Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 30

27 September 2025

“Kamu kenapa?” tanya Hansen.

“Aku merasa ada yang salah dengannya,” jawab Gibran.

“Dia menolakmu setelah tahu pria yang akan dinikahinya adalah kamu?” tebak Erik.

Gibran menggeleng sebagai tanggapan.

“Lalu?” tanya Hansen.

“Dia … seperti tertekan,” jawab Gibran, “dia bilang, dia tidak akan menurunkan gaya hidupku. Dia tidak akan bertindak gegabah di masa depan,” lanjutnya.

“Lalu?” Hansen masih mendesak.

“Dia bodoh!” ucap Gibran tiba-tiba. “Kenapa dia berpikir kalau dia akan menyusahkanku di masa depan, hingga dia harus menjaga sikap? Kalaupun dia melakukan kecerobohan, aku akan selalu ada untuk membelanya. Dasar bodoh!”

Hansen tertawa mendengarnya. “Apa dia tahu kalau kamu mau menikahinya karena kamu jatuh cinta padanya, bukan hanya karena kamu menginginkan anak darinya?”

Gibran menggeleng.

“Itulah masalahnya. Dia masih menganggap kalau pernikahan kalian adalah sebuah transaksi. Jadi, tentu saja dia akan menjaga sikap, agar ‘klien’-nya ini puas,” ucap Hansen. Ucapannya memang agak kasar. Tapi, jika disimak baik-baik, mungkin itu ada benarnya.

“Tapi alasan itulah satu-satunya yang bisa aku lakukan agar dia bisa menjadi milikku. Dia … mempunyai seseorang yang dia cintai,” ucap Gibran lirih.

“Huh! Belum apa-apa udah jadi sadboy!” gerutu Erik. “Udah aku bilang, wanita dan pernikahan itu rumit! Bukannya bagus menjadi pria single yang tampan, mapan, dan bebas?”

“Aku akan mengatakan itu padamu kalau nanti kamu jatuh cinta!” balas Hansen. Ia kemudian melirik Gibran yang tengah duduk di sisi lainnya. “Kalau kamu mau, kamu bisa menunda pernikahanmu dengan Arini sampai dia benar-benar bisa menerimamu.”

Gibran menggeleng. “Itu hanya akan memberi kesempatan kepada wanita itu untuk membawa Yesi-Yesi lainnya ke dalam hidupku.”

“Jadi kamu menikahi Arini hanya agar ibu tirimu berhenti membawakan wanita untukmu? Huh! Ternyata kamu cukup picik!” ucap Erik.

“Tidak sepenuhnya benar. Aku memang harus menikah untuk menghentikan usaha wanita itu. Dan Arini adalah pilihan terbaik. Dia … cukup manis,” jawab Gibran.

“Ucapanmu itu membuatku jijik!” Erik menatap jijik ke arah pria di sampingnya itu.

Hansen menggelengkan kepada melihat tingkah Erik. Ia kemudian teringat sesuatu, dan bertanya, “jadi … bagaimana hubunganmu dengan si cantik Yesi?”

“Jangan bahas dia! Wanita itu benar-benar ingin melubangi dompetku!” gerutu Erik. “Aku baru tahu, selera ibu tirimu dalam memilih wanita benar-benar buruk. Padahal aku lihat, dia sendiri cukup anggun dan baik hati.”

“Tentu saja dia tidak akan memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya di muka umum. Tidak akan ada yang menyadari kalau dia adalah wanita penuh tipu muslihat. Tidak ada yang tahu betapa menderitanya dia berpura-pura menjadi ibu tiri yang baik selama bertahun-tahun.” Gibran mengambil gelas di atas meja, dan meminum isinya. Setelahnya, ia memutar jarinya melingkar pada bibir gelas. “Tujuannya hanya satu, menyimpan uang sebanyak-banyaknya untuk dia nikmati seorang diri. Dia pikir, dengan adanya Gio, itu bisa memuluskan langkahnya. Dia sangat berupaya menjauhkanku dari perusahaan selama bertahun-tahun. Mengirimku ke luar negeri, dan mencegahku mempelajari perusahaan sama sekali. Sayang sekali, sepertinya Gio tidak bisa diandalkan. Adikku tersayang hanya tahu cara bersenang-senang.”

“Untuk itulah ibu tirimu menjalankan rencana B, membawakan wanita yang bisa dia kendalikan di sisimu!” tebak Erik.

Gibran mengangguk.

“Bukankah dengan membawa Arini ke rumahmu itu akan berbahaya baginya? Ibu tirimu pasti berpikir Arini sebagai batu sandungan untuk semua rencananya.” Hansen menimpali.

“Aku akan melindunginya,” balas Gibran.


Di tempat lain di waktu yang sama, seorang wanita paruh baya tampak memasuki sebuah ruangan dengan segelas kopi di tangannya. Wajahnya lembut dan anggun. Dengan gerakan perlahan, ia menyimpan kopi tersebut di atas meja.

“Pa, Mama bawakan kopi untuk Papa,” ucap Winda.

Pria yang tengah meninjau beberapa dokumen itu mengangkat kepalanya, dan menatap wajah cantik sang istri. “Ada apa, Ma?” tanyanya.

Winda tersenyum, kemudian berkata, “menurut Papa, bagaimana calon istri Gibran?”

Harun berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Gibran punya penglihatan yang bagus.” Dengan kata lain, Arini sangat baik secara visual.

Winda sangat tidak puas dengan jawaban suaminya itu. Ia kemudian mendekat dan memijat lengan Harun. “Pa, cantik saja tidak cukup. Mengingat Gibran belum satu bulan bekerja di sana, bukankah itu berarti perkenalan mereka terlalu singkat untuk berlanjut ke jenjang pernikahan? Kita belum bertemu orangtuanya. Kita juga harus mengenal lebih jauh bagaimana karakternya. Bagaimana kalau ternyata Arini tidak tulus terhadap Gibran dan hanya ingin memanfaatkannya? Bukankah keputusan yang terlalu terburu-buru hanya akan merugikan Gibran? Bagaimanapun, Gibran anak kita, kesayangan kita.”

Harun tersenyum, mengusap lengan sang istri seraya berkata, “kalau begitu, Papa hanya bisa merepotkan Mama untuk membantu menilai karakter Arini.”

“Papa mengatakan itu seolah-olah Mama ini orang asing. Gibran juga anak Mama. Tentu saja Mama ingin yang terbaik untuk Gibran,” jawab Winda.

Harun tersenyum, sangat puas terhadap jawaban sang istri. Ia tidak tahu, satu detik setelah ia mengalihkan pandangannya pada dokumen di atas meja, senyum di bibir wanita itu menghilang sepenuhnya.


Gibran pulang setelah hari benar-benar larut. Saat turun dari mobilnya, ia melihat sekelebat bayangan di samping rumah. Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat untuk melihat, siapa yang masuk secara diam-diam ke rumahnya. Orang itu bahkan bisa melewati satpam yang berjaga malam itu.

Saat tiba di sisi lain rumahnya, Gibran melihat seorang pemuda yang tengah memanjat tembok, menuju ke sebuah jendela kamar yang terbuka di lantai dua. Ya! Pemuda itu adalah Gio.

“Sial di mana tangganya!” geruru Gio.

“Perlu bantuan?” tanya Gibran.

Mendengar itu, Gio tersentak dan menoleh. “Kak Gibran?”

“Dari mana kamu?” tanya Gibran.

“Itu ….” Gio tidak melanjutkan kalimatnya. Ia mendekat ke arah Gibran dan memegangi tangannya. “Kak, tolong jangan kasih tahu Mama kalau aku menyelinap keluar. Kalau enggak, aku akan kena hukuman. Aku cuma nongkrong sebentar sama temen-temenku.”

“Kalau cuma nongkrong, kenapa kamu takut dimarahi Mama?” Gibran menaikkan satu alisnya saat menanyakan itu.

Gio memberenggut kesal. “Aku gak tahu ada apa dengan Mama akhir-akhir ini. Mama sangat sensitif dan galak! Mama terus menerus menyuruhku belajar agar bisa masuk fakultas kedokteran. Padahal aku udah bilang, aku gak mau jadi dokter, aku mau jadi pembalap. Tapi Mama malah memarahiku!”

“Dokter?” ulang Gibran. “Ini … sangat mengejutkan.” Benar, keinginan Winda untuk menjadikan Gio seorang dokter di luar ekspektasinya.

“Ya! Dulu Mama bersikeras agar aku belajar bisnis. Tapi baru-baru ini, Mama justru ingin aku jadi dokter. Huh! Otak kecilku ini sangat menderita akhir-akhir ini. Kak … Kakak harus membantuku bicara sama Mama. Mama akan selalu mendengarkan Kakak!” Gio memohon.

“Setelah dipikir-pikir, dokter juga tidak terlalu buruk. Kamu bekerja keraslah!” Gibran menepuk pundak Gio, kemudian berbalik pergi meninggalkan pemuda itu.