Menikahi Istri Kakakku - Nabila yang Sangat Peka - Bab 22

Penulis Yuan_bee
25 September 2025

‘Ga ... apa benar sekarang kau bekerja sebagai petugas kebersihan?’ pikir Tony dalam hati.

Mereka pun akhirnya berpisah, Arga masuk ke angkutan umum, sementara Tony menunggu bus yang tujuannya kembali ke kota Kohen.

**

Perjalanan Tony kembali ke kampus dari Gurama memakan waktu hampir dua jam. Selama di perjalanan, pikirannya masih dipenuhi wajah Arga dan pengakuannya yang mengejutkan. Begitu tiba di Kohen, Tony langsung menuju kampus, berharap bisa segera menyampaikan kabar itu pada Novita.

Setelah sampai, benar saja, Novita sudah menunggunya dengan wajah cemas. Begitu melihat Tony datang, ia langsung menghampirinya. “Bagaimana, Ton? Kau ketemu Arga, kan?” tanyanya cepat, suaranya penuh harap.

Tony menarik napas panjang, menahan berat di dadanya. “Aku ketemu. Tapi, dia bilang … dia tidak mau kuliah lagi. Katanya, terlalu banyak masalah yang harus dia hadapi.”

Novita terperanjat, matanya membelalak. “Apa?! Kau jauh-jauh ke Gurama hanya untuk mendengar itu?!” serunya, nadanya meninggi. Ia langsung menarik Tony ke sisi lorong yang sepi, agar tidak menjadi bahan perhatian mahasiswa lain.

“Dia benar-benar serius, Ton?!” desaknya lagi.

Tony mengangguk lesu. “Bahkan dia minta aku menyampaikan izin ke dosen, kalau dia tidak akan ikut kuliah lagi.”

Wajah Novita berubah merah, tangannya mengepal. “Sungguh keterlaluan kamu, Ga! Kalau begitu, aku sendiri yang akan menjemputnya! Aku akan pergi ke Gurama, lalu membawanya pulang ke Kohen. Dia harus kembali kuliah, apa pun alasannya!”

Akan tetapi, di balik amarahnya, dadanya digelayuti firasat buruk. Ia menggigit bibirnya, matanya berkilat penuh curiga. “Setelah aku pikir-pikir, kenapa akhir-akhir ini dia jarang membalas pesanku? Jangan-jangan, dia punya perempuan lain di sana.”

Tony hanya terdiam. Dalam hatinya ia tahu, bila Novita benar-benar pergi menjemput Arga ke Gurama, rahasia besar sahabatnya itu bisa terungkap kapan saja. Ia pun berpikir, bagaimana agar Novita tak bisa pergi ke sana?

“Nov, sebaiknya kau jangan ke sana dulu. Keluarga Arga masih diselimuti duka atas kepergian kakaknya Arga.”

Novita menahan diri, meski hatinya bergejolak. Ia ingin segera berangkat ke Gurama, tapi nalurinya mengatakan harus lebih berhati-hati. Terlebih, setelah mendengar fakta bahwa kakak Arga belum lama meninggal.

“Benar juga, aku tidak boleh gegabah. Aku harus tahu dulu apa yang sebenarnya Arga lakukan di sana,” gumamnya, matanya menyipit penuh kecurigaan.

Ia pun menghubungi seseorang lewat ponselnya, suara lirih, tapi penuh wibawa. “Tolong sampaikan pada anak buah ayah, aku butuh satu orang untuk mengawasi seseorang di Gurama. Namanya Arga. Aku ingin tahu apa saja yang dia lakukan setiap hari. Laporkan padaku secara rutin.”

Setelah menutup panggilan, Novita menatap kosong ke arah jendela kampus. Ingatannya melayang pada saat-saat terakhir sebelum Arga pergi.

Ia masih jelas teringat hari itu, ketika Arga tiba-tiba meminta izin pada dosen, padanya, dan juga teman-temannya. Alasannya singkat, tapi menghentak semua orang, yaitu kakaknya meninggal karena kecelakaan.

Novita terdiam, dada terasa sesak. Ia menggigit bibir, berusaha mengusir rasa tidak enak yang kian mengganggu. “Arga … sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?” bisiknya.

Di sisi lain, Tony yang menyaksikan perubahan raut wajah Novita hanya bisa menarik napas panjang. Ia tahu, badai besar sedang menunggu Arga dan semua itu hanya masalah waktu sebelum rahasianya terbongkar.

**

Sementara itu, di kota Gurama

Hari-hari Arga berjalan dengan ritme yang sama. Pagi ia berangkat mengenakan seragam kerjanya, menghabiskan waktu sebagai petugas kebersihan, lalu pulang menjelang sore dengan tubuh letih, tapi tetap menyimpan senyum. Ia tak boleh muram agar Nabila pskikisnya tak kumat lagi.

Sore itu, seperti biasa, begitu Arga melangkah di teras rumah dan membuka pintu, rupanya Nabila sudah menunggu, dia duduk bersandar di kursi kayu yang selalu ia pilih di dekat pintu. Meski tak bisa melihat, telinganya peka terhadap suara langkah kaki.

“Dirga, kau sudah pulang,” bisiknya pelan, seolah langkah kaki itu adalah nada musik yang hanya ia kenal. Begitu Arga sampai di hadapannya, Nabila langsung berdiri dan merengkuh tubuh suaminya dalam pelukan.

Arga terdiam sesaat, membalas pelukan itu dengan lembut. Namun, di tengah kehangatan, Nabila tiba-tiba mengerutkan dahi. Tangannya meraba pelan ke dada dan bahu Arga.

“Kenapa kamu nggak pakai jas?” tanyanya bingung. “Ini rompi, kan?”

Arga sedikit kaget, tapi berusaha menenangkan ekspresinya. “Oh iya. Aku tadi nggak sempat ganti. Tadi ada urusan, jadi cuma pakai ini,” jawabnya, mencoba terdengar tenang.

Nabila masih meraba perlahan, seolah mencari kepastian dari setiap lekuk kain yang disentuhnya. “Aneh … biasanya kamu selalu pakai jas. Hari ini berbeda,” ucapnya lirih.

Arga tersenyum tipis, lalu mengusap rambut Nabila dengan lembut. “Jangan khawatir. Aku tetap aku. Pulang kerja, langsung ingin cepat-cepat pulang padamu. Itu saja.”

Nabila pun menghela napas, mencoba percaya. Ia kembali memeluk suaminya erat, meski di hatinya tersimpan tanda tanya yang tak terjawab.

“Iya, aku percaya padamu. Kamu pulang lebih awal, menandakan bahwa kamu tidak mampir ke mana pun.”

**

Di saat malamnya, rasa penasaran masih menggelayuti hati Nabila. Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya: kenapa suaminya kini tak memakai jas seperti biasanya?

Saat kesempatan datang dan Arga sedang di dalam toilet, ia pun bertanya diam-diam pada mertuanya - Fenny, ketika mereka berdua duduk di ruang keluarga.

“Bu .…” Nabila membuka suara hati-hati. “Tadi sore, aku merasa aneh. Biasanya Dirga selalu pulang pakai jas. Tapi sekarang, ia hanya memakai rompi. Apa ada yang berubah?”

Fenny sempat tertegun. Ia menoleh pada menantunya yang buta itu, lalu tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia tahu pertanyaan itu berbahaya. Tapi demi Arga, ia harus berdalih.

“Ah, itu, Nabila.” Fenny menghela napas ringan. “Sebenarnya, Dirga memang tidak terlalu suka memakai jas. Dia lebih nyaman dengan rompi. Mungkin kamu baru sadar sekarang.”

Nabila terdiam, keningnya berkerut. “Tapi, sebelum aku buta dan saat aku dan dia masih berpacaran. Aku tahu dia biasa pulang dengan jas, tapi sekarang berbeda sekali.”

Fenny cepat-cepat menimpali, suaranya lembut tapi tegas. “Kadang orang bisa berubah kebiasaan. Jangan terlalu dipikirkan. Dirga itu masih mempunyai pikiran yang sama. Dia masih tetap sayang padamu.”

Nabila mengangguk pelan, mencoba menerima penjelasan itu. Namun, hatinya masih diselimuti rasa ganjil, seakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya.

Sementara itu, dari balik pintu, Arga yang sempat mendengar percakapan mereka berdiri dengan napas tertahan. Ia tahu, rahasia yang ia bawa kian hari semakin rapuh untuk disembunyikan.

Sejak percakapan malam itu, Nabila mulai lebih peka memperhatikan setiap detail dari Arga. Walaupun buta, indera perabaan dan pendengarannya menjadi senjata utamanya.

Ketika mereka berdua di kamar, Nabila menyentuh tangannya dan merasakan kulit suaminya lebih kasar dari biasanya, seolah sering bergelut dengan pekerjaan berat.

“Tanganmu kenapa kasar begini? Kamu kenapa saat kerja ...?”