Pertemuan dengan kakek tua berkuda yang menyelamatkan Elang dan Sherlyn dari pria yang nampaknya itu adalah seorang petugas kepolisian dari daerah setempat. Penampilannya membuat kedua remaja itu garuk-garuk kepala, karena dijaman semodern ini masih ada polisi yang penampilannya mirip dalam sebuah kerajaan masa lampau, lengkap dengan kostum panglima perang.
Sepeninggal orang tersebut, kakek itu pun hendak pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu," teriak Elang dan Sherly bebarengan. Mereka berjalan mendekati lelaki tua yang masih tenang duduk di atas kuda besar.
"Terima kasih, maaf bolehkan tahu nama Tuan? Dan kami kelaparan saat ini, apakah ada warung nasi terdekat?" Sherlyn mengawali dengan sebuah ucapan terima kasih.
"Masih jauh, tak usah berterima kasih, kau sudah masuk dalam wilayahku."
"Wilayah? Apakah kami ..." Belum Sher sempat selesai bicara, lelaki itu sudah menarik tali kekang kudanya untuk bersiap pergi.
"Tunggu, Tuan, bisa tunjukan kami jalan ke pegunungan Shahua?"
Tiba-tiba, lelaki itu berhenti tanpa menoleh, dia bertanya, "ada keperluan apa kau ke gunung tersebut?"
"Kami mencari seseorang," jawab Sherlyn. Dari tadi Elang hanya diam saja, dirinya tak begitu merespons pada lelaki penunggang kuda itu, tapi justru tertarik pada kuda besar yang ditungganginya. Mata si kuda seakan hendak menceritakan sesuatu.
"Sebaiknya kalian ikut aku, tapi sayang, kuda ini tak mau jalan kalau bukan aku yang menaikinya, jadi, kalian cukup berjalan kaki saja di sebelahku.” Lalu kuda pun mulai berjalan pelan.
Tanpa perbincangan, mereka mengikuti lelaki tua berkuda itu. Sebenarnya siapa lelaki tua itu?
Itu adalah Shang Fu! karena suara gemeletuk dari pedang dalam lemarinya, menjadikan dirinya harus langsung turun tangan mendengar seseorang yang memasuki wilayahnya.
Mereka bertiga masing-masing dengan pikirannya, begitu juga Elang,
"Apa tak sebaiknya kau turun saja dari kudamu? Kudamu bosan denganmu." Tiba-tiba Elang menyeletuk dengan kata-kata yang membuat lelaki itu menghentikan laju kudanya.
"Bagaimana kau tahu hal itu, anak muda?!" Shang Fu memandang Elang tajam.
"Kudamu yang bilang sendiri begitu." Dengan enteng Elang menjawab. Sherlyn langsung menatap Elang, apakah mata emas milik pamannya itu sudah bersatu dengannya, karena Paman Ho pun bisa berbicara dengan binatang lewat batinnya.
Semua terdiam.
"Ayolah, turun dari kuda itu, aku akan membantumu turun, kau takut turun bukan?!"
"Elang! Jaga bicaramu!" seru Sherlyn.
Shang Fu melihat pada Elang. "Apa yang kau tahu tentang kudaku!"
"Ha ha ha, mengapa kau tanya hal itu, nama kudamu Yuhuuuuuu. Iya bukan?” seru Elang sambil mempraktikkan tangannya membentuk setengah lingkaran dekat mulutnya. “kau selalu memanggilnya begitu dan kudamu akan datang. kudamu ini sangat tangguh." Elang menepuk bagian leher kuda yang tinggi, tampak kuda itu tak mengelak sama sekali.
Elang bergeser tangannya untuk mengelus perut si kuda, "Dan dia lapar juga," sambung Elang.
Shang Fu terdiam, melihat Elang dengan tatapan yang tak setajam tadi.
"Turunlah, kakiku siap menjadi pijakanmu," kata Elang dan memukul kakinya, meminta Shang Fu untuk turun.
Sebenarnya Shang Fu sangatlah tersinggung, turun dari kuda saja tak bisa. Biasanya bila akan turun, si Yuhuuuuuu akan mencari pijakan berupa batu besar sebagai penyambung kakinya agar tak terjatuh, tapi anak muda ini, tahu betul kebiasaannya.
"Apa kau kuat menahan pijakan kakiku?" tanya Shang Fu penasaran.
"Tentu saja, badanku besar, lebih tangguh darimu," jawab Elang.
Sherlyn hanya melihat dan mendengar percakapan mereka saja.
Akhirnya, perlahan Shang Fu turun hati-hati dari kuda besarnya dibantu oleh Elang. Keduanya belum menyadari justru lelaki itulah yang Elang cari dan Shang Fu pun tak tahu kalau pemuda inilah cucu yang ditunggunya selama ini.
"Akhirnya aku bisa turun juga, ah punggungku sakit sekali."
Sherlyn tersenyum dan mendekati Shang Fu. Dengan hormat, gadis itu mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya.
"Naiklah, kuda ini pasti suka bila penumpangnya adalah gadis cantik."
"Kau bilang kudamu tak mau jalan bila bukan kau yang menaikinya," seloroh Elang.
"Ah, aku hanya bercanda saja."
"Coba aku saja," seru Elang dan hendak naik, tapi dengan cepatnya, Shang Fu mencegah dan menarik tangan Elang menjauh dari kudanya.
"Wanita dulu, dia tidak boleh cape. Kau ini!"
Sher tersenyum, "Aku jalan kaki saja bersama kalian, itu ada rumput segar, biar kudamu beristirahat saja dulu."
Mereka pun duduk bersama menunggu Yuhuuuuuu makan rumput yang hijau segar.
"Aku masih lapar, " ujar Elang dan merentangkan tangannya untuk menumpu kepalanya sambil rebahan di atas batu besar. Saat itulah Shang Fu melihat plakat yang selalu Elang bawa.
"Siapa sebenarnya kau!" bentak Shang Fu memandang tajam pada Elang. Tatapannya membuat Elang menjadi takut.
Sherlyn tampak curiga dengan tatapan lelaki tua itu, apakah dia Shang Fu, panglima besar yang punya karismatik hingga di dekatnya saja kita tahu dia adalah pendekar besar, itu kata Paman Ho.
Dengan gerakan tangan yang super cepat, plakat yang ada di pinggang Elang kini berpindah di tangan lelaki tua itu.
"Ini adalah punyaku!" Shang Fu memeriksa plakat tersebut.
"Tunggu, jangan mengaku-ngaku, hai orang tua! Itu punya kakekku! Ayo kembalikan plakat itu!" Elang sudah berdiri dan berkacak pinggang.
Sher langsung menarik tangan Elang.
"Dengar, itu adalah orang yang kau cari! Dia kakekmu, Shang Fu!" seru Sherlyn antusias.
Elang memandang pada gadis itu, dan berpindah pada lelaki tua yang masih menunduk memperhatikan plakat itu dengan teliti.
Elang mendekati Shang Fu, ada keraguan dalam hatinya, apakah benar lelaki yang ada di depannya adalah kakek yang selama ini dicarinya?
Pelan Shang Fu membuka menutup kepalanya, berbentuk caping dengan model lebar khas orang Tiongkok.
"Ini punya istriku, plakat utama milik Gio he, istriku."
Elang langsung terduduk di depan lelaki tua itu, dengan mendengar nama Neneknya disebut, Elang memberi hormat pada sang kakek dan segera memeluknya erat.
"Kakek, betulkah ini kakekku?"
Terdengar Isak tangis tertahan dari Shang Fu, "Kau putra dari siapa?"
"Aku anak pertama dari Jiang, Bibiku Siong sudah meninggal, Ayah dan Adikku pun sudah tewas dalam kecelakaan, ibu sekarang ..."
Akhirnya, Elang menceritakan semuanya pada Kakeknya, kini dirinya percaya bahwa yang di hadapannya benar-benar kakeknya, meski usianya hampir 80 tahun tapi masih terlihat lincah walau terkadang bila sakit mendera punggungnya ia akan terus berbaring hingga pulih kembali.
"Kakek, aku adalah ponakan dari Paman Ho." Sherlyn pun memperkenalkan dirinya.
"Paman Ho! oh aku kenal baik dengannya, dia ... umurnya di curi oleh Huang, hingga dia mengalami penuaan yang belum waktunya."
"Penuaan?!"
"Ayo, kita lanjutkan perjalanan ini, aku tahu jalan yang paling cepat, lewat hutan."
"Hutan lagi!!" Elang dan Sher berseru bebarengan dengan mimik kesal.
"Ha ha kau belum tahu hutan ini, aman tak akan ada monster di sana. Shh pelankan suaramu."
Shang Fu berdiri dan berjalan menuju suatu tempat begitu juga Sher dan Elang.
"Yuhuuuu, pulanglah!"
Sang kuda kokoh langsung melesat pulang.
"Siap!" Shang Fu langsung melesat cepat sekali mengikuti arah sang kuda tadi berlari.
Elang melihat hal tersebut dengan terkesima. Tampangnya terlihat tolol.
Elang menatap Sherlyn dengan wajah cemas, "Apa aku bisa melakukannya?!”
Sherly tersenyum, "pegang tanganku."
Elang langsung menerima uluran tangan Sher dan gadis itu langsung menggenggamnya erat.
“Siap? Jangan kaget dan nikmati saja perjalanan ini.” Sher pun segera menarik tangan Elang, sesaat keduanya melayang di udara.
Tak lama, keduanya pun melesat cepat mengikuti Shang Fu.