Dalam sekejap, akhir pekan pun tiba. Arini datang ke rumah Hansen untuk mengajar Salsa berenang. Kedatangannya cukup membuat Sifa tertegun. Kalau ia tidak salah ingat, suaminya berkata kalau Arini telah setuju untuk menikah dengan Gibran. Lantas, mengapa Arini masih memerlukan pekerjaan sampingan untuknya?
Keterkejutan di mata Sifa rupanya tertangkap mata Arini. Ia bingung, mengapa sang nyonya rumah terkejut melihatnya? Apakah ia salah hari? Rasanya tidak.
“Bu, apa ada yang salah?” tanya Arini.
Sifa menggeleng. “Tidak apa-apa. Kamu masuklah, saya akan panggilkan Salsa.”
Arini mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. “Bu, saya langsung ke kolam saja untuk melakukan persiapan.”
Sifa menganggukkan kepalanya sedikit. Ia sungguh merasa bersalah kepada wanita polos itu. Padahal ia tidak benar-benar ingin menjadikan Arini untuk mengajar Salsa les berenang.
Sementara Sifa pergi ke lantai dua rumahnya, Arini gegas berjalan menuju ke belakang rumah, di mana kolam renang berada. Ia kemudian mengganti pakaiannya di tempat yang tersedia. Dan saat kembali, Sifa dan Salsa sudah datang ke sana.
“Halo cantik, sudah siap dengan pelajaran hari ini?” tanya Arini begitu melihat Salsa.
Gadis kecil itu menoleh ke arah ibunya, kemudian kembali menoleh ke arah Arini seraya mengangguk.
“Baik. Sekarang, kita lakukan dulu pemanasan ya, biar nanti pas renang tidak kram. Siap, Salsa?” tanya Arini.
Salsa kembali mengangguk, kemudian mendekat ke arah Arini. Keduanya melakukan senam kecil, di bimbing oleh Arini.
Melihat pemandangan itu, Sifa gegas mengirimi Hansen pesan.
[Sayang, aku pikir Arini tidak akan datang untuk mengajari Salsa. Tapi dia tetap datang. Aku merasa bersalah padanya]
Tak lama, sebuah balasan masuk.
[Biarkan saja. Salsa akan mahir dalam empat kali pertemuan.]
Sifa tentu saja memahami artinya. Suaminya ingin Salsa menunjukkan kemampuannya setelah empat kali pertemuan. Ya! Hanya dalam empat kali pertemuan. Rasanya itu tidak akan menjadi masalah. Tapi ….
[Ini hanya masalah waktu sampai Arini tahu kebenarannya. Apakah menurutmu itu tidak masalah?]
[Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi yang perlu kita lakukan sekarang adalah mendukung Gibran. Dia sahabatku. Jika saatnya tiba, dia akan mengatasi segalanya.]
[Baiklah]
Sifa tidak ingin berdebat dengan Hansen. Sejak mereka memutuskan untuk membantu Gibran, mereka tidak akan mundur. Mereka banyak berhutang budi pada Gibran. Karena berkat bantuan pria itulah, mereka pada akhirnya bisa bersama. Mengingat jasanya, segala hal yang ia lakukan kini menjadi terasa tidak berarti.
Satu jam berlalu. Sesi latihan berenang untuk pertemuan pertama cukup sukses. Arini mengajarkan beberapa gerakan dasar dan latihan pernapasan kepada Salsa.
Gadis kecil itu berlari ke kamarnya, sementara Arini segera menghampiri Sifa usai berganti pakaian.
“Terimakasih, Arini,” ucap Sifa tulus.
“Tolong jangan ucapkan itu, Bu. Saya di sini karena ibu membayar saya. Sudah sepantasnya saya memberikan yang terbaik. Lagipula, Salsa anak yang cerdas. Dengan satu kali diberitahu, dia langsung paham.” Pandangan Arini tanpa sadar melihat ke arah perginya Salsa. “Saya tidak tahu, anak kecil bisa begitu menggemaskan.”
Tidak banyak ingatan Arini tentang masa kecilnya bersama Azril. Jadi, ia hampir tidak pernah berkecimpung dengan dunia anak-anak selama bertahun-tahun.
“Ya, Salsa memang anak yang cerdas,” jawab Sifa tidak membantah. Ia juga melihat beberapa kelebihan Salsa sebelum memutuskan untuk mengadopsinya.
“Apa ibu baru mempunyai seorang putri?” tanya Arini.
Sifa tersenyum seraya mengangguk.
“Ibu sangat beruntung berada dalam keluarga yang tidak patriarki. Di keluarga saya, anak perempuan tidak begitu diinginkan.” Entah mengapa Arini malah menceritakan kisah hidupnya.
“Saya bukan tidak ingin memiliki anak laki-laki, tapi … saya tidak bisa,” ucap Sifa tiba-tiba. “Saya keguguran saat mengandung anak pertama, dan saya tidak bisa hamil lagi seumur hidup saya. Sementara Salsa … dia anak adopsi kami.”
Arini sungguh menyesal membahas hal yang tentunya sangat menyakitkan bagi Sifa. Ia menatap Sifa dengan rasa bersalah yang tidak ia bendung.
“Jangan mengasihani saya, Arini. Saya sudah berdamai dengan takdir saya. Memiliki Salsa dan Hansen sudah cukup bagi saya. Kalaupun nantinya Hansen menginginkan anak lagi, saya siap mencarikan calon untuknya.”
“Ibu sangat baik.”
Sifa tersenyum sebagai tanggapan. “Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah mempunyai calon?”
Arini menunduk. Ia sedikit ragu sebelum pada akhirnya mengangguk kecil seraya menjawab, “ya.”
“Kamu tidak terlihat bahagia. Apakah kalian dijodohkan?” tanya Sifa.
Arini menggeleng. “Kami tidak dijodohkan. Hanya saja ….” Arini menarik napas dalam, kemudian mengembuskan perlahan. “Saya merasa tidak layak berada di sisinya.”
“Kenapa kamu merasa seperti itu?” tanya Arini. Sungguh ini adalah informasi baru bagi Sifa.
“Identitas calon suami saya tidak mampu saya gapai, bahkan dalam bayangan sekalipun. Dia … begitu tinggi. Sementara saya hanya anak … tiri.”
Sifa tersenyum kecil, kemudian berkata. “Arini, kamu mau mendengarkan cerita saya?”
Arini menoleh, tapi tidak mengatakan apa-apa. Namun Sifa tahu, Arini bersiap mendengarkan.
“Saya adalah anak yang lahir dari rahim seorang ibu berhati malaikat dan ayah bajingan. Ayah saya meninggalkan kami ketika saya masih kecil. Di kota, dia menikah lagi dengan anak orang kaya.
“Saat ibu meninggal, saya pergi dibawa ayah. Tapi kamu tahu, di rumah ayah yang besar, saya tinggal di paviliun belakang bersama dengan para pelayan. Hari-hari saya lebih buruk daripada saat masih tinggal dengan ibu dalam kemiskinan.
“Tidak lama setelah saya tinggal di sana, ayah masuk penjara. Saya di bawa salah satu ART ayah saya pergi. Dan saat itu, saya bertemu dengan mommy dan daddy saya. Mereka adalah pahlawan saya, orang tua angkat saya.
“Saya dibesarkan oleh orang tua angkat saya dengan baik. Mereka tidak pernah membedakan saya dan anak kandungnya. Hanya saja … saya dan kakak angkat saya tidak sengaja jatuh cinta.”
“Jadi … suami ibu saat ini ….”
“Ya, dia kakak angkat saya,” jawab Sifa, “setelah banyak hal dilalui, akhirnya kami bisa menikah, dan pindah ke sini,” lanjutnya.
“Ibu sungguh beruntung,” ucap Arini tanpa sadar.
“Kita tidak pernah tahu kapan cinta itu datang, dan kepada siapa, Arini.” Sifa menambahkan. “Saya bisa memahami apa yang ada di hatimu saat ini. Kamu tahu, orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan mempedulikan apa pun. Dia hanya akan memandang kita.”
Masalahnya, pernikahan kami bukan karena cinta, batin Arini.
“Arini, sudah menjadi rahasia umum, para pewaris orang-orang kalangan atas akan mencari istri yang bisa memberikannya keuntungan. Terutama relasi. Makanya, perjodohan dan pernikahan bisnis di kalangan atas masih menjadi hal yang lumrah terjadi.
“Jika kamu tidak bisa memberikan relasi yang kuat kepada suamimu, kamu masih bisa menjadi pendukungnya di belakang."