Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 29

27 September 2025

“Saya akan meminta sopir untuk mengantar dan menjemputmu setiap hari,” jawab Gibran dengan santainya.

“Itu tidak perlu, Pak,” tolak Arini.

“Jangan menolak. Bagaimanapun, kamu ini calon istri saya,” jawab Gibran.

Arini menoleh tanpa sadar ke arah pria yang tengah mengemudi di sampingnya itu. Kata ‘calon istri’ sedikit menggelitik hatinya. Oh ayolah … mengapa ucapan Gibran seolah menginsyaratkan mereka adalah pasangan saling mencintai yang akan melangsungkan pernikahan? Itu … sedikit konyol bukan?

Bukan pertama kalinya Arini diajak menikah. Sejak lima tahun lalu, seseorang rutin mengajaknya. Ya! Pria itu adalah Adi. Tapi entah mengapa Arini tidak pernah merasakan bahwa pernikahan akan senyata ini. Dan ia tidak mengharapkan hal itu akan datang dari pria yang sebulan yang lalu masih tidak ada dalam kehidupannya. Seorang pria asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya, dan memintanya untuk menikah. Tidak! Hubungan mereka tidak seromantis itu bukan? Itu … hanya sebuah transaksi. Ya! Tidak lebih.

“Tentang pernikahan ini … Pak, bukankah di kantor ada peraturan yang tidak memperbolehkan suami dan istri kerja bersama? Itu … maksud saya, walaupun mungkin pernikahan ini hanya untuk anak, tapi di mata semua orang, bukankah kita tetap akan disebut pasangan yang menikah? Jadi apakah saya harus resign?” Arini tidak ingin resign. Bagaimanapun, ia tidak tahu hubungan jenis apa yang akan terjadi padanya setelah ia melahirkan seorang anak nanti. Ia butuh penghasilan dan tabungan yang banyak untuk menjalani kehidupannya jika Gibran sudah memutuskan untuk mendepaknya nanti.

Tapi dibandingkan jika harus Gibran yang resign, seharusnya itu lebih tidak mungkin. Jabatan Gibran lebih tinggi darinya, dan tentu saja penghasilan Gibran lebih tinggi darinya. Kecil kemungkinan Gibran mau menyerahkan pencapaiannya begitu saja bukan?

“Tugas saya di Jamoesida akan selesai pekan depan. Setelah itu, saya akan kembali ke HAWI. Kamu bisa tetap bekerja di sana kalau mau,” jawab Gibran.

“Bapak dari HAWI?” tanya Arini. Ini adalah sebuah fakta yang baru saja Arini ketahui. Gibran adalah orang pusat yang khusus didatangkan ke cabang untuk menyelesaikan ‘tugas’? Berapa banyak orang yang tahu tentang ini?

Gibran mengangguk.

Memikirkannya, seharusnya, identitas Gibran tidak sederhana bukan? Arini kemudian melirik pria yang masih fokus mengemudi itu, dan bertanya, “Pak … nama papanya Bapak itu siapa?”

“Harun,” jawab Gibran, “Harun Andika Wijaya,” tambahnya.

“Harun Andika Wijaya? Bukankah itu Presiden Direktur HAWI Farma?” tanya Arini.

“Ternyata kamu tahu banyak,” jawab Gibran masih dengan nada santai, seolah informasi yang baru saja ia berikan tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Arini.

Sementara Arini yang mendengarnya langsung memalingkan muka, menatap pemandangan malam melalui jendela di sisinya. Ini … terlalu menakutkan bukan? Siapa yang menduga kalau pria yang menginginkan anak darinya ini adalah anak dari presiden Direktur HAWI?

Akan tetapi … jika Gibran hanya menginginkan seorang anak, dengan identitasnya saat ini, akan sangat mudah mendapatkan seorang wanita yang rela melakukannya. Ia tampan dan mapan. Siapa pun yang dilamarnya, itu tidak akan menolak bukan? Terlebih sebelumnya ada Yesi yang cantik, modis, dan tentu saja dari keluarga terpandang. Memikirkannya, Arini menjadi pusing. Tanpa sadar, ia memijat pelipisnya sendiri.

Gerakan sederhana Arini tertangkap mata Gibran. Ia menoleh sejenak dan bertanya, “Kamu baik-baik saja? Apakah ada yang salah?”

“Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya merasa tidak layak untuk melahirkan anak Bapak,” jawab Arini jujur. Cucu presiden Direktur seharusnya dilahirkan dari rahim seorang wanita dari keluarga baik-baik bukan? Sementara dirinya … sungguh tidak layak!

Gibran terpaku sejenak. Ia baru sadar, pengungkapan identitas dirinya rupanya membuat Arini merasa risi. Ia kemudian menoleh dan berkata, “semua akan baik-baik saja. Saya bisa pastikan kamu tidak akan mendapatkan kesulitan di masa depan.”

Arini menoleh, menatap profil samping Gibran. Mengapa ia mengatakan itu? Tidak sadarkah Gibran kalau yang ia khawatirkan bukan dirinya, tapi Gibran.

Namun begitu, Gibran tampak tidak ingin mengatakan apa pun lagi. Hingga Arini menarik pandangannya setelah beberapa waktu.

Mengingat tentang HAWI, sedikit banyak Arini tahu tentang perusahaan raksasa di bidang farmasi itu. Lima tahun lalu, saat awal ia bekerja di Jamoesida, perusahaan sedang dalam peralihan kepemimpinan, usai HAWI mengakuisisi PT. Jamoesida yang pailit.

HAWI sendiri sudah berdiri lebih dari setengah abad yang lalu. Dulu, HAWI hanyalah usaha rumahan yang didirikan seorang dokter bersama dengan istrinya. Lambat laun, perusahaan itu mengalami perkembangan yang signifikan, dan berhasil berdiri tegak, menjadi perusahaan farmasi terbesar di kota itu hingga sekarang. Tentu saja HAWI menjadi sebesar sekarang karena usaha dari putra sang pendiri, yang sekarang menjadi presiden Direktur di PT. HAWI. Ya! Putra sang pendiri adalah Harun–ayah kandung Gibran. Jadi, jika mengingat sejarahnya, Gibran seharusnya adalah cucu kandung dari pendiri HAWI.

Lantas, dengan identitas Gibran yang begitu mewah, bagaimana Arini masih berpikir bahwa ia layak berada di sampingnya? Ia semakin merasa rendah diri.

Saat masih terlarut dalam lamunan, mobil yang Gibran kendarai sudah berhenti. Arini tersadar dan menoleh ke sekitar. Mereka sudah berada di tempat parkir yang ada di basement.

“Mulai besok, akan ada sopir yang mengantar dan menjemputmu ke manapun kamu ingin pergi,” ucap Gibran tepat setelah Arini akan turun.

Arini ingin menolaknya, tapi mengingat identitas Gibran, ia mengurungkan kata-katanya. Gibran adalah anak dari presiden Direktur. Akan sangat menyinggung identitasnya kalau calon istrinya berkeliaran dengan sepeda motor karbu. Jadi, walaupun ia keberatan, ia hanya bisa menelan kembali kata-katanya. Yang ia lakukan hanyalah mengangguk sebagai persetujuan.

Gibran yang menerima begitu saja penerimaan Arini justru merasa bingung. Dengan karakternya, seharusnya Arini melakukan penolakan. Tapi tidak!

Mengapa ia merasa Arini seolah terpaksa memendam pemikirannya sendiri. Takutkah ia mengemukakan pendapatnya?

“Kamu tidak ingin mengatakan apa-apa?” tanya Gibran.

“Tentu saja saya setuju!” jawab Arini. “Saya adalah calon istri bapak. Dengan identitas Bapak saat ini, saya tidak mungkin menurunkan gaya hidup Bapak ‘kan? Saya paham apa yang harus saya lakukan. Saya tidak akan bertindak gegabah di masa depan.”

Sebenarnya … kamu tidak perlu menjadi orang lain, Arini. Aku hanya ingin membuatmu nyaman, tapi kenapa kamu berpikir kalau semua yang aku lakukan adalah untuk diriku? batin Gibran.

Arini turun dari mobil Gibran, dan pergi tanpa menoleh lagi, menyisakan Gibran dengan segala pemikirannya.


Malam semakin larut. Di dua tempat yang berbeda seorang wanita dan seorang pria tengah melamun, menatap langit-langit ruangan masing-masing. Jika Arini tengah berada dalam kesunyian apartemen, Gibran justru tengah berada dalam keramaian restoran tempatnya bisa berkumpul bersama Hansen dan Erik.