Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 26

27 September 2025

Dua hari kemudian, Arini sudah menerima surat perjanjian yang sudah ditandatangani.

“Simpanlah untuk menjagamu di masa depan. Surat perjanjian itu berkekuatan hukum,” ucap Gibran saat melihat Arini hanya memandangi kertas di tangannya dengan tatapan kosong.

“Pada akhirnya, ibu menerima uang itu?” tanya Arini entah kepada siapa, karena pandangannya masih mengarah pada kertas di tangannya.

“Tentu saja awalnya ibumu menolak. Tapi dia tidak punya pilihan lain bukan? Pilihannya cuma dua, mendapatkan segitu, atau tidak mendapatkan sama sekali,” jawab Gibran.

“Tapi walaupun jumlahnya setengah dari yang ibu minta, itu masih nilai yang besar,” gumam Arini.

Gibran tidak menjawabnya.

Terjadi keheningan yang tidak nyaman di ruangan ber-AC itu. Tidak ada yang berbicara untuk beberapa waktu. Hanya ada suara napas masing-masing. Sampai kemudian ….

“Pak, saya mau bertemu dengan pria itu,” ucap Arini.

“Apa?” tanya Gibran.

“Saya mau bertemu dengan pria yang menginginkan anak itu. Bisa Bapak mengatur pertemuan kami?” Bola mata Arini jernih dan cantik saat menatap Gibran dengan penuh keyakinan. Tidak! Itu bukan tatapan penuh keyakinan, tapi keputusasaan.

“Kamu sudah memikirkannya, Arini?” tanya Gibran hati-hati. Ia tidak mau, Arini hanya mengatakan hal impulsif yang akan disesalinya kemudian.

Arini menggeleng. “Tidak ada yang tersisa lagi dalam hidup saya. Bukankah bagus melunasi utang sesegera mungkin?”

Gibran dilema. Di satu sisi, ia senang dengan keputusan Arini. Tapi di sisi lain, ada sejenis patah hati yang tak tergambarkan di sana.

“Kalau kamu tidak mau, masih ada cara lain, Arini. Selalu ada cara lain.” Entah mengapa Gibran malah mengatakan hal yang tidak sesuai dengan isi hatinya.

Arini kembali menggeleng. “Dalam kondisi saya saat ini. Bahkan jika saya menyerahkan keseluruhan gaji saya untuk mencicil utang ini, akan memerlukan waktu setidaknya delapan sampai sepuluh tahun untuk melunasinya. Selama sepuluh tahun itu … saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi saya memberianikan diri untuk bertaruh, mengambil kesempatan itu. Saya hanya berharap, pria itu cukup baik untuk memberikan saya sedikit kebahagiaan. Juga … perlindungan.”

“Bukan hanya sedikit. Pria itu akan memberikan semua kebahagiaan yang kamu inginkan di dunia ini,” gumam Gibran. Suaranya begitu lirih, hingga Arini yang tengah melamun pun tidak bisa mendengarnya.


Malam itu Gibran kembali menemui Hansen dan Erik di tempat terakhir kali mereka bertemu. Adalah Gibran yang tiba terlebih dahulu, disusul Hansen, dan Erik kemudian. Pria yang terakhir datang membawa segelas coffee cup yang jelas menarik kecurigaan dua sahabatnya.

“Kali ini benar-benar kopi. Aku pulang meeting dan datang langsung ke sini,” ucap Erik seraya duduk di atas sofa.

“Kenapa kamu menjelaskannya?” tanya Hansen.

“Aku hanya tidak mau kalian berpikir ini wine,” jawab Erik acuh tak acuh.

“Walaupun itu wine, tidak ada hubungannya dengan kami,” balas Hansen.

“Hei! Ini kopi! Kalau tidak percaya, ciumlah!” Erik mendekatkan coffee cup itu ke hadapan Hansen hingga sang sahabat mengerling ke arahnya. “Kopi ‘kan?”

“Kamu ini benar-benar haus validasi!” gerutu Hansen.

“Hentikan! Bisakah kalian berhenti berdebat.” Gibran yang sedari tadi diam saja pada akhirnya tidak tahan lagi dengan ulah kedua sahabatnya itu.

“Yo … Gibran! Kamu kenapa terlihat sangat kusut? Apakah Nona Arini itu menolak cintamu?” tanya Erik.

Gibran hanya menatapnya dengan tatapan ancaman. Itu bisa diartikan sebagai ‘diamlah!’.

“Jadi, apa yang terjadi?” tanya Hansen.

“Dia setuju,” jawab Gibran. Tapi, tidak ada kesenangan sama sekali dalam nada bicaranya.

“Hei! Bukankah itu berita bagus? Kenapa ekspresimu seperti itu?” tanya Erik.

“Dia setuju karena putus asa, tidak punya pilihan lain, bukan karena memang menginginkannya,” jawab Gibran.

“Itu bukan masalah. Asalkan dia ada didekatmu, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya bukan?” ucap Erik.

“Kamu berkata begitu seolah pernah jatuh cinta saja!” timpal Hansen.

“Ya … bukankah begitu teorinya, tuan pecinta?” Ada nada ejekan kepada Hansen saat mengatakannya.

Hansen mengabaikan ucapan Erik, kemudian menatap Gibran dengan tatapan penuh. “Ini mungkin terdengar klasik, tapi kali ini aku setuju dengan Erik. Mungkin pada awalnya dia menerimamu karena terpaksa. Tapi seiring berjalannya waktu, kamu bisa menunjukkan apa itu cinta dan ketulusan padanya. Dia … pasti akan luluh pada akhirnya. Tidak ada wanita yang menolak kelembutan.”

Kedua sahabat itu menatap Hansen dengan kekagumannya tersendiri. Sepertinya gelar ‘sang pecinta’ tidak salah disematkan Erik padanya. Bagaimana tidak. Di antara ketiganya, memang hanya Hansen yang pernah merasakan jatuh cinta hingga menikah. Mereka juga tahu, betapa besar cinta Hansen kepada Sifa.

“Jadi menurutmu, aku harus tetap menikahinya walau mungkin dia tidak akan tersenyum di pesta pernikahan kami?” tanya Gibran.

Hansen mengangguk.

Gibran menatap Hansen cukup lama, sampai kemudian ia mengangguk. Setelah beberapa waktu, ia cukup rileks untuk menanyakan kelanjutan Erik yang bertugas menangani Yesi.

“Ya … aku cukup mahir dalam melakukannya. Dia sudah naik ke mobilku,” jawab Erik dengan angkuhnya.

“Secepat itu?” tanya Hansen.

“Tidak akan ada yang menolak pesona pria tampan,” jawab Erik masih dengan kesombongan yang sama.

“Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Hansen.

“Sedikit skema sinetron. Dia diganggu beberapa pria, dan aku datang sebagai pahlawan.” Erik menaikturunkan kedua alisnya, meminta pujian.

“Bahkan jika kamu tidak melakukan hal merepotkan itu, asalkan kamu membawa mobil bagus, dia akan dengan senang hati ikut denganmu,” tukas Gibran.

“Benarkah? Kenapa kamu tidak mengatakan sebelumnya? Huh! Sia-sia saja aku mengeluarkan begitu banyak uang untuk membayar pria-pria berbadan besar itu.” Erik merasa hal yang sebelumnya ia sombongkan menjadi tidak berguna.

Hansen hanya terkekeh mendengarnya.

Detik berikutnya, ponsel Erik berdenting satu kali. Sebuah pesan masuk dari nomor Yesi. Ia melirik Gibran sebelum membacanya.

Yesi mengirim sebuah foto anting-anting dari merek buatan Italia. Di bawahnya, ia juga menulis,

[Apakah anting-anting ini akan cantik jika aku memakainya?]

Erik mendengus. “Sepertinya bayaran velg mobil tidak sebanding dengan apa yang akan aku keluarkan. Dia benar-benar ingin merampok uangku hingga tak bersisa.”

“Apa yang terjadi?” tanya Hansen.

Erik membalik ponselnya hingga menghadap ke arah dua sahabatnya. Keduanya sontak tertawa.

“Belikan saja. Aku yang bayar,” ucap Gibran acuh tak acuh.

“Kamu sungguh murah hati!” ucap Erik dengan nada sarkasme. Ia juga menulis beberapa balasan di bawahnya.

[Tentu saja, kamu yang terbaik. Kirim saja tagihannya padaku. Aku menantikan pertemuan kita selanjutnya. Ingatlah untuk memakainya nanti.]

“Hanya sampai aku menikah dengan Arini. Kamu tidak harus berhubungan dengannya lagi,” ucap Gibran.

“Baiklah … baiklah …,” jawab Erik malas.

TING! Sebuah pesan balasan masuk.

“Lihat! Dia mengirim foto selfienya sebagai balasan!” seru Erik.