‘Lantas, siapakah bocah itu sebenarnya?’ batinnya sambil melirik ke arah Dinda yang sedang asyik melihat pemandangan kota dari dalam mobil.
‘Tapi setelah dipikir-pikir, dia cuma anak biasa, atau mungkin saja karena pikiranku sedang tak karuan?’
Beberapa saat kemudian, mobil pun sampai di rumahnya, lalu memasuki garasi dan parkir di sana. Meskipun mobil itu keluaran lama, tapi cukup bisa membantu dalam mencapai tempat yang jauh. Ia tak punya niat untuk membeli mobil baru, karena kendaraan itu sangatlah bersejarah dan penuh kenangan.
Detektif Romy hanya tinggal bersama anak perempuannya, Rania. Karena sudah lama bercerai dengan istrinya. Dia lebih memilih hidup bersama anaknya, karena selalu saja mendapatkan konflik di kehidupan rumah tangganya.
“Kami pulang!” sahut Romy dan Dinda dengan kompak.
“Ayah, aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua,” ucap Rania yang rupanya sudah pulang dari sekolah.
“Wah, pas sekali, aku lapar,” ucap Romy.
“Eh, ngomong-ngomong, bagaimana dengan kasusnya?” tanya Rania kepada Dinda.
“Lancar, Kak. Paman berhasil memecahkan kasus tadi dengan baik,” jawab Dinda sambil makan.
“Heh! Harusnya kau tanyakan padaku! Bukan tanya sama bocah itu!” hasut Romy.
“Apa salahnya? Hahaha,” ucap Rania tertawa.
“Kalau mereka meneleponku lagi, aku tidak akan datang,” cecar Romy.
“Memangnya kenapa, Yah? Bukankah itu pekerjaanmu?” tanya Rania.
“Aku sudah capek dan pusing demi memecahkan kasus, mereka tak mau membayarku.”
‘Dasar Pak Tua aneh!’ ledek Dinda dalam hati sambil memasang wajah jelek.
“Bagaimana bisa begitu?” tanya Rania.
“Rupanya, mereka sudah memanggil pihak kepolisian. Kehadiranku di sana cuma untuk membantu saja.”
“Tapi Paman hebat loh, bisa memecahkan kasus itu. Polisi saja tidak bisa,” puji Dinda.
“Itu karena aku yang cerdas, ha-ha-ha.”
‘Pak Tua, Pak Tua. Kalau aku tidak memberi petunjuk untuk menanyakan hobi, pasti sampai sekarang kasus belum terpecahkan,’ batin Dinda.
“Ayah serius, tidak mendapatkan bayaran apa pun dari mereka?”
“Iya, hanya saja. Bocah ini dapat beasiswa untuk bersekolah di sana sampai lulus.”
“Wah, beneran itu, Dinda?” tanya Rania.
“Betul itu, Kak. Akhirnya aku bisa bersekolah.”
“Bagaimana bisa kau dapat beasiswa? Bukannya yang memecahkan kasus adalah ayahku?”
‘Dasar Pak Tua, kalau wujudku bukan anak kecil, pasti aku akan memecahkan kasus itu seorang diri,’ umpat Dinda dalam hati.
“Entahlah, Kak. Mungkin karena hoki aja.”
“Baguslah kalau begitu, berarti nanti malam kau harus tidur lebih awal, karena besok sekolah!” perintah Rania.
“Siap, Kak.”
**
Keesokan harinya, Dinda bangun dan bersiap untuk bersekolah. Dia mandi, lalu memakai seragam SD.
“Anjirr! Jadi mengulang kembali masa itu,” umpat Dinda lirih setelah melihat ke dirinya sendiri. Ia pun merasa dirinya tak cocok menjadi seorang gadis perempuan yang imut.
Dia berjalan kaki bersama Rania dengan saling bergandengan seperti kakak-adik yang rukun.
‘Semakin cantik juga perempuan ini, sudah lama aku tak bertemu dengannya,’ batin Dinda dalam hati curi pandang dengan Rania.
Setelah sampai di depan sekolah, Dinda meminta untuk ditinggal saja karena tak ingin merepotkannya. Rania pun heran, karena Dinda merupakan anak baru yang seharusnya diantar sampai kelas, tapi akhirnya, dia mengiyakan saja. Belum lama ia melangkah, di sana ada kepala sekolah.
“Kamu Bocah yang kemarin ya, ikut Bapak dulu ke kantor,” suruh Kepala Sekolah dengan nada lembut.
“Baik, Pak.”
Di dalam kantor, Rodhif diharuskan mengisi data diri. Namun, iabingung harus bagaimana karena saat itu masih menyamar jadi anak kecil. Pada akhirnya, asal tulis saja dan memalsukan identitasnya.
“Sudah, Pak.”
“Baik, sekarang aku antar kau ke ruang kelas,” ucapnya sambil menyuruh Dinda mengikutinya. Dinda berjalan di belakang kepala sekolah sambil melihat ke sekelilingnya. Meski masih sekolah dasar, tapi gedung sudah berlantai dua.
‘Sekolah Negeri dengan Akreditasi yang bagus,’ batinnya.
Di depan ruang kelas, ada Wali Kelas baru yang menggantikan Bu Wahyuningsih berdiri di depan pintu.
“Eh, rupanya ada satu murid lagi. Kau hampir telat, Nak,” ucapnya.
“Begini, Bu. Ini murid baru yang baru saja berangkat hari ini,” ujar kepala sekolah, “aku serahkan dia padamu, ya!”
“Murid baru? Kebetulan aku juga guru baru, mari masuk!” ajaknya.
Dinda mengernyit, dalam hatinya bersyukur, karena gurunya tidak memberi hukuman atas keterlambatannya. Mungkin saja karena dia datang dengan diantar Kepala Sekolah.
“Hei Nak! Kamu ke depan kelas dulu, perkenalkan dirimu sama teman-teman yang lain!” suruh guru tadi.
“Baik, Bu,” jawab Dinda.
Sementara itu, Maya, Dani, dan Fadil yang sudah pernah bertemu Dinda tersenyum, karena mereka akan punya teman baru yang cerdas.
“Halo, teman-teman, namaku Dinda Kirana, biasa dipanggil Dinda. Aku tinggal di Brooksville nomor 26.”
“Ada pertanyaan?” tanya Wali Kelas.
Murid-murid hanya terdiam, lalu Wali Kelas mempersilakan Dinda untuk duduk di bangkunya.
Kebetulan, bangku kosong ada di samping Maya. Maya pun mempersilahkan Dinda untuk duduk di sampingnya. Dia senyum-senyum sendiri karena sudah tahu kecerdasan Dinda.
“Oke, anak-anak. Sekarang giliranku memperkenalkan diri ya. Namaku Monica, anak-anak semua bisa memanggilku Bu Icha, ya.”
“Halo, Bu Icha!” sahut murid-murid.
“Halo juga, di sini saya menggantikan peran dari wali kelas sebelumnya, ya.”
“Siap, Bu.”
Pada akhirnya, Dinda mengikuti pelajaran Sekolah Dasar. Dia terpaksa mengulangi hal itu demi berperan menjadi anak-anak.
Sepulang sekolah, dia langsung dihampiri oleh ketiga temannya.
“Tak kusangka, kau sekolah bersama kami,” ucap Dani.
“Aku kan kemarin bilang, dia harus sekolah di sini,” ujar Fadil.
“Jadi, gimana? Kita bentuk grup Detektif Cilik, ya?” saran Maya.
“Aku setuju,” sahut Dani dan Fadil.
“Bagaimana menurutmu, Dinda?” tanya Maya.
Dinda memasang wajah lesu, lalu menjawab, “terserah kalian saja.”
“Hore! Kita berempat adalah Detektif Cilik!” sahut mereka bertiga, kecuali Dinda yang memasang wajah jelek.
‘Dasar kalian,’ umpat Dinda dalam hati.
Hari itu, langit sedikit mendung saat bel pulang sekolah berbunyi. Dinda, murid baru kelas 4A, menyandang tas birunya dan melangkah keluar gerbang SD Harapan Bangsa. Meski baru sehari di kelas barunya, ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya sejak hari pertama: seorang siswa bernama Fadil.
Anak itu berbadan bulat, pipinya tembam seperti bakpao, dan suaranya selalu terdengar paling keras di kelas. Di mata semua orang, Fadil adalah anak biasa, sedikit usil, sedikit malas, tapi logika dalam berpikirnya cukup baik di usianya. Hanya saja, terkadang teledor. Itulah penilaian dari Dinda selama satu hari bersama di kelas.
Di mata Dinda, ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya.
Sejak awal, ada sesuatu yang aneh. Nama "Fadil" terlalu mirip dengan nama yang pernah Dinda dengar sesaat sebelum dia dieksekusi menggunakan suntikan yang berisikan serum berwarna kehijauan. Fadil adalah seorang anggota organisasi rahasia yang menghadangnya di kota seberang. Nama itu masih diingatnya dan terukir secara jelas di otaknya.
Dinda tak bisa berhenti berpikir. ‘Bagaimana kalau Fadil bukan anak biasa? Bagaimana kalau dia memang Fadil yang aku lihat dulu?’
‘Aku masih mencurigai bocah gendut itu. Siapa tahu, dia memata-matai pergerakanku dan melaporkan kepada bosnya. Tapi apa benar, dugaanku tepat seperti itu? Fadil ... aku tak akan membiarkanmu mengetahui identitas asliku. Aku harus tetap menyembunyikannya.’
Semua perkiraannya belumlah benar atau hanya dugaan belaka, dia harus mendapatkan bukti yang kuat untuk menjelaskan kalau anak gemuk itu bukanlah seseorang dari organisasi yang menyusut seperti dirinya, akibat disuntik oleh serum yang berbahaya. Tak ada yang mencurigakan secara nyata. Namun, Dinda merasa, instingnya mengatakan ada yang tidak beres.
Sore itu, sepulang sekolah, ia duduk di meja belajarnya, membuka buku cerita tentang mafia. Dia membaca dengan serius dan mengamati jalan cerita mafia tersebut.
Hampir sama dengan yang dia alami. Di dalam cerita, mafia itu memproduksi sebuah serum agar orang yang meminumnya bisa kembali di usia sepuluh tahun sebelumnya. Dinda menyimpulkan; serum-serum itu digunakan oleh penjahat agar dirinya tak cepat tua. Namun, serum itu lebih efektif digunakan dalam lima atau enam tahun sekali. Kalau tidak, bisa jadi, meregang nyawanya sendiri.
‘Akankah serum di dunia ini akan seperti cerita itu?’ batin Dinda.