“Kamu salah alamat! Anak haram itu dulu tinggal di sini, tapi sekarang sudah saya usir! Saya tidak tahu sekarang dia tinggal di mana. Mungkin di kolong jembatan, atau di tempat tidur pria hidung belang. Semua yang berhubungan dengan pelacur itu tidak ada hubungannya dengan saya. Tolong jangan datang ke sini lagi!” Usai mengatakannya, wanita itu gegas pergi, kembali masuk ke rumah.
Sang sopir yang mendengar perkataan yang begitu kasar langsung merinding. Gadis bernama Arini yang dibicarakan ini … bukankah calon istri tuan muda Gibran? Tapi … bagaimana mungkin? batinnya.
Dengan langkah lebar, sang sopir kembali masuk ke dalam mobilnya. Begitu pria itu duduk, sang nyonya yang duduk di belakang langsung berkata, “langsung pergi! Dan jangan katakan apa pun tentang apa yang kamu dengar hari ini kepada orang lain. Siapapun itu! Terutama Tuan besar dan Tuan muda! Anggap saja kejadian hari ini tidak pernah ada!”
“Baik,” jawab sang sopir.
Mobil pun melaju dengan senyuman samar di bibir sang nyonya yang duduk di belakang.
Tak kusangka, aku akan mendapatkan informasi besar dalam perjalanan ini. Winda berpikir keras selama dalam perjalanan. Jadi, apa Gibran tahu kalau wanita yang ingin dinikahinya adalah anak haram? Bisa jadi wanita itu menipu anak baikku. Atau justru Gibran terlibat untuk menutupi asal-usul wanita itu di depan papanya sendiri? Haruskah aku memberitahu papanya? Tidak! Lebih baik aku menunjukkannya langsung. Itu akan lebih menyenangkan. Siapa sangka Gibran akan terjerumus ke dalam lubang yang dia buat sendiri. Tanpa aku berbuat apa-apa, dia sudah mencoret namanya sendiri dari daftar ahli waris. Harun tidak akan membiarkan perusahaan jatuh kepada anak haram ‘kan? Huh! Itu akan sangat memalukan. Dan jika saatnya tiba, hanya ada Gio! Hah! Anak bodoh itu kapan akan memiliki setengah kecerdasan Gibran. Aku harus memacunya lebih keras lagi!
Apa yang ada di hati Winda tentu saja tidak bisa muncul di permukaan. Karena di permukaan, ia tetap menjadi sosok ibu tiri baik yang menyayangi anak tirinya tanpa syarat. Ia sudah bersabar selama bertahun-tahun, apa salahnya untuk bersabar sebentar lagi. Gio sudah dewasa. Satu kali saja Gibran melakukan kesalahan, tidak bisa dipastikan, siapa yang akan menjadi penerus perusahaan di masa depan. Ia hanya harus berusaha sedikit lebih keras untuk mendorong Gibran ke jurang.
Hah! Semuanya akan baik-baik saja kalau Yesi bisa memeluk Gibran. Sayang sekali anak baikku itu sepertinya tidak tersentuh sama sekali dengan kecantikan seperti itu. Winda kembali mengeluh di dalam hatinya.
Sementara Winda sudah memiliki banyak rencana di kepalanya, Arini justru sebaliknya. Ia hanya memiliki kekosongan di hatinya. Sejak ia dibawa pergi oleh Gibran dari rumah kelahirannya, kehidupannya hanya seperti mengikuti arus. Bagaimana pun, banyak hal terjadi dengan tergesa-gesa. Kedatangan Gibran yang tiba-tiba membuat alur hidupnya berbelok dari yang biasanya. Tidak ada rutinitas memasak untuk keluarga, membersihkan rumah dan pakaian ibu dan adiknya, juga … tidak ada siapapun di sekitarnya. Ia hanya sendirian di dalam sebuah unit apartemen di pusat kota.
Entah seperti apa bentuk masa depan itu. Ia hanya ingin menjalani hari ini dengan baik, tanpa memikirkannya.
Hari terus berlalu. Tanpa sadar, pernikahan akan menjadi sebentar lagi. Tak banyak yang dilakukan Arini. Semuanya diatur oleh Gibran. Setidaknya, itu yang ia tahu. Hari-harinya hanya berangkat dan pulang dari kantor bersama dengan sopir yang Gibran atur untuknya.
Kartu undangan sudah selesai di cetak satu minggu sebelum hari-H. Saat itu Gibran bertanya kepada Arini via telepon tentang jumlah undangan yang Arini butuhkan. Arini pada dasarnya tidak mempunyai banyak teman. Ia hanya minta beberapa untuk teman sekolahnya yang masih berhubungan baik. Dan … satu untuk Adi. Tapi … ia meragu, haruskah Arini mengundangnya?
Adi adalah mantan yang ia tolak lamarannya berkali-kali. Dan alasan terakhir yang ia gunakan adalah, tidak boleh ada dua pernikahan di tahun yang sama di dalam keluarga. Tapi sekarang, Arini bukan bagian dari keluarga itu lagi. Ia tidak bisa menjelaskannya kepada Adi.
Arini terus berpikir. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengirim satu undangan via email kepada pria itu. Kalaupun mereka batal menikah, mereka masih bisa berteman ‘kan? Dan lagi … bukankah Adi mengatakan dia akan menerima perjodohan yang diatur ibunya? Mungkin takdir memang berkata kalau mereka tidak bisa bersama.
Hari berikutnya, setumpuk undangan sudah ia terima. Dengan bantuan Dita, ia mulai menulis nama-nama rekan kerja mereka di kantor. Kemudian teman-teman sekolah, dari mulai teman kuliah, sekolah menengah, dan sekolah dasar. Tidak semua, hanya beberapa yang masih berhubungan baik. Untuk teman-temannya yang sudah lost contact sejak lama, ia tidak mengundangnya. Dan di deretan terakhir, ia menuliskan nama Adi dengan perasaan rumit. Mantan pacarnya kini hanya tertulis sebagai tamu undangan di pernikahannya. Bukankah ia terlihat seperti wanita yang kejam?
“Kenapa?” tanya Dita yang melihat Arini termenung. Ia kemudian melirik nama yang baru saja Arini tulis di bagian terbawah. Barulah pada saat itu ia menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Ia kemudian berkata, “gak ada yang tahu masa depan kayak apa, Rin. Aku cuma bisa bilang, jodoh gak ada yang tahu. Siapa sangka, orang yang sudah bersamamu selama tujuh atau delapan tahun pada akhirnya hanya akan menjadi tamu undangan di pernikahanmu, dan jodohmu yang sebenarnya adalah orang yang baru kamu kenal selama satu bulan.”
Arini tersenyum kecil. Jika saja Dita tahu kebenaran dalam pernikahan ini … akankah ia mengatakan hal yang sama.
Mengingatnya, Arini kembali melihat daftar tamu undangan. Benar, pernikahan ini … entah akan bertahan berapa lama. Setelah anak itu lahir, mungkin hubungannya dengan Gibran juga akan berakhir. Sebaiknya, ia tidak perlu mengundang orang-orang yang tidak relevan.
Arini perlahan menyortir nama-nama yang sudah ia tulis di atas kertas. Terutama Adi. Hingga akhirnya, hanya teman-teman kantor dan beberapa teman kuliah yang tersisa. Itu bahkan kurang dari setengah dari undangan yang Gibran kirim.
“Kalau kamu mengundang begitu sedikit tamu, apa yang akan Pak Gibran pikirkan? Apa dia gak akan mengira kalau kamu kurang menginginkan pernikahan ini sampai teman-temanmu gak boleh dateng, Rin?” tanya Dita.
“Aku gak terlalu deket sama mereka. Aku juga gak yakin mereka akan dateng. Jadi, emang lebih baik mengundang temen-temen kerja aja. Setidaknya mereka yang selama ini masih berhubungan denganku. Dan lagi ….” Arini tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya ingin mengatakan, jika beberapa waktu setelah pernikahan ia hamil, tidak akan ada yang mempertanyakan siapa ayahnya.
“Baiklah … terserah kamu aja.” Dita tidak bisa memaksa. Toh ini adalah pernikahan Arini. “Lalu, siapa saja yang akan jadi bridesmaid-nya?”
Bridesmaid? Arini bahkan lebih tidak memikirkan itu. Bahkan setelah berpikir lama, tidak ada nama yang keluar. Diam-diam ia melirik Dita, tersenyum jahat, kemudian berkata, “apa kamu mau jadi bridesmaid-ku?”