Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 27

27 September 2025

Seperti sebelumnya, ia membalikkan layar ponselnya untuk dilihat teman-temannya. Namun, baik Gibran maupun Hansen sama-sama memalingkan wajah setelahnya.

Foto itu … bukankah terlihat terlalu tak senonoh?


Arini sedang makan di apartemen saat sebuah pesan dari Gibran masuk ke ponselnya. Pria itu mengatakan akan mengunjungi apartemen, dan sekarang sedang dalam perjalanan.

Arini menatap sisa makanan di meja, kemudian membalas pesan ‘ya’ kepada bosnya itu. Setelahnya, ia membereskan acara makannya, dan membersihkan sisanya ke tempat sampah.

Tak lama, sebuah ketukan di pintu datang. Arini tidak perlu mengkonfirmasi lagi siapa yang datang. Ia yakin, itu adalah Gibran.

Ketika pintu di buka, keduanya mematung untuk beberapa waktu. Rasanya canggung berada dalam situasi seperti itu. Biasanya mereka hanya akan berhubungan secara formal, kecuali tentu saja dalam keadaan tertentu. Tapi kini, jelas Gibran datang dalam keadaan normal.

“Silakan masuk, Pak,” ucap Arini, memecah keheningan.

Gibran mengangguk, kemudian berjalan masuk mendahului Arini, dan duduk di atas sofa. Ia memindai isi apartemennya. Tempat itu memang miliknya, tapi jelas ia tidak sering berkunjung ke sana. Ia hanya datang di waktu-waktu tertentu, saat ia membutuhkan keheningan.

“Bagaimana rumahnya?” tanya Gibran kikuk.

“Cukup baik,” jawab Arini sekenanya, “hanya saja … tinggal di sini terlalu boros,” lanjutnya.

Gibran mengangguk. Ia paham betul, untuk orang hemat seperti Arini, tinggal di apartemen mungkin sedikit merepotkan.

“Dan lagi … em … itu … bisakah selama saya tinggal di sini, Ima tidak perlu datang?” tanya Arini.

“Apa itu tidak nyaman untukmu?” tanya Gibran.

Arini terdiam. Ia memang baru satu kali bertemu dengan Ima. Tapi, ia bisa melihat ketidaksukaan Ima kepadanya. Itu sangat mengganggu.

“Tidak masalah. Saya bisa memecatnya,” jawab Gibran pada akhirnya.

Arini menggeleng. “Bapak tidak perlu memecatnya. Hanya saja … biarkan dia tidak datang selama saya di sini. Saya … terbiasa melakukannya sendiri. Saya hanya tidak nyaman ada orang lain di sekitar saya.”

Gibran menatap Arini sejenak, kemudian berkata, “lupakan itu. Besok kamu bisa datang ke rumah saya?”

Arini mengangguk tanpa kata.

“Kalau kamu mau, kamu bisa membeli beberapa pakaian yang kamu rasa nyaman,” ucap Gibran lagi.

Arini terkejut untuk beberapa waktu. Sampai kemudian ia sadar, ia pasti diminta datang ke rumah Gibran untuk bertemu pria itu. Jantungnya berdebar seketika. Ia memang mengatakan kalau sudah siap, tapi saat semuanya sudah di depan mata ….

“Kamu … apa kamu berubah pikiran?” tanya Gibran hati-hati.

Arini menggeleng kuat. “Saya hanya sedang berpikir, baju apa yang harus saya pakai besok.”

“Apa pun itu, akan terlihat bagus saat kamu sendiri yang mengenakannya,” jawab Gibran tanpa sadar.

Arini mendengarnya, tapi tidak yakin apa yang dikatakan bosnya itu.


Keesokan harinya, sepulang kerja, Arini pergi ke toko pakaian untuk membeli gaun. Ia mengorek uangnya agak dalam untuk mendapatkan gaun yang cocok untuk makan malam. Gaun sederhana berwarna sage yang jadi pilihan Arini. Tidak terlalu mahal, tapi terlihat lebih baik. Ia tidak ingin mempermalukan Gibran di depan ‘pria’ itu.

Setelah itu, Arini pulang ke apartemen dan berdandan minimalis. Tepat ketika Arini akan memesan taksi online, sebuah pesan masuk dari Gibran.

[Saya di bawah. Turunlah.]

Pak Gibran menjemputku? batin Arini tak percaya.

Tak ingin membuat pria itu menunggu lebih lama lagi, Arini gegas keluar dari apartemen dan turun menggunakan lift menuju ke parkiran yang ada di basement. Dengan mudah ia bisa menemukan mobil Gibran yang memang sudah terparkir di dekat lift. Arini masuk di kursi samping kemudi.

Begitu memastikan Arini memasang seatbelt-nya, Gibran gegas menginjak pedal gas. Mobil pun melaju keluar dari area apartemen, membelah jalanan menuju ke rumahnya.

Jarak dari apartemen ke perumahan tempat tinggal Gibran tidak terlalu jauh. Kurang dari 30 menit, mobil sudah memasuki gerbang perumahan.

Melihat jarak semakin dekat, Arini yang gugup kemudian bertanya, “em … Pak, nanti … apa yang harus saya katakan. Itu … saya … takut salah bicara.”

Gibran melirik sedikit ke arah Arini. Tanpa sengaja, dua pasang mata itu bertemu. Gibran hampir kehilangan fokusnya karenanya. Malam ini Arini sangat berbeda. Cantik.

Gibran berdehem untuk mengontrol suasana hatinya. Ia kemudian berkata, “pertama, berhenti bersikap formal kepada saya. Kamu bisa mulai dengan nama panggilan. Panggil saya Gibran, bisa?”

“Gibran ….” Arini mencoba, dan tampak kikuk. Walaupun ia tidak tahu, apa hubungan nama panggilan dirinya dengan pria itu. “Bapak … em … maksudnya kamu bisa memanggil saya … em … memanggilku Arin. Biasanya teman dekat saya … aku … memanggil Arin.”

“Arin …,” ulang Gibran.

Keduanya kembali terdiam. Hingga mobil berhenti di sebuah rumah mewah yang Arini kenali sebagai rumah Gibran, tidak ada perbincangan lagi.

Usai memarkirkan kendaraannya, keduanya turun dan berjalan ke arah pintu. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan membukakan pintu untuk mereka. Gibran mengajak Arini untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

Walaupun pernah ke rumah itu sekali, tapi saat itu, Arini hanya tinggal di halaman. Untuk masuk ke dalam, itu adalah kali pertamanya. Hanya ada satu kata yang bisa ia katakan untuk menggambarkan keseluruhan rumah Gibran. Mewah.

“Tuan muda, Tuan besar mengundang Anda dan Nona Arini ke meja makan.” Seorang pelayan memberitahu.

“Baiklah,” jawab Gibran. Detik berikutnya, ia mengajak Arini untuk ke meja makan. Padahal Arini baru saja duduk, belum sempat mencerna apa pun yang akan terjadi di rumah itu.

Tunggu! Pelayan itu mengatakan ‘tuan besar’? Apa itu … pria yang dimaksud Pak Gibran? batin Arini. Tanpa sadar, ia melirik ke arah Gibran yang tampak tidak mengekspresikan apa-apa di wajahnya.


Meja makan itu cukup besar dengan aneka makanan yang sudah tersaji di atas meja. Seorang wanita paruh baya sudah duduk di sebelah kiri kursi utama. Dari penampilannya, sepertinya itu adalah nyonya rumah. Usinya sekitar 40-an. Arini menduga, wanita itu adalah ibunya Gibran. Tapi … tidak! Bukankah wanita itu terlalu muda untuk menjadi ibunya Gibran?

Gibran terus berjalan, kemudian menarik kursi untuk Arini di urutan kedua barisan kanan. Sementara Gibran duduk di sampingnya, tepat sebelah kanan kursi utama. Wanita itu sontak melirik ke arah Arini. Raut wajahnya tidak terbaca.

Tak lama, seorang pria paruh baya turun dari lantai dua dan berjalan menuju ke meja makan. Ialah sang tuan rumah yang sesungguhnya. Usianya lebih dari setengah abad, tapi masih terlihat gagah dan berwibawa. Ia duduk di kursi utama, dan menatap Gibran dan Arini secara bergantian.