Dinikahi Paman Mantan - Bab 12

Penulis Nuvola
27 September 2025

Lily tak hanya memotret makan siangnya, tapi juga langsung mengunggahnya ke media sosial dengan caption singkat “Lunch.” Tak butuh waktu lama, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya—Agam menyukai postingan itu. Senyum Lily merekah tanpa bisa ia tahan, jantungnya berdetak cepat seolah ingin meloncat keluar dari dadanya.

“Kenapa seneng banget ya rasanya?” gumam Lily pelan, refleks menggigit ujung kukunya. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, heran karena hal kecil seperti itu bisa membuat dadanya penuh bunga. “Nggak salah kan ya kalau tiba-tiba aku suka sama Om Agam? Lagipula… kita udah nikah,” lanjutnya lagi, kali ini lebih lirih.

Pikiran itu berputar-putar, membuat Lily melamun cukup lama. Ia bahkan tidak sadar ketika pintu ruangannya terbuka.

“Kenapa belum makan siang?” suara berat itu memecah lamunannya.

Mata Lily langsung membulat, tubuhnya sedikit terlonjak kaget. Agam. Pria itu berdiri di depan pintu dengan wajah tenang, satu tangan menyelip di saku celananya.

“Kok Om di sini?” suara Lily terdengar ragu.

“Aku ada waktu tiga puluh menit sebelum berangkat dinas. Karena restoran lebih dekat ke sini, jadi aku mampir untuk istirahat.” Penjelasan Agam terdengar sederhana, tapi justru membuat kening Lily berkerut.

“Lebih dekat dari sini? Bukannya restoran itu di samping kantornya?” batinnya penuh tanda tanya.

Agam yang memperhatikan ekspresi Lily hanya menghela nafas. “Bengong lagi! Makan siang dulu. Ini udah lewat jam satu,” ucapnya sambil menyentil lembut dahi Lily.

“Iya, iya…” Lily buru-buru meraih sendoknya dan mulai makan, meski perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada makanan. Sesekali matanya melirik ke arah Agam.

Pria itu melepas jasnya, meletakkannya rapi di sandaran sofa, lalu melonggarkan dasi di lehernya. Gerakan sederhana itu justru membuatnya terlihat jauh lebih menarik di mata Lily. Ada sesuatu pada sosok Agam yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan—sederhana, tapi berwibawa sekaligus hangat.

Agam meletakkan dasi di kepala sofa, kemudian duduk di samping Lily. Mereka hanya berjarak sejengkal, membuat Lily semakin salah tingkah. Ia bisa merasakan kehadiran Agam begitu dekat.

Lily menyadari tatapan Agam yang beberapa kali mengarah kepadanya, seolah pria itu ingin mengatakan sesuatu. Namun pada akhirnya, Agam memilih sibuk dengan ponselnya. Sementara itu, Lily kembali menunduk, pura-pura fokus pada makanan yang sebenarnya tak lagi ia rasakan.

Waktu berjalan cepat. Tiga puluh menit seolah terlewat dalam sekejap. Agam bangkit dari duduknya, kembali merapikan pakaiannya, dan meraih dasi yang tadi ia lepas.

“Sudah mau berangkat, Om?” tanya Lily sambil ikut berdiri. Ia memberanikan diri melangkah mendekat, lalu dengan hati-hati merapikan dasi di leher Agam. Jemarinya bergerak pelan, dan ia bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu begitu dekat.

“Hmm,” jawab Agam singkat, tapi matanya sempat menatap dalam ke arah Lily. “Aku sudah buat janji dengan Luna untukmu,” ucapnya tiba-tiba.

“Untukku?” Lily menatap bingung.

“Bukankah kamu butuh gaun untuk datang ke acara pernikahan adikmu itu?”

“Oh…” Lily mengangguk pelan, pikiran Lily kembali melayang entah ke mana.

“Om akan datang?” tanyanya kemudian, memberanikan diri menatap mata pria itu.

“Tentu saja, kenapa?” Agam membalas tatapannya datar.

“Nggak papa. Cuman nanya.” Lily tersenyum kecil, lalu melangkah mundur. “Ya udah, pergilah.”

Agam menatapnya sebentar, lalu hanya menggumamkan “Hmm.” Nada suaranya terdengar berbeda, lebih pendek, dingin, seolah ada sesuatu yang mengganggunya. Tanpa menambahkan kata lain, ia berbalik dan meninggalkan ruangan Lily.

Lily hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. “Dia sulit ditebak…” gumamnya sambil menghela nafas, lalu kembali ke meja kerjanya.

Sementara itu, Agam keluar dengan wajah yang jelas berbeda dari saat ia datang tadi. Rautnya tampak kesal, bahkan Dion—yang sudah menunggu di lobby—langsung bisa merasakannya. Namun ia memilih diam, terlalu takut untuk bertanya.

Mobil melaju keluar dari area kantor. Sunyi cukup lama sebelum Agam akhirnya berbicara. “Jika kau pergi dinas, apa istrimu bertanya ke mana?”

“Tentu saja, Tuan,” jawab Dion cepat.

Agam mendengus pendek. “Lalu kenapa dia tidak bertanya apa-apa?” Suaranya sarat kekecewaan.

Dion langsung mengerti penyebab kemurkaan tuannya. Lily. Ia bingung harus menjawab apa, takut salah ucap dan justru memperburuk suasana.

Namun sebelum ia sempat merangkai jawaban, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Dion melirik layar, lalu tersenyum lega. “Nyonya baru saja mengirim pesan kepada saya… menanyakan Tuan pergi ke mana dan berapa lama.”

Agam spontan merebut ponsel itu dari tangan Dion. Matanya menatap layar dengan seksama, lalu sudut bibirnya terangkat menampilkan senyum kecil yang jarang terlihat. “Tapi kenapa dia tidak bertanya langsung padaku?”

“Mungkin karena Nyonya malu untuk bertanya,” jawab Dion hati-hati.

Agam mengangguk pelan, seolah jawaban itu masuk akal baginya. Senyum samar masih tertinggal di wajahnya. Lalu, tanpa aba-aba, ia melemparkan sebuah black card ke pangkuan Dion.

“Kau beli ponsel lain,” ucapnya singkat, kembali fokus menatap ponsel Dion yang kini ada di tangannya.

“Baik, Tuan…” Dion hanya bisa menerima dengan pasrah, meski dalam hati ia heran dengan cara berpikir Agam. Namun satu hal yang ia tahu—Nyonya benar-benar punya tempat istimewa di hati Tuan-nya.

Lily baru saja meletakkan ponselnya di atas meja ketika pintu ruangannya diketuk pelan, lalu terbuka. Sosok Agung, ayahnya, masuk dengan wajah serius.

“Agam sudah pergi?” tanyanya sambil melirik ke sofa kosong.

“Ya, seperti yang Ayah lihat,” jawab Lily datar tanpa menoleh, jemarinya tetap sibuk mengetik di keyboard.

Agung melangkah lebih dalam, lalu berdiri di sisi meja putrinya. “Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Agam soal kerjasama perusahaan. Menurutmu… kira-kira kapan dia ada waktu ya?”

“Entahlah,” Lily menjawab ringan, matanya tetap terpaku pada layar komputer. “Tanyakan saja sendiri.”

Nada santai itu membuat dahi Agung berkerut. Ia menarik nafas, menahan kesal. “Lily, Ayah serius.”

Baru kali ini Lily menghentikan ketikannya. Ia bersandar ke kursi, lalu menatap ayahnya sebentar sebelum kembali menunduk pada layar. “Dia pergi. Aku nggak tahu kapan pulang, dan aku juga nggak tahu pergi ke mana.”

Agung menatapnya dengan wajah heran. “Kamu nggak nanya?”

Lily menggelengkan kepala santai.

“Kamu kan istrinya,” tegas Agung dengan nada menekan.

Lily akhirnya menoleh penuh, matanya menatap ayahnya dengan sorot tajam bercampur lelah. “Lalu? Kami menikah hanya untuk menepati perjanjian dua keluarga. Ayah berharap apa dengan pernikahanku?”

Ucapan itu membuat Agung terdiam, seperti kehilangan kata. Rahangnya mengeras, namun tidak ada bantahan yang keluar.

Lily mendengus kecil, lalu kembali memutar kursinya menghadap komputer. “Jika Ayah ingin bantuan dari menantu Ayah, maka mintalah bantuan dengan Rafael. Dia juga Bamantara, bukan?” ucapnya enteng, seakan membicarakan sesuatu yang remeh.

Nada itu seperti tamparan bagi Agung. Bahunya merosot sedikit, dan setelah beberapa detik sunyi, ia memilih berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu ruang kerja Lily menutup perlahan, meninggalkan suasana hening yang hanya diisi suara ketikan keyboard.

Lily menarik napas panjang, matanya sempat menerawang kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup. Ada getir yang ia sembunyikan di balik wajah dinginnya, dia tak lagi ingin menjadi anak penurut. Bagi dia semua yang dia lakukan selama ini sudah lebih dari cukup.