Pria itu duduk di kursi utama, dan menatap Gibran dan Arini secara bergantian. Hanya beberapa detik saja, sampai pada akhirnya, ia menarik pandangannya dan menatap wanita yang duduk di samping kirinya.
“Di mana Gio?” tanya pria itu.
“Akan segera datang, Pa,” jawab wanita itu. Ada kelembutan dan penghormatan yang sangat besar dalam nada suaranya.
Jadi benar, pria itu yang Pak Gibran maksud? batin Arini. Melalui ekor matanya, ia memperhatikan pria yang duduk di kursi utama itu. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, tapi masih ada jejak ketampanan masa mudanya.
Tapi, mengapa pria itu menginginkan anak lagi? Mungkinkah istrinya tidak bisa melahirkan anak lagi? Dan mengapa di usianya yang begitu dewasa Pak Gibran menginginkan seorang adik? Tanpa sadar, Arini melirik ke arah Gibran.
Kedua pria berbeda generasi di meja makan tentu saja tidak mengetahui pikiran sembarangan Arini.
Tiba-tiba, Gibran berdehem, dan secara mengejutkan berkata, “Pa, Ma, ini Arini. Calon istriku.”
Arini tersedak air ludahnya sendiri. Ia terbatuk, dan Gibran refleks memberikan air minum ke depan wajahnya. Pria itu bahkan membantu Arini untuk menghabiskan seluruh isi gelas di dalam mulutnya.
“Kamu gak papa?” tanya Gibran kemudian.
Arini menggeleng, kemudian melirik Gibran dengan tatapan penuh tanya. Jadi … anak yang dimaksud Gibran adalah anaknya sendiri? Bukan adiknya? Ah … mengapa dia tidak menjelaskannya sejak awal!
“Sebagai sepasang kekasih, kalian terlihat sangat canggung,” ucap wanita di hadapan Gibran. Wanita yang Gibran panggil dengan sebutan ‘mama’. “Kak, kamu dan Yesi ….”
“Kami sudah putus, Ma. Mama bisa mengkonfirmasinya pada Yesi langsung. Dia yang memutuskan hubungan kami,” jawab Gibran cepat.
Wanita bernama Winda itu mengembuskan napas berat. “Papa dan Mama tidak akan pernah ikut campur dalam urusan masa depan kamu, Kak. Kami akan selalu menghormati keputusan kamu. Apa pun itu. Termasuk dalam memilih pasangan hidup.” Pandangan Winda kemudian beralih menatap Arini.
“Jadi, Arini … kamu bekerja di Jamoesida?” tanyanya.
Arini mengangguk. “Saya dan Gibran berada di divisi yang sama.”
Winda mengangguk. “Jadi ini semacam asmara di tempat kerja begitu? Rasanya begitu familiar. Iya ‘kan, Pa?” Kali ini pertanyaan ditujukan kepada sang suami.
Pria itu mengangguk kecil, membenarkan ucapan sang istri. Keduanya memang bertemu di tempat kerja dulu.
Dua puluh tahun yang lalu, Harun masih seorang duda beranak satu yang ditinggal meninggal istrinya saat melahirkan putra mereka. Ia menjadi orang tua Gibran yang saat itu tengah memasuki usia sekolah dasar. Perhatian dan kasih sayang Winda kepada Gibran kecil yang kemudian menarik perhatiannya. Ia yakin, Winda bisa menjadi ibu pengganti bagi Gibran. Terbukti sekarang, walaupun ia sudah mempunyai anak kandungnya sendiri, Winda tidak pernah mengurangi kasih sayangnya pada Gibran.
Saat Gibran tampak kehilangan minat kepada lawan jenis, Winda juga yang sibuk mencarikannya jodoh. Walaupun pada akhirnya hubungan Gibran dan Yesi kandas di tengah jalan, Winda masih tidak marah. Ia menyerahkan semua keputusan kepada Gibran. Di mana kamu bisa menemukan ibu tiri sempurna seperti Winda? Setidaknya, itu yang Harun pikirkan.
“Jadi, Arini … bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Winda selanjutnya.
Mengenai pertanyaan ini, diam-diam Harun turut menyimak.
“Ayah saya sudah meninggal,” jawab Arini, “selama ini, saya tinggal dengan ibu sambung saya,” lanjutnya.
“Apakah ini sebuah kebetulan? Kamu dan Gibran sama-sama dibesarkan oleh ibu sambung!” seru Winda.
Pada saat itulah Arini tahu, kalau wanita di depannya itu bukan ibu kandung Gibran. Benar, wanita itu akan terlalu muda untuk menjadi ibu kandung Gibran. Jarak usia antara keduanya mungkin hanya belasan tahun.
Saat ketiganya larut dalam lamunan, seorang pemuda datang menghampiri. “Malem, Pa, Ma, Kak Gibran.” Suaranya terhenti kala melihat seorang wanita muda yang asing tapi juga tidak asing di matanya. “Mbak?”
Arini mengangkat kepalanya hanya untuk melihat pemuda itu. Itu … bukankah pemuda yang bertabrakan dengannya beberapa hari yang lalu? Anak sekolah itu ‘kan?
“Kalian saling mengenal?” tanya Gibran.
Pemuda itu mengangguk. “Ada sedikit insiden yang melibatkan kami. Mbak kenapa ada di sini? Jangan bilang Mbak mau meminta pertanggungjawaban dariku ya?”
“Gio! Jangan bicara omong kosong! Dia adalah kakak iparmu! Panggil dia dengan benar!” sela Winda.
“Apa? Dunia ini ternyata begitu sempit ya,” ucap Gio seraya mendaratkan bobot tubuhnya di atas kursi kosong di samping ibunya.
“Apa maksudmu, Gio?” Kali ini, Harun yang bertanya.
“Aku gak sengaja nabrak Kakak ipar, Pa,” jawab Gio seraya sedikit menunduk.
“Dasar anak nakal! Makanya jangan kebut-kebutan di jalan!” Winda memarahi.
“Ya … maaf.” Gio menerima begitu saja amarah ibunya, tidak menyangkalnya, maupun mengatakan kalau ada andil kesalahan Arini juga di dalamnya. Diam-diam Arini mengembuskan napas lega.
Pandangan Gio kemudian beralih pada makanan di meja. Tangannya terulur ingin mengambil udang goreng di atas piring. Tapi Winda buru-buru menepaknya hingga membuat Gio melayangkan tatapan protes pada sang ibu.
“Kamu ini baru dateng langsung nyomot makanan. Lihat! Piring kakakmu bahkan belum terisi apa pun!” seru Winda.
“Baiklah … baiklah … di hati Mama, Kak Gibran memang selalu nomor satu!” Gio bersungut-sungut.
“Gio ….”
“Sudah … sudah … sebaiknya kita mulai makan.” Harun menengahi.
Satu persatu piring mulai terisi makanan. Kemudian makanan-makanan itu dilanjutkan ke mulut masing-masing. Suasana makan malam itu cukup khidmat, kecuali beberapa gurauan Gio yang tentu saja tidak mendapatkan tanggapan dari siapapun.
Usai makan malam, Arini pamit pulang. Tentu saja Gibran berperan sebagai ‘kekasih’ yang baik mengantarkan Arini ke apartemen.
“Suasana di rumah Bapak sangat hangat,” ucap Arini kala mereka berada dalam perjalanan.
“Jangan tertipu dengan apa yang kamu lihat. Terkadang, tidak semua hal yang terlihat adalah kenyataannya,” jawab Gibran.
Arini menatap Gibran yang masih memperlihatkan ekspresi yang sama, kemudian kembali berkata, “jadi … pria itu adalah Bapak sendiri?”
Gibran terdiam.
“Kenapa tidak mengatakannya sejak awal?” tanya Arini.
“Apa kalau saya mengatakan yang sebenarnya, kamu akan setuju?” Gibran balik bertanya.
“Tentu saja,” jawab Arini cepat, “saya sudah menyetujuinya, itu berarti saya sudah siap dengan segala kemungkinan. Dan mengetahui kalau saya mengenal pria ini, itu akan lebih mudah bagi saya,” lanjutnya. Ada nada lega dalam setiap kata yang diucapkan Arini. Dan hal itu membuat Gibran merasa jauh lebih nyaman.
“Itu bagus,” gumam Gibran tanpa sadar.
“Pak … ngomong-ngomong, bagaimana dengan sepeda motor saya? Saya memerlukannya untuk akomodasi ke tempat kerja.” Arini menarik napasnya dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. “Sejujurnya, menggunakan taksi sedikit merepotkan untuk saya.” Merepotkan adalah nama lain dari ‘boros’.