Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 33

27 September 2025

“Nindi, kamu adalah sahabatku. Kita sudah sepakat akan menikahkan Gibran dan Yesi, tapi kenapa akhir-akhir ini aku merasa Yesi tidak begitu berusaha lagi terhadap Gibran. Kamu sudah tidak ingin memiliki menantu tampan dan kaya? Gibran itu bibit unggul, sekalinya kamu melepaskannya, akan banyak lalat yang datang.”

“Winda … mau gimana lagi, putriku terlalu cantik untuk diabaikan. Kamu tahu, sekarang di sedang dekat dengan pengusaha muda. Seorang importir mobil mewah yang tampan dan royal. Sebagai hadiah pertemuan, pemuda itu memberikan perhiasan dari Italia yang sangat mahal! Maaf, bukan maksudnya Gibranmu itu tidak baik, tapi … kalau ada yang mudah, kenapa harus mengejar yang susah.

“Kamu tahu sendiri, kita sudah memberikan waktu mereka satu tahun untuk saling dekat. Kita bahkan memberikan Yesi berbagai ide. Tapi tetap saja, anak tirimu itu terlalu sombong! Aku jadi berpikir, mungkinkah dia itu sebenarnya menyukai sesama jenis.”

“Kamu akan kecewa kalau aku bilang seminggu yang lalu anak itu memperkenalkan calon istrinya ke rumah!” balas Winda. Ia tidak menyembunyikan kekesalannya sama sekali. Hanya di hadapan Nindi dia berani melakukan itu, menunjukkan sifat aslinya.

“Hah … sungguh mengecewakan. Tapi … setidaknya kamu masih bisa mengendalikan menantumu itu. Gibran tidak akan banyak meluangkan waktunya di rumah. Kamu masih bisa mengambil kendali!” Nindi memberikan sarannya.

“Dia wanita karier. Mereka bahkan bertemu pertama kalinya di kantor,” ucap Winda.

“Kamu gunakanlah otoritasmu sebagai ibu mertua. Minta dia resign kalau ingin menikah dengan Gibran. Katakanlah misalnya wanita harus fokus menjadi ibu rumah tangga, melahirkan keturunan, dan mengurus rumah.”

Winda terdiam, namun masih memikirkan ide itu. Tidak buruk. Tapi kemudian ia kembali menoleh ke arah sahabatnya itu. “Kamu yakin sudah menyerah tentang hubungan Gibran dan Yesi?”

Nindi menggeleng. “Calon menantuku tidak kurang dari anak tirimu.”

Winda mengangguk. “Baiklah kalau begitu.” Ia merenung, memikirkan langkah untuk menarik Arini ke sisinya, menjadi orangnya. Kalau tidak, ia terpaksa harus mempersulitnya.


Sore itu, Gibran benar-benar datang menjemput Arini.

Arini yang tidak mendengar ucapan Gibran sebelumnya jelas tidak sadar kalau Gibran sudah menunggunya di dalam mobil. Ia malah mencari-cari mobil jemputan yang biasanya mengantar dan menjemputnya dari apartemen ke kantor. Mobil dan sopir yang disiapkan Gibran untuknya.

Gibran melihatnya. Tapi ia merasa bingung karena Arini tak kunjung menghampiri. Akhirnya ia membawa mobilnya ke hadapan Arini yang tengah berdiri di depan pintu utama perusahaan.

Mobil berhenti. Gibran menurunkan kaca samping agar Arini melihatnya. Begitu keduanya saling pandang, Arini terkejut. Tidak hanya dirinya yang ada di sana. Ada juga beberapa karyawan yang menunggu jemputan.

Arini gegas mendekat dan berbicara dengan Gibran. “Bapak menjemput saya?” tanyanya bodoh.

“Kalau bukan kamu, apa saya akan menjemput ibu di sana?” Gibran menunjuk salah satu karyawan dengan ujung dagunya.

Arini tanpa sadar menoleh ke arah wanita yang juga tengah menatapnya itu. Kemudian, ia gegas memalingkah wajah dan masuk ke dalam mobil. Setelahnya, mobil pun melaju, dan kaca mobil dinaikkan.

“Apa kamu lupa kalau saya mengatakan akan menjemputmu?” tanya Gibran.

Kapan dia bilang akan menjemputku? batin Arini.

Melihat Arini yang bungkam, Gibran akhirnya sadar, kalau Arini tidak mendengar ucapannya sebelumnya. Gibran menoleh, hendak memarahinya. Tapi saat melihat tatapan polos Arini, ia mengurungkannya. Entah mengapa di matanya, Arini terlihat menggemaskan. Fitur wajahnya sangat tidak sesuai dengan usianya. Dan satu hal yang pasti, Gibran tidak lagi melihat raut wajah kesusahan dari Arini sejak ia keluar dari rumahnya. Arini terlihat … lebih bahagia. Entah itu karenanya atau bukan, tapi Gibran senang melihatnya. Tanpa sadar, ia menyunggingkan sedikit senyuman.

“Apa ada yang lucu?” tanya Arini tiba-tiba.

“Kamu lucu,” jawab Gibran.

Arini meraba wajahnya sendiri. Apa ada yang salah dengan dirinya? Atau justru ada yang salah dengan mata Gibran. Merasa semuanya baik-baik saja dalam dirinya, Arini melirik Gibran. Entah mengapa ia merasa pria itu sekarang berubah menjadi lebih bersahabat. Terkadang mereka membicarakan hal-hal remeh di luar pekerjaan. Sekarang misalnya.

“Sekarang kita mau ke mana, Pak?” tanya Arini.

“Bertemu mama saya,” jawab Gibran, “mama yang akan mengatur pernikahan kita,” lanjutnya.

“Bapak beruntung mempunyai ibu sambung yang baik,” ucap Arini tanpa sadar.

“Sudah saya bilang, jangan pernah tertipu dengan penampilan luar seseorang. Saya sarankan, jangan terlalu dekat dengannya. Itu yang terbaik bagimu,” balas Gibran.

Arini sudah membuka mulutnya, hendak bertanya lebih lanjut. Tapi ia menelan kembali kata-katanya untuk alasan yang tidak jelas.

“Arini, kamu akan menikah dengan saya. Satu-satunya orang yang bisa kamu percayai adalah saya, bukan yang lainnya. Saya harap kamu mengingat ini.” Gibran melirik Arini, kemudian melanjutkan. “Satu lagi, untuk menghindari kecurigaan, sebaiknya kita … ehem … bisa mencoba untuk terlihat lebih akrab.”

Arini menoleh, namun masih belum mengatakan apa-apa.

“Kita pernah membahas ini saat pertama kalinya kamu ke rumah saya. Tapi saat itu hanya terjadi satu kali saja. Mulai hari ini, saya harap kamu bisa lebih membiasakan diri. Arin, aku akan memanggilmu Arin, dan kamu bisa memanggil saya dengan nama depan saya. Kedepannya, terutama ketika berada di tempat umum, kita tidak perlu membahas ini lagi. Dan saya tidak perlu mengingatkannya lagi.” Gibran menjelaskan.

“Baik,” jawab Arini cepat.

Mobil terus melaju hingga berhenti di depan sebuah gedung tiga lantai. Arini melihat sekilas dan tahu kalau gedung itu adalah sebuah kantor wedding organizer. Jantungnya berdetak lebih kencang. Pernikahannya sudah di depan mata. Dan ia masih merasa tidak percaya.

Gibran turun terlebih dahulu. Ia bahkan membukakan pintu untuk Arini. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Arini gugup, tapi masih harus keluar. Ini di depan umum, dan Arini harus menjaga citra pasangan seperti yang dikatakan Gibran beberapa waktu yang lalu. Ia berusaha akrab dengan Gibran.

Menyadari Arini yang gugup, Gibran entah bagaimana memegang tangan Arini, dan mengajaknya masuk ke gedung tersebut. Saat mendapat tatapan penuh tanya dari Arini, pria itu hanya berkata dengan nada lirih, “di dalam ada mama. Dia pasti sedang memperhatikan.”

Barulah Arini sadar, kalau semua yang Gibran lakukan hanya akting.

Saat keduanya masuk, mereka disuguhi tatapan tajam Winda. Hanya sepersekian detik, tapi Arini melihat jejak kebencian di matanya. Terutama saat melihat tangan Gibran dan Arini yang saling bertaut.

Apa yang dikatakan Gibran benar. Sepertinya, wanita itu memang tidak seperti kelihatannya. Ia … tidak sederhana.

Winda tersenyum, mendekat, dan merangkul bahu Arini. Kemudian ia mendudukkan Arini di salah satu kursi kosong yang ada di sana.