Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 32

27 September 2025

"Sekuat-kuatnya seorang pria, saat di rumah, mereka masih akan menjadi bayi yang perlu di momong. Akan ada saatnya mereka penat dengan kehidupan yang berat di perusahaan. Barulah pada saat itu, para istri dibutuhkan untuk membuatnya nyaman.

“Dukung dia dalam setiap kesempatan. Hingga pada saatnya, jika dia merasa dunia meninggalkannya, dia masih memiliki kamu yang selalu menggandeng tangannya. Percayalah, itu akan lebih dibutuhkan dari yang namanya relasi.

“Dan satu hal penting lainnya. Kamu harus membantu suamimu menghabiskan uang hasil kerjanya!” Sifa mengakhiri petuahnya dengan nada jahil.

Untuk yang terakhir … Arini tidak berani memikirkannya!

Arini tersenyum mendengarnya. Walaupun pernikahan yang akan dihadapinya bukan pernikahan karena cinta, tapi dalam beberapa waktu, ia dan Gibran akan hidup bersama. Dalam kurun waktu itu, ia akan melakukan tugasnya sebagai istri. Dan ketika Gibran tidak membutuhkannya lagi, ia akan pergi tanpa penyesalan.

Berbicara dengan Sifa membuat Arini merasa telah melepaskan sebagian beban di pundaknya. Sifa sangat dewasa, padahal usianya masih dua tahun di bawahnya. Tapi Sifa jelas mempunyai sifat keibuan yang lebih dominan. Mungkin karena ia sudah menikah dan mempunyai anak.

“Baiklah, mulai sekarang, kamu bisa memanggil saya dengan nama saja, tidak perlu sematan ibu,” ucap Sifa.

“Tapi … itu sangat tidak sopan.” Arini jelas menolak.

“Saya memaksa, Arini. Kita teman ‘kan?” tanya Sifa.

Arini bahkan tidak berani menyebut mereka berteman. Pada awalnya, hubungan mereka adalah karena pekerjaan. Ia tidak berharap bahwa ia akan menemukan teman lain dalam hidupnya.

“Atau saya tidak pantas menjadi temanmu?” tanya Sifa.

Arini menggeleng. “Saya tidak berani berteman dengan ibu,” jawabnya jujur.

“Kamu terlalu menilai rendah dirimu sendiri, Arini. Kamu itu berharga, setidaknya di mata calon suamimu itu.” Sifa menggoda Arini.

Tentu saja Arini merasa malu mendengarnya. Memikirkan kalau dirinya berharga di mata Gibran, itu tidak mungkin bukan? Kecuali jika nanti Arini berhasil mengandung bayi mereka. Ah … entah mengapa, memikirkannya Arini menjadi gugup. Bagaimanapun, sebelum adanya bayi di dalam rahimnya, ada sebuah proses yang harus dilakukan bukan?


Hari berlalu begitu saja. Tanpa sadar, satu pekan telah berlalu. Saatnya Gibran kembali ke perusahaan. Kepada orang kantor, ia mengatakan telah mendapatkan pekerjaan lain. Tidak ada yang banyak bertanya. Gibran di sana hanya satu bulan. Tidak banyak karyawan yang ia kenal, kecuali beberapa yang memang ada hubungan pekerjaan. Kecuali direktur dan Arini tentu saja.

Laporan keuangan yang cacat telah diperbaiki. Pun dengan staff yang bermasalah telah dilaporkan kepada polisi, menyusul manager keuangan yang sebelumnya telah ditahan. Kini perusahaan berangsur stabil.

Para staff menyayangkan kepergian Gibran. Di mata mereka, kinerja Gibran yang praktis sangat memudahkannya. Entah siapa yang akan menggantikannya. Semoga saja, orang dengan kinerja yang baik seperti Gibran.

Saat itu, Gibran tengah pamitan dengan para staff keuangan. Ia menekankan kepada mantan rekan kerjanya agar bersikap jujur dalam pekerjaan. Godaan untuk korupsi akan selalu ada, tapi jika terjerat, maka hanya kerugian yang akan mereka terima. Sebaliknya, jika mereka bekerja dengan jujur, mereka akan selalu dibutuhkan di manapun. “Orang jujur sangatlah mahal. mereka akan dihargai di manapun mereka berada.”

Para staff menunduk, kemudian salah satunya berkata, “apa Bapak harus pergi? Tidak bisakah tetap di sini?”

Gibran menatap pria muda itu dan menjawab, “akan ada yang menggantikan saya. Segera. Saya sudah merekomendasikan beberapa dari kalian kepada direktur. Mereka yang bekerja paling keras, cerdas, dan sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Semuanya tergantung kepada direktur untuk menentukan.”

Entah mengapa, semua staff kompak melirik ke arah Arini. Di antara mereka, ciri-ciri yang Gibran sebutkan semuanya ada pada diri Arini. Siapapun setuju dengan itu. Diam-diam, masing-masing orang berpikir di dalam hatinya. Jika Arini dipromosikan, maka otomatis Arini akan menjadi atasan mereka. Mereka hanya berpikir, pernahkah selama ini mereka menyulitkan Arini. Kalau iya, maka habislah!

Arini tentu saja tidak mengetahui pikiran rekan-rekan kerjanya. Ia hanya fokus menatap Gibran, memikirkan hal yang berbeda.

“Kalau begitu, saya pamit,” ucap Gibran pada akhirnya.

Satu persatu staff menyalami Gibran, mengucapkan selamat tinggal, dan mendoakan Gibran agar sukses di tempat baru.

Di antara staff yang menyalami Gibran, Arini berada di urutan terakhir. Saat itu, Gibran menjabat tangannya, kemudian berkata pelan, “saya akan menjemputmu nanti sore.”

Menduga ia salah mendengar, Arini mengangkat kepalanya hanya untuk melihat sepasang mata indah milik pria itu. Kalau diingat-ingat, inilah kali pertama Arini benar-benar memperhatikan wajah Gibran. Kulitnya halus, namun masih terlihat tegas dengan tulang rahang yang tegas. Bentuk hidungnya mancung, dan bibir itu … tunggu! Apa tadi yang dikatakannya?

Gibran tidak tahu kalau Arini tengah memikirkan hal lain. Ia pikir, Arini sudah mendengarnya. Jadi, ia melepaskan jabatan tangan itu dan pergi dari sana.

Usai kepergian Gibran, Dita tiba-tiba menghampiri, dan menggoda sahabatnya itu. “Jangan sedih, bukannya kalian masih bisa ketemu di rumah?”

Arini panik, melirik ke kiri dan ke kanan. Mulut sahabatnya ini memang tidak bisa dijaga. Menyesal ia menceritakan segalanya kepadanya. “Jangan bicara omong kosong! Siapa juga yang sedih!” Setelah mengatakannya, Arini gegas kembali ke mejanya. Di susul Dita kemudian.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanya Dita.

“Dia hanya bilang, pernikahan akan dilangsungkan setelah dia pergi dari perusahaan,” jawab Arini mengulang ucapan Gibran beberapa waktu yang lalu. Untuk jarak waktunya, ia tidak tahu. Ia hanya akan mengikuti pengaturan Gibran.

“Sayang sekali, kenapa Pak Gibran harus resign. Apa kamu yang minta karena di perusahaan tidak boleh ada suami istri bekerja bersama?”

Arini menoleh ke arah Dita. Benar, Dita belum mengetahui identitas Gibran. Haruskah ia menceritakannya? Tidak! Bagaimanapun, tidak jelas bagaimana hubungan mereka ke depannya seperti apa. Lebih baik, tidak banyak membuka hal-hal tentang Gibran. Kalau tidak, bagaimana cara menjaga mulut Dita agar tetap diam. Sekarang saja ia sudah menyesal mengatakan tentang pernikahan itu.

“Dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.” Pada akhirnya, hanya itu yang Arini katakan. Ia tidak bohong. Bukankah bekerja di HAWI itu termasuk lebih baik. Arini memang tidak tahu jabatan apa yang dipegang Gibran di HAWI. Tapi, mengingat ia ditugaskan secara khusus untuk menangangi hal-hal penting di cabang, jelas Gibran memiliki peranan penting di sana. Lagipula, dia adalah anak presiden direktur.

Di tempat lain di waktu yang sama, dua orang teman lama tengah mengadakan pertemuan. Keduanya jelas sudah bukan di usia muda lagi, tapi jejak-jejak kecantikan masih ada di antara keduanya.

“Putrimu telah mengecewakanku,” ucap salah satunya.

“Aku tahu,” jawab wanita di hadapannya mengakui.