Ia pun berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan itu, menghela napas panjang, lalu bersuara, “Oh, enggak, Pak. Aku orang biasa kok yang datang untuk mencari nafkah.”
“Oh, begitu ya. Maaf, Nak. Kalau aku terlalu banyak nanya.”
“Iya, enggak apa-apa, Pak. Aku yang berterima kasih. Sehingga, sekarang sudah tahu sifat atasanku seperti apa.”
Arga diam lama, menyembunyikan gelombang emosi yang bergejolak di balik wajah datarnya. Dalam hati, ia bergumam dalam hati, ‘Dion … apa benar kau yang jadi biang semua ini?’
Setelah percakapan singkat dengan bapak paruh baya tadi, Arga kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu menyapu halaman, mengelap kaca, dan mengangkut ember air. Meski ia pura-pura dan tak mendapatkan bayaran, tapi ia harus tetap berlaku seperti karyawan pada umumnya agar tak ada yang mencurigainya.
Pekerjaan yang seharusnya ringan, tapi entah kenapa terasa berat. Bukan karena tenaganya terkuras, melainkan karena pikirannya tak pernah berhenti bekerja.
Setiap sudut gedung, setiap orang yang berlalu-lalang, ia perhatikan dengan seksama. Namun, hingga sore menjelang, tak ada informasi berarti yang bisa ia dapat. Hanya fragmen-fragmen kecil yang makin meneguhkan bahwa suasana perusahaan sudah jauh berbeda semenjak Dirga tiada.
Di sela pekerjaannya, beberapa kali ia melihat Dion melintas dengan langkah angkuh. Semua karyawan buru-buru menunduk, seolah keberadaannya membawa tekanan yang tak kasat mata. Arga hanya bisa memperhatikan dari jauh, menahan rasa ingin menelanjangi kesombongan itu di depan semua orang, tapi ia sadar, waktunya belum tiba. Hari itu berjalan lambat bagi Arga.
Matahari mulai condong ke barat. Jam kerja berakhir. Para karyawan berjas rapi mulai pulang, menenteng tas kulit, naik mobil-mobil mewah yang sudah menunggu di parkiran. Sementara Arga, dengan pakaian petugas kebersihan yang kumal, berjalan perlahan keluar gerbang.
Begitu melangkah keluar area perusahaan, ia menarik napas panjang. Kakinya terasa berat, bahunya lunglai. Ia tahu, tenaga fisiknya masih kuat, tapi batinnya terasa benar-benar letih.
“Baru sehari saja menyamar, tapi rasanya seperti bertahun-tahun,” gumamnya pelan, sambil menatap jalanan kota yang ramai.
Ia memilih kembali naik angkutan umum, duduk di pojok bangku sempit, berbaur dengan para penumpang lain. Dari kaca jendela yang buram, ia melihat gedung perusahaan makin jauh tertinggal. Namun, bayangan Dion dengan wajah sombong dan suaranya yang menghina tadi masih jelas terngiang di kepala.
Arga memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Dalam hati, ia berbisik, “Aku harus sabar. Semua akan terungkap pada waktunya. Tapi Ya Tuhan … betapa sulitnya menahan diri ketika harus melihat orang seperti dia berkuasa.”
Malam itu, Arga sudah kembali ke rumah. Badannya terasa pegal, bukan karena menyapu atau mengangkat ember, tapi karena menahan emosi seharian penuh. Begitu masuk kamar, ia disambut senyum lembut Nabila yang duduk di tepi ranjang dengan tongkatnya di dekat meja.
“Kamu kelihatan capek sekali,” ucap Nabila lembut. Ia meraba pelan lengan Arga, lalu menuntunnya untuk duduk. “Sini, biar aku pijit sebentar.”
Arga tersenyum tipis, melepas kemejanya, lalu berbaring setengah telentang. Jari-jari Nabila yang ramping mulai memijit bahu dan punggungnya dengan sabar. Tekanannya tidak kuat, tapi ada kehangatan dan perhatian yang membuat Arga merasa sedikit lebih ringan.
Sambil memijit, Nabila bertanya pelan, “Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa baik-baik saja?”
“Iya, semua berjalan dengan lancar meski hari ini adalah hari pertamaku bekerja,” celetuk Arga.
“Hari pertamamu?” tanya Nabila curiga.
“Emm ... maksudku, hari pertama setelah cuti nikah. Lantas, bagaimana dengamu saat di rumah?”
Nabila menarik napas panjang. “Baik-baik saja, aku sudah semakin hafal jalan di dalam rumah ini. Meski … ya, masih harus pakai tongkat, tapi aku bisa menebak tata letaknya.” Senyumnya tipis, ada rasa percaya diri kecil di suaranya.
Arga menoleh, mengusap rambut Nabila sebentar, lalu gantian bertanya, “Kamu enggak usah sebegitunya, Nabila. Cukup di kamar aja dan jangan pernah ke mana-mana.”
Ia terdiam sebentar sebelum menjawab, menghela napas panjang. “Tapi, kalau cuma di kamar aja, aku suntuk, Ga. Kadang butuh udara segar di luar.”
“Iya, bener juga sih,” jawab Arga yang sebetulnya ingin mengakhiri percakapan.
Akan tetapi, Nabila tak tinggal diam. Ia tersenyum kecil, lalu berkata, “Aku bisa bayangkan. Seorang CEO mungkin dipandang enak sama orang luar, ya, tapi sebenarnya tanggung jawabnya berat. Bikin kepala penuh, tubuh juga gampang capek.”
Arga tercekat. Kata-kata Nabila seperti memukul jantungnya. Ia menelan ludah, lalu bergumam dalam hati, ‘Aku bukan seorang CEO. Jabatan itu milik kakakku. Aku cuma berpura-pura jadi petugas kebersihan.’
Arga mencoba tetap menutupi kenyataan itu agar Nabila tak tahu yang sebenarnya ia lakukan.
“Nabila …,” suaranya berat, “aku ingin tanya sesuatu. Tentang Dion.”
Kening Nabila langsung mengernyit. Ia menarik sedikit tangannya, lalu menatap ke arah Arga dengan mata kosongnya yang redup. “Kenapa tiba-tiba tanya Dion? Apa kamu lupa? Dia kan karyawan terbaikmu. Mana mungkin kau menanyakan Dion? Bukannya dia juga dekat denganmu?”
Arga terbelalak. Kata-kata itu seperti tamparan. Ia bahkan sempat kehilangan suara beberapa saat, hanya mampu menatap wajah Nabila yang tenang, seolah ia benar-benar yakin dengan ucapannya.
‘Karyawan terbaik?’ batin Arga bergemuruh. ‘Bagaimana bisa … sosok yang tadi siang ia lihat begitu arogan, kasar, bahkan merendahkan orang tua, justru disebut sebagai karyawan terbaik oleh kakaknya sendiri?’
Arga menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Ia memalingkan wajah, menatap kosong ke arah dinding kamar. Bayangan kejadian siang tadi kembali berputar: pria muda berjas yang memaki, mendorong, bahkan memperlakukan orang lain seperti sampah.
‘Bagaimana mungkin? Kerjanya tak becus, cuma bisa memaki-maki tapi disebut karyawan terbaik?’
Ketidakcocokan itu menusuk pikirannya. Semakin ia gali, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang benar-benar aneh di balik semua itu.
Arga tersadar dari lamunannya. Ia menutup mulut rapat-rapat, menahan pertanyaan-pertanyaan lain yang nyaris keluar. Namun, setelah melihat ekspresi Nabila, ia urungkan untuk bertanya lagi. Dalam hati ia berdesah, ‘Mungkin aku tak seharusnya menanyakan hal itu pada Nabila. Kalau terus mendesak, dia malah curiga. Seharusnya aku mencari jawaban dari Lusy atau Tante Tatik.’
Ia menghela napas, mencoba mengusir rasa penasaran yang masih menggantung. Nabila yang duduk di sampingnya justru merasakan perubahan sikap itu. Bibirnya melengkung tipis, lalu tangannya meraba pelan dada Arga.
“Kenapa mendadak diam? Pasti capek, ya?” godanya dengan suara lembut.
Arga menoleh, melihat wajah Nabila yang tadi hampir meledak, kini tersenyum malu-malu. Senyum itu bagaikan oase di tengah penatnya hari. Ia teringat, betapapun berat beban yang harus ia pikul, ada satu hal yang tetap membuatnya kuat, yaitu kehangatan Nabila.
Nabila mendekat, menempelkan kepalanya di bahu Arga. “Kamu tahu kan? Meski dunia di luar sana bikin kamu letih, di sini aku selalu ada untukmu,” bisiknya manja.
Arga tak sanggup menahan senyum kecil. Ia meraih pipi Nabila, mengusapnya dengan lembut. Dalam tatapan samar cahaya lampu kamar, ia merasa seolah hanya mereka berdua yang ada di dunia.
‘Perempuan ini rupanya punya libido yang cukup tinggi,’ batin Arga dalam hati yang sudah tahu maksud isyarat Nabila ....