“Pembunuhnya adalah kau, Pak Nugroho!” seru Detektif Romy sambil mengacungkan jari telunjuk padanya.
“Bagaimana bisa aku?”
“Opsir Kevin, coba geledah sakunya!” suruh Inspektur Galih.
“Baik.”
Dengan paksa, Opsir Kevin mencari sesuatu di saku tersebut, meskipun Pak Nugroho menolak dengan dalih tidak membunuh korban.
“Inspektur, tidak ada barang mencurigakan di sakunya. Kami tak menemukan barang mencurigakan,” lapor Opsir Kevin.
“Coba suruh dia melepas kaus kakinya!” suruh Detektif Romy.
Dengan berat hati, Pak Nugroho melepas kaus kakinya. Semua orang di sana dibuat kaget setelah mengetahui ada kunci di dalam kaus kaki. Setelah itu, Opsir Kevin menyerahkannya ke Inspektur. Lalu, Inspektur memeriksa kedua kunci itu dan sama persis.
“Kunci buatan yang sama. Ini barang bukti kuat pembunuhan itu,” ucap Inspektur.
“Jadi, itulah alasannya, beberapa hari yang lalu, dia meminjam kunci dan selalu berangkat ke sekolah terlebih dahulu, ya?” kata Pak Yono.
“Benar, dia ingin menjadikan Pak Yono yang tidak bersalah menjadi tersangka kuat pembunuhan itu, karena kunci dipegang oleh Anda. Dia pun membuat isu, agar Pak Yono dan korban sempat bertengkar,” ujar Romy.
“Luka korban berada di dahi sebelah kanan. Aku bisa menebak, saat itu, korban dengan Pak Nugroho sedang bertatapan muka, sepertinya sedang berdebat. Lalu, Pak Nugroho memukul dahi sebelah kanannya hingga korban tewas bersimbah darah,” ungkap Detektif Romy.
“Bagaimana bisa mati? Kenapa dia mengarahkan dahi sebelah kanannya?” tanya Inspektur.
“Kenapa dia mengarahkan dahi kanan saat bertatap muka, karena dia kidal,” ungkap Detektif Romy yang membuat orang-orang di sana kaget. Sementara itu, Dinda yang berada di luar ruangan tersenyum puas. Dia harus mengakui kehebatan Detektif Romy, meskipun diberi sedikit stimulan, dia bisa memecahkan kasus itu dengan baik.
“Aku baru teringat, kalau hobi Pak Nugroho adalah bermain tenis meja. Hobi itu, membuat tangan kirinya semakin kuat untuk memukul seseorang. Dengan pukulan yang kuat itu, korban tewas seketika. Ada satu fakta lagi, kenapa AC masih dinyalakan? Karena pembunuhan sebenarnya dilakukan sekitar petang. Tujuan AC dinyalakan untuk memanipulasi waktu kematian, sehingga menciptakan alibi kuat baginya. Pak Nugroho, sekarang akui saja, kau yang telah membunuhnya!” desak Detektif Romy.
Nugroho pun tertunduk lesu, air matanya berlinang keluar dari kelopak matanya.
“Baik, aku akui, memanglah aku pembunuhnya.”
“Woy! Rupanya kau ya? Pembunuhnya, kau harus menanggung akibatnya!” sergah Pak Budi yang tidak terima kalau istrinya dibunuh olehnya.
“Tenang, Pak. Serahkan semuanya pada polisi,” ucap Opsir Kevin menenangkan, lalu membawanya pergi dari ruangan itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Atas dasar apa, kau tega membunuhnya?” tanya Inspektur Galih.
“Aku menjalin hubungan gelap dengan dirinya. Dia mengaku sudah hamil hasil dari hubunganku dengannya. Tapi aku sempat mengelak, karena belum tentu akulah yang menghamilinya karena dia sendiri punya suami.”
“Memangnya Pak Nugroho pernah melakukan hubungan badan dengan korban?”
“Pernah satu kali, tak menjamin kalau anak di dalam perutnya adalah hasil hubunganku dengannya.”
“Itulah yang menjadikan alasan kuat, ada niat untuk membunuhnya?”
“Benar, karena aku takut dengan suaminya apabila nanti anaknya sudah lahir, dia tahu kalau itu bukan anaknya.”
“Pak Nugroho, kau melakukan tindakan yang melanggar norma sosial, yaitu merebut istri orang, dan kriminal, yaitu melakukan pembunuhan. Apakah Anda menyesal?” tanya Detektif Romy.
“Iya, aku menyesali semua perbuatanku.”
“Untuk ke depannya, kalau kau menyukai perempuan, lihat-lihat dulu, apakah dia masih sendiri, atau sudah ada yang punya,” saran Detektif Romy.
“Sekarang, ikut kami ke kantor polisi,” ucap Opsir Kevin meletakkan borgol pada tangannya.
“Pak Yono, aku mohon maaf atas tindakanku ini, yang menjadikanmu ikut tersangka,” ucap Pak Nugroho.
Pak Yono tidak menjawab, sepertinya dia sudah terlanjur membencinya. Mayat Bu Wahyuningsih dibawa oleh mobil ambulans pergi, sementara pelaku kejahatan, Pak Nugroho dibawa menggunakan mobil polisi.
Petugas forensik membersihkan tempat kejadian itu agar keadaan kembali normal. Kegiatan belajar mengajar di sekolah itu terpaksa diliburkan akibat insiden itu.
“Pak Detektif, kamu keren sekali. Tak seperti biasanya kau mampu memecahkan kasus dengan mudah,” puji Inspektur Galih.
“Itu kan ...?” ucap Romy sambil menggaruk kepalanya.
“Biasanya kan, analisismu selalu salah,” umpat Inspektur Galih, lalu meninggalkannya pergi.
‘Dasar!’ batin Romy dalam hati, lalu keluar dari ruangan tersebut.
“Dinda, kau hebat sekali. Kau bisa membantu pamanmu menyelesaikan kasus,” puji Maya.
“Betul, kalau kau tidak mengatakan ‘hobi’ mungkin kasus belum terpecahkan,” imbuh Dani.
“Ngomong-ngomong, kau sekolah di mana?” tanya Fadil.
“Aku ... tidak sekolah, aku baru pindah dari Greenville kemarin.”
“Kalau begitu, sekolah di sini aja, kita buat grup detektif cilik, gimana?” saran Maya.
“Ide yang bagus, tapi aku belum tahu, Paman akan menyekolahkanku di mana,” dalih Dinda.
“Begitu ya, kuharap kau bisa sekolah bersama kami, karena kau ini pintar,” ujar Dani.
“Juga cerdas!” imbuh Fadil.
“Kalian ini bisa aja.”
Tidak jauh dari sana, Kepala Sekolah menemui Detektif Romy.
“Pak Detektif, silakan ke kantor dulu, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
“Baik.”
‘Asyik, pasti aku dapat honor yang banyak,’ batin Detektif Romy.
Setelah memasuki ruangan kantor, Detektif Romy duduk di depan kepala sekolah sambil senyum-senyum sendiri, karena menganggap akan mendapat bayaran.
“Jadi, aku mengajak Pak Detektif ke kantor, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan,” ucap Kepala Sekolah mengawali pembicaraan.
“Iya, iya. Langsung saja,” kata Romy tidak sabar ingin menerima upah.
“Baik, langsung saja. Saya dari tadi mengawasi bocah laki-laki yang kamu bawa kemari. Jadi, saya beserta pihak sekolah ingin memberikan beasiswa padanya yang telah turut andil memecahkan kasus ini. Agar anak itu bersekolah di sini tanpa harus bayar uang bulanan sampai dia lulus.”
‘Lah, kupikir apa,’ gumam Detektif Romy dalam hati.
“Bocah itu kelas empat kan?”
“Iya, sepertinya,” jawab Romy dengan lesu, karena sudah dipastikan tidak dapat bayaran.
“Jadi, selama setahun, Anda boleh menyekolahkannya di sini tanpa harus membayar bulanan.”
“Jadi, aku tidak dapat bayaran?” tagih Romy.
“Bayaran apa? Kami dari pihak sekolah sudah membayar polisi. Yah, kalau Bapak ingin bayaran, mungkin minta dari pihak kepolisian saja, karena anggaran sudah tercantum.”
‘Sial!’ umpat Romy dalam hati.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Detektif yang sudah membantu pihak kepolisian memecahkan kasus.”
“Iya, sama-sama.”
Detektif Romy keluar dari ruangan itu dengan kecewa, karena tak sedikit pun mendapatkan bayaran atas apa yang dia lakukan.
“Paman, apa yang kepala sekolah katakan?” tanya Dinda yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Besok kau boleh sekolah di situ.”
“Wah, asyik. Terima kasih, Paman.”
‘Dasar Bocah!’ umpat Romy dalam hati, ‘namun, entah kenapa, semenjak ada bocah itu, aku lebih mudah dalam menangani kasus? Tidak seperti sebelumnya yang kesulitan dalam proses analisis. Lantas, siapakah bocah itu sebenarnya ...?”