“Mama sedang memilih tema pernikahan kalian. Kamu bisa memilih mana yang kamu suka.” Saat mengatakannya, Winda memberikan sebuah tablet ke depan Arini.
“Kami percayakan semuanya pada Mama. Apapun yang Mama suka, aku juga suka,” ucap Gibran.
“Tentu saja Mama akan memberikan yang terbaik untuk pernikahan kalian. Tapi Mama tahu, setiap wanita mempunyai pernikahan impiannya sendiri, jadi maaf, kali ini Mama akan berbicara dengan Arini saja. Ayo Arini, dilihat-lihat dulu.” Winda mendorong tablet itu lebih dekat ke arah Arini.
Arini melirik Gibran dan Winda silih berganti. Apakah dua orang ini sama-sama sedang berakting? batinnya.
“Kak, Mama tahu kamu pasti sibuk di kantor. Kamu bisa meninggalkan Arini di sini. Biar nanti pulangnya Mama yang anter.” Winda menatap Gibran yang masih berdiri dengan senyuman tulus ibu tiri di wajahnya.
“Jam kantor udah berakhir dari beberapa waktu yang lalu, Ma, dan tentu saja aku harus berpartisipasi untuk pernikahanku sendiri,” jawab Gibran sama tulusnya. Setidaknya, itu yang terlihat di permukaan.
Orang yang tidak tahu akan mengira mereka sebagai pasangan ibu dan anak yang saling menyayangi.
Gibran tahu, Winda ingin mengusirnya untuk bisa berdua saja dengan Arini. Tapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Gibran akan selalu mendampingi Arini selama prosesnya.
Merasa usahanya sia-sia, Winda hanya bisa menyimpan kekesalan di hatinya. Ia hanya merasa, putra tampannya ini sangat lengket terhadap kekasihnya. “Baiklah kalau begitu.”
Perhatian Winda beralih pada tablet di tangan Arini. Belum ada tema yang dipilihnya. Wanita di sampingnya itu masih menggeser gambar-gambar yang ada di dalam tablet tersebut. Ia kemudian menyentuh punggung tangan Arini dan berkata, “Mama berencana untuk mengadakan pertunangan dulu pekan depan. Acaranya tidak perlu besar, hanya mengundang dua keluarga untuk saling mengenal dan membicarakan waktu yang tepat untuk pernikahan kalian.”
“Itu tidak perlu, Ma. Langsung saja ke pernikahan. Keluarga Arini sudah menyerahkan segalanya kepadaku. Lagipula ayah kandung Arini sudah meninggal,” sela Gibran.
“Maksud kamu, tidak akan ada keluarga Arini yang datang? Kak, ini peristiwa sekali seumur hidup yang membahagiakan. Tentu saja harus mengundang keluarga besar untuk turut merasakan kebahagiaannya.” Winda merasa ada yang tidak beres dengan silsilah keluarga Arini.
“Mama tolong atur saja pernikahannya. Untuk keluarga Arini, biar aku yang mengurusnya.” Pada akhirnya, hanya itu yang bisa Gibran katakan. Tentu saja di lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak ingin ibu tiri Arini dan adiknya yang parasit itu datang dan mengacau di pesta pernikahannya.
Winda tidak lagi memperdebatkan itu. Jika Gibran sudah memutuskan, tidak ada jalan untuk bernegosiasi. Tapi, diam-diam ia sudah mempunyai rencana di dalam hatinya.
Dua jam berlalu sejak kedatangan Arini dan Gibran ke kantor wedding organizer. Mereka sudah memilih tema dan juga tempat untuk akad dan resepsi pernikahan mereka. Pun dengan hari pernikahan yang akan dilaksanakan dua minggu lagi, tepat di awal bulan.
Dalam waktu sesingkat itu, semua orang harus bekerja keras. Selain pihak WO, juga dengan Winda. Begitu melihat Gibran membawa Arini pulang dengan mobilnya, ia gegas menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Halo … saya mau minta bantuan Anda.”
“....”
“Di PT Jamoesida, ada seorang staff bernama Arini Puspita Kemal. Kirim data-datanya pada saya sekarang juga.”
Winda tampak mendengarkan orang di seberang sana berbicara sebentar sebelum akhirnya menutup panggilan itu.
Tak lama, ponselnya berdenting satu kali. Sebuah pesan masuk. Pesan itu berupa file. Winda membukanya, dan tersenyum. Ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Di tempat lain di dalam mobil, sebuah ponsel pintar berbunyi. Sang pemilik gegas mengangkatnya, dan menempelkan layar ponsel itu di depan telinga. Ia mendengarkan sang penelepon berbicara, sebelum pada akhirnya menutupnya usai mengucapkan terimakasih.
“Dia mencari data pribadimu ke kantor. Saya pikir, dia akan menemui ibumu,” ucapnya.
Arini yang berada di sampingnya menoleh, mencoba mencari tahu, apakah Gibran sedang berbicara dengannya, atau seseorang di seberang telepon.
“Dia meminta data kamu kepada direktur.” Gibran menambahkan.
Saat itulah Arini sadar, kalau Gibran sedari tadi sedang berbicara dengannya. Oh ayolah … tidak bisakah Gibran menambahkan subjek yang jelas saat berbicara?
“Apa yang akan dilakukannya?” tanya Arini.
“Saya kira, dia tidak akan membuat pernikahan kita berjalan lancar,” jawab Gibran.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanya Arini.
“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Fokus saja merawat dirimu untuk pernikahan kita. Sisanya biar saya yang mengaturnya. Saya selalu mempunyai rencana B,” jawab Gibran.
Arini mengangguk walau tidak tahu apa yang akan Gibran lakukan. Sejauh yang ia ingat, Gibran selalu praktis dalam pekerjaannya. Di dalam kepalanya, selain ada kecerdasan, juga ada strategi. Entah mengapa Arini selalu merasa tenang, merasa Gibran mampu mengatasi kesulitan yang ada.
Berbekal alamat di tangan, keesokan harinya, Winda benar-benar datang sendiri ke rumah lama Arini. Cukup lama ia mengamati rumah dua lantai itu. Rumah yang tidak bisa dikatakan besar, namun tidak bisa dikatakan kecil juga. Setidaknya, dilihat dari tempat tinggalnya, Arini dibesarkan di lingkungan cukup baik.
Sopir yang duduk di belakang kemudi belum mematikan mesin mobilnya. Ia masih belum tahu, apakah sang nyonya akan turun atau kembali pergi. Jadi ia hanya bisa menunggu.
Tak lama, pagar rumah terbuka. Dibalik kaca jendela, Winda melihat seorang pemuda keluar dari rumah, dan masuk ke sebuah mobil. Seorang wanita paruh baya kemudian menyusul dan mengucapkan hati-hati. Dilihat dari usianya, Winda cukup yakin kalau itu adalah ibu sambung yang Arini ceritakan, dan saudaranya. Tapi … di mana Arini?
Winda terus menunggu dengan hati-hati. Tapi … tidak ada orang lain yang keluar lagi setelah satu jam lamanya. Melihat jam di tangan, itu sudah masuk jam kantor. Hanya ada dua kemungkinan, apakah itu Arini yang tidak berangkat bekerja, atau mereka mengintai rumah yang salah.
“Pak, apa kamu yakin ini alamat yang benar?” tanya Winda pada akhirnya.
“Benar, Bu. Alamat ini sudah sesuai dengan alamat yang ibu berikan,” jawab pria di balik kemudi.
Winda tampak berpikir sejenak, kemudian berkata, “kamu turun dulu, tanyakan pada orang yang ada di rumah itu tentang Arini. Bilang kamu dari kantor, dan datang untuk mengambil berkas Bu Arini yang tertinggal. Usahakan kamu berbicara di depan pagar agar saya bisa mendengarnya.”
“Baik.” Pria itu mematikan mesin mobil, dan turun untuk melakukan tugasnya. Ia berdiri di depan pagar dan memencet bel.
Tak lama, wanita yang sama keluar dan menanyakan identitas sang sopir.
Sopir itu menanyakan hal yang diajarkan sang nyonya tanpa ada kesalahan sedikit pun.