‘Perempuan ini rupanya punya libido yang cukup tinggi,’ batin Arga dalam hati yang sudah tahu maksud isyarat Nabila.
Arga memulainya, dengan mengeksplor wajahnya, lalu semakin turun dan turun lagi. Sementara Nabila menikmati belaian itu dan mengeluarkan suara lembut yang membuat gairah Arga semakin tinggi.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, mereka kembali larut dalam ritual penuh keintiman. Bukan sekadar kebiasaan suami-istri, tapi juga sebuah cara untuk saling menguatkan, saling menenangkan.
Keduanya saling mencurahkan rasa cintanya masing-masing dan menikmati hubungan malam itu juga hingga sampai klimaks, Arga kembali memeluknya dan mengeluarkan benihnya hingga tubuh Nabila menggelinjang karena merasakan ada cairan hangat yang masuk ke tubuhnya.
Setelah itu, selimut kembali menyelimuti tubuh mereka yang rapat berdekapan. Nabila tertawa kecil karena digoda Arga, lalu menggenggam tangannya erat-erat. Arga pun menatapnya lama, mencoba mengusir semua kebimbangan tentang Dion, tentang perusahaan, dan tentang penyamarannya.
Saat pelukan itu semakin erat, Arga berbisik lirih, “Selama kamu di sisiku, aku pasti bisa kuat, Sayang.”
Arga mencium kening Nabila dengan rasa tulus, membuat Nabila tersenyum bahagia, dan malam pun kembali menjadi saksi ritual cinta mereka yang tak pernah absen. Pada akhirnya, mereka pun tertidur sambil selalu berpelukan, seolah keduanya sudah saling membutuhkan satu sama lain.
**
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lembut melalui celah tirai kamar. Arga membuka matanya perlahan, dan mendapati Nabila sudah bangun lebih dahulu. Wajah perempuan itu tampak murung, dengan sorot mata yang menyimpan kesedihan.
Arga merasa, apa mungkin dirinya yang berpura-pura jadi Dirga sudah terbongkar dan sekarang Nabila bersedih? Penasaran, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
Arga bangkit, lalu menoleh padanya. “Kenapa sedih begitu?” tanyanya lembut.
Nabila menarik napas dalam, lalu menunduk. “Aku merasa … semakin lama tinggal di sini sebagai menantu, aku terlalu merepotkan. Apalagi dengan keadaanku yang buta ini. Kadang aku menyesal, dulu membujuk Dirga supaya segera bulan madu ke Bali setelah ijab kabul. Kalau saja aku lebih mendengar nasihat orang tua .…” Suaranya bergetar.
‘Oh, jadi begitu,’ batin Arga.
Arga menatapnya dengan penuh empati, lalu meraih tangannya. “Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Jangan disesali lagi. Lain kali kita lebih menurut sama omongan orang tua, biar lebih selamat. Tapi jangan salahkan dirimu terus, Sayang. Kamu sudah berjuang sejauh ini.”
Air mata Nabila menetes, dadanya sesak oleh rasa haru. Ia pun memeluk Arga erat-erat, merasakan hangatnya pelukan pria yang berpura-pura menjadi suami yang penuh pengertian.
Mereka larut dalam keheningan penuh kasih, sebelum akhirnya Arga bangkit, merapikan pakaiannya. Dengan senyum tipis ia berkata, “Aku mau siap-siap berangkat kerja dulu, ya.”
Nabila mengangguk, masih terisak, tapi hatinya terasa lebih ringan. Ia melepas pelukannya dan Arga pun membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, kembali memakai seragam rutinitasnya.
Sebelum berangkat, kembali mencium kening Nabila dengan cinta. Nabila pun dengan kuat hati melepas kepergian Arga dengan doa dalam diam, sementara Arga melangkah mantap untuk kembali ke pekerjaannya.
Akan tetapi, begitu Arga hendak melangkah pergi, suara ketukan pintu depan terdengar. Ia menoleh sekilas, lalu segera berjalan menghampiri. Dari balik pintu, muncullah seorang pria berjas almamater universitas, wajahnya serius dan tatapannya menancap tepat pada Arga.
“Tony?” gumam Arga, sedikit terkejut.
Pria itu mengangguk singkat, lalu begitu melihat Nabila yang ikut keluar kamar, ekspresinya berubah heran. “Kau … sudah menikah, Ga?” tanyanya tanpa basa-basi. Membuat semua orang yang di dalam rumah mendengar.
Refleks, Arga meletakkan telunjuk di bibir, memberi isyarat agar Tony diam. Sementara Nabila yang menangkap percakapan setengah-setengah itu, langsung bertanya pelan, “Dia siapa, Ga?”
Arga menghela napas, berusaha tetap tenang. “Dia Tony … temanku,” jawabnya singkat.
Nabila mengernyit, mencoba mengingat. “Seingatku, kamu nggak pernah cerita punya teman bernama Tony.”
Arga tersenyum kaku, buru-buru berdalih. “Dia teman baru, Nabila. Kenal belum lama.”
Ucapan itu justru membuat Tony mengerutkan kening dalam-dalam, tatapannya penuh tanda tanya. Ia kemudian menimpali pelan tapi tegas, “Kita bicara di luar saja.”
Arga mengangguk cepat, lalu berbalik pada Nabila. “Dia itu rekan kerja baruku. Aku sekalian berangkat kerja sama dia, ya.”
Meski raut Nabila masih penuh kebingungan, ia mengangguk pasrah. “Iya … hati-hati, Ga.”
Begitu pintu rumah tertutup dan mereka cukup jauh dari pendengaran Nabila, Arga langsung menatap Tony dengan nada mendesak. “Sekarang jelaskan. Ada apa kau kemari, Ton?”
Tony menatap Arga dengan serius, lalu menghela napas panjang. “Aku ke sini karena disuruh Novita. Katanya, aku harus menjemputmu, Ga. Sudah waktunya kau kembali kuliah, jangan lama-lama menghilang.”
Arga sontak membeku. Matanya melebar, seakan ucapan Tony baru saja mengguncang dunianya. “Novita menyuruhmu?” gumamnya, suaranya lirih bercampur kaget.
Tony mendekat setapak, menatap Arga lekat-lekat. “Tapi, tunggu dulu. Apa benar kau sudah menikah? Aku tadi jelas melihat perempuan itu, dia memanggilmu dengan penuh kasih sayang. Tapi, kenapa kau tak pernah bilang atau pun mengundangku di acara pernikahanmu?”
Arga terdiam, tenggorokannya kering. Ia sempat ingin berbohong lagi, tapi wajah Tony terlalu serius, terlalu menuntut kejujuran. Perlahan ia menunduk, lalu berkata, “Aku … bukan benar-benar suaminya.”
Tony mengerutkan dahi, tidak paham. “Lho, kok bisa?”
“Aku mengambil peran kakakku, Dirga,” lanjut Arga lirih. “Sejak dia tiada, akulah yang menggantikannya. Nabila itu merupakan istri kakakku yang buta. Dia tidak tahu yang sebenarnya, dan aku tak bisa membiarkannya hancur sendirian. Sehingga, mau tak mau aku mengambil peran itu.”
Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Tony menghela napas, masih sulit mencerna. “Jadi, selama ini … kau berpura-pura?”
Arga menatapnya dengan sorot mata penuh permohonan. “Aku mohon, Ton. Jangan katakan ini pada siapa pun. Biarlah hanya kita berdua yang tahu. Demi Nabila dan demi ketenangan keluarga.”
Tony menatapnya dalam-dalam, seakan menimbang antara persahabatan dan kebenaran.
Tony akhirnya menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan merahasiakan semuanya, Ga.”
“Kau memang sahabat yang bisa kupercaya.”
“Menurutku, kau dapat rezeki nomplok, kau dapet apem gratis pemberian almarhum kakakmu.”
“Apem apaan?”
“Iya, kamu jujur aja, meski kamu cuma pura-pura, tapi pernah gituan sama dia kan?”
“Kau ini ... sukanya ngarang,” kata Arga dengan ekspresi kecut, meski sebenarnya tebakan Tony itu ada benarnya.
“Tapi … bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Tony dengan hati-hati.
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Pandangannya kosong, pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia menggertakkan rahang, mencoba menimbang. Beberapa detik terasa panjang, sebelum akhirnya ia menarik napas dalam. “Aku … nggak bisa lanjut, Ton. Terlalu banyak urusan yang harus aku hadapi sekarang. Terlalu banyak masalah.”
Tony langsung menatapnya kaget. “Serius, Ga? Kau sudah semester lima, loh. Nggak sayang kalau berhenti begitu saja?”
Arga menegakkan tubuhnya, sorot matanya tegas. “Tidak. Mungkin nanti, kalau semua masalah sudah kelar, aku bisa lanjut lagi. Untuk sekarang… ini jalan yang harus kupilih.”
Hening sesaat, hanya suara burung pagi yang terdengar.
Arga menepuk bahu Tony. “Kau tolong sampaikan izinku pada dosen. Katakan aku tidak bisa ikut kuliah untuk sementara.”
Tony menelan ludah, lalu mengangguk pasrah. “Baiklah, aku akan sampaikan.”
Arga kemudian berpamitan, melangkah mantap meninggalkan rumah menuju pekerjaannya. Tony menatap punggungnya, lalu menurunkan pandangan pada pakaian Arga. Seragam lusuh berwarna gelap dengan emblem sederhana menempel di dada. Tony menggeleng pelan, matanya tak percaya.
‘Ga ... apa benar sekarang kau bekerja sebagai petugas kebersihan?’