ke olahraga inti, yaitu voli.
“Joy, bawa minum nggak?” tanya Syifa sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.
“Nggak sempet, Fa. Gue tadi pagi juga buru-buru,” ujar gadis itu.
Zoya bukan tipe orang yang cuek dengan keadaan di sekitarnya. Jadi wajar saja jika ia sudah tahu tentang kisah cinta sahabatnya yang rumit itu.
“Masih kayak biasanya,” balas Syifa malas, kembali teringat tentang pertemuannya beberapa waktu lalu.
“Gue nggak nyangka deh, Fa.” Zoya menatap lapangan voli berpasir di depannya.
“Apa?”
Zoya menghembuskan napas panjang, lalu menatap tajam ke arah Syifa di sampingnya.
“Lo itu goblok banget, tau! Sumpah!”
Syifa memundurkan wajahnya. Sebelah tangannya mengusap dadanya berkali-kali. “Buset, kasar banget, Mbak.”
“Bodo amat! Udah enek banget gue lihat kalian berdua,” sindir cewek bar-bar itu. Ia benar-benar kesal pada Syifa yang mau saja dijadikan pelarian oleh Mika.
“Nggak papa, Joy, kan gue yang jalanin, gue yang ngerasain, lo cukup tau gue baik-baik aja.”
“Tapi kalo disakitin nangisnya ke gue.” Zoya memutar bola matanya jengah.
“Buku yang udah pernah dibaca, endingnya nggak bakal berubah,” ucap Zoya, seolah melontarkan kata-kata mutiara.
“Bisa aja berubah,” sanggah Syifa membuat Zoya menaikkan alisnya. Cewek itu tersenyum kecil.
“Gue belum namatin buku itu dulu, dan walaupun gue udah pernah namatin, kemungkinan beda ending itu ada, Joy.”
“Sok tau lo!”
Zoya mengalihkan pandanganya, matanya sumringah saat melihat ke tepi lapangan seberang. Di sana, Michie sedang membagikan air mineral.
“Tunggu sini bentar, gue ambil minum dulu.”
Syifa mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku sambil menunggu Zoya kembali. Matanya tertuju pada tanda notifikasi WhatsApp yang muncul di pojok ikon aplikasi hijau itu. Tanpa pikir panjang, ia langsung membukanya.
Mika:
“Hari ini kelas aku ada sparing sama kelas kamu ‘kan, Yang?”
Dahinya mengerut membaca pesan dari nomor itu. Sejak kapan kelasnya ini memiliki janji sparing dengan sekolah lain? Padahal tadi pak Jefri tidak bilang apa-apa.
Baru saja hendak mengetikkan balasan, ia terkejut bukan main karena pipinya di tempeli sesuatu yang sangat dingin. Syifa mendongak. Mendapati seseorang dengan menyodorkan sebotol air mineral dingin padanya.
“Nathaniel Kavin A.?” Syifa membaca nama pada kaos olahraga orang itu dalam hati.
“Buat gue?” tanya Syifa bingung.
Nathan tidak menjawab. Cowok itu memang sangat irit bicara sejak awal masuk. Maka tak heran, meski sudah dua bulan pindah, ia belum juga punya teman.
Karena Syifa tidak menerima ulurannya, cowok itu menaruh botol itu didekat Syifa duduk. Lalu sepotong kata terucap dari bibirnya.
“Diminum.”
Syifa, dengan otaknya yang memang agak lemot, hanya bisa melongo melihat kelakuan aneh Nathan. Cowok itu tiba-tiba datang mengagetkannya, memberi sebotol air mineral dingin, lalu pergi begitu saja.
“Dari kulkas?” tanya Zoya yang datang beberapa saat setelah Nathan pergi. Tangannya membawa dua gelas air mineral, salah satunya sudah tinggal setengah.
Syifa menoleh, lalu menggeleng sambil bergidik. “Aneh banget, tuh orang.”
“Emang aneh, gue liat dia merhatiin lo terus dari awal masuk, Fa. Gue jadi ngeri, takut dia macem-macem,” Zoya ikut bergidik ngeri. Cewek itu memang selalu negative thinking jika berhubungan dengan orang baru yang aneh. Natha contohnya.
Prit, prit, priit...!
Bunyi peluit panjang dibunyikan Pak Jefri di tengah lapangan. Guru yang punya tampang garang itu tidak datang sendirian, melainkan dengan siswa-siswi yang entah datang dari mana. Kaos yang mereka gunakan berbeda dari sekolah ini, sudah pasti mereka datang dari luar.
“Ayo, semua perhatikan ke depan!” seru Pak Jefri, membuat perhatian siswa-siswi berpusat padanya.
“Hari ini kita kedatangan siswa-siswi dari SMA Cakrawala, yang datang untuk ikut berlatih bersama kita,” lanjutnya.
Sorak sorai terdengar ramai bersahutan dari kelas XII IPS. Tidak sedikit siswinya tidak bisa menahan untuk tidak memandangi para siswa tampan dari SMA sebelah. Ditambah lagi dengan cowok tengil yang sejak tadi tebar pesona disana, Kavi namanya. Tak ayal, banyak yang langsung meleleh dibuatnya.
“Baik, kita langsung mulai saja, ya?”
“Pak!” Michie mengangkat tangannya.
“Nggak disuruh kenalan dulu, nih? ‘Kan kita semua belum kenal sama mereka,” serunya.
“Modus aja lo, dasar Micin!” Jaya melempari Michie menggunakan kerikil kecil.
“Makannya ganteng, biar di modusin!” ketus Michie.
Semua terbahak mendengar jawaban Michie yang tak terduga itu. Jaya sampai syok sambil memegangi dadanya.
“Wah, jangan salah lo, Cin, gue gini-gini punya pacar lima!” Jaya tak mau kalah.
Lagi-lagi gelak tawa dan sorakan pecah dari para siswa-siswi yang menonton drama recehan itu. Pak Jefri, yang sudah paham dengan kelakuan murid-muridnya, hanya bisa menggeleng kecil memaklumi.
“Sudah-sudah, kita mulai olahraganya sekarang!”