“Kasus penemuan mayat di ruang kelas,” ujar Romy.
“Sepertinya menarik,” celetuk Dinda semakin penasaran dan adrenalinnya tertantang.
Mereka berdua pun pergi menggunakan mobil. Awalnya, mengantar Rania terlebih dahulu ke sekolahnya, lalu ke sebuah tempat – Sekolah Dasar Brooksville.
Setelah sampai di tempat tujuannya, Dinda pun kaget setelah mengetahui lokasi kejadian tersebut.
"Hah, Sekolah Dasar?"
"Iya, benar. Aku diberi tugas untuk mengungkap kasus pembunuhan di sekolah ini,” jawab Detektif Romy.
"Kupikir, tempat ini tidak mungkin ada tindakan kejahatan, taunya ...."
"Kejahatan bisa dilakukan di mana saja. Banyak pemicu atau faktor penyebab kejahatan bisa terjadi.”
Ia pun membuka pintu mobil, tapi melihat Dinda juga akan keluar mobil, ia pun buka suara.
“Eh, Gadis Manis, kau tetap di dalam saja, dari pada mengganggu pekerjaanku.”
“Tapi, Paman. Aku mau ....”
“Enggak boleh!” larangnya, lalu melangkah menuju ke TKP.
Di sana, sudah ada polisi dan petugas forensik, sedang mengidentifikasi korban. Tergeletak tubuh seorang guru wanita dengan bekas pukulan di dahinya sampai mengeluarkan darah.
“Halo, Detektif Romy, sudah lama tidak bertemu,” sapa Inspektur Galih, di sana juga ada Opsir Kevin dan Opsir Dina beserta tim forensik yang sedang melakukan tugasnya
“Inspektur, kronologinya bagaimana?” tanya Detektif Romy.
“Korban adalah Bu Wahyuningsih (35) tahun selaku wali kelas empat. Mayat ditemukan oleh penjaga sekolah – Pak Yono, beserta tiga murid SD kelas empat yang akan melakukan piket saat pagi hari. Kemungkinan kematiannya, tadi malam sekitar pukul 21.00. Ada luka pada bagian dahi bekas pukulan sampai bocor. Luka tersebut yang membuatnya meregang nyawa. Hanya saja, yang masih jadi pertanyaan adalah, kenapa AC tidak dimatikan,” ungkap Inspektur Galih.
“Saat mayat ditemukan, ruangan ini dikunci?”
“Iya, maka dari itu, kami belum bisa menyimpulkan kejadiannya secara detail.”
“Hem ...,” gumam Detektif Romy berpikir panjang.
Sementara itu, Dinda tidak hanya diam di dalam mobil saja, melainkan dia berusaha keluar dan penasaran untuk ikut melihatnya.
Dinda diam-diam berjalan ke tempat perkara, dia penasaran kasus ala yang sedang diselidiki oleh Romy. Saat sampai di suatu tempat, dia sempat bertemu oleh tiga anak SD.
“Hei, siapa kamu? Kau tidak boleh melintasi garis polisi!” larang seorang siswi itu.
“Aku cuma mau membantu memecahkan kasus itu,” jawab Dinda.
“Memecahkan kasus? Bukannya itu tugas dari detektif?”
“Iya sih, maaf aku harus pergi!”
“Hei! Tunggu!” sahut mereka berempat. Ternyata, mereka yang turut menemukan mayat pertama kali.
Tanpa sepengetahuan orang yang di dalam, Dinda menganalisis ucapan dari polisi di balik pintu ruang kelas. Pada akhirnya, dia pun paham meskipun tidak mendengarkan dari awal.
“Siapa yang biasa memegang kunci ruangan ini?” tanya Detektif Romy.
“Kunci biasanya diletakkan di kantor di tempat yang tersembunyi. Aku dan Pak Yono lah yang tahu tempat tersebut,” ungkap Kepala Sekolah.
“Tapi ada kemungkinan juga, kunci itu diambil orang lain,” sela Opsir Kevin.
“Iya, benar juga. Tolong kumpulkan semua guru untuk berkumpul di ruangan sebelah!” suruh Inspektur Galih.
“Baik,” sahut Opsir Kevin dan Dina.
Setelah semuanya berkumpul di ruangan sebelah, Detektif Romy beserta polisi mengajukan berbagai pertanyaan satu persatu. Pertanyaan pertama yang menginterogasi keberadaan mereka saat pembunuhan terjadi tidak menemukan titik terang. Semuanya punya alibi yang kuat.
Sementara itu, tim forensik masih sibuk mencari senjata pembunuh dan bukti-bukti lain.
“Anak-anak tidak boleh mendekat ke TKP!” larang polisi yang melihat Dinda sedang melihat proses investigasi.
Dia pun bingung, karena sudah merasa kalau tempat persembunyiannya sudah aman.
“Kalian ini, cepat sana pergi!” usirnya.
“Kalian? Bukannya aku sendirian?” kata Dinda sambil melirik ke arah belakangnya. Rupanya ke tiga anak SD tadi sudah lama di sana. Pantas saja, persembunyian Dinda diketahui oleh polisi. Pada akhirnya, polisi mengusirnya dari tempat itu.
“Gara-gara kalian bertiga, aku jadi gagal mencari informasi!” umpat Dinda.
“Maaf, kami hanya ingin mengawasimu dan ingin tahu kamu sebenarnya,” ucap salah satu murid perempuan.
“Mengawasiku? Buat apa?”
“Ya ... kepo aja sih.”
“Anak kecil sepertimu tidak usah kepo urusanku, ini urusan orang dewasa,” ujar Dinda keceplosan.
“Orang dewasa? Bukankah kau masih se-umuran dengan kami?”
Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia baru menyadari kalau dirinya adalah anak kecil juga, karena belum terbiasa menjadi anak yang masih SD.
“Maksudku ... kalian tidak usah ikut campur urusan mereka!” cecar Dinda.
“Kalau begitu, kenapa tadi kau mendekat?”
‘Anjir, berabe nih, malahan diinterogasi oleh mereka, tidak jadi membantu Paman menyelesaikan kasus,’ batin Dinda dalam hatinya.
“Eh, nama kamu siapa?” tanya murid perempuan tadi.
“Aku Dinda Kirana, biasa dipanggil Dinda, lalu kalian?”
“Aku Maya Setiani, dia Dani Sanjaya, dan itu Fadil Syahrul,” ucap Maya.
“Kami bertiga pun tertarik dengan kasus,” ujar Dani.
“Iya, sebenarnya kami sudah tahu kronologinya, tapi penasaran siapa pelakunya,” imbuh Fadil.
“Benarkah itu? Coba ceritakan padaku sesuai yang kalian tahu!” desak Dinda.
“Baik, kalau begitu.”
Maya beserta temannya pun menceritakan hal itu kepada Dinda dengan rinci. Penjelasan hampir sama dengan yang diungkap oleh Inspektur saat Dinda mengintip dari tempat persembunyian.
“Oh jadi begitu,” kata Dinda yang baru saja tahu informasi tersebut.
“Selain itu, ada kejanggalan lain,” ucap Dani.
“Apa itu?” tanya Dinda.
“Kemarin, Bu Wahyuningsih sempat bertengkar dengan Pak Yono, entah itu apa masalahnya,” ujar Dani.
“Lalu, guru kelas dua – Bu Ayu memiliki masalah intern dengan korban,” imbuh Fadil.
“Masalah apa itu?” tanya Dinda.
“Entahlah,” jawab Fadil.
“Sepertinya ada perbedaan antara cara mengajar Bu Ayu dengan Bu Wahyu, atau ada persaingan di dalam benak mereka yang tidak kami ketahui,” lanjut Dani.
“Oh iya, selumbari, aku lihat Bu Wahyuningsih dekat dengan guru kelas dua, yaitu Pak Nugroho. Padahal dia sendiri sudah punya suami,” sela Maya.
“Oh, jadi begitu ya, mereka bertiga adalah tersangka kuat pembunuhan itu. Namun, apakah informasi yang kalian dapat sepenuhnya benar?” tanya Dinda memastikan.
“Ngapain kami bohong!” cecar Maya.
“Iya, itu benar,” kata Dani memihak.
Setelah itu, Dinda berlari menuju ruangan interogasi untuk menguping lagi. Rupanya, di dalam ruangan itu ada suaminya, Pak Budi. Dia menjelaskan kalau akhir-akhir ini selalu bertengkar dengannya, lalu dia pergi setiap malam dengan alasan untuk menjernihkan pikiran. Pak Budi pun berdalih, kalau dia tidak membunuhnya.
“Lalu, kenapa kau tidak mencari istrimu?” tanya Romy.
“Aku tak tahu dia ada di mana, aku coba telepon, tapi ponselnya tidak diaktifkan.”
Sementara itu, rupanya tersangka sudah dipersempit menjadi empat orang. Ada Bu Ayu, Pak Nugroho, Pak Yono yang memegang kunci, dan Pak Budi selaku suaminya.
“Pak Yono, katanya kau tadi malam datang ke sekolah, benar itu?”
“Benar, aku datang ke sekolah jam delapan malam untuk memeriksa situasi, tapi tidak ada apa-apa di sini.”
“Berarti benar, pembunuhan dilakukan pukul 21.00 setelah Pak Yono pergi.” Inspektur menyimpulkan.
“Jadi, semua tersangka memiliki Alibi kuat,” ujar Romy sambil memegang janggotnya.
“Inspektur, aku baru saja menemukan benda yang diduga senjata pembunuhan!” seru Opsir Kevin.
“Raket tenis meja?” ujar Inspektur Galih kaget.
Mereka berempat memasang ekspresi yang sama setelah polisi menemukan benda tersebut.
“Adakah sidik jarinya?”
“Tidak ada, inspektur.”
“Apa?!” cecar Inspektur Galih sambil memegang kepalanya.
“Paman, apa kau tidak ingin bertanya, tentang hobi mereka?!” sela Dinda dari samping pintu.
“Heh! Anak kecil, pergi kau!” usir Romy.
“Dia anakmu, Pak Romy?” tanya Inspektur Galih.
“Dia anak kerabatku yang aku asuh untuk sementara waktu.”
Setelah beberapa saat, Romy baru menyadari sesuatu. Dia teringat dengan perkataan Dinda saat itu.
‘Hobi, hobi, hobi,’ batinnya dalam hati, satu kata tersebut membuat pikirannya seperti ada yang mengganjal.
Setelah itu, dia memeriksa data para tersangka di catatannya. Setelah itu, dia memasang wajah tersenyum puas.
‘Begitu, ya rupanya.’
“Inspektur?!”
“Iya, bagaimana?”
“Kita sudah memecahkan kasus ini,” ujar Detektif Romy dengan wajah serius.
“Benarkah itu?”
“Iya, tersangka mengajak korban untuk bertemu di tempat ini. Mungkin saja, dia punya kunci cadangan dan dibuat persis seperti kunci yang asli.”
“Jadi, pembunuhnya siapa, Pak Detektif?”
“Pembunuhnya adalah kau ....”